Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nurul Taufiqu Rochman, Founder & Owner  PT Nanotech Indonesia Global Tbk (foto ist)

Nurul Taufiqu Rochman, Founder & Owner PT Nanotech Indonesia Global Tbk (foto ist)

Nurul Taufiqu Rochman, Founder & Owner PT Nanotech Indonesia Global Tbk

Semua Berawal dari Disiplin

Selasa, 26 April 2022 | 11:41 WIB
Edo Rusyanto (edo_rusyanto@investor.co.id)

Penampilannya bersahaja. Gaya bicaranya blak-blakan. Kalimat yang terlontar terdengar runut dan komprehensif sehingga lawan bicara cepat memahami setiap uraiannya.

Begitulah kesan pertama yang muncul saat berinteraksi dengan Profesor Nurul Taufiqu Rochman, pendiri sekaligus pemilik PT Nanotech Indonesia Global Tbk. Selain dikenal sebagai pakar nanoteknologi, pria kelahiran Malang, 15 Agustus 1970, ini familiar sebagai tokoh teknopreneur.

Nurul Taufiqu Rochman adalah satu dari sedikit peneliti yang sukses di dunia bisnis. Sempat melakoni beragam usaha, seperti penyewaan futsal dan galian tambang, Nurul akhirnya terjun ke dunia usaha yang menjadi fitrahnya sebagai peneliti, dengan mendirikan perusahaan rintisan teknologi (start up). Pada 2019, ia mengibarkan bendera Nanotech Indonesia Global, perusahaan yang bergerak di bidang jasa layanan teknologi riset dan pengembangan, rekayasa material, serta nanoteknologi.

Tiga tahun kemudian, Nurul sukses mengantarkan perusahaannya melangsungkan penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Pada 10 Maret 2022, Nanotech Indonesia Global mencatatkan (listing) saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi NANO.

Ada tiga hal yang membuat Nurul Taufiqu Rochman sukses di bidang penelitian dan dunia usaha, yaitu bekerja keras, terus belajar agar tetap cerdas, dan selalu disiplin.

Sejak kecil, pria yang pada 2004 dianugerahi The Best Researcher Award in the 12th Indonesian Young Researcher Competition ini digembleng orang tuanya agar tak pernah berhenti belajar. Nurul juga bekerja keras membantu ekonomi keluarga dengan berjualan es lilin dan gorengan.

Dalam urusan disiplin, peraih Satyalancana Karyasatya XX pada 2010 ini tak perlu diragukan. Sejak Nurul belia, orang tuanya menanamkan nilai-nilai disiplin dalam kesehariannya. Jiwa disiplin makin terasah setelah ia kuliah dan bekerja di Jepang, negara yang menomorsatukan nilai-nilai kedisiplinan dan kerja keras.

Nurul percaya bahwa disiplin bisa mengantarkan seseorang ke puncak kesuksesan. Bahkan, disiplin bukan saja bisa mengubah nasib seseorang, tapi juga nasib suatu bangsa. “Jika ingin mengalahkan Jepang, kita harus lebih dari mereka, lebih disiplin,” tegas dia.

Profesor Nurul dikenal sebagai peneliti yang gigih dan ulet. Berkat tangan dinginnya, lahir puluhan paten berbasis nanoteknologi. Nurul, yang meraih Habibie Award for Engineering Science pada 2009, juga mendedikasikan pengetahuan dan tenaganya kepada bangsa dan negara.

Itu sebabnya, selain membangun perusahaan, Nurul mendirikan Yayasan Nano Teknologi, pusat penelitian yang sekaligus digunakannya untuk membantu pendidikan anak-anak muda dengan memberi beasiswa dan membantu mereka kuliah hingga ke luar negeri.

Tujuannya tiada lain agar generasi muda Indonesia meraih ilmu setinggi mungkin. Atas dedikasi dan kejeniusan Nurul, berbagai kalangan, termasuk pemerintah, menganugerahinya belasan penghargaan skala nasional maupun internasional.

Berikut penuturan lengkap Nurul Taufiqu Rochman kepada jurnalis Investor Daily, Edo Rusyanto di kantornya yang asri di kawasan Serpong, Tangerang, Banten, baru-baru ini:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Setelah menamatkan SMA di Malang, Jawa Timur, saya meneruskan pendidikan di Jepang lewat program beasiswa Bapak BJ Habibie, yaitu Science and Technology Man Power Development Program (STMDP II).

Saya kuliah di Kagoshima University, Jepang dan meraih gelar sarjana strata 1 (S1) jurusan teknik mesin pada 1995. Selanjutnya, pada 1997, masih di Kagoshima University, saya menyelesaikan S2 dengan gelar Master Engineering.

Pendidikan saya lanjutkan untuk mengambil S3 dengan gelar PhD Teknik Material dan Proses Produksi pada 2000 di Kagoshima University. Sementara itu, untuk membekali diri dengan pengetahuan soal berbisnis, saya menempuh S3 Manajemen Bisnis di Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada 2011, saya meraih gelar doktor dari IPB.

Pengalaman paling membekas selama di Jepang?

Saya tinggal di Jepang sekitar 14 tahun. Selain belajar, saya sempat 3,5 tahun bekerja di perusahaan swasta bernama Kyushu Tabuchi Company, Kagoshima.

Pengalaman bekerja di Jepang cukup nyaman, gaji cukup besar dibandingkan ketika saya kembali pertama kali ke Indonesia. Pastinya, Jepang mengajarkan banyak hal terkait disiplin dan kerja keras. Saat di Jepang, saya masuk jam 7.30 dan pulang paling cepat jam 19.00. Kebiasaan ini saya terapkan ketika bekerja di Indonesia, bahkan ada yang menyebut saya gila kerja.

Selama di Jepang, saya juga belajar banyak mengenai effort kerja orang-orang Jepang, termasuk cara mereka mengelola perusahaan dan orang-orang di sekelilingnya atau karyawan. Mereka sangat disiplin dan bekerja keras.

Karena itu, jika ingin mengalahkan Jepang, kita harus lebih dari mereka, lebih disiplin. Kita harus tunjukkan mampu bekerja lebih keras dan harus lebih cerdas.

Cerita Anda menjadi peneliti di LIPI?

Saya ini kan ilmuwan. Karena itu, sepulang dari Jepang, saya mengabdi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Pengalaman bekerja di Jepang yang terkenal disiplin dan kerja keras, saya terapkan dalam tim di LIPI. Saking gigihnya bekerja, kami dalam satu tahun mampu menuliskan publikasi ilmiah 30-50 tulisan. Torehan ini sebuah prestasi yang tidak pernah ada di Indonesia sebelumnya.

Dalam rentang 2014-2018, saya dipercaya sebagai Director Center for Innovation LIPI. Status kami adalah pegawai negeri sipil (PNS). Namun, sebagai ilmuwan, kami bukan pegawai birokrat yang hanya terikat oleh jam kerja. Kami punya tanggung jawab serta kewajiban untuk menjadi infanteri dalam kemajuan Bangsa Indonesia. Ilmuwan adalah kunci kemajuan bangsa.

Nurul Taufiqu Rochman, Founder & Owner  PT Nanotech Indonesia Global Tbk (foto ist)
Nurul Taufiqu Rochman, Founder & Owner PT Nanotech Indonesia Global Tbk (foto ist)

Anda dikenal sebagai teknopreneur dan pelopor kewirusahaan nanoteknologi, apa maksudnya?

Saya kerap ditanya. Dari sekian banyak penelitian yang dibuat, apa produk nyata yang bisa dimanfaatkan masyarakat? Hal itu mendorong saya untuk mengimplementasikan nanoteknologi dalam wujud lebih konkret bagi kehidupan sehari-hari.

Nanoteknologi adalah teknologi yang mampu merekayasa zat, material, atau sistem pada skala naometer (1 meter dibagi 1 miliar) hingga memiliki sifat yang unik, baru, serta lebih baik dari sebelumnya. Dengan demikian, nanoteknologi mampu menghasilkan jasa atau produk yang berkualitas, ekonomis dan efisien, serta menjadi lebih kompetitif.

Contohnya adalah menerapkan nanoteknologi dalam industri herbal. Terkait hal ini, saya mendirikan PT Nanotech Herbal Indonesia. Nano herbal ini salah satunya adalah nano beras. Kini, hasil olahan beras dengan nanoteknologi menjadi bahan baku kosmetik.

Lalu, kami menerapkan nanoteknologi bagi petani tambak di pegunungan. Dampaknya, petani bisa panen dua sampai dengan tiga kali dalam setahun walau di gunung.

Apa yang mendorong Anda terjun ke dunia bisnis?

Awalnya saya tidak percaya bahwa peneliti bisa menjadi kaya dari hasil penelitian yang sudah dibisniskan. Karena itu, awalnya saya berusaha di lini yang tidak terlalu memeras otak, mulai dari usaha jual beli pasir hingga bisnis penyewaan lapangan futsal setelah bisnis tambang pasir gagal.

Bisnis yang memanfaatkan ilmu pengetahuan yang saya kuasai diawali dengan membuat alat untuk kebutuhan mencacah partikel. Pada 2005, saya menciptakan mesin penggiling nanopartikel High Milling 3 D Motion dengan modal Rp 30 juta. Tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, mesin ini juga kami ekspor.

Setelah melalui perjalanan cukup panjang, pada 2019 saya mendirikan Nanotech Indonesia Global. Kami berkantor di Gedung Nanoplex, Tangerang Selatan, Banten. Pada Maret 2022, Nanotech Indonesia Global mencatatkan saham (listing) perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), dengan kode saham NANO.

Perkembangan bisnis Nanotech setelah menjadi listed company?

Bisnis perseroan terus bertumbuh dan saat ini memiliki lima strategic business unit (SBU) yang fokus mencari solusi bagi pelanggan perseroan sesuai kebutuhan di bidangnya masing-masing. Selain itu, Nanotech Indonesia Global memiliki satu anak usaha, PT Nano Herbaltama Internasional (NHI) yang berdiri sejak 2019. NHI memiliki sebuah pabrik yang mempunyai fasilitas cara pembuatan obat tradisional yang baik (CPOTB) di Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Saat ini, klien Nanotech cukup beragam, mulai dari Sucofindo, Kementerian Perindustrian, LIPI, Sinarmas Agribusiness and Food, Peruri, hingga PT Semen Indonesia Tbk. Lalu PT Timah Tbk, PT Pindad, PT Indofarma Tbk, hingga Charoen Pokphand Indonesia Tbk.

Kenapa masuk pasar modal dan apa harapan Anda ke depan?

Kami melihat pasar modal sebagai salah satu sumber pendanaan murah yang bermanfaat bagi perusahaan. Dengan masuk ke pasar modal, Nanotech Indonesia Global pun akan semakin transparan dan kompetitif serta memiliki brand value yang lebih kuat.

Kami optimistis setelah tercatat di BEI, perseroan memiliki kinerja yang lebih baik. Selain, tentu saja good corporate governance (GCG) Nanotech akan meningkat. Nanotech melantai di BEI lewat penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham. Perseroan melepas 1.285.000.000 saham atau setara dengan 29,99%.

Seluruh dana yang diperoleh dari hasil IPO, setelah dikurangi biaya-biaya terkait emisi, digunakan untuk belanja modal (capital expenditure/capex). Selain itu, dana hasil IPO digunakan untuk biaya operasional (operating expenditure/opex).

Capex di antaranya untuk pembelian mesin dan perlengkapan terkait jasa layanan teknologi berbasis rekayasa material (teknologi rekayasa) dalam rangka menunjang strategic business unit (SBU) properti dan konstruksi. Peluang bisnis properti dengan konsep teknologi nano amat potensial.

Hunian yang dibangun pun mengusung konsep smart home, smart material, serta ramah teknologi. Misalnya menggunakan cat anti nyamuk yang diintegrasikan dengan teknologi digital.

Apa kiat sukses Anda?

Sejak kecil, saya dididik oleh orang tua untuk bekerja keras, cerdas, dan disiplin. Semuanya dimulai dengan penanaman disiplin untuk senantiasa menghargai waktu. Mengisi waktu dengan hal-hal bermanfaat. Bahkan, saya diajarkan untuk berbisnis sejak dini. Waktu kecil, saya membantu orang tua berjualan es lilin, keripik, hingga buah segar. Membantu ekonomi keluarga.

Itu semua menjadi filosofi hidup Anda?

Betul. Filosofi hidup orang tua saya amat membekas dan memengaruhi kehidupan saya hingga saat ini. Sukses yang saya capai hingga hari ini berkat didikan orang tua, berkat disiplin dan kerja keras.  Kerja keras sangat penting untuk mencapai tujuan, selain harus cerdas. Tapi kerja keras dan cerdas belum lengkap jika tidak diserta disiplin. Itulah kunci yang membuat saya bisa seperti sekarang ini.

Kegiatan Anda di waktu senggang?

Hobi saya agak berbeda, yakni berkumpul dengan anak-anak muda untuk diskusi, sharing, dan melakukan inovasi-inovasi. Saya senang membuat tim untuk berkarya, menciptakan suatu prestasi dan gebrakan. Kumpul bersama-sama untuk berkarya, membuat tim yang kuat, serta membuat suatu gebrakan pekerjaan besar.

Di sela kesibukan bekerja, saya juga meluangkan waktu untuk berolahraga, yakni futsal dan pimpong untuk menjaga kesehatan agar tetap bugar. ***

Nurul Taufiqu Rochman, Founder & Owner  PT Nanotech Indonesia Global Tbk (foto ist)
Nurul Taufiqu Rochman, Founder & Owner PT Nanotech Indonesia Global Tbk (foto ist)

Menularkan Semangat Kerja Keras kepada Anak

Sejak muda, Profesor Nurul Taufiqu Rochman gemar beraktivitas. Pria yang menggandrungi olahraga futsal dan pimpong (tenis meja) ini ditempa untuk memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.

“Orang tua saya mengajarkan agar tidak menyia-nyiakan waktu. Saya harus mengisi waktu dengan aktivitas yang bermanfaat,” tutur lulusan Kagoshima University, Jepang itu kepada Investor Daily di Jakarta, Jumat (22/4/2022).

Orang tua Nurul Taufiqu Rochman tidak ingin waktu anaknya terbuang sia-sia. Karena itu, usai belajar dan bermain, Nurul diajari meracik es lilin dan membuat makanan, seperti keripik, untuk dijual.

“Orang tua saya ingin anak-anaknya punya aktivitas, termasuk pekerjaan rumah tangga, seperti menyapu, mencuci, bahkan memasak,” kenang Nurul yang sehari-hari beraktivitas sebagai Komisaris Utama PT Nanotech Indonesia Global Tbk tersebut.

Nurul berupaya menularkan semangat kerja keras, cerdas, dan disiplin kepada anak-anaknya. Tak sebatas mengajarkan, penularan filosofi hidup itu dilakukan dengan memberi contoh.

“Begitu pula kepada staf-staf saya di perusahaan. Saya tularkan pentingnya kerja keras, cerdas, dan disiplin, selain tangkas. Tangkas atau skill dapat diwujudkan dengan banyak berlatih,” papar dia. (ed)


Biodata

Nama : Nurul Taufiqu Rochman.

Tempat/Tanggal Lahir : Malang, 15 Agustus 1970.

Pendidikan:

  • S1 Teknik Mesin Kagoshima University, Jepang (1995).

  • S2 Teknik Mesin Kagoshima University, Jepang (1997).

  • S3 Teknik Material dan Proses ProduksI, Kagoshima University, Jepang (2000).

  • S3 Manajemen Bisnis, Institut Pertanian Bogor (2011).

Organisasi:

  • Pendiri dan Ketua Umum Masyarakat Nano Indonesia (2005-2015).

  • Ketua Dewan Pembina Masyarakat Nano Indonesia (2015-sekarang).

Penghargaan:

  • Hatakeyama Award, Jepang, 1995.

  • Fuji-Sankei Award, Jepang, 1995.

  • The Best Innovations & The Best Ideas in Business Award 2005.

  • Tokoh Nasional Terpilih 2008.

  • Habibie Award for Engineering Science 2009.

  • Satyalancana Karyasatya XX, Tanda Kehormatan, Presiden RI 2010.

  • Anugerah Kekayaan Intelektual Luar Biasa 2012.

  • Anugerah Teknopreneur 2013.

  • Technology Transfer Award LIPI 2015.

  • Medali WIPO Award Kategori Inventor 2016.

Karier:

  • Peneliti di LIPI (1989-sekarang).

  • Konsultan di Kyushu Tabuchi Company, Kagoshima, Japan (April-Desember 2000).

  • Advisor pada Proyek Konsorsium Daerah di Khusyu, Jepang (2002-2003).

  • Director Center for Innovation, LIPI (2014-2018).

  • Komisaris Utama PT Nanotech Indonesia Global Tbk (2019-sekarang).

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN