Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), Rio TN  Lasse (foto: ist)

Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), Rio TN Lasse (foto: ist)

Rio TN Lasse, Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC)

Jujur, Loyal, dan Tepercaya

Rabu, 20 Juli 2022 | 10:00 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

“Saya orang Priok.” Begitu Rio selalu menyebut dirinya. Rio Theodore Natalianto (TN) Lasse memang lahir dan besar di kawasan Priok. Siapa nyana kini dirinya menjadi orang nomor satu di PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk atau Indonesia Port Corporation Car Terminal (IPCC), perusahaan yang berdomisili di Priok?

Yang pasti, Rio TN Lasse punya mimpi besar untuk perusahaan yang dinakhodainya. Ia ingin menjadikan emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham IPCC itu mampu bersaing di level regional, bahkan global.

Advertisement

Rio adalah eksekutif yang paham betul bahwa kesuksesan tidak akan turun dari langit. Untuk meraih kesuksesan, seseorang harus bisa dipercaya, jujur, dan loyal terhadap pekerjaan. Orang yang ingin sukses juga tak boleh berhenti belajar. “Kita harus terus berjalan, mengasah diri,” ujar dia.

Rio tak pernah menyia-nyiakan kepercayaan yang diamanatkan kepada dirinya. Ia akan selalu berupaya mengemban kepercayaan itu dengan penuh tanggung jawab. “Kalau diberikan kepercayaan, saya kerjakan lebih daripada yang diminta,” tutur dia.

Bagaimana Rio memulai karier? Apa saja yang dilakukannya untuk memajukan perusahaan? Apa pula targetnya ke depan? Berikut penuturan lengkap Rio TN Lasse kepada wartawati Investor Daily, Euis Rita Hartati di kantornya belum lama ini:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga di posisi puncak saat ini?

Perjalanan hidup saya bisa dikatakan unik. Saya memang lahir dan tinggal di Priok, namun bersekolah di SMA Kanisius yang cukup lumayan jauh jaraknya. Lalu berkuliah di teknik sipil Institut Teknologi Bandung (ITB), yang saya rasakan sangat berkesan.

Setelah lulus, saya sempat membuka usaha sendiri bersama teman-teman, sambil menunggu jika ada panggilan kerja yang bagus. Tapi saat itu krisis menerpa sehingga banyak perusahaan yang mengalami kesulitan.

Akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2 di Australia. Saya sempat mendaftar untuk tinggal dan bekerja di sana, tapi panggilan hidup mengatakan lain. Akhirnya saya bergabung dengan PT Pelindo II (Persero).

Karier saya diawali sebagai staf operasional hingga menjadi EVP Perencanaan Strategi Korporasi di Pelindo II pada Januari 2019 hingga Juli 2020. Kemudian saya dipercaya sebagai Direktur Operasi dan Teknik IPCC. Selanjutnya saya ditugaskan menjadi direktur utama sejak Juni 2021 hingga saat ini.

Bagaimana prospek ekspor kendaraan jika dikaitkan dengan kinerja IPCC ke depan?

Ke depan tentunya kami optimistis produksi kendaraan akan meningkat, karena beberapa car maker sudah menyampaikan bahwa kapasitas produksi akan naik. Sekarang sudah 100%. Pandemi Covid-19 sudah tidak ada impact-nya lagi.

Menariknya lagi, pangsa pasar kita mulai tumbuh, sehingga produksi kendaraan dengan model baru akan lebih besar lagi ke depan. Apalagi sekarang muncul tren teknologi kendaraan listrik (electric vehicle).

Kami harus bisa mengantisipasi itu. Kami harus mengakomodasinya, mulai dari kelengkapan fasilitas, lapangan penumpukan, hingga kemudahan memberikan akses bagi customers.

Kami harus siapkan semua itu, termasuk untuk bisnis jangka panjang ke depan. Kami memiliki kontrak yang direct kepada para car maker. Ini yang menjadi target kami ke depan. Harapannya, kami dapat memberikan layanan yang sifatnya end to end secara maksimal. Tidak hanya di terminal, tapi juga bisa menjangkau beyond.

Kami siapkan itu untuk ekspor. Untuk domestik, kami juga siap mendorong distribusi lebih luas ke beberapa pulau besar di Indonesia. Pangsa pasar domestik kan terus tumbuh.

Apa dampak positif merger Pelindo bagi IPCC?

Yang pasti, IPCC menjadi ‘Indonesia’. Sebelumnya organisasi kami mungkin fokusnya hanya ke Jakarta. Merger PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) yang sebelumnya berbasis wilayah, sekarang berbasis core business. Ke depan, IPCC akan didorong untuk memperkuat core business dan ekosistemnya.

Dengan dimergernya Pelindo (Pelindo I, Pelindo III, dan Pelindo IV resmi melebur ke Pelindo II sebagai surviving entity pada 1 Oktober 2021), pengoperasian semua terminal yang melayani jenis komoditas, kendaraan, dan alat berat dipercayakan kepada IPCC.

Ini justru peluang besar bagi kami untuk menambah market share dan supaya tumbuh lebih pesat lagi. Apalagi kami perusahaan terbuka. Pemegang saham berharap kami sustain dan terus bertumbuh.

IPCC sejak empat tahun lalu menjadi smart port, bagaimana perkembangannya?

Arahnya memang harus ke sana. Salah satu strategi kami adalah digitalisasi. Menjadi terintegrasi, ekspansi, dan digitalisasi. Dengan digitalisasi, proses bisnis diharapkan lebih slim, efisien, cepat, lebih mudah bagi customer.

Kami memisahkan digitalisasi dari aspek operasional, komersial, dan back office. Dari aspek operasional, kami terus menerapkan operating system. Kami punya CarTOS (car terminal operating system) untuk terminal internasional, sedangkan untuk domestik ada Cardom.

Sistem ini diharapkan harmonis semua di semua cabang. Ke depan, sebetulnya operating center atau command center-nya akan ada di Jakarta, sehingga dari Jakarta kami bisa memonitor semua kegiatan di cabang.

Kemudian operasional terminal kendaraan kan dimulai dari gate sampai kapal. Kami sudah menerapkan autogate. Informasi dari sistem autogate ini terintegrasi dengan aplikasi pelabuhan.

Kami pun sudah menerapkan Radio Frequency Identification (RFID) dengan salah satu car maker. Begitu masuk, kendaraan sudah langsung terekam sistem, sehingga tidak perlu dilakukan scanning.

Tahapan berikutnya, kami mengintegrasikan antara layanan di operasional dan layanan customer sampai keuangan. Kami baru melakukan bisnis proses baru secara order to cash. Bagaimana customer melakukan permintaan layanan, kemudian kami layani di lapangan sampai penagihan. Ini terus disempurnakan agar lebih efisien lagi. Digitalisasi ini mengarah ke smartport.

Ke depan, interaksi customer akan terus kami sempurnakan melalui platform digital. Kemudian back office secara bertahap diganti dengan platform digital. Semua bertahap, tidak bisa langsung lompat karena dari sisi maturity level di information technology (IT) harus disesuaikan.

Salah satu concern pemerintah adalah menurunkan biaya logistik, bagaimana Anda melihatnya?

Kalau mau menekan biaya logistik tidak bisa hanya di satu aspek saja, semua aspek harus dilihat. Dari situ akan diketahui berapa sebenarnya kontribusi di terminal. Kalau di-breakdown, peranan IPCC adalah bagaimana kami bisa membuat lebih efisien di dalam layanan.

Yang lainnya jelas di luar peranan IPCC. Jadi, upaya kami ke depan adalah mendorong kontribusi dalam pengurangan biaya logistik dengan menambah dan memperbaiki kualitas layanan.

Konsep green terminal yang dijalankan IPCC seperti apa?

Green terminal sudah diupayakan untuk listrik. Ini upaya untuk mengurangi emisi karbon, mengurangi penggunaan bahan bakar di dalam terminal. IPCC berbeda dengan nature terminal lain yang bisa didorong melalui electrical plugging. Transisi energi akan kami lihat secara bertahap.

Sebenarnya sudah ada beberapa ide untuk menggunakan solar power, tapi ini akan melibatkan shifting yang sangat besar. Terlebih lagi pada ekosistem kami ada PLN dan BUMN lain.

Kalau kami mau langsung shift, banting stir, akan berdampak pada perusahaan yang lainnya juga. Kami harus memperhatikan hal ini. Maka transisi energi dilakukan secara bertahap.

Target Anda ke depan?

Yang pasti, berdasarkan ekspektasi pemegang saham, kami harus memberikan keuntungan bagi mereka. Setiap tahun, kami upayakan mencapai atau melampai target top line dan buttom line. Pada 2020, kami tidak beri dividen karena minus, tapi tahun ini kami berikan dividen.

Pada 2021, IPCC mencatatkan laba bersih Rp 60,06 miliar, melonjak 352,62% dari tahun sebelumnya. Rapat umum pemegang saham (RUPS) tahunan perseroan menetapkan pembagian dividen sebesar 70% dari laba bersih atau sekitar Rp 42,04 miliar, dengan nilai Rp 23,12 per saham.

Ke depan, tentu kami tetap optimistis dengan pasar domestik yang lebih besar. Kami juga ingin IPCC mampu bersaing di level regional dan global.

Gaya leadership Anda?

Dari sisi leadership, pasti harus dimulai dari saya dulu. Saya harus pegang semua apa yang harus saya omongkan. Integritas juga harus saya tunjukkan. Walk the talk, artinya saya melakukan apa yang saya katakan. Saya harus bisa menjadi contoh untuk tim IPCC.

Saya juga berpegang konsep klasik Tut Wuri Handayani. Di depan, saya sebagai teladan dan memberi contoh. Saya harus menginspirasi banyak orang. Saya harus menunjukkan bahwa saya komit dengan apa yang saya kerjakan.

Saya mengajak semua orang di sini memperlakukan perusahaan ini sebagai sebagai sebuah perahu besar yang akan membawa kita ke satu tujuan yang lebih baik. Perusahaan harus tetap berkembang bersama orang-orang di dalamnya.

Arti karyawan menurut Anda?

Yang paling penting dalam sebuah perusahaan adalah orang-orang yang ada di dalam perusahaan, mulai dari pucuk pimpinan sampai level terbawah. Masing-masing punya peran.

Kami buka pintu sebesar-besarnya agar setiap orang bisa berprestasi, berinovasi, dan speakout. Yang punya talent kami kembangkan. Kami bawa semua sumber daya yang ada untuk bisa membawa perusahaan ini menjadi lebih baik.

Sikap positif juga saya dorong ke teman-teman, agar punya pandangan jauh ke depan. Nggak ada istilah cepat puas. Stay positive juga saya kembangkan. Kami harus bersyukur. Itu modal awal. Kalau awalnya sudah keluh kesah, akhirnya malah nggak semangat, loyo.

Kami harus terus bergerak maju atau move forward. Lalu make it happen, apa yang diprogramkan dibuat sampai jadi. Jangan hanya wacana. Bergerak maju, lupakan apa yang dulu, dan wujudkan.

Yang terakhir adalah be professional. Di luar sana, jika punya kehidupan pribadi, terserah aja. Tapi begitu masuk perusahaan, satu persatu berjuang untuk mencapai tujuan, untuk mendongkrak kinerja perusahaan.

Filosofi hidup Anda?

Hal yang saya yakini, seseorang harus bisa dipercaya, jujur, dan loyal. Sebagai pribadi, saya terus berjalan, mengasah diri. Kalau diberikan kepercayaan, saya kerjakan lebih daripada yang diminta. Yang paling sulit adalah jangan sampai terjebak untuk dirimu sendiri.

Siapa role model Anda?

Sebagai profesional di port, saya pernah jadi tangan kanan beberapa orang hebat. Tidak ada manusia yang sempurna, tapi banyak manusia yang punya kelebihan. Saya banyak belajar dari mereka. Bagi saya, pemimpin adalah orang yang harus saya angkat dan muliakan.

Cara Anda membagi waktu antara kerja dan keluarga?

Saya usahakan Sabtu-Minggu bersama keluarga, istri dan dua anak saya. Hobi mereka adalah hobi saya. Istri saya senangnya kuliner. Dia profesional dan suka masak. Satu kenikmatan buat dia adalah memasak. Saya makan masakan dia dengan pujian yang rada gombal. Itu satu kebahagiaan buat dia dan buat saya.

Setelah makan bersama, kami biasanya jalan-jalan atau nonton. Saya pribadi memang senang traveling, mengobrol, dapat inspirasi, merenung. Dalam setiap perjalanan, saya mensyukuri sudah sampai di titik ini dan merencanakan apa yang harus dilakukan ke depan. Istri selalu mengingatkan saya agar jangan ngoyo, bersyukur atas apa yang ada sekarang.

Mimpi yang belum tercapai?

Saya sih berharap bisa lebih banyak berinteraksi dengan banyak orang dan bisa menginspirasi, termasuk kepada anak-anak saya. ***

 

Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), Rio TN  Lasse (foto: ist)
Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk (IPCC), Rio TN Lasse (foto: ist)


Bandung Jadi Rumah Kedua

Kota Bandung memiliki tempat istimewa di hati Rio TN Lasse. Kota berjuluk Paris Van Java ini seolah menjadi rumah kedua baginya. Maklum saja, dia pernah tinggal selama lima tahun di sana, saat menuntut ilmu di Institut Teknologi Bandung (ITB).

“Saya senang Bandung. Saya ada bonding dengan kota itu, karena lima tahun kuliah di sana,” kata Rio.

Biasanya hal yang dia lakukan saat ke Bandung adalah datang ke rumah kosnya di masa lalu. Tak lupa Rio juga mendatangi tempat, di mana dahulu dia dan rekan-rekan kuliahnya berkumpul dan bercengkerama.

“Datang untuk bernostalgia dan silaturahmi. Bahkan jika tak sempat mampir pun, sekadar melihat dari jauh saja, saya sudah senang,” ujar dia.

Saat ini, Jakarta menjadi pelabuhan hatinya. Selain merupakan tanah kelahiran dan tempatnya bekerja, di Jakarta-lah Rio menetap bersama istri dan dua anaknya tercinta.

“Berkumpul bersama keluarga adalah waktu yang saya tunggu-tunggu, karena saya bisa re-energize, refresh. Mereka adalah inspirasi saya,” papar dia. (es)

 

Biodata 

Nama: Rio TN Lasse.

Pendidikan:

  • Sarjana Teknik Sipil - Institut Teknologi Bandung (ITB).

  • Master of Engineering Science - University of South Wales.

  • Master of Business Administration - University of California Los Angeles – National of Singapore.

Karier:

  • Direktur Utama PT Indonesia Kendaraan Terminal Tbk/IPCC (Juni 2021 – sekarang).

  • Direktur Operasi dan Teknik IPCC (Agustus 2020 – Juni 2021).

  • EVP Perencanaan Strategi Korporasi PT Pelindo II (Januari 2019 – Juli 2020).

  • Kepala Biro Strategi Perusahaan PT Pelindo II (September 2016 – Januari 2019).

  • Direktur Komersial PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (September 2014 – Agustus 2015).

  • Direktur Teknik PT Pengembang Pelabuhan Indonesia (Juni 2013 – September 2014).

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN