Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Shirley Dhewayani Santoso

Shirley Dhewayani Santoso

Shirley Dhewayani Santoso, Presiden Direktur AT Kearney Indonesia

Bekerjalah dengan Hati dan Gairah

Happy Amanda Amalia, Senin, 9 September 2019 | 19:10 WIB

Bekerja di AT Kearney Indonesia merupakan kebanggaan sekaligus kepuasan tersendiri bagi Shirley Dhewayani Santoso. Bukan semata karena AT Kearney --induk AT Kearney Indonesia-- adalah perusahaan global yang sudah 93 tahun malang melintang di bidang konsultan manajemen.

Lebih dari itu, dengan bekerja di AT Kearney Indonesia, perempuan kelahiran Jakarta, 23 Januari 1973, ini punya kesempatan untuk berkarya bagi bangsa dan negara, terutama dalam membantu mendorong tata kelola yang baik (good governance).

Lazimnya menjadi orang nomor satu di perusahaan, Shirley harus berhadapan dengan tugas-tugas yang menguras tenaga, waktu, dan pikiran. Toh, ia tak merasakannya sebagai beban. Shirley menjalaninya dengan riang gembira, penuh suka cita.

Rupanya, gairah (passion)-lah yang membuat ibu satu putra ini tetap senang dan nyaman menggeluti pekerjaannya. Selain itu, agar pekerjaannya menjadi hobi atau kegiatan yang menyenangkan, Shirley berupaya untuk menjalankan tugas-tugasnya dengan hati yang tulus.

“Bisa melihat kinerja klien jauh lebih baik dan profitabilitasnya meningkat, bagi saya, itu sebuah kepuasan. Begitu pula saat melihat karyawan happy, lebih engaged,” tutur Shirley kepada wartawati Investor Daily Happy Amanda Amalia di Jakarta, belum lama ini.

Prinsip bekerja dengan penuh gairah dan ketulusan hati diperoleh Shirley dari ayahnya yang seorang kardiolog (dokter ahli penyakit jantung). Sang ayah masih sangat aktif dan bekerja hingga larut malam. Di sisi lain, ibu Shirley selalu berpesan bahwa keluarga merupakan bagian penting dalam mendukung keberhasilan karier atau pekerjaan.

“Dari situ saya percaya bahwa kalau bekerja dengan hati dan bekerja dengan gairah, kita pasti bisa selalu optimal. Kita juga bisa menemukan kegembiraan dalam bekerja, bahkan menjadikan pekerjaan sebagai hobi,” ujar dia.

Shirley Dhewayani adalah tipe pemimpin yang selalu ingin memberdayakan dan menginspirasi orang lain agar mereka meraih lebih banyak impian dan belajar menjadi yang terbaik, dengan tetap rendah hati dan melayani. “Bagi saya, leadership itu bukan untuk mendapatkan banyak pengikut,” tegas dia. Berikut penuturan lengkapnya:

 

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga memimpin AT Kearney Indonesia?

Sebenarnya saya join di AT Kearney dari tahun 1999. Jadi, sudah lumayan lama. Tetapi saya sempat istirahat dua tahun karena kebetulan saat itu saya baru punya anak. Sebenarnya saya jadi presiden direktur mungkin sudah sekitar 2,5 tahun. Waktu itu saya awal join AT Kearney di kantor Singapura setelah mengambil pendidikan master (MBA) di Cornell University (AS). Saat di Singapura, saya ditempatkan di institusi keuangan untuk melayani klien-kilen di Asia Tenggara.

Saat itu kebetulan terjadi krisis moneter, sehingga banyak institusi keuangan yang membutuhkan program restrukturisasi. Kemudian saya dipindah ke sini (Jakarta) pada 2006-2007 untuk membangun kantor di Jakarta, di Indonesia.

Kami juga melihat potensi di Indonesia sangat baik. Bahkan di Asia atau global sekarang, Indonesia merupakan salah satu pasar yang cukup penting bagi AT Kearney karena perkembangannya sangat pesat dan cukup strategis.

Bisa dicerita soal AT Kearney?

AT Kearney adalah perusahaan konsultan manajemen global yang didirikan pada 1926. Jadi, kami sudah lama sekali beroperasi. AT Kearney lebih sebagai perusahaan konsultansisi manajemen strategis yang banyak memberikan strategic advice ke perusahaan-perusahaan.

Kami juga banyak melakukan program transformasi di perusahaan-perusahaan swasta, BUMN, dan pemerintahan di seluruh dunia. Kami bergerak di berbagai sektor, mulai dari sektor telekomunikasi, energi, kesehatan, transportasi, ritel, dan sebagainya. Kami juga memberikan penawaran jasa, mulai dari strategy operational improvement, digital transformation, life skill transformation program, dan sebagainya.

Di Indonesia, kami sudah berdiri sekitar 25 tahun. Layanan yang sama secara global juga kami tawarkan kepada klien-klien di Indonesia. Klien kami di sini juga mix, antara swasta, pemerintah, dan BUMN. Contohnya yang kita kerjakam bersama-sama dengan Kementerian Industri adalah program pemerintah Making Indonesia 4.0.

Apakah profesi konsultan merupakan impian Anda?

Dulu sebelum menjadi konsultan, saya bekerja di direct investment di Hong Kong selama tiga tahun. Di Hong Kong, pekerjaan saya lebih kepada on the buying side karena kami berada di bagian serve fund manager. Kalau konsultan itu sebenarnya on the selling side karena kami serve client. Tapi, sejak join sebagai konsultan, saya merasa senang sekali karena mungkin saya punya passion untuk membuat perubahan.

Jadi, dulu saya pikir-pikir, tujun hidup saya itu sebenarnya apa sih? Ternyata saya ingin menggeluti sesuatu yang saya enjoy sekali agar benar-benar membuat perbedaan. Baik membuat perubahan atau perbedaan kepada staf saya, di rumah, atau di kantor, maupun kepada klien yang mendapat promosi karena programnya berhasil. Bagi saya, itu jadi mirip hobi. Maksudnya, karena saya kebetulan senang terhadap apa yang saya kerjakan, itu membuat saya lebih bisa berkontribusi maksimal.

Anda tipe pemimpin seperti apa?

Menurut saya, kepemimpinan adalah segala hal tentang bagaimana kita bisa menginspirasi orang lain untuk lebih banyak bermimpi. Juga bisa menginspirasi orang-orang untuk lebih banyak belajar, berbuat lebih banyak, dan memastikan mereka menjadi yang terbaik. Itu yang penting.

Bagi saya, kepemimpinan bukanlah tentang bagaimana mendapatkan banyak pengikut, tetapi bagaimana menumbuhkan atau melahirkan para pemimpin terbaik, walaupun kita nggak ada. Juga tentang melayani, kerendahan hati, memberdayakan orang-orang, dan memberikan manfaat kepada masyarakat.

Anda menghadapi kesulitan memimpin karyawan?

Kalau sebagai leader, menurut saya, baik perempuan maupun laki-laki sama saja. Tapi bagi saya, perempuan ada kelebihannya, misalnya lebih banyak memiliki empati kepada klien, multitasking, dan banyak berempati juga kepada staf karena biasanya kami bisa lebih memahami kebutuhannya.

Sektor yang paling sulit ditangani?

Setiap sektor punya keunikannya masing-masing. Misalnya sektor ritel, banyak disrupsi dari sisi digital, perilaku konsumen mungkin juga berubah. Nah, biasanya pertanyaan dari perusahaan adalah bagaimana mereka bisa mengantisipasi itu di sektor ritel.

Kalau di sektor manufaktur, dari sisi tantangannya berbeda lagi. Tantangannya lebih kepada bagaimana meningkatkan produktivitas, karena Indonesia nggak bisa sustain dengan keunggulan kompetitif kita sebagai negara dengan tenaga kerja murah karena biaya tenaga kerja dan produktivitas tenaga kerja kita naiknya tidak seimbang. Itu sebabnya pemerintah mengeluarkan Making Indonesia 4.0 untuk memperkuat industri manufaktur kita dan meningkatkan produktivitas kita melalui aplikasi teknologi.

Posisi Indonesia dibandingkan negara-negara lain di Asia?

Kalau melihat dari studi yang pernah kami lakukan dengan World Economic Forum (WEF), saat ini Indonesia masih di nation state, artinya masih di posisi yang awal. Sedangkan Singapura sudah berada di posisi leading atau Malaysia yang juga sudah closed to leading. Kuncinya adalah bagaimana kita bisa pindah dari sisi nation state ke leading karena dunia selalu bergerak dan kita ada di persaingan global.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan Indonesia untuk setara dengan Malaysia atau Singapura?

Kalau berdasarkan sejarah, misalnya Korea atau Tiongkok, rata-rata mereka butuh 5-10 tahun. Tapi yang penting adalah programnya harus dijalankan. Pada akhirnya semua tergantung eksekusi. Untuk Indonesia, saya selalu bilang program ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga milik semua orang. Jadi, kita butuh bantuan industri juga untuk mendorong program dan kolaborasi dengan akademis.

Ada target khusus dari pusat untuk AT Kearney Indonesia?

Mungkin lebih dari sisi market positioning, misalnya kita harus tetap menjadi leading top management consultancy company yang memiliki reputasi, yaitu memberikan hasil yang nyata kepada klien. Kami harus menjadi top of mind dari sisi perusahaan untuk program transformasi, contohnya untuk top employer of choice karena itu yang ingin kami capai. Kami juga membuat perencanaan untuk tiga tahun, lima tahun. Kami ingin terus melanjutkan perkembangan pesat kami. Kami ingin tumbuh double digit.

Suka dan duka memimpin AT Kearney Indonesia?

Kalau saya mungkin lebih banyak sukanya, ha, ha, ha... Sukanya, karena saya memang sangat passion di pekerjaan ini dan merasa bisa menghasilkan impact yang baik, terutama kepada klien. Misalnya kinerjanya jauh lebih baik, profitability-nya meningkat, karyawannya jauh lebih happy, lebih engaged. Itu memberikan kepuasan batin bagi saya.

Begitu pula saat melihat para staf saya yang sudah dipromosikan, sudah menjadi leader, atau mendapat posisi yang sangat baik saat keluar dari AT Kearney. Bagi saya, itu adalah kepuasan yang luar biasa. Saya juga bisa punya kesempatan untuk berkarya bagi bangsa dan negara Indonesia, yang menurut saya sangat menyenangkan. Selanjutnya adalah bagaimana menggunakan kemampuan kita untuk melakukan perubahan yang lebih besar.

Kalau dukanya mungkin lebih kepada sisi balancing, sometimes work, life, dan bagaimana kita memastikan selalu ada waktu untuk keluarga. Memang nggak selalu mudah. Tapi keluarga saya sangat mendukung. Suami saya dan anak saya yang berumur 12 tahun sangat mendukung.

Keluarga saya tahu sekali tentang pekerjaan saya. Terkadang lucu juga saat anak saya memberi suggestion atau advice. Dukungan keluarga sangat penting.

Siapa sumber inspirasi Anda dalam berkarier?

Kalau dari sisi keluarga adalah orang tua saya. Bapak saya kebetulan kardiolog yang masih sangat aktif sampai sekarang dan masih bekerja sampai larut malam. Saya terinspirasi oleh cara beliau untuk bekerja dengan hati dan bekerja dengan gairah (passion).

Saya percaya, kalau bekerja dengan hati yang tulus dan dengan penuh gairah, kita pasti bisa selalu optimal. Kita bisa menemukan kesenangan dalam bekerja, dan menjadikan pekerjaan sebagai hobi. Dari ibu saya, saya terinspirasi beliau bahwa keluarga itu sangat penting untuk mendukung kesuksesan dan karier. Keluarga jangan sampai dilupakan, jangan sampai berat sebelah.

Nasihat orang tua yang paling melekat?

Orang tua saya selalu berpesan bahwa di setiap bidang yang kita tekuni, kita harus selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik. Bagaimana kita bekerja nggak hanya dengan pikiran atau otak, tetapi dengan hati. Saya selalu bilang kepada staf saya bahwa kita harus bekerja dengan hati, jangan dengan otak saja, karena pasti hasilnya berbeda.

Memang nggak gampang bekerja dengan hati dan bekerja dengan penuh passion karena kita harus menemukan passion kita. Kita harus menemukan apa yang benar-benar membuat kita mendapatkan kegembiraan pada apa yang kita kerjakan.

Filosofi hidup Anda?

Saya ingin mempunyai kesempatan untuk selalu membuat perubahan positif, walau sekecil apa pun. Misalnya di kantor, bagaimana membuat perubahan, seperti mendorong orang untuk jauh lebih maju, atau bagaimana memberikan kesempatan yang baik kepada para staf.

Terhadap klien juga, nggak hanya membuat kinerja perusahaannya menjadi lebih baik, tetapi juga encourage para staf klien agar jauh lebih baik. Bahkan di rumah, saya encourage anak saya untuk menjadi leader. Kalau di society, bagaimana saya memastikan para staf saya punya kesempatan yang lebih baik agar anaknya bisa sekolah dan tidak putus sekolah.

Cara Anda bangkit dari kegagalan?

Dengan kelentingan atau elastisitas, seperti otot. Otot itu semakin kita bentuk akan semakin kuat. Kegagalan atau tantangan selalu saya lihat sebagai kesempatan belajar. Yang penting adalah bagaimana kita bisa belajar dari tantangan atau kegagalan itu.

Kita mungkin selalu menginginkan sesuatu yang ideal, tetapi kita juga selalu harus memikirkan apa sih the next best option kita. Kita harus selalu bisa melihat kehidupan seperti itu, dan bagaimana kita bisa belajar dari situ untuk jauh lebih baik.

Obsesi Anda di luar karier?

Kalau dari sisi obsesi, sepertinya lebih kepada isu gender diversity karena jumlah perempuan pemimpin masih sedikit. Saya ingin sekali melihat lebih banyak woman leader lagi, apakah di AT Kearney, atau secara keseluruhan di klien-klien kami di Indonesia.

Ada studi di WEF (World Economic Forum) bahwa butuh 200 tahun lagi bagi perempuan dan laki-laki untuk menjadi setara secara ekonomi. Secara umum, jumlah women leader di industri konsultan memang sedikit, secara rata-rata mungkin berkisar 10-15% at the leadership top.

Bagaimana Anda memandang kehidupan ini?

Saya melihat hidup ini sebagai sebuah perjalanan, yang dalam arti sebenarnya terlihat seperti bentuk ibadah. Karena pada akhirnya kita di sini sebagai manusia. Rule kita adalah bagaimana bisa membuat dunia ini jauh lebih baik untuk orang lain.

Saya percaya, bagaimana kita bisa menjadi light in the darkness, menjadi cahaya lilin di tempat yang gelap, lalu bagaimana membantu membawa cahaya itu, dan berbuat kebaikan, sehingga dunia bisa menjadi tempat yang lebih baik.***

 

Biodata

  • Nama lengkap: Shirley Dhewayani Santoso.
  • Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 23 Januari 1973.
  • Status: Menikah, satu anak.

Pendidikan:

  • 1997 – 1999: MBA, Johnson School at Cornell University, Amerika Serikat (AS).
  • 1991 – 1994: S1, Bachelor in Marketing and International Management, Boston University, AS.

Karier:

  • 2017 – sekarang: Presiden Direktur AT Kearney Indonesia & Head of AT Kearney's Asia Transformation Practice.
  • Agustus 1999 – sekarang: AT Kearney Singapura dan Jakarta.
  • Juli 1994 – Agustus 1997: Direct Investment di Lippo Group, Hong Kong.

 

Baca juga:

Jalan Pagi untuk Refleksi Diri

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA