Menu
Sign in
@ Contact
Search
Raymond Sutjiono, Co-founder McEasy (foto ist)

Raymond Sutjiono, Co-founder McEasy (foto ist)

Raymond Sutjiono, Co-founder McEasy

Belajarlah kepada Masalah, Jangan Setengah-setengah

Rabu, 17 Agustus 2022 | 11:42 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

Mengenyam pendidikan dan berkerja di dua perusahan besar di Amerika Serikat (AS), Ford Motor Company dan Cummins Inc, tak membuat seorang Raymond Sutjiono melupakan negerinya tercinta: Indonesia.

Setelah merasa cukup mendapat pengalaman dan ilmu di Negeri Paman Sam, Raymond bersama temannya, Hendrik Ekowaluyo memilih pulang ke Indonesia pada 2017. Setahun kemudian, keduanya membangun McEasy, perusahaan yang bergerak di bidang software as a service (SaaS) alias perangkat lunak berbentuk layanan. McEasy menawarkan layanan software manajemen dan pelacakan kendaraan logistik.

“Saat itu, saya dan Hendrik sama-sama ingin pulang. Kami belajar semaksimal mungkin. Di sana dapat exposure dan ingin membawa sesuatu ke Indonesia. Kami ingin memberikan suatu perbedaan di Indonesia,” kata Co-founder McEasy, Raymond Sutjiono kepada wartawan Investor Daily, Leonard AL Cahyoputra di Jakarta, baru-baru ini.

Berbekal pengalaman kerja dan latar belakang pendidikan sebagai mechanical engineering, Raymond dan Hendrik mencoba masuk segmen sistem keamanan (security system). Keduanya membuat produk sendiri untuk global positioning system (GPS) sepeda motor. “Tetapi kami lihat daya beli di pasar kurang, walau mereka tertarik produk kami,” tutur dia.

Kegagalan itu tidak membuat Raymond Sutjiono patah arang. Ia kembali mencoba. Kali ini, Raymond melirik bisnis logistik dan rantai pasok (supply chain). Alasannya, masih banyak yang perlu dikembangkan di sektor logistik dan rantai pasok Indonesia. Terlebih dunia sedang bergerak ke arah digitalisasi dan pemerintah sudah mencanangkan industry 4.0. Lagi pula, pandemi Covid-19 membuat digitalisasi semakin tidak bisa dikesampingkan.

“Kami melihat peluang logistik di Indonesia masih besar. Begitu juga tantangannya. Banyak pelaku usaha di sektor logistik belum terdigitalisasi. Masih banyak sekali transaksi yang belum terintergrasi, sehingga terjadi inefisiensi,” ujar Raymond.

Raymond Sutjiono mengaku senang bisa membuat sistem yang mampu mendorong bisnis lebih maju. Terlebih Raymond dan Hendrik Ekowaluyo memiliki kesamaan, yaitu sama-sama punya bisnis keluarga. Mereka mengerti bagaimana karakter dan dampak digitalisasi bagi suatu perusahaan. Keduanya menginginkan prinsip itu bisa diterapkan di perusahaan logistik.

Raymond Sutjiono adalah tipe entrepreneur yang pantang menyerah dan haus ilmu, dengan totalitas tinggi. Ada tiga filosofi yang selalu dipegangnya. Pertama adalah belajar dari setiap masalah yang dihadapinya. “Saya tidak pernah menyerah. Belajar dari masalah akan menjadikan saya lebih kuat,” tegas dia.

Kedua, Raymond selalu ingin yang terbaik pada apa yang dilakukannya. Itu sebabnya, ia menjalani pekerjaan secara total, tidak pernah setengah-setengah. “Saya harus memberikan yang terbaik, terutama kepada konsumen. Pada dasarnya, itu integritas saya,” tandas dia.

Ketiga, Raymond senantiasa bersyukur terhadap setiap pencapaiannya, baik saat gagal maupun saat berhasil. “Saya selalu berupaya untuk mengucapkan terima kasih pada setiap liku perjalanan hidup ini. Saat sukses sedikit selalu bilang terima kasih. Saat susah pun bilang terima kasih,” papar dia. Berikut penuturan lengkapnya:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Saya kuliah S1 di Purdue University, AS, mengambil jurusan mechanical engineering. Lalu saya mendapatkan beasiswa untuk S2 di kampus yang sama, bekerja sama dengan salah satu perusahaan genset terbesar di AS, Cummins.

Jadi, saya melakukan riset OBD control system yang pada 2010-2011 sedang panas-panasnya untuk pengaturan gas emisi. Selanjutnya saya bekerja di Cummins, tetapi tidak lama, lalu saya pindah ke Ford. Di perusahan itu, saya bekerja untuk pengembangan produk ke arah OBD control system.

Pada dasarnya, di AS, saya banyak belajar. Background saya mechanical, tetapi pekerjaan saya lebih ke arah eletronik. Makanya saya paham sistem data transfer untuk kendaraan.

Saat itu, saya dan Pak Hendrik (Hendrik Ekowaluyo) sama-sama ingin pulang. Kami belajar semaksimal mungkin. Di sana dapat exposure dan ingin membawa sesuatu ke Indonesia. Engineering itu masih kurang kalau di Indonesia. Kami melihatnya bukan sebagai titik kelemahan sih, tetapi sebagai peluang.

Bagaimana Anda memperkenalkan produk kepada calon konsumen?

Kami memang agak susah untuk masuk. Kami punya tim yang banyak di bagian sales. Saya bahkan ikut memasarkan langsung. Saya mempelajari apa kebutuhan konsumen sebelum saya beri ke tim sales untuk ditindaklanjuti. Kami kan menjual barang tersier. Saya yakinkan calon konsumen bahwa mereka punya problem besar. Jika bisa diatasi, perusahaan bisa lebih berkembang.

Tantangannya, kami harus bisa membuat konsumen terdukasi, mengapa mereka perlu menggunakan sistem dan bagaimana bila mereka tidak menggunakan sistem di zaman digitalisasi ini, ketika banyak startup bermunculan dan bersaing dengan existing.

Kami memberitahu bagian mana saja yang perlu ditingkatkan. Kami berharap, setelah kami memberi edukasi, mereka sadar bahwa problem itu ke depan bisa menjadi besar. Kami menawarkan solusi kepada mereka. Kami ingin perusahaan memahami bahwa digitalisasi bisa menjadikan perusahaan lebih maju.

Kami dari awal langsung menawarkan ke perusahaan-perusahaan. Kebanyakan adalah business to business (B to B). Kami mulai dari perusahaan kecil-menengah, kemudian perusahaan besar.

Gebrakan apa saja yang sudah dilakukan McEasy?

Kami masuk dunia logistik pada 2019. Sebelumnya kami berkecimpung di industri sepeda motor. Untuk gebrakan perusahaan, saya dan Hendrik berani berubah, berani ambil risiko untuk langsung berubah dari business to consumer (B2C) ke business to business (B to B).

Jadi, kami berubah dengan mengganti perspektif software. Itu saya bilang “kegagalan” yang harus disadari sehingga bisa mencari jalan yang lebih maju. Kami melakukan perubahan pada kuartal III dan IV-2019. Kami mulai berjualan sistem.

Gebrakan lainnya yaitu keberhasilan kami membuat headquarter di Surabaya dan melebarkan sayap di Jakarta. Kami tahun lalu cukup sukses, mendapatkan investasi dari East Ventures sebesar Rp 22 miliar. Kita berharap bisa terus mengakselerasi perusahaan ini. Tahun ini kami meraih pendanaan seri A senilai US$ 6,5 juta (sekitar Rp 97 miliar) yang dipimpin East Ventures.

Selama 18 bulan terakhir, pertumbuhan McEasy cukup pesat. Total pengguna meningkat sekitar 30 kali lipat. Kami memang berjuang untuk bisa memberikan exposure, memberikan solusi, sehingga konsumen bisa lebih sukses. Kira-kira itu sih. Goal kami yaitu ingin membuat ekosistem logistik dan supply chain di Indonesia.

Raymond Sutjiono, Co-founder McEasy (foto ist)
Raymond Sutjiono, Co-founder McEasy (foto ist)

Gaya kepemimpinan Anda?

Sebenarnya gaya kepemimpinan saya simpel, lebih ke top down dan bottom up. Top down artinya saya sebagai leader tidak bisa ditawar bahwa saya harus punya kebijaksanaan untuk menetapkan visi, misi, strategi, arahan, dan target-target perusahaan, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Dengan demikian, saya sebagai leader bisa memberikan motivasi kepada tim, atau setidaknya tim tahu apa yang ingin dicapai perusahaan. Tentu yang utama adalah bottom up. Karena punya banyak tim, saya enggak bisa jalan sendiri. Saya pasti membutuhkan masukan dari mereka sebanyak mungkin tanpa melihat umur dan jabatan.

Secara formal, tim human resource harus mendapatkan masukan apa pun. Masukan bagus maupun remeh harus kami terima. Kami ingin tahu apa masukan dari mereka yang bisa membuat perusahaan lebih maju. Saya sebagai leader pun ditantang untuk selalu turun, berbicara dengan tim, sehingga mengetahui kendala yang mereka hadapi.

Yang ingin saya sampaikan, kami tidak bisa otoriter terus. Ada saatnya ketika bottom up, saya harus siap support. Pada dasarnya semua tim harus memiliki ownership terhadap pekerjaan mereka dan bisa bekerja maksimal.

Tetapi suatu saat pasti ada hambatan, di mana saya harus siap membantu. Kan ada orang yang takut berbicara. Saya hampiri dia dan tanya ada masalah apa? Lalu apa yang bisa saya bantu sebagai atasan?

Akhirnya hidup lebih enak kalau saling support. Orang-orang bisa bekerja maksimal karena kami bantu ketika ada masalah. Kami juga beri bonus dan insentif sehingga mereka bisa bekerja maksimal dalam mengembangkan perusahaan.

Siapa orang yang menginspirasi Anda?

Kalau inspirasi untuk bekerja sih sebenarnya saya dan Hendrik ingin memberikan suatu perbedaan di Indonesia. Kami melihat AS maju, kami ingin ada sesuatu yang bisa dibawa ke Indonesia. Kami ingin menjadi kontributor.

Salah satu yang menjadi inspirasi juga, dulu saat kuliah, kami masih berumur 20-an tahun. Saya dan Hendrik bermimpi punya perusahaan mobil listrik, seperti Tesla, pada umur 40. Waktu itu semua anak muda mimpinya seperti itu. Kami yakin bisa dan itu menjadi inspirasi kami.

Apa pun yang dihadapi, kami selalu bilang pasti bisa kami lalui. Kami mendapat kesempatan untuk memberi solusi di bidang transportasi, ya kami jalanin. Kami enggak bisa langsung sukses tanpa menjalani apa yang kami hadapi tiap hari. Kami selalu mencoba melakukan yang terbaik, bagaimana membuat McEasy bisa berkembang pesat.

Filosofi hidup Anda?

Filosofi hidup saya ada tiga. Pertama, saya mencoba belajar dari setiap masalah yang saya hadapi, sehingga saya menjadi lebih kuat. Saya tidak menyerah pada apa pun yang terjadi. Belajar dari masalah akan menjadikan saya lebih kuat.

Kedua, saya ingin selalu melakukan yang terbaik pada apa yang saya lakukan, tidak pernah setengah-setengah. Jadi, pada dasarnya, itu integritas saya. Itu pula yang saya tanamkan kepada karyawan sebagai motivasi. Kami harus memberikan yang terbaik kepada konsumen. Kami dipercaya oleh konsumen, maka kami harus memberikan yang terbaik kepada konsumen.

Ketiga, saya berusaha untuk selalu mengucapkan terima kasih pada setiap liku perjalanan hidup ini. Saat sukses sedikit selalu bilang terima kasih. Saat susah pun bilang terima kasih.

Obsesi Anda yang belum dicapai?

Untuk perusahaan, kami ingin mencapai target satu juta unit kendaraan terintegrasi dengan McEasy. Kami ingin, kalau bisa, target itu tercapai dalam tiga tahun mendatang. Kami melakukan segala cara dan akselerasi untuk mencapai target tersebut.

Untuk kehidupan pribadi, saya dan istri ingin menjadi keluarga yang bijaksana dan menjadi orang tua yang mampu mendidik anak dengan baik, mengajari anak untuk selalu rendah hati.

Cara Anda menyeimbangkan kehidupan pribadi dan pekerjaan?

Istri saya mendukung pekerjaan saya. Mengenai keseimbangan hidup, pada dasarnya hari Sabtu-Minggu pun saya bekerja. Saya enjoy. Namun, saya berusaha untuk menyediakan waktu untuk keluarga dan kehidupan sosial. Misalnya pada Sabtu sore, saya menyempatkan diri untuk pergi makan atau bertemu teman.

Kalau dengan keluarga, biasanya sih jalan-jalan, cari makan atau nonton Netflix. Kalau ada kesempatan, inginnya traveling, misalnya ke Bali atau ke luar negeri.

Peran keluarga dalam karier Anda?

Peran keluarga itu penting sekali dalam memberi dukungan. Jadi, ketika banyak masalah pada pekerjaan, mereka memberikan dorongan bagaimana agar bisa lebih maju. Ada sharing partner. Kalau ada masalah, saya akan cerita sehingga ada masukan dari sisi lain. ***

 

 

Raymond Sutjiono, Co-founder McEasy (foto ist)
Raymond Sutjiono, Co-founder McEasy (foto ist)

Baca Buku untuk Kembangkan Bisnis

Sesibuk-sibuknya seorang pemimpin perusahaan, ia pasti punya hobi. Begitu juga Raymond Sutjiono. Setelah kasus pandemi Covid-19 menurun, ia kembali ke hobi lamanya; bermain tenis.

Hobi lain co-founder McEasy ini adalah membaca buku. “Sekarang kan zaman digital. Pagi-pagi baca e-book sambil minum kopi,” ucap dia.

Dulu, Raymond gemar membaca buku kepemimpinan dan motivasi. Sekarang, ia lebih suka membaca buku tentang pengembangan perusahaan. “Saya kan bukan orang sales, makanya saya baca buku tentang sales strategy, sales management,” tutur dia.

Raymond juga membaca buku-buku tentang kisah sukses (success story) perusahaan-perusahaan besar multinasional, misalnya bagaimana Microsoft bisa berkembang.

“Saya belajar bagaimana mereka bisa berkembang sehingga bisa saya tiru. Apakah bisa diterapkan? Tidak semuanya, paling 10%. Tapi itu sudah sangat bagus,” papar dia.

Bagi Raymond, membaca buku mendatangkan keasyikan tersendiri. Soalnya, ia bisa masuk ke dunianya sendiri dan mendapatkan persepektifnya. “Saya tidak hafal berapa banyak koleksi buku yang saya miliki, sebab kebanyakan membelinya secara online. Ada sekitar ratusan buku,” ujar dia.

Karena itu pula, Raymond Sutjiono ingin suatu saat nanti punya perpustakaan kecil di rumah. “Saya ingin beli buku dalam bentuk fisik juga, bukan cuma e-book. Kadang kalau baca buku online, mata cepat lelah,” kata Raymond. (leo)

 

Biodata

Nama: Raymond Sutjiono.

Pendidikan:

* Purdue University: Master’s degree, Mechanical Engineering (2011-2012).

* Purdue University: Bachelor’s degree, Mechanical Engineering (2008-2010).

* North Seattle College (2007-2007).

Karier:

- McEasy: Co-Founder (Januari 2018 - sekarang).

- PT Laprint Jaya: Managing Director (Januari 2015 - Agustus 2021).

- Ford Motor Company: OBD Control & Systems Engineer (Agustus 2013 - Desember 2014).

- Cummins Inc: Control & Systems Engineer (Januari 2013 - Juli 2013).

- Purdue University: Research Assistant (Januari 2011 - Oktober 2012).

- SAIC Volkswagen (magang): Engine Production Quality Control (Mei 2010 - Juli 2010).

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com