Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
REZA VALDO MASPAITELLA, Pendiri dan CEO Valdo Group. Foto: Investor Daily/EMRAL

REZA VALDO MASPAITELLA, Pendiri dan CEO Valdo Group. Foto: Investor Daily/EMRAL

REZA VALDO MASPAITELLA, Pendiri dan CEO Valdo Group

Jadilah Saluran Berkah bagi Banyak Orang

Tri Listiyarini/Novy Lumanauw/dan Emral Firdiansyah, Senin, 1 Juli 2019 | 18:31 WIB

Reza Valdo Maspaitella sempat memiliki karier profesional yang cemerlang. Pada usia 25 tahun, penyandang gelar master dari Webster University, Amerika Serikat (AS) ini sudah mencicipi posisi general manager di perusahaan jasa keuangan Citi.

Lalu, pada usia 30 tahun, Reza sudah menjadi salah satu direksi di lembaga keuangan asing, GE Capital. Kariernya di bidang industri keuangan terus melesat. Pada usia 33 tahun, Reza duduk sebagai country head Standard Chartered Bank. Padahal, saat itu sangat jarang ada warga negara Indonesia (WNI) yang duduk di posisi tinggi institusi asing.

Namun, secara mengejutkan, pada akhir 2002, Reza mengundurkan diri dari Standard Chartered Bank. Teman sejawatnya sempat mengatai Reza 'gila' dan nekat. Betapa tidak, ia resign saat berada di puncak karier.

Tapi Reza Valdo Maspaitella bergeming. Keputusannya ternyata telah melalui serangkaian pemikiran dan proses spiritual yang mendalam. Rupanya, pria kelahiran Ambon, 23 Juli 1965, ini ingin membangun bisnisnya sendiri.

“Ada proses spiritual dan transformasi kehidupan pada diri saya sehingga saya akhirnya memutuskan ingin menjadi saluran berkah bagi banyak orang. Hanya dengan menjadi pengusaha, keinginan saya itu bisa terealisasi,” kata Reza kepada wartawati Investor Daily Tri Listiyarini dan Novy Lumanauw serta pewarta foto Emral Firdiansyah di Jakarta, baru-baru ini.

Sejak itulah, Reza mulai terjun ke dunia bisnis dengan mendirikan perusahaan bernama Valdo International. Perusahaan tersebut bergerak di bidang business process management services dengan sasaran sektor perbankan yang memang menjadi keahliannya.

Dari situlah bisnis yang dibangun Reza terus berkembang hingga dibentuklah Valdo Group. Saat ini, Valdo Group memiliki sedikitnya tujuh anak usaha yang tersebar di 15 kota di Indonesia dengan lebih dari 20 ribu karyawan.

Valdo Group memiki bisnis inti konsultansi, alih daya, digital, dan teknologi (consulting, outsourcing, digital, and technology). Valdo Group menjadi satu-satunya perusahaan di Indonesia yang mengintegrasikan bisnis inti tersebut, mulai dari hulu hingga hilir.

Perjalanan Reza Valdo Maspaitella dalam membangun bisnis tidak selalu berjalan mulus. Kalah tender, ditolak klien, hingga dizalimi menjadi hal biasa bagi seorang Reza. Sebab baginya, semua masalah bisa diselesaikan asalkan selalu mengandalkan dan memprioritaskan Tuhan.

Sebagai pendiri dan chief executive officer (CEO) Valdo Group, Reza selalu berupaya menjunjung tinggi integritas dan berani mengambil risiko. “Saya juga mendelegasikan tugas saya dan giving trust ke tim saya. Ini berisiko, tapi saya harus take risk. Failure bagi saya it’s oke,” ujar dia.

Banyak pesan inspiratif terkait bisnis dan nilai-nilai kehidupan yang bisa diambil dari seorang Reza Valdo Maspaitella. Berikut petikan lengkapnya:

REZA VALDO MASPAITELLA, Pendiri dan CEO Valdo Group. Foto: Investor Daily/EMRAL
REZA VALDO MASPAITELLA, Pendiri dan CEO Valdo Group. Foto: Investor Daily/EMRAL

 

Siapa panutan Anda dalam berkarier?

Orang tua saya, terutama ayah. Prinsip dan nilai-nilai kehidupan yang saya pegang saat ini tidak lepas dari didikan ayah. Ayah saya selalu mengajarkan bahwa kehidupan ini tidak bisa hanya untuk kehidupan kita sendiri. Ayah saya menanamkan pentingnya kepedulian kepada masyarakat luas.

Ayah saya juga mengajarkan nasionalisme. Ketika mengenyam pendidikan SMP di AS, saat pelajaran geografi diputar sebuah film tentang Indonesia. Tapi yang diangkat hanya Kali Ciliwung. Saya sangat marah karena film itu membuat teman-teman sekelas bilang bahwa kedatangan saya ke AS karena Indonesia miskin dan susah. Ayah saya juga ikut marah.

Dari situ, saya bertekad menunjukkan bahwa Indonesia besar dan luar biasa. Saya tunjukkan rangkuman tentang Indonesia, the greatness of Indonesia, sampai guru saya minta maaf. Ayah saya juga mengajarkan straight for the best dan straight for the excellence.

Ayah saya mengajar di Universitas Trisakti, Jakarta. Seharusnya saya bisa dong masuk dengan mudah. Tapi saya malah diminta ambil aplikasi sebagai mahasiswa baru dan harus mendapat peringkat satu agar uang pangkalnya tidak banyak.

 

Tahapan karier profesional Anda?

Pada usia 22 tahun, saya sudah mulai kerja di Belanda, kemudian saya diterima di Citibank sampai akhirnya kembali pulang ke Indonesia dan bekerja di Citibank, Jakarta. Saya bisa berada di posisi karier tertentu dalam waktu yang jauh lebih cepat dari yang biasanya terjadi. Pada umur 25 tahun, saya sudah menjabat sebagai general manager, saat 30 tahun sudah menjadi anggota direksi GE Capital.

Saya juga mendapatkan banyak award yang cukup prestise dalam karier saya tersebut, di Indonesia hanya beberapa orang yang bisa meraihnya. Prinsip straight for the excellence inilah yang mungkin membuat saya bisa mencapai prestasi-prestasi, yang menurut banyak orang tergolong luar biasa pada usia muda.

 

Cerita Anda menjadi pengusaha?

Saya melihat bahwa sukses yang kita capai bukan karena kemampuan kita semata, tapi ada unsur Yang Maha Kuasa. Itu terjadi saat usia saya 34 tahun. Dari situ terjadi switching pemikiran, saya tidak lagi berpikir bagaimana menambah tabungan, deposito, rumah, atau karier.

Hal-hal seperti itu biar menjadi bagian Yang Maha Kuasa, cukup pastikan kita hidup sesuai nilai-nilai yang diinginkan-Nya, sehingga kita digunakan dalam rancangan-Nya, baik dalam masyarakat, komunitas, maupun negara, kita dimampukan agar menjadi saluran berkah bagi banyak orang, bermanfaat bagi banyak orang. Jadi, setelah saya memiliki IQ (intelligence quotient) dan EQ (emotional quotient), saat ini SQ (spiritual quotient). Hal itulah yang kemudian mendorong saya menjadi pengusaha.

 

Anda akhirnya benar-benar meninggalkan karier profesional?

Benar. Pada akhir 2002, saya resign sebagai country head Standard Chartered. Teman-teman bilang, saya gila, nekat, dan akan buang-buang uang. Saya mundur saat di posisi puncak. Saat itu sangat jarang orang lokal bisa di posisi tinggi institusi asing. Saya bilang, saya akan melakukan transformasi kehidupan saya dengan memulai bisnis, tujuannya memberikan manfaat bagi banyak orang dengan mempekerjakan banyak orang.

 

 

Apa yang Anda lakukan saat itu?

Saya mendirikan Valdo International yang begerak di bidang corporate services industry atau business services, di Indonesia disebut outsourcing (alih daya), dengan sasaran industri banking, finance, dan insurance yang memang keahlian saya.

Valdo saya ambil dari nama tengah saya yang mengingatkan pada kisah tokoh Valdation dari Timur Tengah. Dengan nama Valdo, saya berharap seluruh stakeholders, dari mulai karyawan, manajemen, klien, supplier, atau siapa pun yang terlibat di dalamnya bisa bertumbuh bersama dan menjadi termasyhur bersama dengan tetap mengandalkan Tuhan

 

Anda puas dengan pencapaian Valdo Group?

Klien pertama Valdo adalah ABN Amro. Kami bantu reengineering dalam business process mereka. Dengan reengineering, loan process management dari ABN Amro mengalami cost efficiency hampir 40%, productivity gain hampir 55%, dan cycle time untuk sebuah produk diproses.

Dari situ kami mulai berkembang ke bisnis lain. Seiring berjalannya waktu, karyawan kami bertumbuh hingga 20 ribuan di hampir 15 kota di Indonesia, dari Medan sampai Papua. Sejauh ini saya merasa cukup senang dengan pencapaian tim kami.

 

Valdo juga masuk bisnis digital?

Ya, karena kami harus bisa menyesuaikan perkembangan zaman. Kami ciptakan platform digital, namanya TokoPandai. Aplikasi ini membangun mata rantai perdagangan digital, dari mulai order barang ke mata rantai lain, invoicing, hingga pembayaran secara digital, sehingga mata rantai penatakelolaan sebuah barang akan mengalami efisiensi sampai 40%.

TokoPandai adalah financial technology (fintech) yang pertama mendapat persetujuan keluar dari sandbox regulator. TokoPandai sempat terpilih menjadi salah satu platform inovasi yang sesuai rencana Sustainable Development Goals (SDGs) Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia. Pada April 2019, Mitsui Jepang masuk menjadi pemegang saham seri A TokoPandai. Mitsui injeksi Rp 250 miliar yang setara 20% saham.

Kami juga kembangkan Indonesia Access. Yogyakarta dan Ambon masuk 20 kota pertama dan 100 kota di Indonesia. Aplikasi ini semacam marketplace dan payment system dengan semangat membangun kota secara kooperasi melalui pemerintahan lokal, pengusaha, dan masyarakat sekitar secara digital.

 

Apa yang membedakan fintech Valdo dengan yang lain?

Saya tidak setuju istilah disruption economy terkait digitalisasi saat ini. Sekarang ada yang hancur, ada yang jadi besar, tapi ada yang dihancurkan, itu namanya disruptive. Ekonomi digital bukan harus disruptive, tapi harus bertransformasi menciptakan keberlanjutan (sustainability) sehingga ada value dari digitalisasi ini.

Saya tidak ingin berpartisipasi dalam disruption economy. Saya katakan kepada tim saya, kita sebagai innovation center harus berperan memberikan impak dalam pembangunan economic digital di Indonesia, tapi dengan lima prinsip Valdo, yakni transformasi, keberlanjutan, pemberdayaan, memberikan akses bagi komunitas, dan mampu membangun ekosistem, sehingga tidak ada yang besar sendirian.

 

Kiat sukses Anda?

Kunci sukses saat menjalani karier profesional ternyata tidak bisa diterapkan saat saya menjalankan bisnis. Saya punya banyak teori manajemen, teori leadership, saya praktikkan saat saya jadi pengusaha, kok buntu ya?

Setelah sekian lama bisnis saya jalan, ternyata kiat sukses saya, yang pertama adalah bagaimana mengandalkan dan mendekatkan diri kepada Tuhan dalam setiap kegiatan kita dan memiliki prioritas hidup yang benar dengan Tuhan prioritas nomor satu, keluarga nomor dua. Yang lain-lain, termasuk pekerjaan prioritas selanjutnya.

Kedua, berbisnis dengan cara halal. Kalau dalam konteks duniawi, bisnis dengan mengedepankan integritas. Ada yang bilang, kalau nggak bayar (suap, nyogok) maka bisnis nggak bisa jalan. Tapi dari pengalaman saya, itu bisa, kok.

 

Strategi Anda memajukan perusahaan?

Setelah membangun strategic partner, kami akan melakukan penguatan organisasi dan menjadi perusahaan publik guna mereformasi organisasi. Kami melakukan penguatan organisasi dengan revamping dari infrastruktur dan teknologi untuk menunjang pertumbuhan ke depan. Dengan dua hal ini, otomatis kami bisa menciptakan produk dan layanan yang lebih inovatif ke depan.

Untuk memastikan produk kami lebih inovatif maka digital lab kami akan menjadi innovation center. Digital lab juga akan saya pertahankan sebagai milik sendiri karena ini adalah rohnya Valdo. Untuk proses menjadi perusahaan publik, penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham diharapkan bisa dilakukan pada 2020. Valdo Group yang akan IPO.

 

Gaya kepemimpinan Anda?

Pertama, menjaga dan menjadikan integritas sebagai budaya perusahaan. Sejak seorang karyawan bergabung di perusahaan saya, akan ada pelatihan integritas dan menandatangani kontrak integritas.

Kedua, melakukan empowerment atau delegasi karena saya memercayai tim saya, tentunya setelah mereka dididik supaya memiliki kemampuan mengeksekusi sesuai prinsip manajemen.

Dalam melakukan delegasi memang harus ada giving trust kepada fungsi organisasi. Inilah risiko yang harus diambil karena saya ingin tim di bawah saya bisa melakukan apa yang telah saya lakukan. Untuk itu, saya mengupayakan agar tim saya meningkat kemampuannya. Ibaratnya, saya akan membiarkan mereka membawa mobil formula 1 untuk ngebut di tikungan, membiarkan mereka merasakan feel saat nyerempet.

Saya sengaja ambil risiko seperti itu. Jadi, failure bagi saya its oke. Saya nggak akan marah. Biarkan itu terjadi karena pada akhirnya mereka akan memiliki tanggung jawab dan doing its better.

 

Dukungan keluarga terhadap karier Anda?

Keluarga, terutama istri, sangat mendukung karier dan bisnis saya. Terus terang, waktu saya baru memulai bisnis, itu adalah tahun yang berat, karena tahun itu juga saya menikah. Ibaratnya, saya jobless. Saya beruntung istri dan calon mertua saya mendukung saya memulai bisnis dari nol. Mungkin karena saya punya visi berbisnis untuk orang banyak.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA