Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)

Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)

Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk

Jangan Sampai Tertinggal

Selasa, 19 April 2022 | 19:50 WIB
Rangga Prakoso (rangga.prakoso@beritasatumedia.com)

Bobby Gafur Umar menyebut sekarang adalah putaran terakhir dalam hidupnya. Setelah 25 tahun malang melintang menakhodai perusahaan-perusahaan di bawah bendera kelompok usaha Bakrie, Bobby memilih takdirnya sendiri: menjadi pengusaha.

Dua tahun lalu, Bobby pamitan kepada Abrurizal Bakrie, pengusaha nasional pemilik Grup Bakrie. Ia membeli 25% saham PT Protech Mitra Perkasa Tbk. Di perusahaan yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham OASA tersebut, Bobby turun tangan langsung sebagai direktur utama.

Pada Desember 2021, pria berusia 54 tahun ini mengumumkan akuisisi lanjutan 50% saham Protech Mitra Perkasa, diikuti penawaran tender wajib (mandatory tender offer) pada 8 Februari hingga 9 Maret 2022. Sejak itu, Bobby resmi menjadi pemegang saham pengendali Protech Mitra Perkasa, dengan kepemilikan 75%.

Protech Mitra Perkasa, yang listing perdana di papan pengembangan pada 18 Juli 2016, adalah emiten yang bergerak di bidang konstruksi bangunan elektrikal, instalasi telekomunikasi, pemasok sektor migas dan energi, serta menjalankan aktivitas perusahaan induk (holding).

Protech Mitra Perkasa sejatinya adalah perusahaan berbasis manajemen proyek dan konstruksi terintegrasi. Sejak 2013, perusahaan tersebut memperluas cakupan bisnis ke sektor telekomunikasi. Setelah itu, perseroan merambah bisnis energi, termasuk kelistrikan dan energi terbarukan. Salah satu linis bisnis Protech Mitra Perkasa adalah mengolah biomassa menjadi listrik.

Bobby Gafur Umar tak merasa terlambat untuk menjadi pengusaha, khususnya pengusaha energi terbarukan, pada usianya yang sudah menginjak angka 54. “Sekarang adalah putaran terakhir dalam hidup saya. Ada siklus di mana suatu pekerjaan harus dimulai dari awal dan kapan bisa selesai. Bagi saya, ini putaran terakhir, on the right track untuk masuk energi terbarukan,” tutur dia.

Yang pasti, Bobby yakin betul bahwa energi baru dan terbarukan (EBT) adalah bisnis yang amat menjanjikan. “Menurut saya cuma ada dua sektor bisnis yang valuasinya ke depan masih bagus. Pertama, sektor digital. Kedua, sektor energi terbarukan,” tegas dia.

Meski sudah menjadi pengusaha, Bobby tak banyak berubah dibanding saat ia menjadi profesional. Dalam memimpin, misalnya, ia tetap berupaya memberi contoh. “Bagi saya, pemimpin harus bisa kasih contoh. Jangan kasih arahan tapi tidak melaksanakan,” tandas dia.

Bobby Gafur Umar percaya bahwa sekarang adalah era di mana setiap orang, termasuk chief executive officer (CEO), harus beradaptasi dan terus-menerus belajar agar tidak tertinggal.

“Kita mesti cepat beradaptasi dan belajar terus mengenai sesuatu yang baru, mengikuti zamannya. Kalau tidak cepat beradaptasi dan terus-menerus belajar, kita akan ketinggalan,” ujar Bobby yang punya obsesi menjadikan Protech Mitra Perkasa sebagai pemain terdepan di bidang energi terbarukan dan lingkungan hidup.

Berikut penuturan lengkap Bobby Gafur Umar kepada wartawan Investor Daily, Rangga Prakoso dan fotografer, Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini:

Bisa cerita perjalanan karier Anda sebagai profesional?

Setelah lulus kuliah di Amerika Serikat (AS), saya sempat bekerja paruh waktu di perusahaan AS. Waktu itu, karena basic saya adalah engineering, saya bekerja part time di perusahaan telekomunikasi. Jalan dua bulan, ada opportunity. Waktu itu banyak perusahaan besar di Indonesia beriklan. Saya kebetulan akan menikah, maka saya pulang ke Indonesia.

Saya ngelamar ke perusahaan di Tanah Air, salah satunya di kelompok usaha Bakrie. Saya jadi management trainee. Karena di bekera part time di AS belum selesai, saya nggak punya surat keterangan selesai bekerja. Dengan begitu, saya dianggap baru lulus fresh graduate. Gaji pertama saya waktu itu Rp1,6 juta.

Saya mulai sebagai asisten Pak Aburizal Bakrie. Dua tahun kemudian krisis moneter 1997-1998. Saya masuk perusahaan perkebunan grup Bakrie. Saya waktu itu sudah senior manager. Di situ, saya belajar kebun. Tadinya saya pikir akan pensiun di kebun karena competitive advantages-nya banyak. Lahan banyak, tenaga kerja relatif murah, teknologi nggak terlalu rumit. Kita punya matahari, punya angin. Saat itu, 1996-1997, sawit kita masih kalah dari Malaysia.

Saya cuma mau di kebun. Tapi jalan hidup berkata lain. Krisis membuat harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) naik, dari US$ 200 dengan kurs Rp 2.000 per dolar AS menjadi US$ 800 dengan kurs Rp 15.000 per dolar AS. Gimana nggak jadi champion saya. Tiga tahun pertama di kebun, saya selalu jadi champion. Saya naiknya cepat karena 'lawan' saya kan orang standar di kebun. Saya cepat menjadi CEO di salah satu unit di Jambi. Lagi enak-enaknya di kebun, saya disuruh masuk Bakrie & Brothers Group.

Bagaimana dengan cerita sebagai pengusaha?

Usia saya pada 2018 sudah 50. Saya pamit ke Pak Ical (Aburizal Bakrie). Pak, sudah 25 tahun saya di Grup Bakrie. Tepatnya umur saya 50 tahun. Pada 2019, saya masih komisaris. Setelah pamitan, saya keluar.

Kenapa Anda memilih bisnis EBT?

Waktu keluar dari Grup Bakrie, saya berpikir cuma ada dua sektor bisnis yang valuasinya ke depan masih bagus. Pertama adalah sektor digital, digital economy dan digital trading. Tapi kan pemainnya sudah banyak. Kedua, yaitu sektor energi terbarukan yang pemainnya di beberapa sektor banyak tetapi belum jalan, misalnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).

Waktu itu, bisnis PLTS masih terbatas. Aturannya pun belum lengkap. Yang main di bisnis EBT masih terbatas. Ketentuan tentang mobil listrik pada 2019 belum ada. Nikel mulai hot, tapi lebh banyak ke stainless steel.

Apa perbedaan mendasar menjadi owner dibandingkan profesional?

Waktu saya menjadi profesional dibanding sekarang, gaya saya tidak banyak berbeda.

Gaya kepemimpinan Anda?

Bagi saya, pemimpin harus bisa kasih contoh. Jangan kasih arahan tapi tidak melaksanakan. Kalau berkomitmen pada pekerjaan, Anda bisa kasih contoh ke anak buah, ke tim Anda. Saya tidak bisa bekerja sendiri, harus dengan tim, team work. Kalau kasih arahan, saya biasanya kasih mereka kesempatan untuk menjalankan. Saya tidak banyak ikut campur, tinggal menunggu hasilnya seperti apa.

Arti karyawan bagi Anda?

Karyawan itu aset. Karena aset, maka kalau bagus saya keep. Kalau nggak bagus ya nggak saya keep. Bagi saya, karyawan itu ada kontribusinya. Kalau nggak berkontribusi, ya nggak dipakai, walaupun dia temen kita, walaupun kenal baik dan sebagainya.

Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)
Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)

Apa filosofi hidup Anda?

Kita bekerja sejalan dengan waktu. Cara bekerja 10 tahun lalu tidak sama dengan sekarang. Sekarang itu eranya informasi yang begitu cepat. Sudah dunia milenial, dunia digital. Jadi, kita mesti mampu beradaptasi secara cepat dan belajar terus mengenai sesuatu yang baru, mengikuti zamannya.

Kalau tidak cepat beradaptasi dan terus-menerus belajar, kita akan ketinggalan. Jadi, jangan sampai ketinggalan. Makanya, saya masuk bisnis energi terbarukan. Sebenarnya hampir lima tahun lalu pun, saya sudah berpikir banyak tentang energi terbarukan. Tetapi baru bisa dijalankan karena sudah bekerja sendiri.

Bagaimana Anda menyeimbangkan waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kehidupan sosial?

Sekarang kita punya ponsel. Mau pagi, siang, malam, kerjanya seperti sama saja. Tetapi ada suatu titik di mana kita punya waktu untuk beristirahat, waktu untuk keluarga, refreshing. Kalau nggak, kita bisa stress. Saya sudah kerja di profesional lebih dari 30 tahun, sudah bisa bagaimana me-manage-nya. Yang penting kita tahu kapan mesti istirahat dan diikuti olahraga.

Siapa role model Anda dalam berkarier?

Dalam hidup, yang berpengaruh ya orang tua, terutama ayah saya. Saya punya beberapa role model, karena masing-masing ada masanya dan ada gayanya. Ayah saya adalah role model tentang kejujuran. Untuk bisnis ada beberapa yang menjadi patron. Untuk leadership, Pak Aburizal Bakrie.

Untuk beberapa hal, saya melihat ada orang yang secara profesional bisa dijadikan role model. Misalnya teman saya dulu, Ketua Umum Kadin Indonesia periode sebelumnya, Pak Rosan Roeslani. Ia punya prinsip bagus bahwa jangan pernah berseberangan dengan pemerintah. Soal nanti tidak sependapat, kita tidak boleh frontal.

Apa yang Anda kejar dalam hidup?

Sekarang ini putaran terakhir dalam hidup saya. Ada siklus di mana suatu pekerjaan harus dimulai dari awal dan kapan bisa selesai. Bagi saya, ini putaran terakhir, on the right track untuk masuk energi terbarukan.

Apa obsesi anda?

Saya ingin menjadi pemain terdepan dalam bisnis energi terbarukan dan lingkungan hidup.

Protech Mitra Perkasa akan dibawa ke mana?

Perusahaa menjadi holding dari seluruh bisnis EBT. Karena saya insinyur, saya melihat mulai dari industri penunjang atau sebagai kontraktornya. Protech ini basic-nya kontraktor, dulu telekomunikasi. Tapi mau saya shift dari telekomunikasi ke energi, khususnya energi terbarukan. Jadi kontraktor energi terbarukan.

Proyek yang sedang dikerjakan?

Salah satunya proyek di Jakarta, pengolahan sampah. Nama proyeknya FPSA (Fasilitas Pengolahan Sampah Antara). Ini dibagi empat wilayah Jakarta. Kira-kira sampah Jakarta itu 7.800 ton per hari. Saya dapat satu berkonsorsium dengan Wijaya Karya dan Jakpro untuk membangun di satu wilayah sampah barat Jakarta. Sekitar 7.800 ton sampah kan selama ini dibuang ke Bantar Gebang (Bekasi).

Bukankah pembakaran sampah ada emisi juga?

Kuncinya, pengelolaan emisi di pembangkitnya. Karena dia ada di dalam kota maka musti bisa memenuhi standar pembuangan emisi. Kami menggunakan teknologi Jerman. Investasinya US$ 400 juta.

Pembangkit listrik tenaga sampah ini bisa mengolah 2.000 ton per hari. Listrik yang dihasilkan 40-42 MW. Kalau karakteristik sampahnya bagus, musim kering, bisa sampai 45 MW. Memang kecil, nggak seperti pembangkit batu bara, tetapi ramah lingkungan. Lingkungan hidupnya dapet, listriknya dapet.

Sekarang baru selesai tahap akhir studi kelayakan. Kami pakai konsultan PwC. Ini sudah 99% lebih. Setelah itu menjadi tiga bagian. Satu untuk financing, satu untuk power purchase agreement (PPA), satu lagi untuk perjanjian ke Pemprov DKI.

Kapan beroperasi?

Pada kuartal I-2025. Kami targetkan groundbreaking sebelum Oktober, jadi pada kuartal III akhir. Mudah-mudahan financial closed pada Juli-Agustus. Ini proyek strategis nasional. Ada 12 kota untuk pengolahan sampah. Return-nya 10-12 tahun. Ini cycle terakhir saya sebelum pensiun. Berarti 5-10 tahun ke depan. Jadi, lebih cepat lebih bagus.

Hanya pengolahan sampah?

Kami berpikir untuk membuat smart waste management system untuk masuk ke perkotaan. Protech Mitra Perkasa ini disiapkan menjadi perusahaan yang andal di bidang green industry atau tepatnya environmental technology group. Saya mau main juga di information technology (IT), energinya sampai biochemical, salah satunya gliserin, side product biodiesel.

Bisnis utama kami, payungnya environment. Di dalamnya ada EBT, pengolahan biomassa atau sampah, yaitu pembangkit listrik tenaga biomassa (PLTBM). Kedua, kami juga mengolah limbah industri, sampah kota, dan limbah transportasi, seperti minyak.

Teknologinya simple. Limbah industri kami recycle, itu bisa. Minyak bekas kapal, berbagai macam minyak, kami olah, disuling lagi, itu pun masih bisa. Bisa menjadi minyak untuk mesin pabrik.

Indonesia memiliki target bauran energi 23% pada 2025, bagaimana Anda melihatnya?

Bauran energi sekarang baru 11,5%. Menurut saya, kecepatan pembangunan energi terbarukan ini telat karena keekonomiannya nggak masuk. Energi hidro potensinya besar, begitu pula energi surya. Perpresnya tiga tahun nggak keluar-keluar. Akhirnya keluar permen PLTS Atap. Itu pun keluarnya susah banget. Tapi ini sudah lumayan.

Kalau mau bikin pembangkit berskala besar, perencanaannya harus matang, misalnya yang menyangkut lahan, konektivitas gardu induk, tranmisi, dan sebagainya.

Keluarlah Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) baru yang 51% EBT. Ini membangkitkan semangat, tapi basis jual listriknya di berapa? Nah, perpres listrik EBT belum keluar, baru PLTS Atap.

Keekonomian menjadi isu pengembangan EBT, apa solusinya?

Dengan adanya transisi energi, pemerintah harus secara tepat mengombinasikan keekonomian tadi. Misalnya tarif awal pada masa berutang kepada bank. Bisa saja dilakukan levelling, contohnya  PPA (perjanjian jual beli listrik) selama 30 tahun. Pada 10 tahun pertama ditetapkan 20% di atas tarif jual beli.

Misalnya PPA-nya US$ 6 cent, dia 20% di atasnya karena masih ada utang bank. Begitu utang kepada bank lunas maka turun ke harga US$ 6 cent. Kemudian 10 tahun terakhir 20% di bawah US$ 6 cent. Itu solusi karena sudah balik modal semua, depresiasi sudah habis. Bank juga akan punya keekonomian lebih bagus karena debiturnya mampu membayar.

Target Anda yang belum tercapai?

Menjadi pengusaha. Saya selama ini pegawai, profesional. Saya bisa me-manage perusahaan orang, kenapa punya saya sendiri nggak bisa? Saya mau coba sendiri. Selama 1,5 tahun ini lumayan. Market cap perusahaan naik dari Rp 80 miliar menjadi Rp 270 miliar, dalam waktu tiga bulan harga sahamnya naik. Orang mulai melihat arah Protech Mitra Perkasa ke mana.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?

Mesti adaptive. Dua tahun terakhir, dengan adanya pandemi Covid-19, begitu banyak pergeseran gaya hidup yang terjadi. Cara bisnis juga berbeda. Dulu meeting di tempat, tapi sekarang online. Ini shifting. Dengan begitu, speed lebih cepat, sehari bisa 10 meeting.

Kedua, mesti speed juga dalam belajar, mengikuti perkembangan. Terakhir, pertemanan. Minimum kenal dengan orang. Kalau networking bagus, informasi jadi lancar. ***


 

Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)
Bobby Gafur Umar, Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk (Foto: Investor Daily/Emral)

Pensiun secara Produktif

Jagalah mudamu sebelum datang masa tuamu. Pepatah inilah yang sedang diterapkan Bobby Gafur Umar. Pengusaha jebolan University of Arkansas, AS itu sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi masa pensiun.

“Pensiun itu ada dua. Pertama yaitu orang yang sudah kaya dan tinggal menikmati masa tua, main dengan anak cucu. Kedua, orang yang produktif,” kata dia.

Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia bidang Perindustrian ini memilih menikmati masa pensiun secara produktif, dengan cara menyiapkan investasi di bidang energi masa depan. “Proyek-proyek saya BOT (build, operate, transfer) selama 30 tahun. Jalanin saja, nggak usah pikir panjang,” tutur dia.

Bagi Bobby, sukses masa pensiun ditentukan saat ini. Ia menargetkan 3-4 proyek energi terbarukan yang digelutinya rampung dalam lima tahun ke depan. “Saya senang karena bisnis ini berbasis lingkungan hidup. Dari dulu saya senang alam. Waktu SMA pun saya suka naik gunung, pencinta alam,” ujar dia. (rap)

 

Biodata

Nama : Ir. Gafur Sulistyo Umar, MBA, ASEAN Eng, IPU (Bobby).

Status Keluarga : Menikah dengan 3 anak

Pendidikan:

* 1993 – 1995: MBA - Universitas Arkansas , AS (summa cum laude).

* 1986 – 1992: S1 (Insinyur) jurusan Teknik Elektro Universitas Trisakti, Jakarta.

Karier:

  • 2019-sekarang: Direktur Utama/Owner PT Protech Mitra Perkasa Tbk.

  • 2002 – 2019 : President Director & CEO PT Bakrie & Brothers Tbk.

  • 2008 – 2019 : President Director/CEO PT Bakrie Indo Infrastructure.

  • 2008 – 2019 : President Director/CEO PT Bakrie Oil & Gas Infrastructure.

  • 1998 – 2002 : Direksi & Komisaris kelompok usaha PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk.

  • 1995 – 1998 : Asisten Chairman Kelompok Usaha Bakrie.

Organisasi:

  • 2017 – 2022 : Anggota Dewan Insinyur Indonesia.

  • 2016 – 2018 : Penasihat PM Malaysia, Dato’ Sri Mohd Najib bin Tun Haji Abdul Razak sebagai Wakil Asean di GSIAC International Council.

  • 2015 – 2020 : Wakil Ketua Umum Bidang Energi - Migas Kadin Indonesia.

  • 2012 – 2015 : Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia (PII).

  • 2012 – 2013 : Presiden Organisasi Insinyur se-Asean (AFEO).

  • 2011 – 2020 : Wakil Ketua Umum Asosiasi Emiten Indonesia (AEI).

  • 2010 – 2015 : Ketua Komite Tetap Pembiayaan Infrastruktur Kadin Indonesia.

  • 2009 – 2012 : Wakil Ketua Umum PII.

  • 2006 – 2009 : Ketua Bidang Industri dan Produksi PII.

  • 2005 – 2008 : Ketua Komite Industri Manufaktur AEI.

  • 2004 – 2014 : Dewan Penasehat Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Sumut.

  • 2004 – 2006 : Ketua Bidang Informasi dan Industri Telekomunikasi PII.

  • 2003 – 2006 : Dewan Penasihat Gapki Jambi.

  • 2001 – 2004 : Wakil Ketua Gapki Sumut.

  • 2001 – 2006 : Wakil Ketua Kadin Jambi & Ketua Sektor Perkebunan Jambi.

  • 1999 – 2004 : Dewan Komite Sektor Perkebunan Kadin Indonesia.

  • 1995 – 1998 : Asisten Ketua Umum Kadin Indonesia.

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN