Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dicky Idrus, CEO Fidya Tour & Travel (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Dicky Idrus, CEO Fidya Tour & Travel (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Dicky Idrus, CEO Fidya Tour & Travel

Ingin Sukses? Muliakanlah Orang Tua

Rabu, 8 Juni 2022 | 07:00 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

Ingin sukses? Muliakanlah orang tua, terutama ibu. Jika memuliakan orang tua, Anda pasti diberi kemudahan dalam menjalani hidup. Bahkan, tak hanya keberhasilan, Anda juga bakal mendapat limpahan berkah dari Yang Maha Kuasa.

Filosofi ini dipegang teguh Dicky Idrus, chief executive officer (CEO) Fidya Tour & Travel, perusahaan yang bergerak di bidang penyedia jasa perjalanan (travel) dan umrah.

Dicky merasakan betul dahsyatnya berkah akibat memuliakan orang tua. Ia yakin kesuksesan yang diraihnya saat ini pun merupakan buah dari doa dan restu orang yang paling dicintainya itu.

Bagi Dicky Idrus, berbagai upaya untuk mencapai kesuksesan belum cukup jika tidak disertai doa dan restu orang tua. Karena itu, muliakanlah orang tua.

“Kalau ingin sukses, muliakan orang tua, terutama ibu. Kunci sukses bagi saya adalah loyalitas, integritas, dan kejujuran, dilengkapi doa dan restu orang tua,” kata Dicky yang semasa SMA sudah membantu orang tuanya mencari nafkah dengan menjadi sopir truk.

Saat Dicky bergabung pada 2017 sebagai direktur pengembangan bisnis, Fidya Tour & Travel baru punya 12 cabang. Dalam dua tahun, jumlah cabang berkembang hampir empat kali lipat menjadi 41 cabang. Kesuksesan ini pula yang membuat Dicky dipercaya menjabat CEO Fidya Tour & Travel mulai Februari 2022.

Ada satu hal yang selama ini mengusik benak Dicky Idrus soal industri jasa perjalanan dan umrah di Tanah Air. “Bisnis jasa travel dan umrah bisa dibilang merupakan bisnis yang terus berlangsung dan cenderung tumbuh. Tapi sayangnya, belum ada perusahaan biro umrah yang bisa eksis lebih dari 30 tahun. Kalau sudah besar, biasanya rubuh,” papar dia.

Dalam pandangan pria kelahiran Pagar Alam, 31 Maret 1978 ini, industri jasa perjalanan dan umrah bisa tumbuh berkesinambungan bila dikelola secara tepat, terutama menyangkut pelayanan (service). Itu sebabnya, ia fokus ke service, alih-alih memperbanyak jemaah.

“Bisnis di bidang travel dan umrah itu tantangannya adalah service untouchable, bagaimana kami membantu jemaah. Di Fidya, bukan saya yang menjadi bos, tapi jemaah. Kalaupun ada sisa rezeki, itu yang kami makan,” tandas dia.

Dicky Idrus mengilustrasikan bisnis jasa travel dan umrah sebagai kuali multifungsi yang bisa digunakan untuk memasak berbaga jenis masakan. “Kuali saya harus bisa digunakan untuk masak apa aja, sehingga bisa bertahan, bertanggung jawab, dan bisa diwariskan ke anak cucu,” ujar anak sulung dari lima bersaudara yang hobi bermain bulu tangkis tersebut.

Seperti apa perjalanan karier Dicky Idrus? Apa saja pencapaiannya? Apa pula target dan obsesinya? Berikut penuturan lengkap Dicky kepada wartawati Investor Daily, Mardiana Makmun dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, belum lama ini:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Pada 2005, saya sempat menjadi kontraktor untuk Kementerian Komunikasi dan Informasi (Komenkominfo) untuk proyek VSAT (terminal pemancar dan penerima transmisi satelit) di 3.500 desa. Saya berhenti menjadi kontraktor dan membuat perusahaan papan palet sampai 2016.

Kenapa Anda tertarik menggeluti bisnis travel dan umrah?

Pada 2016, saya mulai kenal bisnis penjualan tiket ke Timur Tangah sebagai agen umrah untuk sebuah biro travel. Menurut saya, bisnis jasa travel dan umrah bisa dibilang merupakan bisnis yang terus berlangsung dan cenderung tumbuh. Tapi sayangnya, belum ada perusahaan biro umrah yang bisa eksis lebih dari 30 tahun. Kalau sudah besar, biasanya rubuh. Berarti harus ada sistem yang berbeda, harus ditangani dengan benar.

Apa tantangan industri jasa travel dan umrah sehingga banyak yang tidak bertahan lama, padahal pasarnya sangat besar?

Bukan mereka tak mampu, tapi tidak ada trust. Karena itu, kami melalui Fidya Tour & Travel ingin mengembalikan trust itu dengan keterbukaan. Memang ada kartel di bisnis jasa perjalanan umrah. Komponen umrah itu tiket dan visa. Kebanyakan tidak bertransaksi langsung ke pihak legal, sehingga ada kasus hotel dipindahkan atau visa tidak keluar.

Saya anggap bisnis jasa travel dan umrah itu seperti kuali yang harus disesuaikan. Kuali saya harus bisa untuk masak apa aja, sehingga bisa bertahan, bertanggung jawab, dan bisa diwariskan ke anak cucu.

Terobosan Anda untuk mengembalikan trust?

Pada 2017, saya gabung ke Fidya Tour & Travel, saat itu baru ada 12 cabang. Pada 2019 bertambah menjadi 41 cabang. Butuh sistem untuk front line dan back office. Saya fokus ke servis, bukan memperbanyak jemaah.

Saya membuat cabang seperti inkubator dengan aturan dari pusat. Kami menyervis jemaah. Jemaah diedukasi, bahkan menginap semalam. Kami kasih edukasi tentang bagaimana menggunakan fasilitas hotel, proses pemeriksaan kesehatan, gambaran di imigrasi, dan di pesawat.

Biro travel dan umrah sering terlibat perang harga, pendapat Anda?

Dengan harga paket Rp 26 juta, kami nggak ikut perang harga. Alhamdulillah, sejak awal berdiri, Fidya Tour & Travel sudah memberangkatkan 1,3 juta orang dengan omzet Rp 20 triliun.

Arti jemaah menurut Anda?

Jadi, bisnis di perjalanan umrah itu tantangannya adalah service untouchable, bagaimana kami membantu jemaah. Di Fidya, bukan saya yang menjadi bos, tapi jemaah. Kalaupun ada sisa rezeki, itu yang kami makan.

Di Fidya, kami juga menekankan bahwa ustaz di biro umrah itu hanya berperan pada ritual ibadah. Untuk operasional perusahaan, yang berperan ya harus manajemen.

Anda tidak menggunakan tokoh atau influencer untuk menjaring lebih banyak jemaah?

Kami tidak menggunakan satu orang atau tokoh. Sebab, ketika tokoh tersebut ada masalah, perusahaan akan runtuh. Namun, tidak menutup kemungkinan Fidya memakai brand ambassador, tapi bukan artis atau ustaz.

Kondisi Fidya Tour & Travel selama pandemi Covid-19?

Selama pandemi, kami tidak merekrut jemaah. Tapi kami melakukan penguatan internal, membina agen. Saat ini, kami terus fokus membangun sistem. Ini supaya siapa pun yang datang dan pergi, perusahaan tetap jalan. Fokus perbaikan yang kami lakukan adalah perbaikan sistem.

Komitmen hanya bisa dikawal dengan sistem, mulai dari front end hingga back end yang terkoneksi. Kami juga memperbaiki layanan dan standardisasi. Contohnya cara penyeragaman menyambut jemaah di cabang.

Dicky Idrus, CEO Fidya Tour & Travel (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)
Dicky Idrus, CEO Fidya Tour & Travel (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Target yang ingin Anda capai?

Sebelum pandemi, Fidya memberangkatkan 900-1.000 jemaah per tahun. Kami kembali memberangkatkan jemaah pada 12 Maret 2022 sebanyak 61 jemaah, itu pun 80% adalah sisa jemaah tahun 2020 yang tertunda keberangkatannya karena keburu pandemi dan 20%-nya jemaah baru. Ini setelah pada 5 Maret Pemerintah Arab Saudi menghentikan karantina bagi jemaah yang akan beribadah umrah.

Tahun ini, kami punya dua program. Pertama yaitu umrah reguler sampai Desember 2022 sebanyak 1.000 jemaah. Kedua, paket tabungan umrah lewat koperasi selama 1-3 tahun. Dari 41 cabang, target masing-masing cabang bisa mendapatkan 10-30 penabung per bulan.

Untuk paket tabungan umrah ini, Fidya bekerja sama dengan koperasi Rumah Kita untuk tabungan bagi jemaah dan agen. Semangatnya, Fidya Tour memberikan banyak jalan menuju Tanah Suci. Selain itu, Fidya menawarkan paket umrah eksekutif, umrah corporate dalam program Iman, Imun, dan Ikhlas.

Siapa orang yang paling berperan dalam hidup Anda?

Tentu kedua orang tua saya. Saya anak paling tua dari lima bersaudara, asal Pagar Alam, Sumatera Selatan. Ayah saya guru SD dan ibu saya berjualan nasi. Waktu masih duduk di bangku SMA, saya sudah membantu orang tua mencari nafkah dengan menjadi sopir truk.

Saya merantau ikut paman ke Manggar, Belitung, sampai SMA. Pada 1995, saya kuliah di Universitas Syiah Kuala, Aceh. Untuk membiayai kuliah, saya kerja di bidang kreatif. Saya berupaya bagaimana caranya agar bisa kos secara gratis. Akhirnya saya bekerja di studio musik, dapat makan dan dapat gaji. Saya juga sempat bekerja di radio.

Selesai kuliah, saya nggak kepikiran kerja, tapi buka usaha, ber-partner dengan perusahaan peternakan ayam. Dari situ saya belajar bagaimana berwiraswasta. Laki-laki harus cepat punya usaha untuk membiayai adik-adiknya. Saya yakin sekali ini berkat doa orang tua, berkat restu orang tua.

Pada 2002, saya diminta pulang oleh orang tua, dari Aceh ke Pagar Alam. Ada hikmahnya saya pulang. Pada 2004 kan terjadi tsunami besar di Aceh. Lalu saya bekerja sebagai marketing di perusahaan procurement.

Filosofi hidup Anda?

Filosofi hidup saya adalah restu orang tua dan ikhtiar. Kalau ingin sukses, muliakanlah orang tua, terutama ibu. Kunci sukses bagi saya adalah loyalitas, integritas, dan kejujuran, serta dilengkapi doa dan restu orang tua.

Obsesi Anda ke depan?

Saya ingin Fidya Foundation (yayasan amal di bawah Fidya Tour & Travel) bisa berkembang dan berbagi untuk masyarakat. Untuk sementara ini berbagi untuk internal dulu. ***

Energik Berkat Bulu Tangkis

Chief Executive Officer (CEO) Fidya Tour & Travel, Dicky Idrus adalah pria energik. Didukung tubuhnya yang ramping dan staminanya yang bugar, ia bisa bekerja secara gesit dan total.

Nah, apa rahasianya? Ternyata badminton alias bulu tangkis yang membuat tubuh Dicky selalu bugar. Rupanya, pria berusia 44 tahun itu gemar bermain bulu tangkis.

“Saya usahakan rutin bermain badminton. Kalau ada waktu luang, saya bisa main tiga kali dalam seminggu,” tutur Dicky Idrus.

Bekerja di bidang jasa pelayanan umrah dan travel memang harus memiliki tubuh yang bugar. Apalagi jika harus mendampingi para jemaah, baik di perjalanan maupun saat melaksanakan ibadah umrah.

Dicky mengaku tidak melakukan diet khusus. Menu makan yang dikonsumsinya pun biasa saja, meski tidak berlebihan. “Nggak ada diet khusus. Yang penting tetap rutin berolahraga,” ujar Dicky. (nan)

 

Dicky Idrus, CEO Fidya Tour & Travel (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)
Dicky Idrus, CEO Fidya Tour & Travel (Foto: Investor Daily/Emral Firdiansyah)

Biodata

Nama: Dicky Idrus.

Jabatan: CEO Fidya Tour & Travel.

Tempat/tanggal lahir: Pagar Alam, 31 Maret 1978.

Pendidikan: S1 Ekonomi Studi Pembangunan, Universitas Syiah Kuala, Aceh.

Karier:

- 2022: Direktur Utama/CEO Fidya Tour & Travel.

- 2017: Direktur Pengembangan Bisnis Fidya Tour & Travel.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN