Menu
Sign in
@ Contact
Search
Diana Dewi, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta/Founder PT Suri Nusantara Jaya (ist)

Diana Dewi, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta/Founder PT Suri Nusantara Jaya (ist)

Diana Dewi, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta/Founder PT Suri Nusantara Jaya

Jalani Hidup Tanpa Mengeluh

Senin, 5 September 2022 | 19:19 WIB
Mardiana Makmun (mardiana@investor.co.id)

Menjalani hidup tanpa mengeluh adalah  prinsip  yang selalu dipegang teguh Diana Dewi. Bukan berarti ia tak pernah bersedih. Kesedihan dan tangisan hanya ia curahkan kepada Yang Maha Kuasa. Setelah bangkit, Diana  berupaya untuk tetap kuat menjalani hidup, senantiasa bersyukur, dan ikhlas.

Berkat filosofi tersebut,  Diana Dewi sukses  dari seorang karyawan perusahaan peternakan ayam menjadi  pengusaha  daging sapi serta  jaringan  toko daging sapi retail dan  logistik yang mempekerjakan  hampir 1.000 karyawan.  Diana  juga  memimpin Kamar Dagang dan Industri  (Kadin) DKI Jakarta yang beranggotakan  sekitar 5.000 pengusaha aktif dari total  25 ribu anggota.

“Saya tidak mau mengeluh. Kalaupun menangis, itu hanya dalam hati saja. Saya menangis di sajadah. Cuma Allah SWT yang tahu,”  tutur   founder PT Suri Nusantara Jaya dan  PT Suri Nusantara Jaya Logistik serta  Komisaris PT Garindo Food International tersebut.

Perempuan  yang sejak   2021 menjabat sebagai  Komisaris Independen PT Angkasa Pura Support (anak  perusahaan PT Angkasa Pura I)  itu   juga malang melintang di berbagai organisasi.

Selain menjadi orang nomor satu  di Kadin  DKI, entrepreneur kelahiran  Jakarta, 27 Juli 1965, ini  menjabat sebagai Ketua Umum  Asosiasi Pengolah Daging Skala UMKM dan Rumah Tangga (Aspedata), Sekjen Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI), anggota Dewan Pembina Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta,  serta Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) DKI Jakarta.

Diana Dewi adalah tipe pemimpin yang mengedepankan persatuan dan kebersamaan. Bagi Diana, kebersamaan merupakan  salah satu kunci kemajuan  sebuah organisasi. Hal yang sama berlaku di perusahaan.

“Kalau ingin organisasi ini  besar, semua anggota harus punya rasa memiliki sehingga  bisa mewujudkan tujuan organisasi.  Saya selalu menekankan  kegiatan bersama. Intinya, saya merangkul teman-teman untuk merasa memiliki   Kadin,” papar dia.

Seperti apa perjalanan hidup Diana Dewi? Apa pula obsesinya? Bagaimana  ia menjalankan program-program Kadin DKI? Berikut penuturan lengkapnya  kepada wartawati  Investor Daily, Mardiana Makmun  di Jakarta, baru-baru ini:

Bisa cerita  perjalanan karier  Anda  hingga memimpin Kadin DKI Jakarta?

Saya mengawali karier sebagai karyawan di sebuah perusahaan peternakan ayam. Tahun 1995, saya menunaikan haji bersama orang tua. Padahal waktu itu saya nggak  punya uang. Tapi pembimbing haji bilang bahwa saya harus mendampingi orang tua karena beliau sudah sepuh. Saya bilang,  saya nggak  punya uang. Saya diminta meniatkan dulu.

Alhamdulillah akhirnya ada rezeki, sehingga  saya bisa berangkat haji. Tapi dua  hari sebelum berangkat, saya belum dapat izin dari atasan. Akhirnya saya diizinkan tapi dengan syarat saya tidak bisa menerima gaji. Padahal saya nggak  pernah ambil cuti.

Saya bekerja  karena  single parent dan  mau membiayai ibu saya yang sakit diabetes dan setiap dua minggu harus berobat ke dokter.

Apa yang terjadi setelah Anda pulang dari Tanah Suci?

Pada Februari 1998, ibu saya meninggal. Itu menjadi momentum saya untuk keluar dari perusahaan. Saya resign pada  April 1998. Saat berhaji, saya berdoa ingin bekerja sesuai bidang saya.

Jadi, akhirnya saya keluar dari perusahaan dan membuka usaha  dengan berjualan daging sapi beku ukuran 1 kg di garasi rumah. Saya juga menjual daging  ayam. Saat itu, banyak juga rumah pemotongan ayam (RPA) yang mengajak saya bergabung. Ada yang menawarkan jabatan manajer marketing. Ada yang menawarkan direktur, tapi saya tolak.

Dalam perjalanan itu, saya ambil sedikit-sedikit ayam dari RPA. Pada  1998  terjadi rush bahan kebutuhan pokok. Saya dihubungi perusahaan-perusahaan itu untuk menyuplai barang. Saya ambil tonase karena saat itu saya sudah punya uang. Saya suplai daging sapi ke Goro dengan membeli sapi lokal.

Dari hanya dua karyawan, akhirnya usaha saya terus berkembang. Saya  kemudian mendirikan PT Suri Nusantara Jaya dan kini saya mempekerjakan hampir 1.000  karyawan. Bisnis  saya meliputi  importir daging, toko daging Nusantara, dan logistik.

 Anda mengimpor daging dari mana?

Saya mengimpor daging sapi dari Selandia Baru, Australia, dan Amerika Serikat (AS) untuk kebutuhan industri. Volume impor daging saya rata-rata mencapai 1.000 ton per bulan. Itu kecil karena secara industri,  konsumsi daging sapi di Indonesia baru mencapai 2,59 kg per kapita per tahun. Idealnya 5-7 kg per kapita per tahun, seperti Malaysia.

Target Anda ke depan?

Ke depan,   impor daging sapi akan saya turunkan karena saya akan fokus ke usaha toko daging untuk retail saja. Pilihan ini saya ambil karena  impor daging itu pemainnya banyak sehingga sangat kompetitif.

Saat ini saya baru membuka lima toko daging Nusantara, yaitu  di Rawamangun (Jakarta Timur), Depok, Kranggan (Bekasi), Kosambi  (Jakarta Barat), dan Cikarang Utara (Bekasi). Pada  2023, saya  akan membuka 15 toko lagi, di antaranya di Kemang dan Tebet (Jakarta), Soreang  (Bandung), Cirebon, dan Yogyakarta.

Diana Dewi, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta/Founder PT Suri Nusantara Jaya (ist)

Motivasi Anda  aktif di organiasi, khususnya Kadin?

Saya berorganisasi hanya ingin mencari networking. Tidak ada pikiran untuk  menjadi ketua. Pada Agustus 2019, ada musyawarah Kadin Jakarta. Saya diminta menjadi tim sukses untuk kandidat.

Namun rupanya ada dinamika, dari diminta jadi tim sukses, akhirnya saya malah diminta untuk maju menjadi ketua umum Kadin DKI. Saat itu ada lima kandidat, saya perempuan satu-satunya. Tipe saya itu sebetulnya hanya follower. Jadi, kalau ada agenda rapat, saya hanya rapat, jarang kongko-kongko. Saya langsung pulang.

Apa yang membuat Anda  terpilih menjadi  ketua umum Kadin DKI Jakarta periode 2019-2024?

Mereka  mengenal saya dan menurut mereka saya sudah menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk Kadin Jakarta. Bisnis saya pun sudah jalan. Saya juga sering diminta bantu mengisi kegiatan pasar murah. Itu sudah berjalan bertahun-tahun.

Program Anda  sebagai ketua umum Kadin DKI Jakarta?

Program kami  ada tujuh. Pertama, mengangkat industri kecil dan menengah (IKM) secara optimal. Kedua,  meningkatkan penetrasi produk IKM di dalam negeri dan luar negeri. Ketiga, memperjuangkan kemerdekaan lokasi tempat usaha IKM serta usaha kecil dan menengah (UKM). Keempat, mendorong proses percepatan kepabeanan. Kelima,  meningkatkan pendapatan melalui insentif. Keenam,  mendorong percepatan teknologi digital dan teknologi 4.0. Ketujuh, membuat program pelatihan dan sertifikasi.

Apakah  program-program tersebut sudah berjalan?

Sudah, contohnya program mengangkat industri kecil. Ada yang kami fasilitasi untuk eskpor. Juga program memperjuangkan tempat usaha. Alhamdulillah,  UKM di Jakarta  sudah dapat tempat di Sarinah, di Jl Blora.

Para pelaku usaha  mikro  juga diberikan tempat di gedung-gedung lain, dengan  difasilitasi oleh dinas terkait Pemprov DKI. Untuk penjualan digital marketing, minimal walaupun belum ada aplikasi, bisa lewat FB, Instagram, dan medsos lainnya. Banyak teman yang tadinya hopeless, sekarang optimistis lagi.

 Apa saja tantangan  untuk mewujudkan program tersebut?

Tantangannya adalah baru berjalan enam bulan langsung terkena pandemi Covid-19. Saya banyak berkolaborasi dengan Pemprov DKI. Karena saat itu terjadi pandemi dan prioritasnya adalah bagaimana supaya sehat dulu,  akhirnya kami  membeli  10 ribu antigen yang  dibagikan gratis melalui Pemprov DKI supaya distribusinya tidak tumpang tindih.

Tak hanya  dibagikan ke Pemprov  DKI, antigen juga diberikan  ke kota penyangga, seperti Depok dan Bekasi. Selain antigen gratis,  kami bagikan masker, alat pelindung diri (APD), dan hand sanitizer.

Setelah itu, baru kami menjalankan program kerja membuat pelatihan secara webinar, seperti pelatihan digital marketing, bagaimana agar produk IKM dan UKM bisa dijual. Ada beberapa teman UKM yang punya produk tertentu, kami  coba bantu penjualannya. Jadi, kami  beli produk sendiri. Saya juga bantu menjualkan produk teman-teman, misalnya risoles di toko daging saya.

Contoh lainnya, Pemprov DKI punya aplikasi e-orderNah, kami bikin pelatihan bagaimana masuk ke e-order. Kami juga mengkurasi produk-produk untuk masuk ke sebuah platform digital.

Berarti Anda juga  membantu  para anggota Kadin untuk mendapatkan  peluang bisnis?

Anggota Kadin DKI itu ada dua, yaitu anggota biasa yang terdiri atas perusahaan besar dan kecil, serta anggota luar biasa yang mencakup  asosiasi-asosiasi. Asosiasi ini meliputi berbagai sektor.  Saya harus membukakan peluang ini dan mem-publish untuk anggota, apa saja peluang bisnis yang ada di asosiasi-asosiasi. Saat ini  anggota Kadin DKI  berjumlah 25 ribu, tapi hanya sekitar 5.000 yang aktif.

Misi Anda untuk para anggota Kadin DKI?

Membesarkan yang kecil dan tidak mengecilkan yang besar. Saya harap yang masih kecil bisa jadi besar, dimulai dengan pelatihan, akses pembiayaan. Ini yang jadi fokus saya bagaimana mikro IKM ini besok menjadi besar.

Untuk yang besar, yang jumlahnya hanya 5%, walaupun yang kecil ini akan tumbuh, naik kelas, saya harap tidak bersaing dengan yang besar, melainkan  jadi seperti yang besar. Misalnya ada supplier untuk perusahaan besar. Akses ini harus dibuka.

Apa  lagi yang Anda lakukan untuk membantu para pelaku UMKM?

Salah satu program kami untuk mengangkat para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) adalah menggelar event Jakarta Festival.  Karena banyak IKM yang terdampak pandemi Covid-19, kenapa  nggak membuat event seperti Jakarta Fair pada 1968? Akhirnya kami  bikin suatu pasar di Parkir Timur Senayan.

Jakarta Fair digelar pada 26-28 Agustus 2022. Pesertanya UMKM dengan 220 booth dan 10 perusahaan besar yang juga menjadi sponsor. Lapaknya  kami gratiskan. Selain bazar juga digelar lomba-lomba yang diikuti Kadin wilayah Jakarta Barat, Utara, Pusat, Selatan, dan Timur. Selama tiga hari penyelenggaraan,  total pengunjung mencapai  26 ribu orang dengan nilai transaksi  Rp 3,5 miliar.

Potensi lainnya  yang bisa digarap?

Pada 2024 ada pesta demokrasi. Ada pemilihan umum kepala daerah dan  anggota legislatif (pilkada dan pileg)  berbarengan. Bagi  teman-teman pebisnis  yang kondisi usahanya sedang lesu, nggak ada salahnya beralih ke usaha yang dibutuhkan untuk pilkada atau pileg.  Kemudian terjadi perubahan iklim. Pangan akan mengalami krisis. Teman-teman bisa garap usaha pangan, diversifikasi pangan, pengolahan pangan.

Gaya kepemimpinan Anda?

Saya memimpin sebuah organisasi besar. Kalau mau besar, anggota harus punya rasa memiliki sehingga bisa mewujudkan tujuan organisasi. Bagaimana bisnis menjadi survive dan besar. Saya selalu menekankan  kegiatan bersama. Intinya, saya merangkul teman-teman untuk merasa memiliki organisasi Kadin ini.

Cara Anda mengatasi masalah atau konflik di organisasi?

Kunci utamanya adalah komunikasi. Kalau komunikasinya baik, kita hargai teman-teman semaksimal mungkin, pasti hasilnya baik.

Siapa  yang paling berperan dalam kesuksesan Anda?

Tentu anak-anak saya. Mereka tahu ibunya sangat suka berorganisasi. Mereka support semua kegiatan saya. Anak-anak saya terbukti  menjadi orang mandiri, bisa mengembangkan dirinya sendiri. Mereka tidak mengonsumsi  narkoba, minuman keras, bahkan  nggak merokok. Mereka  tahu ibunya nggak  akan jadi aktivis kalau anak-anaknya  tidak berjalan di “rel”-nya. Anak saya  dua, cucu juga dua.

Apa filosofi hidup Anda?

Hidup apa adanya. Saya nggak  ingin hidup dengan cara melihat orang lain. Jadi,  jalani hidup, bersyukur, ikhlas. Saya tidak mau mengeluh. Kalaupun menangis, itu hanya dalam hati saja. Saya menangis di sajadah. Cuma Allah SWT yang tahu.

Obsesi  Anda?

Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi sesama.***

Diana Dewi, Ketua Umum Kadin DKI Jakarta/Founder PT Suri Nusantara Jaya (ist)

Buku Hilang, Diana Senang

Diana Dewi gemar  membaca buku.  Buku apa saja, mulai buku-buku  ilmu pengetahuan sampai novel. “Saya juga mengoleksi majalah-majalah tahun 80-90-an,” ungkap Diana Dewi.

Tak cuma hobi membaca, Diana  rajin mengumpulkan dan menata  buku-buku yang telah dibacanya di lemari. “Kalau ada buku yang hilang, saya malah senang. Artinya buku itu ada yang baca. Sekarang karena ada e-book, di sela-sela bekerja, saya sempatkan baca dari e-book.  Sehabis baca buku, biasanya saya dapat inspirasi baru untuk bisnis,” papar Diana.

Diana juga suka bercocok tanam, khususnya  tanaman hias. “Saya punya lahan di Jakarta, saya tanami tanaman hias dan  tanaman obat-obatan. Di lahan tanaman hias itu,  saya  membuat  saung (dangau) yang  akhirnya sering dipakai untuk acara arisan,” kata  Diana.

Hobi  Diana berkembang  ke Sukabumi. Di sana, ia membuat klaster.  Ada klaster  pohon buah-buahan, jagung,  singkong,  dan tanaman hias. Hobinya itu bahkan sudah menghasilkan rupiah.  “Tanaman hias ini saya jual juga di toko daging saya,” tutur Diana.(nan)

BIODATA

Nama         :        Hj Diana Dewi, SE.

Tempat/tanggal lahir:   Jakarta, 27 Juli 1965.

Karier:

* 1998 – 2010     :  Direktur PT Suri Garuda Jaya.

* Tahun 2011 – sekarang: Founder PT Suri Nusantara Jaya.

* 2016 – sekarang: Komisaris PT Garindo Food International.

* 2016 – sekarang: Founder PT Suri Nusantara Jaya Logistik.

* 2021 – sekarang: Komisaris Independen PT Angkasa Pura Support (anak  perusahaan BUMN).

Organisasi:

* 2019 – 2024     : Ketua Umum Kadin  DKI Jakarta.

* 2019 – 2024     : Ketua Umum DPP  Asosiasi Pengolah Daging Skala UMKM & Rumah Tangga (Aspedata).

* 2019 – 2024     : Sekjen DPP  Asosiasi Pengusaha Jasa Boga Indonesia (APJI).

* 2021 – 2026     : Anggota Dewan Pembina DPD  Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) DKI Jakarta.

* 2018 – 2021     : Anggota Dewan Pembina DPD  MES DKI Jakarta.

* 2021 – 2026     : Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim (ICMI) DKI Jakarta.

 * 2013 – 2018    : Anggota Komtap Pengembangan Organisasi dan Keanggotaan DPP MES.

* 2018 – 2019     : Wakil Ketua Umum Bidang Pendidikan dan Sosial Kadin  DKI Jakarta.

* 2013 – 2018     : Ketua Komtap Kesekretariatan Kadin DKI Jakarta.

* 2012 – 2015     : Sekjen  DPP  Aspedata.

* 2012 – 2015     : Anggota Dewan Penasihat DPP  Masyarakat Agri Bisnis & Agro Industri Indonesia (MAI).

* 2015 – 2020     : Bendahara Koperasi Kadin  DKI Jakarta.

* 2010 – 2015     : Bendahara Koperasi Kadin  DKI Jakarta.

* 2009 – 2014     : Wakil Bendahara Badan Sertifikasi Kadin Jaya.

* 2008 – 2013     : Ketua Kompartemen Tetap Bidang Distribusi Kadin  DKI Jakarta.

* 2005 – 2012     : Bendahara Umum DPP MAI.

* 2007 – 2011     : Wakil Ketua Umum DPP  Asosiasi Distributor Daging Lokal & Impor  Indonesia (ADDI).

* 2005 – 2008     : Ketua Kompartemen Bidang Organisasi & Kelembagaan BPP  Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

* 2003 – 2007     : Bendahara Umum DPP ADDI.

* 2001 – 2004     : Wakil Bendahara Umum DPD Hipmi DKI Jakarta.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com