Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Davian Omas  CEO Oracle Indonesia

Davian Omas CEO Oracle Indonesia

DAVIAN OMAS, MANAGING DIRECTOR ORACLE INDONESIA

Bekerjalah Seperti Air

Emanuel Kure, Senin, 12 Agustus 2019 | 12:55 WIB

Air, di alam, selalu punya cara untuk terus mengalir. Ia akan mencari tempat yang lebih rendah atau posisi yang tepat untuk bergerak maju. Bila terhalang rintang, ia akan berupaya menjebolnya. Bila gagal, ia akan berbelok, memutar, dan mencari celah.

Manusia bisa meniru cara kerja air. Dalam filosofi air, seseorang pasti akan menemukan jalan dan solusi jika ia terus berikhtiar dan pantang menyerah.

“Jalani hidup seperti air. Buatlah yang terbaik di setiap tempat dan posisi. Jika sudah melakukan yang terbaik, pasti ada jalan,” kata Davian Omas, managing director Oracle Indonesia, kepada wartawan Investor Daily Emanuel Kure di Jakarta, baru-baru ini.

Untuk bisa terus mengalir dan bergerak seperti air, Davian punya kiatnya. Salah satunya, harus mematok target yang tinggi dan menjadikan kesuksesan orang lain sebagai acuan (benchmark). Jangan pula mematok target yang terlalu rendah karena hal itu bisa melahirkan pesimisme, bahkan inferior.
“Boleh melihat ke atas. Kalau nggak pernah melihat ke atas juga nggak bagus karena nanti nggak punya dream. Jadi, jangan terlalu melihat ke bawah,” tutur eksekutif kelahiran 13 Januari 1965 tersebut.

Sewaktu kecil, Davian Omas tak pernah bercita-cita bekerja di perusahaan teknologi informasi (TI). Apalagi sampai menempati posisi puncak perusahaan TI global untuk sebuah negara, seperti sekarang.

Rupanya, Davian kecil bercita-cita menjadi pilot. Semasa remaja, ia kerap berangan-angan menerbangkan pesawat, mengenakan pakaian pilot yang necis, bertopi, lengkap dengan pangkat di pundak. “Waktu saya kecil, kalau ditanya cita-cita, jawaban saya pasti ingin menjadi pilot,” ujar dia.

Demi merengkuh cita-citanya, Davian mendaftar ke Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) Curug, Tangerang, Banten. Namun, cita-citanya pupus gara-gara giginya berlubang dan indra penglihatannya sedikit minus dan silinder.

Davian tidak putus asa. Ia putar arah untuk menatap dunia TI. Ia kemudian menempuh pendidikan di Bina Nusantara University (Binus), mengambil jurusan manajemen informatika.

“Mungkin kebetulan, mungkin juga tidak. Tetapi saya percaya, Tuhan bekerja melalui berbagai tangan. Itu yang menuntun saya untuk masuk ke dunia TI,” papar dia.

Setamat kuliah, Davian Omas pun malang-melintang di dunia TI. Kariernya dimulai dari menjadi tenaga sales di berbagai perusahaan, menjadi manajer, sampai menjadi orang nomor satu Oracle di Indonesia.

Davian sangat menjaga sikap (attitude). Itu sebabnya, ia tak akan memilih orang berdasarkan kepandaiannya. ”Saya lebih lihat attitude-nya. Kalau pintar tetapi attitude-nya jelek, mendingan dia kerja sendiri, punya perusahaan sendiri. Pintar tetapi nggak punya attitude, pasti nggak bisa kerja sama, egois,” tegas dia.

Davian juga memegang teguh integritas. Bagi eksekutif ini, integritas ada di urutan pertama dalam perusahaan. Alasannya, karyawan yang berintegritas pasti memiliki sifat-sifat yang dibutuhkan perusahaan.

“Kalau punya integrity, sudah pasti honest, transparansi ada, dan seterusnya,” ucap dia. Berikut penuturan lengkap ayah tiga anak tersebut:

Bisa cerita perjalanan karier Anda?

Saya lulusan Binus, jurusan manajemen informatika. Proyek pertama saya yaitu membuat program kecil-kecilan untuk salah satu sekolah swasta, seperti absensi, nilai ulangan, dan sebagainya.

Kemudian ada yang nawarin saya sebagai tenaga sales. Saya memulainya dari sales. Naik sepeda motor, berkeliling untuk berjualan. Saya berjualan IBM punya mesin, hardware.

Saya berjualan dengan bergabung pada satu reseller-nya IBM. Itu tahun 1987. Yang saya jual di antaranya IBM PC, dulu namanya PS 2. Lalu ada server yang lebih besar, yaitu sistem 36, yang selanjutnya berkembang menjadi AS 400, dan seterusnya.

Selama tiga tahun saya bekerja di Infoland, lalu pindah ke Intikom Berlian Mustika. Itu salah satu reseller-nya IBM juga, Salim Group. Di situ, saya juga masih jadi sales-nya IBM, namun ditambah software, namanya BPCS. Itu software untuk proses manufacturing. Saya di sana selama enam tahun, sampai menjadi supervisor.

Lalu saya mulai jump. Pada 1996 akhir, saya dilirik Oracle. Saya masuk Oracle. Pertama masuk, saya tetap menjadi sales, sampai menjadi business manager. Karena sudah di prinsipal, saya harus ngotot sendiri untuk berjualan, me-manage bisnis sendiri, di teritori yang saya tangani.

Lalu, tahun 2000, saya pindah ke SAP. Nah, di SAP, saya berjualan software application. Jadi, saya beralih dari berjualan hardware ke software. Di software itu sangat berbeda. Anda nggak bisa ngomong hanya soal feature and function. Itu membuka wawasan saya.

Selanjutnya tahun 2007-2010 saya ke Solcius Indonesia. Itu grupnya Metrodata. Saya masuk sebagai sales director. Jualannya lisensi aplikasi SAP dan implementasinya. Jadi, ada services. Ini menambah lagi wawasan saya. Jadi, dari hardware, software, software aplikasi, tambah ke services lagi.

Kemudian saya di-rehire oleh Oracle pada Januari 2011, balik lagi Oracle sampai sekarang. Waktu pertama kali di Oracle, pada 2011, saya pegang satu e-lobby, namanya e-lobby aplikasi. Terus berkembang, pada 2018 saya ditunjuk sebagai managing director.

 

Anda sering berpindah-pindah perusahaan, kenapa?

Selama bekerja di satu perusahaan, saya tidak pernah di bawah tiga tahun. Menurut prinsip saya, harus tunggu sampai tiga tahun. Apa yang terjadi selama itu? Kalau orang bekerja setahun, lalu keluar, apa sih yang didapat?

Bagi saya, tahun pertama itu ada adaptasi, honeymoon. Tahun kedua, harus benar-benar memberikan prestasi Anda. Tahun ketiga, Anda harus lihat nih. Sudah bagus, harus lihat lagi. Karena merasa sudah bagus, perusahaan harus berbuat apa kepada saya? Kalau yang melirik saya lebih bagus, ya saya pinang, dong.

 

Apa yang menarik dari dunia TI?

Cita-cita saya sewaktu kecil adalah menjadi pilot. Dari kecil, kalau ditanya cita-cita, pasti jawaban saya ingin menjadi pilot. Nggak berubah itu. Saya daftar di sekolah penerbangan di Curug, tetapi nggak diterima karena gigi saya ada yang bolong, mata juga sedikit minus-silinder.

Lalu kenapa ke TI? Mungkin secara kebetulan juga. Mungkin itu sudah jalannya, dikasih yang di Atas. Kalau saya bilang, apa pun yang kita mau, kalau yang di Atas nggak kasih, nggak bisa dong.

Kenapa saya terbawa ke TI? Mungkin ada tangan-tangan orang lain, di belakang saya, yang bawa saya ke sana. Misalnya bos saya yang pertama. Mungkin karena saya rajin, lalu ditarik.

 

Kiat Anda mencapai kesuksesan?

Pertama, attitude. Kalau memilih orang, saya lebih lihat attitude-nya. Kalau dia pintar tetapi attitude-nya jelek, mendingan dia kerja sendiri, punya perusahaan sendiri, kamu duduk sendiri di sana, silakan, deh. Kalau pintar, tetapi nggak punya attitude, pasti nggak bisa kerja sama, egois. Saya selalu bilang bahwa EQ (emotional quotient) nomor satu, bukan IQ (intelligence quotient).

Kedua, integrity. Di sebuah company, integritas itu nomor satu. Kalau punya integrity, sudah pasti honest, transparansi ada, dan seterusnya. Saya juga selalu bilang kepada diri saya bahwa yang dua ini harus saya bawa di semua event, baik dalam bekerja maupun dalam kehidupan sosial.

 

Gaya kepemimpinan Anda?

Semua orang pasti ngomong, lebih susah me-manage orang daripada me-manage tools atau mesin. Jadi, pendekatan saya kepada setiap orang pasti berbeda.

Saya harus pull and push (tarik dan dorong). Bagi sebagian orang, yang motivasinya kurang, harus saya push supaya dia bisa menjadi seperti apa yang dia inginkan dan apa yang diinginkan organisasi.

Tetapi saya harus pull orang-orang yang smart, yang punya pengalaman lebih. Yang sudah bisa me-manage diri sendiri, harus saya pull, tidak perlu mentoring dan segala macam. Sebab, kadang-kadang mereka nggak suka diperlakukan seperti itu. Jadi, saya biarkan orang itu untuk berprestasi.

Jadi, pull and push bagi saya penting karena setiap orang berbeda-beda. Cara manage dan cara approach-nya pun beda. Saya ingin semua orang berpartisipasi.

 

Strategi Anda memajukan Oracle di Indonesia?

Oracle itu perusahaan global. Jadi, semua strategi sudah ada pakemnya dari global. Semua divisi, sudah ada pakemnya. Kami tidak bisa lari dari situ.

Yang bisa saya kerjakan adalah dari sisi human-nya, sebab Oracle merupakan salah satu perusahaan yang punya banyak e-lobby. Ada aplikasi, ada teknologi, ada support, ada Oracle Academy, ada Oracle University, ada Oracle Consultant, ada advance consultant. Mereka itu direct report-nya ke region.

Nah, tugas saya di Indonesia adalah bagaimana caranya supaya Oracle Indonesai semua e-lobby punya keharmonisasian. Memang kita punya target masing-masing, tetapi caranya bagaimana, supaya nggak gondok-gondokan. Pendekatan saya lebih pada human touch untuk Oracle di Indonesia.

Saya harus memastikan bahwa kantor Oracle bisa menjadi rumah kedua bagi semua karyawan. Kalau saya sedang pusing, datangnya ke Oracle, ke kantor, bukan ke tempat lain. Kalau ke kantor kan bisa ngomong ini, bisa nanya itu. Begitu, lho. Karyawan Oracle Indonesia berjumlah 160 orang. Oracle masuk ke Indonesia pada 1995.

 

Kesan Anda selama bekerja di Oracle?

Oracle merupakan salah satu company yang sangat dinamis. Tahun ini begini, tahun depan sudah begitu. Itu karena Oracle mengikuti pasar, mengikuti teknologi. Harus berubah, mengikuti tren. Kalau nggak, kami bisa ditinggalkan.

Kedua, Oracle sudah lama dan berangkat dari database. Sekarang sudah merangkum semua. Kami satu-satunya perusahaan TI yang punya cloud solutions paling komplit, mulai dari IaaS, PaaS, SaaS, hingga DaaS.

Dengan keempat itu aja, kami sudah paling solid dan bisa mendekati semua pangsa pasar, paling komplit. Memang kami bukan yang pertama di cloud, tetapi kami yang paling komplit dan komprehensif.

Manajemen Oracle selalu bisa melihat dua-tiga tahun ke depan. Mungkin karena komplitnya itu, bukan hanya produk, tetapi services juga. Saya juga melihat, Orcale berani mengakuisisi, itu mempercepat complete solutions-nya. Dalam tujuh tahun terakhir, Oracle sangat banyak mengakuisisi company lain.

 

Bagaimana Oracle ikut berkontribusi membangun Indonesia?

Kami punya Oracle Academy. Kami bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Kami punya program untuk melatih SMK/SMA dan guru-gurunya. Ada agreement secara free. Kami transfer knowledge. Ini sudah berjalan sekitar 10 tahun. Itu program-program kami untuk membekali anak-anak Indonesia untuk tumbuh. Di samping itu ada pelatihan-pelatihan yang lainnya.

 

Apa filosofi hidup Anda?

Mengalir aja. Boleh melihat ke atas, jangan terlalu melihat ke bawah. Kalau seseorang nggak pernah melihat ke atas juga nggak bagus, nggak punya dream.

Jalani saja hidup seperti air. Yang penting, di setiap tempat dan posisi, buatlah yang terbaik. Kalau Anda sudah melakukan yang terbaik, dengan pikiran Anda, dengan effort Anda, pasti ada jalan kok. Hidup itu sudah ada aturan mainnya.

 

Obsesi yang belum tercapai?

Kalau secara karier, mungkin sudah, deh. Saya sudah 54 tahun. Di Indonesia itu kan pensiunnya usia 57-58 tahun. Maksud saya, kalau sudah 58 tahun, lalu anak-anak saya puji Tuhan sudah berkeluarga dan berhasil, itu sudah cukup.

Prinsip saya, saya ingin memberikan yang terbaik untuk anak, dalam hal edukasi. Selama dia masih ingin sekolah lagi, saya support, selama saya masih mampu.

Kalau soal pekerjaan, kalau itu sudah settle, seharusnya saya sudah menarik diri. Saya bekerja sejak umur 22 tahun. Sudah dong, saya juga mau istirahat. Saya mau jalan-jalan, menikmati hidup, santai. Maunya begitu. Tetapi, jika Tuhan masih mau saya bekerja lagi, ya saya akan kerja lagi.

 

Bagaimana Anda menyeimbangkan waktu untuk pekerjaan dan keluarga?

Waktu menikah, saya bilang kepada istri saya bahwa hari Senin sampai Jumat itu waktunya saya, waktu pekerjaan saya. Saya bekerja sebagai sales, harus banyak entertain, ada orang mau dinner. Jadi, tolong saya minta izin, Senin sampai Jumat jangan marah kalau saya pulang jam 12 malam, atau bahkan bila saya nggak pulang.

Tetapi, saya bilang, saya akan memegang teguh komitmen kepada kamu, hari Sabtu dan Minggu semuanya untuk keluarga. Cuma, masalahnya, customer sekarang banyak yang mengajak main golf pada hari Sabtu atau Minggu.
Maka saya hitung-hitungan. Misalnya kalau hari Sabtu saya ngutang sama keluarga berapa jam. Jadi, setahun sekali saya harus meluangkan waktu untuk berlibur bersama keluarga, bisa ke luar negeri, bisa di dalam negeri. Kedua, saya tanamkan kepada anak-anak bahwa minimal seeminggu sekali kami harus makan bersama.

 

Seberapa penting peran keluarga dalam karier Anda?

Luar biasa penting. Yang memotivasi itu sebenarnya anak. Maka saya bilang, nomor satu itu keluarga. Motivasi dan sebagainya itu dari keluarga. Mereka yang membuat saya bisa senang atau nggak senang.

Kalau boleh memilih, antara keluarga, teman, dan pekerjaan, nomor satu pasti keluarga, nomor dua teman, nomor tiga baru pekerjaan. Kenapa nomor dua saya pilih teman? Filosofi saya gampang. Bila banyak teman, saat kamu nggak punya pekerjaan, mungkin teman bisa merekomendasikan pekerjaan kepada kamu. Bukan berarti pekerjaan tidak penting.***

 

 

Biodata

Nama lengkap: Davian Omas.

Lahir: 13 Januari 1965.

Status: menikah, tiga anak.

Pendidikan:

Sekolah Tinggi Bina Nusantara/Binus University, Jakarta (1992).

 

Karier:

  • 1 Juni 2018 - sekarang: Manging Director PT Oracle Indonesia.
  • 1 September 2016 - 31 Mei 2018: Senior Sales Director (Country Manager) PT Oracle Indonesia.
  • 1 Agustus 2014 - 31 Agustus 2016: Sales Director PT Oracle Indonesia.
  • Januari 2011 - 31 Juli 2014: Sales Director/Country Manager Applications PT Oracle Indonesia.
  • April 2007 - Desember 2010: Sales Director PT Soltius Indonesia.
  • April 2000 - Maret 2007: Business Manager PT SAP Indonesia.
  • 1996 - Maret 2000: Account Manager Oracle Systems SEA Pte Ltd.
  • 1990 - 1996: Account Manager - Senior Account Manager PT Intikom Berlian Mustika.
  • 1987 - 1990: Sales Representative PT Arcom Primantara Systems-Infoland.

Baca juga: Travelling dan Kuliner

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA