Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Dima Djani CEO Alami Sharia

Dima Djani CEO Alami Sharia

DIMA DJANI, FOUNDER & CEO PT ALAMI FINTEK SHARIA

Berhati-hatilah terhadap Zona Nyaman

Triyan Pangastuti, Senin, 7 Oktober 2019 | 12:30 WIB

Memiliki jalan hidup yang mulus, lempang, tanpa rintangan adalah impian banyak orang. Namun, sering tak disadari, jalan hidup yang terlalu mulus atau terlampau nyaman bisa menjadi ‘jebakan Batman’ yang dapat membunuh kreativitas seseorang.

Rintangan, kegagalan, penderitaan, dan proses jatuh-bangun sejatinya adalah kawah candradimuka yang akan membentuk karakter seseorang menjadi tahan banting, tegar, ulet, gigih, pantang menyerah.

Seseorang yang mengalami jatuh bangun sebetulnya sedang ditempa agar ia kuat, mudah dibentuk, dan memiliki daya lenting (resilient) untuk menghadapi setiap tantangan dan perubahan.

Itu sebabnya, orang yang terbiasa mengalami jatuh bangun berpeluang lebih besar meraih kesuksesan dibanding yang jalan hidupnya mulus-mulus saja.

Karena itu, sifat ingin menaklukkan tantangan baru dan peluang baru mutlak harus dimiliki seseorang yang sedang mengejar kesuksesan. Bagaimana jika ia sudah telanjur berada di zona nyaman (comfort zone)?

“Harus berani, bahkan harus nekat untuk keluar dari rutinitas dan comfort zone. Yang penting punya persiapan dan passion,” ujar Dima Djani, founder & chief executive officer (CEO) PT Alami Fintek Sharia, kepada wartawati Investor Daily Triyan Pangastuti dan pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.

Rupanya, keberanian –plus sedikit nekat-- itu pula yang mendorong Dima Djani mendirikan perusahaan financial technology (fintech) yang melayani pembiayaan dari pengguna ke pengguna atau peer to peer (P2P) financing syariah tersebut.

Dima Djani sebetulnya sudah mapan bekerja di sebuah perusahaan investment bank. Hanya saja, jika terus bekerja di sana, ia akan sulit mewujudkan obsesinya mempertemukan para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dengan pemberi pembiayaan berbasis syariah.

Bagaimana awal mula Dima Djani mendirikan Alami Sharia? Mengapa pria kelahiran Jakarta, 20 Juli 1987, itu merasa perpanggil untuk mendirikan perusahaan P2P financing berbasis syariah? Apa lagi mimpinya ke depan? Berikut penuturan lengkapnya:

Bisa dijelaskan apa itu Alami Fintek Sharia?

Alami adalah P2P financing syariah di Indonesia yang mempertemukan UKM dengan pemberi pembiayaan. Teknologi kami menganalisa ratusan data untuk menghasilkan pembiayaan yang memiliki kualitas dan kredibilitas yang baik. Menjadikan para pihak lebih efisien, akurat, dan transparan dalam proses pembiayaan syariah.

Teknologi akan memperluas akses dan memudahkan pengguna, yang akhirnya dapat mengurangi biaya bertransaksi. Dengan teknologi dan informasi, gaya hidup Islami akan semakin tumbuh signifikan.

Alami Sharia sudah sesuai regulasi?

Sejak awal dibentuk, Alami patuh pada ketentuan regulator. Kami melakukan pencatatan model bisnis aggregator dan pendaftaran model bisnis P2P.

Sejak awal, kami juga melakukan korespondensi dengan Dewan Syariah Nasional - Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI). Alami sudah terdaftar di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak Mei 2019. Selain itu, Alami terdaftar di Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Perkembangan keuangan syariah di Indonesia seperti apa?

Mengacu pada laporan OJK tahun lalu, penetrasi keuangan syariah di Indonesia baru 8,47%. Meskipun potensinya sangat besar, pemahaman keuangan syariah masih sangat rendah. Itu terjadi akibat akses yang kurang memadai dan strategi yang belum optimal. Karena faktor tersebut, produk dan tingkat harga dalam industri keuangan syariah belum kompetitif.

Itu pula yang mendorong Anda untuk terjun ke fintech syariah?

Kemajuan teknologi dan perkembangan model bisnis saat ini bisa meningkatkan penetrasi keuangan syariah di Tanah Air. Secara tren, generasi milenial atau generasi Y (lahir 1981-1995) maupun generasi Z (lahir 1996-2010) punya keinginan yang tinggi untuk belajar keuangan syariah. Di samping itu, dari sisi suplai, perbankan syariah belum bisa memenuhi kebutuhan.

Intinya, bisnis fintech syariah sangat prospektif?

Potensi bisnis fintech, khususnya yang berbasis syariah, ke depan sangat besar, asalkan produknya kompetitif dengan yang konvensional, termasuk dari sisi price-nya. Tapi memang kami harus terus mengedukasi, sebab masih banyak yang belum mengenalnya. Ini pekerjaan rumah (PR) kami.

Apa yang paling dibutuhkan dalam mengembangkan bisnis fintech?

Menurut saya, dengan mendapatkan fundrising berarti sudah setengah jalan dalam mengembangkan bisnis fintech. Yang susah adalah membangun kredibilitas. Maka reputasi harus benar-benar dijaga. Di situlah perlunya kerja tim yang solid, punya tekad kuat, dan pekerja keras.

Gaya kepemimpinan Anda?

Saat merekrut para anak muda atau generasi milenial sebagai karyawan, saya sudah harus percaya bahwa mereka adalah profesional, bertanggung jawab. Jadi, saya membebaskan karyawan tanpa harus deliver. Yang penting selalu berkoordinasi.

Kemudian saya selalu menerima berbagai masukan untuk menyamakan persepsi. Sebab, terkadang ada pemikiran yang berlawanan antara satu dengan yang lain. Saya harus berupaya agar mereka saling berkoordinasi meskipun berbeda divisi, ada IT (information technology), marketing, business, dan lain-lain.

Insya Allah saya selalu terbuka. Mungkin karena itu, jika diberi arahan, mereka melaksanakan dengan baik. Anak-anak muda notabene susah diatur. Namun, jika dikasih ruang dan kebebasan, mereka akan terus menggali atau meng-explore sepanjang diberikan koridor dan melakukan komunikasi dua arah.

Alami sekarang punya sekitar 30 karyawan yang didominasi generasi milenial dan masih ada karyawan baru yang akan masuk.

Persaingan fintech di Indonesia?

Yang main di syariah masih sedikit. Jadi, kami memosisikan bersaing dengan fintech yang konvensional. Alhamdulillah Alami Sharia punya track yang kencang setelah terdaftar di OJK.

Sampai September 2019, kami sudah menyalurkan pembiayaan hampir Rp 40 miliar. Dari sisi member investor, kami sebenarnya belum fokus ke sana. Tetapi sudah ada 750 yang terdaftar sebagai user, mereka berasal dari web dan media sosial.

Perkembangan pasar Alami Sharia?

Saat ini trennya naik terus. Kami akan lebih mendorongnya melalui digital marketing. Sebab jika dari sisi ritel, kami harus aktif mencari keluar. Nah, untuk saat ini Alami masih organik, yaitu menunggu bola, belum menjemput bola.

Namun, ke depan, proses jemput bola melalui marketing akan kami lakukan. Kami sekarang masih sibuk dari sisi operasional dan house to house.

Strategi Anda memenangi persaingan?

Faktor diferensiasi kami kan berbasis syariah. Kemudian dalam memberikan edukasi tentang keuangan syariah, bukan hanya masalah halal dan haram yang kami sampaikan. Kami juga ikut mengedukasi syariah dengan memosisikan branding kami sebagai pihak yang memberikan dampak positif kepada masyarakat atau konsumen, khususnya kalangan UKM.

Alami Sharia merupakan perusahaan fintech yang mengutamakan transparansi sesuai prinsip syariah. Tentu kami terus berupaya menjaga kredibilitas, sebab kredibilitas merupakan hal yang paling penting.

Kami akan terus berinovasi dengan memberikan dampak positif kepada masyarakat. Kami pun terus menjalin koneksi emosional dengan mereka.

Saya ingin Alami Sharia tidak sekadar sebuah platform yang menyediakan return, kemudian pada akhir bulan hanya menerima uang. Kami ingin membangun komunitas. Kami juga menargetkan produk baru sebelum akhir tahun.

Kecuali itu, kami terus menginformasikan bahwa Alami Sharia bukan hanya perusahaan P2P, melainkan juga ingin menjadi pionir yang meremajakan industri keuangan syariah.

Orang-orang berpikir bahwa industri keuangan syariah itu kuno dengan service yang tidak bagus. Kami ingin mengubah mindset itu bahwa ada pemain di industri keuangan syariah, mereka anak-anak muda, cepat, dan transparan.

Peran keluarga dalam karier Anda?

Support pertama berasal dari ibu saya. Beliau mengharapkan semua yang saya lakukan dapat memberikan perubahan dan dampak positif bagi negara, masyarakat, dan agama.

Ketika dulu saya mundur dari pekerjaan, ibu saya sempat cemas. Beliau menyuruh saya untuk selalu salat untuk meminta petunjuk, bimbingan, dan perlindungan Yang Maha Kuasa.

Kemudian support kedua berasal dari istri saya. Alhamdulillah, ia bahkan sudah support saya sejak sebelum kami menikah. Istri saya kebetulan berkecimpung pada bisnis yang sama.

Cara Anda membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga?

Kebetulan saya baru menikah. Jadi, kami belum punya anak dan masih punya waktu luang yang lebih mudah dibandingkan bila sudah punya anak. Selain itu, rumah saya tidak jauh dari kantor.

Nilai-nilai dan filosofi hidup yang Anda pegang?

Saya termasuk orang yang tidak mau terlena dalam comfort zone. Saya orang yang dinamis dan menyukai tantangan baru. Bila sudah merasa nyaman dan aman pada satu titik, berarti saya akan statis, tidak bisa berkreasi lagi.

Sebelum mendirikan Alami Sharia, saya bekerja di Societe Generale Corporate Investment Bank, di Jakarta, sebagai vice president, sekitar tiga tahun. Sebelum itu saya pernah di Citigroup Jakarta dan Hong Kong, sekitar tujuh tahun. Saya pegang associate, corporate investment banking.

Jadi, sebetulnya itu cukup nyaman. Tapi saya harus keluar dari zona nyaman untuk sesuatu yang baru, menghadapi tantangan baru. Bahwa kemudian saya harus mengalami jatuh bangun, itu justru proses yang positif bagi saya. Itu proses yang harus saya lalui. Proses tersebut akan membuat saya lebih kuat dan resilient.

Saya harus berani keluar dari zona nyaman, bahkan harus sedikit nekat. Kuncinya, saya harus punya persiapan dan punya passion di bidang ini. ***

 

Biodata

  • Nama lengkap: Dima Djani.
  • Tempat/taggal lahir: Jakarta, 20 Juli 1987.

Karier:

  •  Juni 2018-sekarang: Founder & CEO PT Alami Fintek Sharia, Jakarta.
  • September 2015-Mei 2018: Vice President Societe Generale Corporate Investment Bank, Jakarta.
  • Maret 2009-Juli 2015: Associate, Corporate Investment Banking Citigroup, Jakarta/Hong Kong.

Pendidikan:

  • INSEAD Business School Singapore /Paris/Abu Dhabi (Executive Master of Business Administration).
  • RMIT University Singapore/USA (Bachelor of Business Management-Entrepreneurship and Finance 2009).

Baca juga:

Main PS, Basket, dan Futsal

 

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA