Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Co-Founder dan  CEO  Goers, Sammy Ramadhan (foto ist)

Co-Founder dan CEO Goers, Sammy Ramadhan (foto ist)

Sammy Ramadhan, Co-Founder dan CEO Goers

Pendidikan Membuat Hidup Lebih Baik

Rabu, 11 Mei 2022 | 08:14 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

Pendidikan merupakan hal yang amat penting bagi kehidupan seorang Sammy Ramadhan. Berkat pendidikan, ia berhasil membangun startup Goers, sebuah aplikasi yang memudahkan semua orang mendapatkan informasi di sektor pariwisata, terutama seputar event, aktivitas, dan venue yang sedang tren.

“Saya melihat perbedaan jauh antara ayah saya dengan keluarga beliau dari sisi pendidikan,” tutur Co-Founder dan Chief Executive Officer (CEO) Goers itu kepada wartawan Investor Daily, Leonard AL Cahyoputra di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Peraih Master of International Business dari Monash University, Australia, ini bercerita bahwa ayahnya mendapatkan kesempatan kuliah dibandingkan saudara-saudara lainnya dan berhasil menjadi pengusaha, meski bukan dari keluarga berada. Itu memberi Sammy inspirasi untuk mengikuti jejak ayahnya sebagai pengusaha.

Sammy Ramadhan mengaku cukup beruntung lahir dan besar di lingkungan keluarga yang sedang membangun. Hal itu membuat dirinya mengerti susah dan enaknya hidup. Perjalanan karier orang tuanya memberinya inspirasi bahwa hidup tak pernah mudah.

“Itu membuat mental saya kuat, memberi saya edukasi penting terhadap hidup, bagaimana mempersiapkan diri menghadapi dunia luar,” ucap dia.

Sammy merasa kesuksesan yang diraihnya saat ini merupakan andil orang tuanya yang memilih fokus pada pendidikan. Banyak keluarganya yang tinggal di kampung tidak mengejar pendidikan.

“Pengusaha memberikan dampak positif yang sangat besar terhadap orang-orang di sekitarnya. Jika lebih banyak orang seperti orang tua saya, tentu akan lebih banyak orang yang memberikan banyak kebaikan dan bisa hidup lebih baik. Saya berharap bisa mencapainya sebelum umur 40 tahun,” papar entrepreneur berusia 35 tahun tersebut.

Di luar itu, Sammy Ramadhan percaya bahwa otak encer saja tidak cukup bagi seseorang untuk menggapai kesuksesan. Banyak faktor lain yang bisa membuat seseorang meraih sukses, di antaranya passion (gairah) dan komitmen terhadap pekerjaan. Berikut penuturan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Saya memulai karier sebelum lulus kuliah. Jadi, selama saya kuliah S1 maupun S2, saya sempat magang di Salim Grup di Jerman selama enam bulan. Lalu saya magang di Australia, di Salim Grup juga, selama enam bulan saat kuliah S2.

Setelah pulang ke Indonesia, saya bekerja di salah satu media terbesar di Indonesia, yaitu MNC Media, sebagai business development yang bertugas menyinergikan 20 lebih perusahaan media dalam mencari revenue baru. Berikutnya adalah melakukan joint venture dengan perusahaan-perusahaan di luar, termasuk startup untuk bisa menghasilkan revenue baru.

Pengalaman itu yang membuat saya sejak awal memiliki pola pikir bersinergi dan berkolaborasi. Setelah itu, pada 2015 saya mempunyai ide mendirikan Goers. Alhamdulillah saat itu dapat investasi dari Telkom Group. Pada 2016, juga dapat investasi dari Mahaka Group. Sejak 2017, saya pun menjadi mentor dari inkubator Telkom, yaitu Indigo.

Alasan Anda mendirikan Goers?

Pada 2012, teknologi industri mulai menggeliat, apalagi setelah ada beberapa e-commerce yang jalan. Akhirnya media bisnis pun mulai bergerak untuk belajar ke teknologi. Nah, karena saya yang paling muda, saya yang harus belajar. Dari situlah saya melihat ada peluang lain di bisnis teknologi.

Saya mulai dengan Goers karena waktu itu saya dan mitra bisnis mencari sebuah acara atau mencari sebuah kegiatan di Jakarta maupun di Indonesia itu sulit banget. Nggak ada cara mudah untuk bisa melihat kita mau ke mana hari ini, ada acara apa, dan bisa langsung dapat aksesnya tanpa hambatan.

Ternyata untuk having fun saja berat banget, kita cuma ke mal lagi, nonton lagi. Itu monoton. Makanya kami buat solusi secara teknologi untuk membantu ekonomi kreatif dan pariwisata.

Tantangan menjalankan Goers?

Alhamdulillah selama pandemi Covid-19 terbantu. Dulu kan orang-orang belum mengerti. Sekarang mereka mengerti bahwa dengan digitalisasi, mereka mendapat database lebih banyak. Ini untuk marketing juga. Bisnis mereka tidak dikontrol oleh online travel agent (OTA). Mereka bisa melakukan transaksi penjualan digital secara mandiri.

Digitalisasi dalam bisnis pariwisata itu sangat penting. Orang dari luar negeri bila ke Indonesia bisa booking dengan mudah. Saat go show juga bisa cashless dan sebagainya.

Gaya Kepemimpinan Anda?

Saya orangnya memang lebih macro manage. Saya belajar bahwa talent-talent yang bisa berkembang baik itu membutuhkan ruang untuk menjalankan keahlian mereka. Saya sedari awal selalu melakukan hiring dengan cara melihat apakah mereka bekerja keras seperti halnya saya bekerja keras saat saya bekerja untuk orang lain. Saya selalu melihat komitmen dan ownership seseorang saat bekerja, dari cerita-cerita mereka saat bekerja di tempat lain.

Kedua, saya selalu menciptakan pemimpin. Salah satu caranya memberikan mereka ruang untuk tanggung jawab dan ruang untuk mencoba mengambil keputusan. Karena saya juga sadar, sebagai pemimpin, saya tidak selalu memberikan keputusan yang terbaik. Tapi dengan memberikan mereka ruang untuk memberi keputusan tersebut, lama-lama mereka akan belajar untuk bisa bertanggung jawab dan mengambil keputusan yang jauh lebih baik.

Nggak bisa bekerja di Goers itu sebagai yes man. Saya juga meyakinkan mereka bahwa kami semua adalah part. Walau saya bosnya, mereka tetap yang menjalankan sehari-hari juga. Mereka bisa memberikan feedback untuk hal-hal yang penting.

Strategi Anda memajukan perusahaan?

Pertama, sinergi dan kolaborasi. Sejak awal, Goers selalu mengemban model bisnis berbagi pendapatan atau revenue sharing. Kami berkolaborasi dengan mitra. Kami juga berinovasi pada dua hal, yaitu model bisnis dan teknologi. Saat pandemi, event mati, kami berinovasi bagaimana caranya bisa masuk ke sebuah bisnis pariwisata yang membutuhkan teknologi yang kami punya.

Nah, alhamdulillah sebelum pandemi terjadi, kami sudah mulai masuk ke venue atraksi. Saat ada pembatasan, teknologi kami sangat dibutuhkan oleh venue-venue atraksi tersebut. Itu yang membuat kami berhasil keluar dari masa sulit di masa pandemi.

Kedua yaitu model bisnis. Yang tadinya hanya revenue sharing kami inovasikan kembali dengan revenue sharing dengan longterm contract. Kalau nggak ada kontrak kan bisa diputus kapan saja. Kontrak panjang selama 2-5 tahun. Itu yang akan membuat kami bekerja sama dengan mitra kami secara all out.

Kiat sukses Anda?

Saya kan memulai karier sebagai pekerja. Saya kerja selama tiga tahun karena saya merasa nggak punya disiplin. Untuk menjadi pengusaha harus punya disiplin, punya mental yang bagus, dan memahami kerja secara profesional. Apa yang saya pelajari adalah komitmen terhadap pekerjaan 100%. Ketika sudah selesai, itu yang membuat orang percaya kepada kita, baik saat bekerja maupun saat menjadi pengusaha.

Jadi, sejak awal mindset saya adalah yang penting kerja keras, dipercaya, nggak perlu mikirin berapa gaji saya. Komitmen 100% terhadap pekerjaan, itu salah satu mantra saya untuk sukses dalam berwirausaha.

Co-Founder dan  CEO  Goers, Sammy Ramadhan (foto ist)
Co-Founder dan CEO Goers, Sammy Ramadhan (foto ist)

Kinerja Goers saat ini?

Kami sudah punya mitra lebih dari 50 venue atraksi. Kami sudah punya ribuan content creator di berbagai event, baik online maupun offline. Kami pun sudah memiliki holistic solution untuk bisnis tourism, mulai dari marketplace sampai sistem offline. Kami sudah punya 1,5 juta user day dengan entry active user sekitar 400 ribu per Desember 2021. Pada tahun pandemi 2020 dan 2021, revenue kami naik 3-5 kali lipat.

Siapa yang menginspirasi Anda?

Tentunya yang pertama datang dari keluarga. Yang kedua adalah Steve Jobs. Saya nggak kenal sih, tapi baca bukunya. Saya merasa di masa muda saya dan Steve Jobs punya passion yang sama, yaitu suka keluar, suka networking, jalan-jalan, party.

Meski tidak serajin atau sepintar yang lain, Steve Jobs ternyata bisa membentuk Apple. Itu yang menyemangati saya bahwa walaupun saya mungkin kurang pintar di kampus, itu bukan menjadi jaminan menjadi sukses. Ternyata banyak faktor lain yang bisa membuat kita sukses, di antaranya passion dan komitmen terhadap pekerjaan.

Terakhir, saya sangat mengagumi Erick Thohir. Pada 2008, saat saya berada di Jerman, Pak Erick yang saat itu berumur sekitar 38 tahun bersama grupnya membeli klub basket NBA, Philadelphia. Saya kebutulan punya hobi main basket dan sepak bola. Rasanya itu impian semua anak muda untuk memiliki sebuah klub NBA.

Itu menjadi inspirasi saya bahwa akhirnya ada orang Indonesia yang bisa membeli klub basket NBA. Berikutnya beliau membeli Inter Milan (klub sepak bola Seri A Italia), ini makin membuat saya kagum. Lalu pada 2016, saya bertemu beliau untuk mengajukan ide Goers.

Alhamdulillah, beliau investasi melalui Mahaka Group. Itu yang sebenarnya menginspirasi saya bekerja jauh lebih keras karena seseorang yang saya idolakan mau berinvestasi ke ide bisnis saya tanpa beliau mengetahui bahwa saya nge-fans kepada dia.

Seberapa penting arti keluarga bagi karier Anda?

Sangat penting. Saya cukup beruntung lahir dan besar di keluarga yang sedang membangun. Saya mengerti susah dan enaknya hidup. Perjalanan karier orang tua saya memberikan saya inspirasi bagaimana hidup itu nggak pernah mudah. Itu membuat mental saya kuat, memberi saya edukasi penting terhadap hidup, bagaimana mempersiapkan diri menghadapi dunia luar.

Saya melihat perbedaan jauh antara ayah saya dengan keluarga beliau dari sisi pendidikan. Ayah saya mendapatkan kesempatan kuliah dibandingkan saudara-saudara lainnya. Beliau berhasil menjadi pengusaha, meski bukan dari keluarga berada. Itu menginspirasi saya. Pengusaha bisa memberikan dampak positif yang sangat besar terhadap orang-orang di sekitarnya.

Kedua, karena orang tua saya religius, sehingga saya mengerti tentang benar dan salah. Mereka menekankan bahwa ibadah itu penting. Juga keharmonisan keluarga dalam arti bagaimana mendukung hal-hal yang penting untuk anggota keluarga. Di keluarga saya nggak ada gray area.

Filosofi hidup Anda?

Ada dua yang saya pegang. Pertama, apa pun yang terjadi, itu terserah saya atau karena saya. Jadi, setiap hal yang baik atau buruk dalam hidup saya, itu saya jadikan bahan untuk mengoreksi diri sendiri dulu. Ini sangat berguna pada masa-masa sulit. Ada kan orang yang malah menyalahkan orang lain. Saya selalu berusaha tidak menyalahkan orang lain, tapi mengoreksi diri sendiri dahulu.

Yang kedua, saya selalu berupaya sharing ilmu. Ini saya dapatkan saat mulai menjadi founder startup. Saya diajarkan oleh salah satu mentor, Arif Tirta, dia sekarang komisaris independen BRI Ventures. Saya tanya, kenapa bantu saya tanpa minta saham atau apa pun? Dia jawab, ketika berada di komunitas startup, filosofinya adalah saling bantu. Dia minta saya berjanji agar tidak minta imbalan ketika ada yang minta bantuan. Memang dampaknya besar, networking semakin luas, teman menjadi banyak.

Obsesi Anda?

Wah, banyak sih. Mungkin yang berhubungan dengan Goers, ada beberapa. Saya sudah pernah fundraising untuk jutaan dolar AS. Yang belum saya dapatkan nih dua digit. Ingin banget dapat fundraising US$ 10 juta ke atas. Saya berharap tahun ini atau tahun depan bisa tercapai.

Ini bukan soal uang. Saya belajar waktu bikin Goers dari nol sampai sekarang tentang me-manage people dengan jumlah 40 orang. Bagaimana merekrut senior leader. Saya banyak belajar. Saya yakin bila bisa menarik banyak investasi, saya bisa belajar lebih banyak lagi. Saya juga ingin bisa membalas kepercayaan investor dengan memberikan mereka capital gain.

Selanjutnya, saya ingin bisa mendigitalisasi seluruh bisnis pariwisata di Indonesia, terutama di event dan di venue atraksi ataupun experience seperti gym dan kelas-kelas yoga. Saya ingin bagaimana Indonesia yang sudah memiliki kekayaan alam dan budaya pariwisata yang hebat ini memiliki infrastruktur digital terbaik.

Selain itu, saya ingin suatu hari nanti memiliki yayasan corporate social responsibility (CSR) yang fokus pada pendidikan seperti beasiswa, terutama di level kuliah. Saya ingin bantu, khususnya anak muda yang putus kuliah. ***

Co-Founder dan  CEO  Goers, Sammy Ramadhan (foto ist)
Co-Founder dan CEO Goers, Sammy Ramadhan (foto ist)

Menjalani Hobi Sambil Berkerja

Saat ditanya mengenai caranya menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan pribadi, Sammy Ramadhan mengaku tak yakin punya kehidupan yang seimbang. Ia selalu berusaha tetap bekerja di saat rileks.

“Biasanya saya mengambil kegiatan yang ujungnya menambah jaringan untuk klien, seperti bermain golf. Saat bermain golf, saya pasti bertemu pengusaha lainnya atau calon klien. Jadi, saat bermain golf ya bicara bisnis seperti biasa,” kata Sammy.

Begitu juga saat meluangkan waktu bersama keluarganya. Ketika berkumpul, bahkan liburan, ia pasti membahas soal bisnis. Saat jalan-jalan bersama anaknya yang berusia empat tahun, Sammy juga mengajaknya ke waterpark, lapangan basket dan golf, serta ke venue yang menjadi klien Goers. “Jadi, liburan sekalian kerja,” ujar dia.

Sammy berupaya untuk tidak pernah melupakan ibadah ketika sibuk bekerja. Dari orang tuanya, ia belajar bahwa ibadah itu penting. Selama menjadi pengusaha, dia menyadari ada hal-hal yang berada di luar kontrol manusia. “Saya yakin yang ngebantu itu ya Tuhan. Dari situ saya mulai beribadah lebih khusyuk,” ucap dia. (leo)

 

Biodata

Nama: Sammy Ramadhan.

Pendidikan:

- Master of International Business, International Business - Monash University (2010 - 2012)

- Bachelor of Business Administration (B.B.A.), Business Administration and Management, General - Universitas Swiss German, Serpong (2005 - 2009)

Karier:

* Goers:

Co-Founder & CEO (September 2015 – sekarang).

* Indigo Creative Nation:

Mentor for Startup (January 2019 – sekarang).

* PT Global Mediacom Tbk:

Business Development (Maret 2013 – Agustus 2015)

* Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta:

Dosen sementara (September 2012 - December 2012).

* Albright and Wilson Australia:

Quality Qontrol (Mei 2012 - Agustus 2012).

* PT Bumi Bangun Bersatu:

Business Development Intern (2006 – 2010).

* Ecogreen Oleochemicals Germany:

Intern - HRD Staff & Finance Staff (Februari 2008 - Agustus 2008).

 

 

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN