Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
JAMALUL IZZA

JAMALUL IZZA

JAMALUL IZZA, CEO PT MEDIA LINTAS DATA/KETUA UMUM APJII

Jangan Pernah Bosan untuk Bermimpi

Totok HS, Senin, 4 November 2019 | 12:00 WIB

Kadar kesuksesan bagi setiap orang berbeda-beda. Pencapaian besar yang diraih seseorang bisa tak berarti apa-apa bagi orang lain. Sebaliknya, pencapaian kecil yang dipetik seseorang bisa bermakna luar biasa bagi orang lain.

Itu sebabnya, kesuksesan tidak bisa diukur hanya berdasarkan nominal, materi, kelas sosial, pangkat, dan jabatan, atau hal-hal yang bersifat fisik semata.

“Kesuksesan yang sejati adalah jika sudah bermanfaat bagi orang banyak,” kata Jamalul Izza kepada wartawan Investor Daily Totok Hari Subagyo dan pewarta foto Emral Firdiansyah, di Jakarta, baru-baru ini.

Atas dasar itu, Chief Executive Officer (CEO) PT Media Lintas Data yang yang juga Ketua Umum Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) ini percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan dibutuhkan semangat dan nilai-nilai kebajikan sebagai pedoman hidup.

“Kita harus tawadhu (rendah hati dan baik terhadap sesama), giat berusaha, dan tidak gampang mengeluh,” ujar pengusaha kelahiran Banda Aceh, 14 April 1981, tersebut.

Jamalul Izza juga yakin kesuksesan adalah sebuah proses. Proses yang dijalani seseorang, sepanjang ia memegang nilai-nilai kebaikan, gigih, ulet, dan pantang menyerah, pasti akan berbuah manis. “Proses tidak akan mengkhianati hasil akhir,” tegas dia.

Bagi Izza, nasib seseorang tak akan berubah jika ia tidak berusaha sendiri untuk mengubahnya. Oleh karena itu, seseorang mesti terus bermimpi dan jangan bosan bermimpi.

“Sebab, impian memiliki kekuatan untuk membangkitkan semangat dan terus berikhtiar agar bermanfaat bagi banyak orang,” tandas dia. Berikut petikan lengkapnya:

Bisa diceritakan kiprah Anda dalam menekuni industri telekomunikasi?

Saya terlahir di Banda Aceh, tetapi menjalani masa kanak-kanak di Langsa, mengikuti orang tua yang berpindah tugas kerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS). Orang tua kami sangat menekankan betapa pentingnya pendidikan. Kebutuhan yang berkaitan dengan pendidikan akan berusaha dipenuhinya. Makanya saat di SD, saya sudah memiliki koleksi buku-buku cerita, hingga bisa dibuat seperti perpustakaan mini di rumah.

Jiwa bisnis saya sudah muncul sejak kecil. Perpustakaan mini itu saya jadikan usaha penyewaan buku bacaan, meski dengan tarif murah. Ketika orang tua membeli kulkas, saya manfaatkan juga untuk bisnis. Masih di kelas 5 SD, setiap malam sehabis belajar, saya membuat es lilin, pagi harinya saya titipkan di warung-warung.

Kebetulan saya sulung dari enam bersaudara. Tetapi apa yang saya jalani saat itu hanya karena ingin memiliki pendapatan sendiri, untuk memenuhi hasrat membeli sesuatu yang bukan kebutuhan sekolah. Sebab, saya tahu tak akan dipenuhi orang tua.

Lulus SD, saya melanjutkan ke SMP di Banda Aceh, berpisah dengan keluarga yang masih bekerja di Langsa. Saya tinggal di rumah pribadi yang karena ditinggal ke Langsa, kami jadikan rumah indekos. Jadilah, walau masih SMP, saat itu saya juga memosisikan diri sebagai ‘bapak kos’.

Jauh dari orang tua, saya pun harus belajar hidup mandiri. Pagi buta ke pasar untuk beli sayur dan bumbu dapur, lalu memasak sendiri, juga mencuci pakaian sendiri.

Kondisi demikian berlangsung sampai saya pulang ke Langsa untuk menempuh jenjang pendidikan SMA. Hasrat mendapatkan uang sendiri kembali muncul. Sambil bersekolah, saya bekerja.

Waktu itu levelnya agak meningkat. Saya menjadi mandor di proyek bangunan. Alhasil, di usia remaja, saya sudah mandiri, walaupun orang tua punya kemampuan finansial.

Waktu itu belum terpikir untuk menekuni industri internet?

Titik tolak pembangunan karakter dan kemandirian saya terasah saat kuliah di Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Malang. Tahun pertama kuliah, saya hanya mengandalkan biaya kuliah dari orang tua.

Namun, dorongan untuk mendapatkan uang sendiri kembali muncul pada semester III. Saya melamar jadi asisten dosen untuk membuat unit produksi internet.

Saya pun lulus tes sebagai tim dosen muda. Saya mulai aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Pada semester V, saya sudah mulai menangani proyek di luar kampus, seperti proyek e-government di beberapa pemda.

Jelang kelulusan, saya dihadapkan pada dua pilihan, antara fokus ke kerja profesional atau organisasi. Saya putuskan untuk fokus ke bidang profesional lebih dulu.

Bulat tekad, meski belum lulus, pada 2003 saya merantau ke Jakarta. Ikhtiar mencari kerja. Alhamdulillah, saya diterima kerja di PT Indointernet, perusahaan internet pertama di Indonesia.

Saya bekerja mulai dari level bawah. Beruntung, perusahaan memberlakukan sistem kerja shift, sehingga ada waktu bagi saya untuk mengerjakan skripsi. Tiga bulan sekali saya bolak-balik Malang-Jakarta untuk konsultasi dengan dosen pembimbing. Alhasil, skripsi selesai dalam setahun.

Saya diwisuda pada 22 Mei 2004, lalu esoknya saya menikah dengan teman kuliah dari Fakultas Psikologi. Niat menikah karena ibadah, dan pemilihan tanggal pernikahan itu agar hemat saja, karena orang tua saya dari Aceh dan istri dari Balikpapan, tetapi kami menikah di Jawa Timur.

Karena istri belum lulus kuliah, saya balik sendiri lagi ke Jakarta. Istri baru saya boyong ke Jakarta pada 2005. Kami memulai hidup dari nol, tinggal di rumah petak di daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Karier saya mulai naik. Empat tahun bekerja di PT Indointernet, saya dipercaya menempati posisi operation manager. Dua tahun kemudian, saya mengembangkan karier di perusahaan lain sebagai operation director PT Media Akses International. Saya kemudian bergabung dengan teman-teman di PT Interlink Technology, yang juga perusahaan jasa internet (internet service provider/ISP).

Kapan persisnya Anda membuka bisnis sendiri?

Saya rajin menabung. Pada 2012, saya memutuskan memulai bisnis sendiri, modal sendiri, dengan bendera PT Media Lintas Data (MLD). Bisnis intinya perusahaan jasa internet.

Alhamdulillah, saya dan tim berhasil membawa MLD ke tingkat kesuksesan sehingga dapat bersaing sekaligus berkolaborasi dengan perusahaan sejenis, seperti PT Telekomunikasi Indonesia (Persero) Tbk (Telkom). Kami pun kemudian mendirikan perusahaan baru, PT Sembilan Sembilan Teknologi, yang fokus ke bisnis system integrator.

Kiprah Anda di APJII?

Pada 2015, karena punya pengalaman berorganisasi semasa kuliah, saya coba mencalonkan diri sebagai ketua umum APJII periode 2015-2018. Ternyata saya mendapatkan kepercayaan anggota APJII lainnya.

Kemudian ada permintaan dari teman-teman agar saya maju lagi dalam pemilihan ketua umum APJII periode kedua (2018-2021) karena secara aturan memang dimungkinkan. Ini juga menorehkan sejarah kepemimpinan APJII sejak berdiri 1996, dengan menjadi ketua umum pertama yang terpilih kedua kali dengan suara mayoritas mutlak.

Apa kunci sukses Anda?

Saya juga belajar dari orang sukses. Salah satu tokoh yang membuka mata hati saya adalah Bapak H Masfuk. Beliau saat itu menjabat sebagai bupati Lamongan dua periode (2000-2010).

Saya banyak mendapat inspirasi dari Pak Masfuk. Beliau tidak pernah menyerah. H Masfuk dibesarkan dalam situasi dan kondisi getir sejak lahir. Ia dilahirkan dalam sebuah keluarga sederhana dengan 10 bersaudara.

Setelah meraih gelar sarjana hukum dari FH Universitas Airlangga, beliau mengawali bisnis dengan berjualan panci-panci reject (apkiran) dari pabrik. Namun, H Masfuk tetap yakin dengan cita-citanya. Tekadnya itu mengalahkan semua halangan. Bisnisnya sukses. Ketika terjun ke dunia politik, ia tercatat sebagai bupati termuda di Indonesia, 38 tahun.

Kuncinya, beliau berpegang pada satu ayat Alquran, yang artinya, ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib diri mereka sendiri.’

Saya berpendapat bahwa ibadah harus dibarengi dengan usaha (ikhtiar). Saya yakin, kalau kita berusaha berubah ke jalur positif, Allah pasti akan mengubah nasib kita. Itulah yang memotivasi saya, dan dari situ saya selalu berusaha di jalur-jalur yang halal.

Saya juga belajar dari seorang president director sebuah perusahaan yang dulu menjadi customer Indointernet. Saya menilai beliau orang yang sukses, kaya, tetapi sangat santun. Sampai-sampai, dia sendiri yang membuatkan kopi untuk sopirnya.

Jadi, saya simpulkan, saya harus rendah hati, tidak boleh sombong, serta selalu menjaga amanah atau kepercayaan. Yang berat bagi pemimpin itu adalah menjalankan amanah.

Akhirnya, semua pelajaran hidup itu saya rangkum jadi satu; harus tawadhu (rendah hati dan baik terhadap sesama), giat berusaha, dan tidak gampang mengeluh.

Filosofi hidup Anda?

Filosofi hidup saya adalah selalu semangat berusaha menerobos semua permasalahan demi ikhtiar memberi manfaat bagi banyak orang. Hal inilah yang saya implementasikan di perusahaan dan asosiasi.

Dari perjalanan hidup saya sendiri, saya menilai kecerdasan dan kesuksesan bisa meningkat karena kebiasaan dan karakter. Demikian pula kemandirian akan menguatkan semangat untuk terus berusaha meraih mimpi. Kita mesti terus bermimpi, jangan bosan bermimpi. Impian membangkitkan semangat untuk berusaha di jalur positif.

Dalam bisnis, hindari saling menjatuhkan, selalu menjaga kepercayaan orang atau mitra bisnis. Kepercayaan mahal harganya. Kita bisa curang tetapi nilainya tidak seberapa dibanding nilai kepercayaan.

Ukuran sukses menurut Anda?

Sukses itu jika bermanfaat bagi orang banyak. Saya tidak selalu melihatnya dari sisi nominal. Tetapi saya melihatnya dari sisi apa yang saya perbuat, seberapa besar manfaatnya bagi orang banyak. Kepuasan saya ada di sana.

Apa pun yang saya lakukan, baik di perusahaan maupun asosiasi, adalah seberapa banyak manfaatnya bagi orang banyak. Itulah yang saya kejar dalam setiap ikhtiar.

Soal rezeki, istilahnya bisa datang sendiri. Begitu kita ngasih yang positif kepada orang, rezeki pasti datang sendiri.

Jadi, menurut saya, sukses itu bukan sekadar kaya, punya aset banyak, atau pangkat dan jabatan tinggi. Sukses itu bila bermanfaat bagi orang banyak, termasuk kehidupan keluarganya yang baik sesuai ajaran dan keyakinannya. Kalau hanya berguna bagi diri sendiri, bukan sukses itu namanya.

Cara Anda bangkit dari krisis?

Ketika MLD sempat limbung, saya bisa berdalih bahwa saya punya banyak kawan. Kalau saya bangkrut, saya bisa cari kerja di tempat lain. Tetapi, bagaimana nasib karyawan saya?

Maka saat itu saya memilih untuk tidak pernah memangkas karyawan dan mengurangi gaji karyawan. Itu tanggung jawab saya. Saya lebih memilih jual aset yang ada atau meminjam dana ke pihak ketiga.

Seorang direktur utama itu hanya bisa mengadu ke Allah. Jadi saya berdoa saja. Niat saya, kalau saya salah, tolong jangan lihat saya, tetapi lihatlah nasib karyawan dan keluarganya.

Alhamdulillah, proyek datang. Saya bertemu bos Biznet Adi Kusma. Beliau menawari saya menjadi reseller tunggal produknya. Alhamdulillah, proyek jalan dan perusahaan kembali bangkit. Mungkin ini yang diistilahkan bantuan tangan Tuhan bisa lewat mana saja. Pasti ada jalan.

Itulah yang memantapkan hati saya bahwa yang harus saya kejar adalah kesejahteraan orang banyak. Perusahaan adalah infrastruktur rezeki orang. Sedangkan di APJII, saya bisa berbuat banyak karena program APJII bisa bermanfaat bagi pengembangan bisnis perusahaan jasa internet.

Bagaimana Anda bersinergi dengan karyawan atau anggota asosiasi?

Di perusahaan, saya tidak pernah menempatkan diri saya sebagai bos atau pemilik. Posisi sama-sama sebagai karyawan, sehingga karyawan terbuka, tidak takut-takut, teamwork jalan. Bisa diskusi enak. Kalau saya salah, ya minta maaf.

Perusahaan mesti dibangun dengan jiwa kekeluargaan. Dengan begitu, secara otomatis loyalitas karyawan akan muncul, kalau memang kita percaya kepada karyawan. Maka tanpa kehadiran saya pun, perusahaan tetap jalan karena setiap karyawan tahu tanggung jawab masing-masing.

Selain itu, harus dibangun problem solving, sebuah mindset karyawan yang selalu berpikir positif untuk mencari jalan keluar dari permasalahan di organisasi.

Kiprah APJII dalam industri internet di Tanah Air?

Berdiri pada 1996, kini APJII menaungi 500 perusahaan penyelenggara jasa internet dan 1.500 nonpenyelenggara jasa internet.

Langkah strategis kami adalah meningkatkan penetrasi pengguna internet. Langkah-langkah strategis sudah kami jalankan. Kami berhasil meningkatkan jumlah lokasi Indonesia Internet Exchange (IIX) dari delapan lokasi menjadi 13 lokasi. Kemudian meningkatkan jumlah traffic IIX 6 kali lipat pada 2015-2019.

Kontribusi APJII dalam meningkatkan jumlah pengguna internet?

Kami turut berkontribusi meningkatkan jumlah pengguna internet Indonesia dari 88 juta pengguna pada awal 2015 menjadi 171 juta pengguna pada akhir 2018, atau naik dua kali lipat dalam tiga tahun.

Pemerintah punya program pengembangan daerah 3T (tertinggal, terluar, dan terdepan). Kami menginventarisasi daerah tertinggal yang tidak masuk 3T, lalu membuat program yang namanya Desa Internet Mandiri 2020.

Intinya, APJII hadir dengan solusi. Lewat program Desa Internet Mandiri, kami menyediakan layanan internet cepat (broadband) bagi masyarakat desa dengan harga terjangkau, sekaligus memberikan keuntungan komersial bagi institusi milik warga desa, BUMDes.

Prinsip program ini adalah kolaborasi antara penyedia jasa internet (anggota APJII), badan usaha milik desa (BUMDes), dan warga desa untuk menghadirkan layanan internet cepat secara mandiri kepada para warga desa.

Kolaborasi ini bersifat win-win solution, karena layanan internet cepat ini dikelola langsung BUMDes, sehingga BUMDes akan menerima pendapatan usaha dari program Desa Internet Mandiri. Anggota APJII hanya berperan sebagai mitra BUMDes.

Kucuran Dana Desa bisa mendukung program ini, karena untuk pengembangan awal hanya membutuhkan anggaran sekitar Rp 50 juta. Pengembangan selanjutnya tergantung permintaan atau kebutuhan warga.

APJII berharap, pada akhir 2020, akan ada 20.000 desa menjadi Desa Internet Mandiri. APJII menambahkan pengguna internet baru 500 orang per desa atau total 10 juta orang seluruh Indonesia sehingga kontribusi kenaikan penetrasi Internet sebesar 5% dalam satu tahun.

Memasuki era industri 4.0, APJII kami arahkan tidak hanya sebagai asosiasi yang mengurusi aspek teknis seperti internet protocol address (IP) atau bandwidth semata, tetapi bicara internet secara keseluruhan. Makanya APJII juga melakukan sosialisasi Internet Bersama (Bersih, Selektif dan Aman). Bagaimana masyarakat menggunakan internet secara bijak.

Adakah sinergi pengoperasian Palapa Ring dengan program APJII?

Kami tentu menyambut positif beroperasinya Palapa Ring, infrastruktur internet yang terdiri atas kabel optik, microwave, dan menara BTS 4G, yang disiapkan pemerintah untuk menggenjot industri digital.

Kami yakin Palapa Ring bisa meningkatkan penetrasi internet Indonesia, karena banyak daerah yang akhirnya bisa terkoneksi dengan menggunakan media optic, radio, ataupun vsat.***

 

BIODATA

Nama: Jamalul Izza.

Tempat/tanggal lahir: Banda Aceh, 14 April 1981.

 

* Pendidikan:

- S1 Teknik Elektro Universitas Muhammadiyah Malang (1999-2004)

 

* Organisasi:

- Ketua Umum APJII (Mei 2018-sekarang/periode ke-2).

- Ketua Umum APJII (Mei 2015-April 2018/periode ke-1).

 

* Karier:

- CEO PT Media Lintas Data (Januari 2012-sekarang).

- Komisaris PT Sembilan Sembilan Teknologi.

- COO PT Interlink Technology (November 2009-Desember 2011).

- Operation Director PT Media Akses International (Juni 2009-November 2009).

- Operation Manager PT Indointernet (Januari 2007-Juni 2009).

- Operation Supervisor PT Indointernet (Januari 2005-Desember 2006).

- Network Management Center PT Indointernet (Juni 2003-Januari 2005).

 

Baca juga:

Mendirikan Rumah Hafiz

 

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA