Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), Hermansjah Haryono (ist)

Presiden Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), Hermansjah Haryono (ist)

Hermansjah Haryono,  Presiden Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI)

Selalu Ada Sisi Gelap dan Terang

Kamis, 15 September 2022 | 17:11 WIB
M Ghafur Fadillah (redaksi@investor.id)

Jika dilihat dari  dua sisi yang berbeda,  gelap dan terang, kehidupan  ini akan terasa lebih  indah, dalam, kaya, dan dinamis. Begitu pula dalam memandang setiap persoalan. Dengan melihat persoalan atau tantangan dari dua sisi, seseorang akan memiliki sudut pandang yang lebih komprehensif, sehingga ia dapat meresponsnya secara lebih baik.

Hermansjah Haryono  juga selalu berupaya melihat persoalan dari dua sisi yang berbeda. Presiden Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) ini menganggap persoalan atau tantangan akan lebih mudah diatasi jika ia melihatnya dari sisi gelap dan terang. Cara pandang itu juga ia terapkan di Solusi Sinergi Digital, emiten  teknologi, software, dan IT services yang popular dengan nama Surge.

Hermansjah Haryono ternyata pengagum teknik Sfumato, istilah yang digunakan dan dipopulerkan Leonardo da Vinci, maestro seni  lukis dan  pahat, arsitek, penemu, ilmuwan, penulis, serta filsuf asal Italia pada masa Renaisans. Legenda yang termasyhur dengan masterpiece-nya,  lukisan Mona Lisa, itu memang kerap  menggunakan lapisan  warna-warna dalam lukisannya untuk menciptakan bentuk dan nuansa ilusif. 

“Leonardo da Vinci bagi saya bukan sekadar seniman, tapi  juga sebagai engineer. Salah satu teknik melukis yang  saya sukai darinya yaitu  Sfumato. Da Vinci menggunakan  gradasi bayangan dengan memperhatikan batas antara terang dengan gelap. Jadi, memandang sesuatu harus dari dua sisi yang berbeda,  sisi gelap dan sisi terang,” papar Iman, panggilan akrab Hermansjah Haryono, kepada wartawan Investor Daily,  Muhammad Ghafur Fadillah di Jakarta, baru-baru ini.

Dalam memandang pekerjaan, Iman punya pemahaman yang lebih dalam. Bekerja, bagi eksekutif kelahiran  Jakarta, 15 Juni 1972 ini,  bukan  semata berkaitan dengan  tugas-tugas yang harus diselesaikan  dalam pekerjaan. Ada nilai-nilai luhur dan idealisme yang  diembannya  saat ia bekerja, yakni mendatangkan kebaikan, manfaat, dan bisa mengangkat kesejahteraan banyak orang.

Nilai-nilai itu pula yang  mendorongnya  bergabung dengan Surge. Sebagai perusahaan yang bergerak di bidang backbone infrastruktur, Surge  dapat mendatangkan kebaikan dan membawa  masyarakat Indonesia ke arah yang lebih baik  melalui internet.

“Paling tidak, pembangunan backbone infrastruktur yang dilakukan  Surge dapat berdampak positif dengan menurunnya harga bandwidth, sehingga  semua masyarakat Indonesia punya  akses terhadap  konten tanpa batas secara  lebih murah,” tutur  Iman.

Sarjana Teknik Mesin Universitas Trisakti Jakarta yang meraih  Master of Business Administration (MBA) dari  Cleveland State University, Amerika Serikat (AS) itu percaya bahwa  jika semua punya akses tanpa batas dan murah di seluruh  pelosok negeri,  rakyat Indonesia pasti  maju. Soalnya,  masyarakat akan bosan pada  konten-konten  yang kurang mengedukasi. “Masyarakat  akan beralih mencari ilmu di internet, karena semua ada di sana,” tegas dia.

Jika seluruh masyarakat di Tanah Air punya akses ke internet tanpa batas dengan harga  murah, Hermansjah Haryono juga yakin  Indonesia  bisa menghasilkan lebih banyak  perusahaan unicorn.  “Saat ini jumlah  unicorn baru ada 11 perusahaan. Kalau masyarakat sudah tidak memikirkan kuota dalam menikmati konten,  harusnya jumlah 11 unicorn ini sedikit sekali,” ujar dia.

Awal perjalanan Iman di dunia teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dimulai ketika ia lulus  kuliah dari Universitas Trisakti dan belajar  sistem operasi komputer, Unix,  dari perusahaan layanan internet kedua di Indonesia, Radnet. Setelah itu, ia diterima  bekerja di  perusahaan  telekomunikasi yang berbasis di AS, Motorola. Pada saat yang sama, Iman belajar  bisnis, hingga akhirnya ia memiliki kesempatan untuk meneruskan studi di Cleveland State University dan meraih gelar MBA.

Ilmu  bisnis  membawanya bekerja di perusahaan perbankan  asal AS,  Wells Fargo. Setelahnya,  Iman sempat bekerja di sejumlah perusahaan internet service provider (SIP), seperti XL Axiata hingga di Hutchison 3. “Dunia telekomunikasi akan terus berkembang. Sejak awal, saya sudah tertarik  dunia ini,” kata dia. Berikut penuturan lengkapnya:

Apa alasan Anda bergabung dengan Surge?

Di Tri, saya  sempat menjadi Commercial Director Pacific Hub Regio Digicel Group dengan menaungi  lima area,  yakni Fiji, Samoa, Vanuatu, Tonga, dan Nauru. Namun  masih ada misi besar yang menjadi target saya dalam berkarier. Alasan ini  menjadi motivasi saya  untuk masuk Surge.  

Bukan hanya soal bekerja, namun ada idealisme soal mengangkat kesejahteraan banyak orang. Ini juga  saya lakukan saat menjabat sebagai trade marketing di Tri. Kami  berhasil mengangkat derajat para retailer.

Tujuan yang sama, bahkan lebih besar, membawa saya bergabung dengan Surge. Perusahaan ini bergerak  di bidang backbone infrastruktur yang dapat mengedukasi masyarakat Indonesia melalui internet ke arah yang lebih baik. Bahwa pembangunan backbone infrastruktur yang dilakukan  Surge dapat memberikan dampak positif dengan menurunya harga bandwidth.   Dengan demikian, semua masyarakat Indonesia  diharapkan memiliki  akses  terhadap  konten tanpa batas dengan harga lebih murah.

Kalau semua orang di seluruh pelosok negeri punya akses tanpa batas dengan harga murah,   saya percaya rakyat Indonesia pasti maju. Karena  apa? Masyarakat akan bosan dengan konten yang kurang mengedukasi dan  beralih mencari ilmu di internet, karena semua ada di sana.

Itulah alasan sebenarnya saya masuk  Surge. Ada kesamaan visi dengan para  founder  perusahaan, yaitu  memberikan internet access affordable yang  andal ke seluruh pelosok  Indonesia. Dengan begitu, pada akhirnya nanti  ekosistem digital, seperti aplikasi, konten, dan sebagainya bisa lebih booming lagi. Bukan tidak mungkin dengan adanya kemajuan ilmu pengetahuan,  masyarakat  kita  bisa menghasilkan lebih banyak  perusahaan unicorn.

Saat ini di Indonesia baru ada  11   unicorn. Kalau  masyarakat sudah tidak memikirkan kuota dalam menikmati konten, harusnya jumlah 11 unicorn ini sedikit sekali.  Makanya di perusahaan ini ada beberapa nama besar yang bergabung karena semata-mata  punya kesamaan visi.  Semoga visi dan misi saya juga bisa tercapai bersama Surge.

Kiat kepemimpinan Anda?

Salah satunya  dengan hands on. Saya  harus mengerti semua proses yang ada. Sebagai  leader, saya juga  harus memahami secara detail. Praktik leadership ini mungkin lebih  ke servant leadership atau pemimpin yang melayani. Misalnya  apabila ada rekan-rekan yang mengalami  kesulitan, saya harus memahami akar  masalahnya   dan mencari solusi bersama-sama.

Tanpa mengetahui problem  sesungguhnya, kita tidak akan pernah mengetahui solusi yang tepat. Maka  mau tidak mau, seorang pemimpin  harus mau capek. Itu adalah tipe leadership yang dibutuhkan saat ini,  apalagi di perusahaan startup.

Presiden Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), Hermansjah Haryono (ist)

Contohnya?

Salah satu contohnya,  kami  wajib  melakukan rapat harian. Sebelum rapat,  rekan-rekan akan  rapat awal untuk menyusun akar permasalahan dan solusinya. Jadi,  pada rapat utama, hasil rapat awal langsung  kami tindaklanjuti.

Jika ada masalah yang bersifat  kritis, kami akan terjung langsung  pada area masing-masing.  Selain itu, dari segi teknis, saya selalu menekankan kepada rekan-rekan agar selalu memprioritaskan tindakan yang akan berdampak langsung pada kemajuan bisnis perusahaan. Ini sudah jadi keseharian saya sebagai pemimpin perusahaan.

Strategi Anda memajukan perusahaan selama pandemi Covid-19?

Dampak pandemi memang luar biasa, terutama pada bidang periklanan,  meskipun sudah terikat kontrak panjang. Saya tekankan bahwa hubungan dengan klien itu bukan sekadar bisnis, namun hubungan yang saling memahami. Untuk itu, kami  terus berkomunikasi dengan para klien. Ini  berdampak sangat baik  bagi kedua perusahaan.

Selama  pandemi, kami  terus menggenjot kinerja bisnis, salah satunya pada proyek pemasangan kabel. Dalam berkomunikasi dengan tim, saya  melangsungkan rapat tatap muka langsung, tentu  dengan menjaga jarak yang ketat. Sebelumnya kami  rapat virtual, namun ditemukan banyak  kesalahan komunikasi.

Obsesi Anda  yang belum terwujud?

Sederhana, saya ingin semakin banyak orang yang bisa saya bantu melalui perusahaan ini. Itu  target saya. So far  ini adalah tujuan hidup saya.

Saya  juga ingin memastikan pembangunan infrastruktur   TIK berjalan  baik. Apabila infrastruktur ini sudah jadi, tantangan selanjutnya adalah bagaimana  ini bisa men-deliver konten yang edukatif, bermanfaat. Itu  obsesi  saya selanjutnya. Karena saya lahir di Indonesia, target saya selanjutnya adalah  memberikan  tantangan  pada diri sendiri ketimbang duduk nyaman namun hati nurani saya masih mengganjal. 

Apa filosofi hidup Anda?

Saya mengagumi Leonardo da Vinci. Bagi saya,  dia  bukan sekadar seniman, tapi  juga  engineer. Ada satu teknik melukis Leonardo da Vinci yang saya sukai, yakni Sfumato. Da Vinci menggunakan  gradasi bayangan dengan memperhatikan batas antara terang dengan gelap. Jadi,  dalam memandang sesuatu, kita harus melakukannya  dari dua sisi  berbeda, yakni sisi gelap dan sisi terang. Misalnya mengapa ada peretas atau hacker. Dengan begitu, kita punya pemahaman yang lengkap tentang suatu hal, sehingga kita bisa memberikan  respons lebih baik.

Bagaimana Anda mengimplementasikannya di  perusahaan?

Saya rasa setiap orang punya standar yang berbeda-beda. Saya mengimplementasikannya  bahwa tidak ada batas antara pemimpin dan karyawan sehingga tidak ada layer. Sebagai seorang pemimpin, saya punya otoritas  untuk membuat keputusan, tapi keputusan itu tidak selalu harus datang dari saya,  bisa digali dari rekan-rekan kerja lainnya.

Menurut saya, anggapan bahwa seorang pemimpin harus membuat keputusan yang mengakomodasi kepentingan orang banyak itu salah. Keputusan yang diambil  seharusnya menjadi yang terbaik untuk kepentingan perusahaan, meskipun itu tidak mengenakkan bagi certain party, sometimes you have take the risk, dengan tanggung jawab utama tetap di saya sebagai pemimpin.

Peran  keluarga  dalam  karier Anda?

Keluarga, dalam hal ini istri, sangat mendukung pekerjaan saya. Saya  sering keluar saat weekend untuk turun ke lapangan. Untuk menjadi pemimpin yang hands on itu kan harus melihat segala sesuatunya secara langsung dalam bekerja. Bukan dalam arti untuk meningkatkan profil pribadi, tapi semata-mata untuk melihat kendala  di lapangan.

Di sisi lain, anak-anak saya kebetulan sudah besar. Adalah  tugas saya untuk mengajari  anak-anak, misalnya  dengan  berbagi  pengalaman hidup saat kami  berolahraga bersama. Anak-anak saya sangat mendukung pekerjaan saya.

Cara  Anda menyeimbangkan waktu bekerja dan berkeluarga?

Di waktu  senggang, saya dan istri  biasanya berkomunikasi dengan anak-anak secara daring, karena kebetulan anak saya yang paling besar sedang melanjutkan sekolah di AS.  Saat saya kembali bekerja ke lapangan, anak saya pun mengerti bahwa ayah mereka  punya misi membantu  masyarakat dalam mengakses internet. Ini sering saya ceritakan kepada  anak-anak. ***

Presiden Direktur PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI), Hermansjah Haryono (ist)

Tekankan Transparansi dan Hati-hati Dalam Bermedia Sosial 

Di tengah pesatnya perkembangan informasi digital, Hermansjah Haryono selalu menekankan kepada anak-anaknya bahwa transparansi merupakan hal  yang amat penting dalam berkomunikasi. Transparansi atau keterbukaan adalah sebuah landasan kepercayaan yang berguna untuk mempermudah seseorang dalam mengambil keputusan saat muncul  masalah.

“Konsep ini saya buka ke anak-anak, walaupun lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Pada akhirnya akan ada saat di mana anak-anak merasa gengsi untuk bercerita. Nah,  di situlah  orang tua harus hadir," tutur Iman, panggilan akrab Hermansjah Haryono.

Orang nomor satu di PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) itu  juga selalu menekankan kepada anak-anaknya tentang  pentingnya media literasi saat ber-media sosial (medsos). “Saya jelaskan  bahwa konten-konten yang kurang mengedukasi di medsos merupakan salah satu pemicu  stress di kalangan  kaum muda. Ini lebih rumit dibanding  permasalahan yang saya hadapi  di masa muda," ujar dia.

Iman adalah  pembaca tulen. Sekian kali gonta-ganti hobi, hanya membaca buku yang ditekuninya hingga sekarang. “Saya sempat hobi fotografi hingga bersepeda. Karena yang dituju adalah sehat, itu  bisa dilakukan d irumah.  Hobi saya  yang masih saya jaga sampai sekarang adalah baca buku. Jadi,  kalau bertemu mitra  bisnis, saya banyak  juga mengobrol soal buku,” kata dia.

Bagi Iman,  bertukar ilmu  dengan rekan kerja mengenai sebuah  buku adalah kegiatan  seru  karena banyak ide yang keluar. Buku terakhir yang  dibaca Iman adalah buku berjudul Lifespan karya David Sinclair. “Membaca buku itu sangat berguna sebagai  pelepas stres,” tandas dia.(fur)

Biodata

Nama: Hermansjah Haryono.

Jabatan: Pesiden Direktur.

Tempat, tanggal lahir: Jakarta, 15 Juni 1972.

Status: Menikah, dua anak.

Pendidikan:

  • Sarjana Teknik Mesin - Universitas Trisakti Jakarta (1996).
  • MBA - Cleveland State University, Cleveland (2000).

Karier:

  • Brand Manager  - XL Axiata (2004-2005).
  • Executive Vice President Enterprise, New Business, Modern Channel and International Business   - Hutchison 3 Indonesia (2005-2017).
  • Commercial Director Asia Pacific  - Digicel Group (2017-2018).

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com