Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nugraha Santosa (ist).

Nugraha Santosa (ist).

Nugraha Santosa, CEO Anabatic Digital Raya

Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat

Selasa, 11 Januari 2022 | 14:00 WIB
Emanuel Kure (emanuel.kure@beritasatumedia.com)

Separuh napas Nugraha Santosa ada di teknologi informasi (TI). Mungkin itu ungkapan paling tepat bagi chief executive officer (CEO) PT Anabatic Digital Raya tersebut.

Sudah hampir 35 tahun Nugraha malang melintang di bidang TI. Sejak lulus kuliah dari Univeristas Kristen Satya Wacana pada 1987, Nugraha langsung bekerja di perusahaan TI.

Sederet perusahaan TI multinasional pernah menggunakan jasa pria kelahiran Muntilan, 6 Desember 1963 itu, mulai dari perusahaan asal Jepang, AS, hingga Jerman. Dari Fujitsu, IBM, hingga Wincorf, sampai akhirnya ia berlabuh di Anabatic Digital Raya, anak perusahaan PT Anabatic Technologies Tbk (ATIC).

Gairah (passion) Nugraha memang ada di TI. Lalu, apa yang membuat dia tidak bisa berpaling? “TI itu nggak ada habisnya, selalu muncul hal baru, sangat dinamis, sehingga saya harus belajar terus. Perkembangannya luar biasa cepat dan terus-menerus,” kata Nugraha Santosa kepada wartawan Investor Daily, Emanuel Kure di Jakarta, baru-baru ini.

Sukses yang diraih Nugraha Santosa tidak turun dari langit. Ia menapaki karier dari bawah. “Saya mulai dari mainframe, terus perkenalan ke personal computer (PC). Dulu ada mini computer, terus sekarang ada cloud dan digital transformation,” tutur dia.

Dalam berkarier, Nugraha Santosa senantiasa memegang teguh moto dan filosofi Olimpiade, yaitu Citius, Altius, Fortius, yang berarti Lebih Cepat, Lebih Tinggi, Lebih Kuat. Itu sebabnya, dalam berbagai hal, ia selalu mematok target lebih tinggi.

“Jadi, jangan cepat puas. Dalam olahraga itu kan kalau rekornya 100 harus dinaikkan 105, begitu seterusnya. Dalam bisnis dan karier pun begitu. Jangan cepat puas, harus menargetkan diri untuk naik terus,” papar dia.

Agar target terlampaui, Nugraha punya kiatnya. Pertama, berikan effort atau upaya maksimal. Kedua, lakukan decision atau keputusan yang tepat. Ketiga, fokus pada sasaran. Berbekal kiat itu, Nugraha sukses di setiap perusahaan yang dipimpinnya.

“Saya sering menyampaikan ke tim sales bahwa kalau ingin mencapai hasil lebih tinggi sebenarnya sederhana, tinggal ditambah effort, decision, dan fokus. Maka yang biasa-biasa menjadi lebih,” papar dia.

Dalam kehidupan pribadi dan keluarga, Nugraha punya moto work life spritual balance. Bagi dia, hidup harus seimbang antara pekerjaan dan spiritual. Faktor ini sangat penting karena keseimbangan hidup harus dijaga.

“Tujuannya demi menghasilkan sesuatu yang berguna bagi perusahaan, keluarga, dan masyarakat,” tegas dia. Berikut petikan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Tahun 1987, saya lulus dari Univerisitas Kristen Satya Wacana, Jawa Tengah, jurusan teknik elektro. Zaman saya kuliah, jurusan khusus TI belum ada. Waktu itu, jurusan elektro juga dibagi dua, yaitu arus lemah dan arus kuat. Arus lemah ada dua, saya pilih instrumen. Instrumen itu sekarang disebut internet of things (IoT). Waktu itu belum ada IoT.

Lulus kuliah, saya langsung masuk ke salah satu perusahaan TI dan bekerja sebagai sales engineer. Tidak berapa lama, saya bergabung dengan Fujitsu. Saya di Fujitsu cukup lama, sekitar 11 tahun. Bagi saya, itu karier yang mengesankan.

Dari Fujitsu, saya bergabung dengan IBM. Dari perusahaan Jepang, saya lompat ke perusahaan AS. Waktu di perusahaan AS itu, saya transform, saya menjadi direktur marketing.

Kemudian saya lompat ke perusahaan Jerman, Wincor Nixdorf Indonesia, menjadi country manager. Di situ, saya benar-benar membangun perusahaan dari market share hanya 10% menjadi 65%, sampai akhirnya saya berlabuh di Anabatic Digital Raya, yang segmennya ke solusi.

Apa yang mendorong Anda bergabung dengan Anabatic?

Trennya sekarang dan ke depan makin ke digital, makin solusi. Saya melihat ada perusahaan lokal yang langsung berhubungan dengan customer, end-to-end solution, karena bergeraknya untuk banking solution.

Kebetulan sekarang pun kami membantu bank untuk melakukan transformasi digital supaya kian kompetitif, time to market lebih pendek, juga untuk pengembangan bisnis. Saya masuk ke Anabatic pada 2019. Satu tahun pemanasan, tahun berikutnya langsung pandemi Covid-19.

Mengapa Anda tertarik bidang TI?

TI itu nggak ada habisnya. Belajar terus dan perkembangan teknologinya luar biasa. Saya mulai dari mainframe, terus perkenalan ke personal computer (PC). Dulu ada mini computer, terus sekarang ada cloud dan digital transformation.

Dulu, TI itu supporting, sekarang leading. Transformasi bisnis dimulai dari TI. Nah, saya makin senang di TI karena perkembangannya cepat sekali dan berlangsung terus-menerus.

Kiat sukses Anda hingga sampai di posisi ini?

Kalau ingin melakukan sesuatu, saya selalu bikin target dan achieve. Saya mau melakukan yang targetnya lebih. Saya sering sampaikan ke tim sales, kalau mau hasilnya lebih sebenarnya sederhana, tinggal ditambah effort, decision, dan fokus. Maka yang biasa-biasa menjadi lebih. Kami melakukannya dengan sungguh-sungguh, dari tim sales, delivery, hiingga back office.

Jadi, jangan cepat puas. Saya menganut filosofi Olimpiade, yaitu Citius, Altius, Fortius. Dalam olahraga itu kan kalau rekornya 100 maka harus kita naikkan menjadi 105, begitu seterusnya. Dalam bisnis dan karier pun begitu. Jangan cepat puas, harus menargetkan diri untuk naik terus.

Saya selalu berupaya melakukan yang lebih. Yang membuat saya masuk TI pun karena saya ingin terus bergerak, karena selalu muncul hal baru.

Pencapaian spektakuler Anda selama berkarier di TI?

Di setiap perusahaan, saya selalu berusaha membangun legacy. Selain mencapai target, kami harus membangun sesuatu yang lain dari yang lain. Contohnya waktu saya di Fujitsu. Fujitsu itu kan dikenal sebagai pemain penyedia server.

Nah, waktu di Fujitsu, kami dikenal karena membangun legacy macam-macam, mulai dari aplikasi untuk pelayanan terpadu, sampai saya membangun aplikasi untuk distribusi nasional minyak di Pertamina. Zaman itu pun saya sudah membuat sesuatu yang filosofinya mentransformasikan.

Kemudian saya masuk IBM. Di IBM, apa saja sudah ada, sudah sempurna. Saya mulai bangun waktu itu di sektor telko (telekomunikasi), di business to government (B2G), mulai dari jualan Intel server sampai akhirnya server yang gede-gede.

Waktu masuk di Wincor pun legacy-nya jelas banget. Saya naikkan market share dari 10% menjadi 65%. Saya berjualan switching, saya berjualan mobile banking yang lain dari yang lain karena Wincor dikenal sebagai penyedia ATM.

Nah, di Anabatic, saya baru mulai melakukan transformasi, melakukan remaping untuk fokus ke kompetensi tertentu. Istilahnya saya melakukan transformasi dari project based ke competency based.

Kompetensi yang saya pegang yaitu core banking, payment, digital transformation. Itu area di mana saya membangun kompetensi, saya bikin solusinya, saya jualan. Nanti kita lihat, dua tiga tahun ke depan seperti apa.

Obsesi Anda untuk Anabatic?

Nomor satu, saya ingin kami benar-benar berperan membantu transformasi digital end-to-end. End-to-end itu seperti yang saya katakan, kalau di sepak bola itu ada lini tengah, lini depan, dan lini belakang.

Setelah itu terjadi, proses dari lini depan harus sudah digital, bisa mengantisipasi yang legacy, bisa mengantisipasi payment-nya. Di tengah, prosesnya sudah efisien, otomate. Di belakang pun nanti di core-nya harus yang sudah micro services, komponen cloud.

Sekarang core-nya monolitik banget, jangan sentuh, karena kalau disentuh repot. Risikonya besar kalau monolitik. Saya ingin Anabatic menjadi leading bahwa dia pemain solution provider yang benar-benar membantu pelanggan melakukan transformasi digital.

Di sisi lain, bukan hanya kompetisi, mereka juga bisa cooperation dengan fintech-fintech. Jadi, cita-cita saya, Anabatic menjadi pemain di solusi perbankan dan benar-benar membantu bank melakukan digital transformation.

Hubungan Anda dengan karyawan seperti apa?

Saya sangat dekat dengan tim di mana pun saya bekerja. Dengan tim, saya ingin kedekatan ini sebagai kawan. Tidak perlu memandang bos itu sebagai apa. Walaupun saya cukup tegas dalam bekerja, hubungan kami hubungan pertemanan.

Saya ingin dipandang sebagai teman. Makanya di kantor-kantor sebelumnya sampai kantor sekarang, rata-rata masih guyonan, masih mengenang masa lalu. Event customer pun teman. Dengan customer yang sudah tidak berbisnis, saya masih berteman juga.

Anda aktif juga di organisasi sosial?

Yang itu saya agak kurang. Paling-paling saya sering ikut event Perkumpulan Chief Information Officer atau iCIO Community. Saya salah satu peserta. Di iCIO, menariknya adalah kita juga mendengar inovasi produsen TI. Saya sekarang fokus mentransformasi Anabatic, benar-benar fokus di situ sekarang.

Bagaimana Anda membagi waktu dengan keluarga?

Saya menganut filosofi work life spiritual balance. Work-nya itu memang saya kerja keras sekali, tetapi keluarga menjadi nomor satu. Saya selalu punya waktu untuk istri, untuk anak. Itu dari zaman anak-anak masih sekolah sampai sekarang, ketika anak-anak sudah berkarya.

Walaupun sibuk, saya selalu dedikasikan Sabtu-Minggu untuk ngumpul dengan keluarga, makan bersama, misalnya. Hari Minggu-nya kami beribadah. Di sela-sela itu, saya juga punya rutinitas untuk sport yang ringan-ringan, seperti sepeda statis dan berkebun.

Selain itu, walaupun sedikit, saya pelihara ikan koi. Itu bagi saya merupakan meditasi yang elok. Jadi, saya punya balance, walaupun balance-nya tidak harus fifty-fifty. Work, life and spiritual itu memang harus balance.

Pendapat Anda mengenai dampak pandemi Covid-19 terhadap ekonomi?

Menghadapi Pandemi Covid-19, kita harus hati-hati. Kita harus taati protokol kesehatan. Cuma, jangan sampai ketakutan terlalu besar. Kita ikuti turan protokol kesehatan, vaksin, termasuk aturan spiritual. Setelah itu, saya mengajak rakyat Indonesia untuk optimistis, jalani sesuai bidangnya masing-masing dengan optimistis.

Kalau dampak, jelas banyak. Tetapi katakanlah dengan adanya pandemi, industri ada sebagian yang turun, ada sebagian yang naik. Yang naik itu, seperti logistik, kesehatan, dan lain-lain.

Tetapi, industri kan mayoritas terdampak. Di sisi lain, ada peningkatan demand untuk automation, data, dan untuk makin menjaga cyber security. Saya masih optimistis bahwa tahun depan growth ekonomi kita akan mencapai keseimbangan baru. Tetapi di sisi lain juga merupakan kesempatan untuk melakukan transformasi digital. Transformasi digital itu masuk di semua sektor. ***

 

Baca, Olahraga, dan Kumpul Keluarga

Di tengah kesibukan sebagai pengusaha dan pemimpin perusahaan, Nugraha Santosa tak pernah lalai untuk menyalurkan hobinya, yaitu membaca, berolahraga, dan berkumpul dengan keluarga.

Ketiga kegiatan itu selalu dijalaninya, baik saat waktu senggang maupun libur akhir pekan (weekend). Selain itu, ia selalu menjaga keseimbangan spiritual lewat kegiatan yang bernuansa spiritual, seperti beribadah pada hari Minggu.

“Saya hobi baca dan olahraga. Tetapi sejak muncul pandemi, saya agak terbatas dalam berolahraga karena saya lebih suka olahraga permainan, seperti badminton. Lalu belakangan ya sudah sepeda statis aja yang lebih enak,” papar Nugraha.

Dalam urusan hobi, Nugraha Santosa masih meluangkan waktu untuk membaca. Biasanya bacaannya yang ringan-ringan, seperti sales improvement. “Saya juga suka buku-buku bacaan yang terkait teknologi. Kalau ada inti yang bagus, biasanya saya membuat summary,” tutur dia.

Di sisi lain, Nugara berusaha menjaga keseimbangan dan komitmen yang kuat terhadap pekerjaan maupun keluarganya. Bagi dia, hidup harus berguna, memberikan kontribusi dan sumbangsih bagi orang-orang yang dicintainya.

“Saya merasa bahwa saya sedang melakukan seusatu yang berguna untuk perusahaan, keluarga, maupun masyarakat. Saya ingin ada kontribusi, sumbangsih dalam kehidupan saya. Dalam kehidupan, saya harus ninggalin sesuatu. Sesuatu itu kadang-kadang belum tentu materi,” tegas dia. (man)

 

Biodata  

Nama lengkap: Nugraha Santosa.

Tempat/tanggal lahir: Muntilan, 6 Desember 1963.

Pendidikan: 

- Satya Wacana Christian University, Sidorejo, Jawa Tengah – Bachelor of Science: Electronic Engineering (1987).

Karier: 

- CEO Anabatic Digital Raya (Mei 2019 - sekarang).

- President Director Diebold Nixdorf Indonesia (Desember 2016-Mei 2019)

- President Director Wincor Nixdorf Indonesia (Februari 2007-Desember 2016)

- Country Manager, Marketing PT IBM Indonesia (Januari 2003-Januari 2007).

- Regional Sales Director PT Askom (Fujitsu) Indonesia (Januari 2000-Januari 2003).

- General Manager PT ASKOM (Fujitsu) Indonesia: (Januari1995-Januari 2000).

- Sales Manager PT Askom (Fujitsu) Indonesia: (Januari1991-Januari 1995).

- Business Manager PT Askom (Fujitsu) Indonesia (Januari 1989-Januari 1991)

- Product Manager PT Askom (Fujitsu) Indonesia (Januari 1987-Januari 1989).


 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN