Menu
Sign in
@ Contact
Search
Dato’ Sri Prof Tahir, Pendiri Mayapada Group (Investor Daily/Emral)

Dato’ Sri Prof Tahir, Pendiri Mayapada Group (Investor Daily/Emral)

Dato’ Sri Prof Tahir, Pendiri Mayapada Group

Korporasi Harus Punya Jiwa

Senin, 10 Oktober 2022 | 10:00 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com) ,Nasori (redaksi@investor.id) ,dan Abdul Aziz (redaksi@investor.id)

Banyak yang tak menyadari bahwa sukses atau tidaknya sebuah perusahaan bukan ditentukan oleh kemampuannya mencetak laba, kehebatannya menguasai pasar, atau kepiawaiannya mengalahkan pesaing, melainkan oleh nilai-nilai kebaikan atau core value yang dijalankannya.

Jika yang dikejar sebuah perusahaan hanya keuntungan, maka perusahaan tersebut sejatinya telah mati karena ia diposisikan sebagai mesin pencetak uang semata. Perusahaan itu tak akan mendatangkan kebaikan atau manfaat bagi kehidupan, terutama bagi orang-orang di sekelilingnya.

Dato’ Sri Prof Tahir adalah pengusaha yang sangat menekankan pentingnya roh bagi sebuah korporasi. Pendiri kelompok bisnis Mayapada Group ini mengibaratkan perusahaan sebagai manusia hidup yang terdiri atas darah dan daging, memiliki cita-cita, harapan, emosi, serta punya harga diri (dignity) dan kebanggaan terhadap nilai- nilai yang dianutnya.

“Korporasi itu harus ada jiwanya, bukan hanya mesin untuk mencetak uang,” kata Tahir kepada wartawan Investor Daily, Prisma Ardianto, Emral Firdiansyah, Nasori, dan Abdul Aziz di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi pengusaha kelahiran Surabaya, 26 Maret 1952 ini, korporasi yang tak punya jiwa sama saja dengan barang mati yang tak memberikan nilai. Lebih parah lagi jika manusia di dalamnya ikut-ikutan menjadi barang mati atau tak punya jiwa. “Kalau manusia sudah masuk mesin semua, ya dunia sudah mau kiamat,” tegas dia.

Tahir menggarisbawahi bahwa core value yang dijalankan sebuah korporasi harus selaras dengan core value manusia-manusia di dalamnya. Sebab, mengukur kesuksesan sebuah korporasi sejatinya sama dengan mengukur kesuksesan seorang manusia.

“Yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya bukan marga, jabatan, kekayaan, atau tampang, bukan. Yang membedakannya adalah roh atau value yang ada dalam dirinya,” tandas dia.

Tahir mengakui, makna kesuksesan kerap disalahartikan. Bahkan, tujuan hidup dan proses hidup acapkali diposisikan terbalik. “Ini krusialnya manusia. Menjadi orang kaya itu bukan tujuan hidup, menjadi orang terkenal itu bukan tujuan hidup, termasuk menjadi presiden pun bukan tujuan hidup. Itu hanya proses yang harus dia lalui,” papar Tahir.

Lalu, bagaimana cara Dato' Sri Tahir mengukur kesuksesan? Ternyata sederhana saja. Seberapa banyak ia bisa mengubah nasib orang menjadi lebih baik akibat kehadirannya, itulah cara Tahir mengukur kesuksesan.

“Tujuan hidup adalah meng-create sebuah value, meng-create suatu happiness bagi banyak orang. Ini objektifnya, yang lain hanya proses saja,” tutur salah satu orang terkaya di Indonesia yang aktif membantu para pengungsi Suriah dan Irak tersebut.

Utusan Khusus United Nations High Commissioner for Refugees atau UNHCR (Komisioner Tinggi PBB untuk Pengungsi) wilayah Timur Tengah itu mencontohkan, jika ia sekarang dianggap sebagai orang kaya, maka ia harus berupaya memanfaatkan kekayaan itu untuk menciptakan nilai tambah guna menyejahterakan banyak orang.

Nah, itu baru namanya tujuan hidup. Proses hidupnya adalah menjadi orang kaya,” kata Tahir, yang pernah menyumbang US$ 75 juta kepada The Global Fund untuk memerangi TBC, HIV, dan Malaria di Indonesia.

Suami Rosy Riady ini juga percaya bahwa menjadi pejabat atau menempati sebuah kedudukan penting --seperti menjadi presiden-- sesungguhnya bukan tujuan hidup. Jika menjadi presiden adalah tujuan hidup, maka kehidupan sang presiden bakal kacau.

“Kenapa kacau? Kalau sudah tercapai, mau apa lagi? Kan sudah tercapai? Nanti ia akan berpikir bagaimana memanfaatkan jabatan untuk tujuan yang tidak baik,” tandas Tahir, satu-satunya orang Indonesia yang menandatangani Giving Pledge, gerakan moral berupa kesediaan menyumbangkan 50% hartanya bagi kemanusiaan, yang dimotori pendiri Microsoft dan salah satu orang terkaya di dunia, Bill Gates.

Sebaliknya, dalam perspektif Tahir, jika seseorang menjadikan sebuah jabatan, kekayaan, atau status sosial sebagai proses, maka dia tidak akan neko-neko. “Bila menjadi pejabat, profesor, kiai, atau pendeta itu hanya proses, maka dia pasti punya satu puncak gunung yang ingin dicapainya, yaitu tujuan hidup. Dia bisa memanfaatkan kedudukannya untuk lebih menyejahterakan banyak orang,” papar dia. Berikut petikan lengkapnya:

Anda dianggap sebagai orang sukses. Apa sari pati dari segala pencapaian ini?

Pertama, jujur saja, saya sendiri tidak tahu bisa jadi kayak gini. Kedua, kita harus mendefinisikan apa sebenarnya arti sukses. Ada yang bilang bahwa sukses itu diukur dari segi materi atau pendidikan. Lalu, secara khusus di agama, ada yang bilang sukses itu ketika menjadi kiai atau pendeta.

Mendefinisikan kesuksesan itu sangat berat. Manusia bisa kacau balau bila salah memaknai tujuan hidup. Menjadi orang kaya itu harusnya bukan tujuan hidup, menjadi orang terkenal itu juga bukan tujuan hidup, termasuk menjadi presiden pun seharusnya bukan tujuan hidup. Itu hanya proses yang harus dilalui.

Jadi, apa definisi sukses menurut Anda?

Cara saya mengukur sukses adalah berapa banyak sih orang bisa berubah nasibnya karena kehadiran saya? Tujuan hidup kita adalah meng-create sebuah value, suatu happiness banyak orang. Ini tujuan hidup, yang lain hanya proses saja.

Misalnya saya dikatakan sebagai orang kaya. Nah, bagaimana saya memanfaatkan kekayaan ini untuk menciptakan value, untuk menyejahterakan banyak orang. Ini tujuan hidup. Proses hidupnya adalah menjadi orang kaya.

Jika menjadi pejabat, profesor, kiai, atau pendeta itu hanya proses, maka dia pasti punya satu puncak gunung yang ingin dicapainya, yaitu tujuan hidup. Dia bisa memanfaatkan kedudukannya untuk lebih menyejahterakan banyak orang.

Menjadi presiden itu bukan tujuan hidup. Kalau itu menjadi tujuan hidup, maka kacau hidupnya. Kenapa kacau? Kalau sudah tercapai, mau apa lagi? Kan sudah tercapai? Nanti dia bisa memanfaatkan jabatan untuk tujuan yang tidak baik.

Relevansinya dengan perusahaan?

Korporasi itu harus ada rohnya atau core value, seperti juga manusia. Yang membedakan manusia satu dengan manusia lainnya bukan marga, jabatan, kekayaan, atau tampang, tetapi roh atau value yang ada dalam dirinya. Yang membedakan itu kontennya, isi orang ini apa?

Perusahaan pun begitu, apa rohnya? Masuk Top 100 di Fortune bangga. Tapi harusnya lebih bangga jika misalnya bisa menghidupi 50 ribu kepala keluarga. Kalau dalam satu keluarga ada empat orang, maka kita bisa menghidupi 200 ribu orang.

Korporasi itu harus ada jiwanya, bukan hanya mesin untuk mencetak uang. Mesin itu barang mati. Sedangkan manusia itu hidup, ada darah dan dagingnya, punya emosi dan dignity. Kalau manusia sudah masuk mesin semua, ya dunia sudah mau kiamat.

Dato Sri Prof Tahir, Pendiri Mayapada Group (Investor Daily/Emral)

Kapan seseorang harus memberi dan kapan harus menerima?

Prinsip pertama, ambil dari masyarakat dan kembalikan ke masyarakat. Kedua, filosofi saya, to give is to get atau ketika kita memberikan sebetulnya kita juga mendapatkan. Bukan to give is a loss. Ketiga, Anda harus melihat setiap proses yang dilakukan.

Saya ini kan orang yang berasal dari kalangan tidak mampu, sehingga habitat saya itu tidak di kalangan elite. Saya tidak merasa comfortable kalau berada di elite. Saya merasa comfortable kalau berada di antara masyarakat tidak mampu.

Contoh paling mencolok, ketika saya menjadi utusan khusus United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) wilayah Timur Tengah. Kebetulan pengungsi di Timur Tengah itu 99% Islam. Ketika ke sana, saya merasa itu adalah habitat saya, tidak ada sekat.

That's place, saya sangat nyaman di sana. Saya sampai saat ini belum berpikir bahwa hidup itu profit and loss. Saya tidak mengolah hidup ini profit and loss. Saat ini saya menyiapkan rapor untuk nanti bertemu Sang Pencipta. Rapor saya harus hijau, tidak boleh merah. Agar rapornya hijau, saya harus kerja keras, saya kumpulkan angka untuk bekal saya.

Setiap orang   bisa memberikan manfaat kepada orang lain dengan berbeda-beda posisi. Jadi, Gusti Allah sudah memberikan kita rules yang berbeda, sesuai dengan kedaulatan-Nya.

Anda ingin diingat sebagai apa?

Suatu hari Bill Gates datang ke Indonesia, Desi Anwar yang mewawancarai saya. Dia tanya, "You mau diingat seperti apa?" Saya jawab bahwa saya tidak perlu sesuatu yang bisa dikenang.

Namun, saya ingin bisa menyaksikan tiga hal, yaitu pertama lulus dalam ibadah, kedua ingin melihat anak saya baik, jadi orang benar atau tidak ngawur. Ketiga, saya ingin melihat masyarakat Indonesia berubah nasibnya karena saya.

Itu legasi yang Anda inginkan?

Saya tidak perlu ada legasi, saya hanya perlu menyelesaikan tugas saya sebagai manusia. Ada suatu hal yang krusial yang tadi disampaikan bahwa setiap orang dikasih amanah. Kitab suci saya mengatakan, siapa yang diberi lebih banyak, kepada siapa pula akan diminta lebih banyak. Saya kira di Islam juga sama.

Maka kalau kita bisa menempatkan secara proporsional, hidup akan oke. Kita hidup itu kadang tidak oke karena proporsionalnya tidak benar. Jadi, saya tidak ada rasa eman (bahasa Jawa: sayang). Jujur demi Tuhan, saya tidak pernah memperhitungkan.

Jika waktu bisa diputar ke belakang, Anda memilih jadi apa: pengusaha, pejabat publik, menteri, atau bahkan menjadi presiden?

Saya bolak-balik cerita kepada presiden. Saya bilang, "Pak, Bapak angkat saya menjadi menteri, performance menteri yang paling jelek itu pasti saya". Saya ini kan anak pinggir jalan. Tidak senang menimbang, menindaklanjuti, membandingkan, memutuskan, tidak bisa. Terus, jam 07.00 disuruh ke kantor pemerintahan, tidak bisa. Saya ini orang yang tidak mau dikontrol orang. Saya ini orang bebas.

Lagi pula,  saya kan masih bisa mengabdi tanpa harus jadi public server. Selain itu, saya bukan politisi, ceplas-ceplos gini mau jadi politisi? Politisi yang bagus itu harus memenuhi dua syarat, yaitu bisa memprediksi apa yang akan terjadi pada hari-hari mendatang dan kalau tidak terjadi bisa dia jelaskan. Saya tidak bisa. Sudahlah, saya begini aja, ha, ha, ha… Walaupun diminta untuk lahir ulang, saya pilih begini saja.

Apa yang Anda takutkan dalam hidup ini?

Suatu hari saya pergi ke Lebanon, di sana ada pengungsi dari Palestina. Kasihan sekali, ada satu keluarga, sudah tiga generasi menjadi pengungsi, mulai dari kakek, ayah, dan dirinya. Saya juga datang ke perbatasan Irak, ketika itu bertepatan dengan ulang tahun saya. Di sana, saya dan para pengungsi bermain sepak bola dan taekwondo.

Pada saat yang sama, saya diberi tahu bahwa seminggu yang lalu tempat itu dibom. Saya bilang, "Rese, kalau dikasih tahu duluan, gue kan nggak bakal dateng." Tapi kan saya sudah di sana, mendadak muncul perasaan ikhlas yang mendalam bahwa walaupun terjadi sesuatu, saya akan legowo.

Saya tidak akan komplain, kenapa? Karena saat saya menjalankan ibadah, saya selesai. Daripada saya mati di hotel mewah, lebih celaka lagi saya mati dengan perempuan lain. Kalau Gusti Allah maunya begitu, lebih baik saya mati dalam keadaan seperti ini.

Meninggal dalam suatu kemewahan itu memalukan. Itu komentar Tahir. Saya ulangi, meninggal dalam suatu kemewahan itu hal memalukan, Its shameful.

Pada akhirnya semua ini tentang bentuk rasa syukur Anda kepada Tuhan?

Kita tidak tahu masa depan, ini misteri. Kita harus banyak bersyukur sebagai umat beragama. Saya bersyukur, bersyukur, dan bersyukur. Bersyukur itu penting agar kita tahu diri. Orang yang tidak bersyukur adalah orang yang tidak tahu diri.

Masih adakah obsesi yang ingin Anda capai?

Saya sekarang berumur 70 tahun. Saya harus sadar bahwa setiap tambahan hari dalam usia saya adalah bonus. Saya tidak bisa memosisikan diri bisa hidup sampai umur 90 tahun. Kalau Anda merasa 70 tahun itu seperti umur 40, maka akan ada banyak kesalahan dalam berpikir. Setiap tahap hidup itu ada misi yang berbeda.

Saya mau generasi dari keluarga saya itu genah, jadi saya perhatikan pendidikan. Puji Tuhan, saya punya cucu-cucu ini bagus, ada di Stanford University, Yale University, Imperial College London. Dari dua adik perempuan saya, salah satu cucu saya sekolah di Columbia University.

Saya punya tugas sebagai godfather di keluarga ini. Apalagi dua adik saya sakit, satu kanker dan satu stroke. Setelah itu saya lihat dari sisi perusahaan, bagaimana memperkuat fondasi perusahaan. Ini harus dipikirkan, baik secara keuangan, teamwork, maupun visi. Kalau mau sukses harus ada tiga hal ini, yaitu punya posisi keuangan yang sehat, punya teamwork yang bagus, dan mampu membawa perusahaan ini mencapai usia 100 tahun.

Kemudian saya ini orang Indonesia. Saya mencintai Indonesia tanpa pandang bulu. Ke daerah gempa saya bisa, ke mana saja bisa. This is my country. Saya harus memikirkan apa yang saya perbuat. Di pendidikan, saya wali amanat di Universitas Gadjah Mada (UGM). Saya mikirin beasiswa untuk mahasiswa, termasuk kurikulum. Saya juga di bidang kesehatan.

Pendidikan bisa mengubah nasib bangsa. Melalui kesehatan, kita bisa mengubah kualitas hidup bangsa. Masuk Mayapada Hospital itu mahal, tapi yang bayar Tahir Foundation. Kami tidak mau rumah sakit menjalankan misi sosial, karena kalau begitu tidak akan maju. Kami mengombinasikan aspek sosial dan komersilnya.

Apa lagi yang bisa saya lakukan? Saya sudah bilang ke Bill Gates, di G20 nanti saya berencana keluarkan US$ 20 juta tunai. Saya minta Bill Gates juga keluarkan US$ 20 juta. ***

Dato Sri Prof Tahir, Pendiri Mayapada Group (Investor Daily/Emral)

“Hidup Saya Datar dan Super Disiplin”

Dato’ Sri Prof Tahir mengaku tak punya kehidupan lain dalam kesehariannya. Itu karena ia sangat disiplin dalam menjaga rutinitas, dari mulai bangun pagi, bekerja, sampai tidur.

“Hidup saya itu datar. Makanya tidak punya bini muda. Ha, ha, ha… Saya bangun jam 05.00, ke kantor jam 07.30, rutin dan over discipline. Saya mengontrol diri secara ketat, saya tidak mau jadi liar,” tutur dia.

Tahir selalu pulang kantor pukul 17.00. Sore menjelang malam adalah saat-saat ia makan malam bersama istri tercinta, Rosy Riady. “Setelah itu, saya menonton TV sampai merasa ngantuk. Saya tidur pukul 20.30 atau 21.00. Jadi, saya memang super disiplin,” ujar dia.

Pada usianya yang sudah menginjak angka 70, Tahir masih tampak segar dan bugar, kendati tak lagi berlatih judo --Tahir adalah seorang judoka. “Saya ini judoka Dan-1. Lalu dapat kehoramatan Dan-5 dan 6 dari Jepang, tapi ujiannya Dan-1,” kata dia.

Sewaktu masih aktif sebagai judoka, Tahir bisa dengan mudah membanting lawan.    “Sekarang kalau dibanting, saya masuk rumah sakit karena sudah keropos tulangnya. Tapi masih bisa banting, cuma memang banting istri saja. Ha, ha, ha…,” papar dia. (az)

Biodata

Nama                : Dato’ Sri Prof. Dr. Tahir, MBA.

* Pendidikan Formal:
2022: Doktor Honoris Causa di National Cheng Chi University Taiwan dalam bidang Manajemen.
2019: Doktor Honoris Causa di University of Cambodia dalam bidang Bisnis Internasional.
2019: Doktor di  UGM  dalam bidang Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan, IPK 3.96 (cumlaude).
2018: Doktor Honoris Causa di Universitas Andalas dalam bidang Hukum dan Kemanusiaan.
2018: Doktor Honoris Causa di Universitas Airlangga dalam bidang Ilmu Ekonomi dan Kebijakan Publik.
2017: Doktor Honoris Causa di National Taiwan University of Science and Technology.
2016: Doktor Honoris Causa di UGM dalam bidang Kedokteran.
2008: Doktor Honoris Causa di Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya (disertasi “Model                  Pembiayaan UMKM Melalui Perbankan”).
1987:    Master in Business Administration Golden Gate University, San Fransisco, AS dengan predikat Summa Cum Laude. IPK 4.00 (summa cumlaude).
1976:    Bachelor in Business, Nanyang University, Singapura.
1971:    SMA Petra Surabaya.

* Jabatan:
* Anggota Dewan Pertimbangan Presiden RI.
* Penasihat Ahli Panglima TNI bidang Kesejahteraan Prajurit.
* Penasihat Menteri Perhubungan.

* Aktivitas:

2019-2024: Dewan Pertimbangan Presiden  (Wantimpres).
2019         : Dewan Pakar Kagama (Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada).
2019         : Anggota Kehormatan Majelis Wali Amanat University of Cambodia.
2019-2020: Anggota Dewan Penasehat Internasional di UI.
2019         : Penasihat Menteri Perhubungan.
2018-2025: Anggota Dewan Penyantun Yayasan Perguruan Tinggi Petra.
2017-2022: Dewan Pembina Pengurus Besar Karate-Do Gojukai Indonesia.
2019-2022: Visiting Professor di National Chengchi University.
2017-2020: Visiting Professor di Singapore Management University.
2017-2020: Visiting Professor di National Taiwan University of Science and Technology.
2017         : Anggota Kehormatan Majelis Wali Amanat Institut Teknologi Bandung (ITB).
2016         : Konsul Kehormatan Republik Fiji untuk Indonesia di Surabaya.
2016         : Utusan Khusus Presiden RI bidang Investasi untuk wilayah Taiwan dan Hong Kong.
2016-2026: Majelis Wali Amanat UGM.
2015-sekarang: Ketua Dewan Pengawas Taman Margasatwa Ragunan Jakarta.
2015-2021: Wakil Ketua Umum bidang Investasi Kadin Indonesia.
2014-2017: Board of Trustee di Lingnan College, Sun Yat Sen University, Guang Zhou.
2013-2018: Pengawas Yayasan Pendidikan dan Pembina Universitas Pancasila.
2012-2018: Honorary President of Singapore Table Tennis Association.
2012-2016: Wakil Ketua (Bidang Umum) Persatuan Judo Seluruh Indonesia.
2012         : Anggota Kehormatan Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri TNI dari POLRI (Pepabri).)
2011-2017: Visiting Professor di Lingnan College, Sun Yat Sen University (Okt 2011 - Sept  2017).
2011-2015: Anggota Dewan Pertimbangan Kadin Indonesia.
2011-sekarang: Anggota Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).
2011-sekarang: Ketua Umum Kadin Indonesia Komite Tiongkok (KIKT).
2010-2014: Staf Khusus Menko Kesra.
2010-2014: Presiden South East Asia Table Tennis Association.
2009-sekarang: Ketua Umum Perkumpulan Masyarakat Pengusaha Indonesia Tionghoa (Permit).
2007-2019: Board of Trustee, University of California, Berkeley.
2006-2018: Ketua Umum Persatuan Tenis Meja Seluruh Indonesia.
2002-sekarang: Ambassador, University of Southern California.
1999-2003: Wakil Ketua Umum Persatuan Gulat Seluruh Indonesia.
1990-1993: Board of Trustee, Golden Gate University.
1987-1988: Dosen Luar Biasa di Universitas Airlangga.

* Penghargaan:
25 Oktober 2019: Distinguished Professorhip in Humanities dari University of Cambodia.
30 Januari 2019: Penghargaan Bintang Bhayangkara Nararya.
05 Nov 2018     : Penghargaan Warga Kehormatan Brimob.
15 Agust 2018  : Penghargaan Bintang Mahaputra Nararya dari Presiden Joko Widodo.   
9 Mei 2018       : Honorary Citizen Awards dari Gubernur Taipei.
25 Sept 2017   : Penghargaan Bhakti Bandung Persada dari Wali Kota Bandung, Warga Kehormatan Bandung.
18 Nov 2016    : Penghargaan Eminent Advocate dari United Nation High Commissioner for Refugess (UNHCR).
25 Jan 2016    : Penghargaan Global Humanitarian Award for Women’s &                     Children’s Health dari Bill and Melinda Gates Institute for  Population and Reproductive Health di The John Hopkins  Bloomberg School of Public Health.
7 Sept 2015    : Penghargaan Warga Kehormatan dari Wali Kota Ambon.
13 Agust 2015: Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama dari Presiden  Joko Widodo.
17 Agust 2014: Tanda Kehormatan Satyalancana Wira Karya dari Menko Kesra H.R. Agung Laksono atas nama Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai penghargaan atas darma bakti yang besar terhadap  negara dan bangsa Indonesia.
21 Juli 2014   : Penghargaan Tokoh Filantropis 2014 dari Antara News.
3 Okt 2013     : Lifetime Achievement for Business Leadership & Financial Service 2013 dari World Chinese Economic Forum.
13 Okt 2012   : Outstanding Nanyang Alumni Award dari Nanyang Technological University, Singapura.
2 Juli 2012     : Penghargaan “Chancellor Citation” dari Chancellor University of California, Berkeley atas pencapaian yang luar biasa dalam segala bidang.
29 Juli 2011   : Penghargaan atas kontribusi dalam bidang pendidikan dari Mr. Lee Kuan Yew, Perdana Menteri Singapura.
Des  2011      : Entrepreneur of The Year 2011 dari Majalah All Asian Leader.
29 Nov 2011  : Entrepreneur of The Year 2011 dari Ernst & Young.
Mei 2010       : Gelar Dato’ Sri dari Kesultanan Pahang, Malaysia.
2010              : Honorary Black Belt Dan VI dari Federasi Shotokan Karate-Do International.
2010              : Dan V (Black Belt) dari Persatuan Judo Seluruh Indonesia.
2009              : Penghargaan sebagai Pembina Olahraga Terbaik dari Menteri Pemuda dan Olahraga.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com