Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Riky Boy Permata.

Riky Boy Permata.

Riky Boy Permata, COO & Co-Founder PT Trimegah Karya Pratama (Ultra Voucher)

Jangan Takut Bermimpi

Selasa, 6 Juli 2021 | 13:55 WIB
Euis Rita Hartati (erita_h@investor.co.id)

Riky Boy Permata sangat percaya bahwa kesuksesan bisa berawal dari mimpi. Bukan hanya mimpi dirinya sebagai individu, namun juga mimpi para pelanggan dan karyawan yang harus direalisasikan bersama.

Namun itu saja tak cukup, karena kesuksesan juga harus didukung oleh tiga hal, yakni integritas, keinginan untuk belajar (willing to learn), dan kerelaan untuk berbagi (willing to share).

Filosofi itulah yang dipegang Riky Boy Permata dalam memimpin PT Trimegah Karya Pratama, produsen Ultra Voucher, inisiator dan market leader voucher digital di Indonesia.

Bagi eksekutif kelahiran 16 November 1984 ini, kejujuran memiliki banyak aspek, termasuk mengakui kelemahan yang dimilikinya.

“Ketika saya bisa, saya akan katakan bisa. Namun ketika tidak bisa, saya akan katakan tidak. Bahkan sebagai leader pun, ketika tidak bisa melakukan suatu hal, saya akan katakan tidak bisa,” tutur Chief Operating Officer (COO) & Co-Founder PT Trimegah Karya Pratama itu kepada wartawati Investor Daily, Euis Rita Hartati di Jakarta, baru-baru ini.

Riky juga tak pernah berhenti belajar, termasuk belajar dari kesalahan dan keluhan pelanggan. “Salah satu hal yang membuat saya terus belajar adalah berani mengeluarkan voucher digital, karena saya belajar dari pain point yang dirasakan customer,” papar dia.

Dalam soal berbagi, Riky yakin bahwa berbagi akan membuat seseorang menjadi lebih kaya. Ketika berbagi ilmu kepada orang lain, ia akan mendapatkan ilmu baru dari orang tersebut. “Berbagi ilmu akan semakin meningkatkan knowledge kita,” ujar Riky. Berikut petikan lengkapnya:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga mendirikan dan memimpin Trimegah Karya Pratama?

Latar belakang saya mulai dari profesional. Background pendidikan saya itu S1 di computer science Universitas Trisakti, lalu saya ambil master business management di Binus Business School.

Awalnya saya bekerja di perusahaan teknolog informasi (TI), baik yang lokal hingga multinasional. Saya juga pernah di bagian bisnis, coverage-nya nasional sampai Asia Tenggara. Jadi, mostly background saya di teknologi, engineering, bisnis, dan operasional. Sebelum di sini saya sempat di MII/Metrodata Electronics, Fujitsu Indonesia, Jatis Solutions, dan Eli Lilly and Company.

Apa yang mendorong Anda mendirikan Trimegah Karya Pratama?

Bermula pada 2016, Pak Hady (founder Ultra Voucher) mengumpulkan voucher fisik, seperti MAP, Carrefour, Indomaret, Alfamart. Beliau meminta agar voucher-voucher tersebut dijual. Ternyata banyak juga orang yang mencarinya. Lalu kami punya ide bagaimana bila membuat sebuah platform digital atau electronic voucher.

Saat itu adalah era dimulainya hype era digital dan startup (perusahaan rintisan berbasis teknologi). Muncul Tokopedia, Gojek, dan banyak lainnya. Nah, berangkat dari situ, kami ingin memulai sesuatu yang lebih digital.

Kami mengobrol dengan customer kami yang biasa membeli voucher secara fisik. Mereka mengatakan, voucher fisik itu susah dibawa dan kalau ketinggalan tidak bisa dipakai. Selain itu, voucher fisik itu kan ada expired-nya. Karena tanggal expired-nya tertulis di kertas, banyak konsumen lupa, tiba-tiba masa expired-nya sudah terlewat.

Dari situ kami berrpikir ingin mengeluarkan produk yang lebih modern, mudah dibawa, bisa ada reminder untuk expired-nya, dan kalau mau beli lagi mudah. Makanya kami keluarkan voucher digital bernama Ultra Voucher pada 2017.

Awalnya hanya ke ritel, seperti Carrefour, Indomaret, dan Alfamart, tetapi makin ke sini makin bertambah, seperti restoran, food and beverage (F&B), hiburan, bahkan investasi untuk membeli emas.

Pada 2017, distribusi masih di e-commerce untuk voucher fisik, kemudian pada 2018 kami luncurkan mobile apps yang bisa di-download di Play Store atau iOs. Di aplikasi itu, pelanggan bisa melakukan pembayaran melalui VA Bank, credit card, GoPay, sehingga lebih mudah karena ada reminder expired-nya.

Perkembangan perusahaan hingga saat ini?

Dari tahun ke tahun pertumbuhannya positif. Jumlah user terus bertambah, active user juga bertambah. Saat ini kami memiliki 250 ribu sampai 300 ribu user mobile apps. Selain itu, member kami ada di Tokopedia, Shopee, dan e-commerce lainnya.

Jadi, kalau mereka beli voucher, back end-nya dari kami. Kami berikan white label untuk Tokopedia, Shopee, bahkan sekarang berkembang ke Bank BNI, Citi Bank, dan lainnya. Kami bisa dibilang inisiator dan market leader voucher digital di Indonesia. Kami sudah memiliki 300 merchant dan 40 ribu outlet di seluruh Indonesia.

Selain voucher yang bisa digunakan di restoran atau lainnya, kami punya voucher yang bisa digunakan secara online. Contohnya voucher Halodoc, Tokopedia, Gofood, dan Grabfood. Jadi, sebelum belanja di Grabfood atau Gofood, beli dulu voucher-nya di Ultra Voucher, nanti mendapatkan diskon.

Kiat Anda menghadapi persaingan?

Sebagai leader, saya harus melihat ke atas atau memiliki visi dan objektif, akan membawa ke mana perusahaan ini. Ketika membuat produk pun kami selalu memikirkan apa manfaat produk ini bagi masyarakat.

Jadi, harus mulai dulu dari mimpi. Jangan takut bermimpi. Mimpi kami datang salah satunya dari hasil perbincangan dengan customer, kemudian kami research kebutuhan mereka. Kami harus mendengarkan kebutuhan mereka karena voice customer is really number one.

Bahkan ketika kami mengambil keputusan, yang paling atas itu prosesnya adalah voice of customer. Apa yang menghadirkan value lebih besar bagi customer, itulah yang kami prioritaskan. Baru di bawahnya kepentingan perusahaan, kemudian kepentingan tim, dan kepentingan pribadi terakhir.

Selain itu, kami melihat voice of employee. Leader tentu harus punya inovasi, tapi ide dan inovasi itu juga datang dari karyawan, dari mulai ide produk sampai strategi marketing.

Makanya budaya di Ultra Voucher, dari karyawan yang levelnya paling bawah sampai direksi tidak ada gap. Semua memiliki akses keterbukaan, transparansi, yang penting harus berdasarkan data. Ketika berbicara harus memiliki dasar yang kuat. Suara karyawan harus kami maintain. Sebab, itu juga strategi agar mereka senang, tidak pindah.

Siapa motivator Anda dalam berkarier?

Sudah pasti keluarga yang mendukung saya hingga saat ini, mulai dari istri, anak, orang tua, hingga yang lainnya. Tanpa mereka, yang saya lakukan tidak mungkin seperti ini.

Lalu saya didukung circle lingkungan, baik teman maupun karyawan. Karyawan ini memotivasi saya untuk bekerja lebih ekstra untuk meningkatkan perusahaan.

Filosofi Anda?

Ada tiga hal yang selalu saya pegang. Pertama, integrity atau kejujuran. Jadi, ketika saya bisa, saya akan katakan bisa. Namun ketika tidak, saya akan katakan tidak. Bahkan sebagai leader pun, ketika saya tidak bisa melakukan suatu hal, saya akan katakan tidak bisa.

Ini harus dibiasakan agar ketika saya tidak bisa, saya harus mencari cara dan mencari tahu siapa orang lain yang bisa melakukan ini atau menjalin partnership dengan yang bisa, supaya kepentingan customer tidak terganggu. Integrity is number one.

Kedua adalah willing to learn, harus mau belajar. Sampai sekarang pun saya masih terus belajar, apalagi di industri digital. Salah satu hal yang membuat saya terus belajar adalah berani mengeluarkan voucher digital, karena saya belajar dari pain point yang dirasakan customer.

Ketiga yaitu willing to share atau sharing each other, mau berbagi. Mau berbagi ini konteksnya luas, dari mulai berbagi materi, hingga yang paling fundamental, yaitu berbagi ilmu. Sebab ketika berbagi ilmu, pasti kita mendapatkan ilmu baru.

Makanya kami menanamkan kepada karyawan untuk mau berbagi ilmu walaupun lintas departemen. Dengan berbagi ilmu, kita juga akan semakin meningkatkan knowledge kita.

Mimpi Anda lima tahun ke depan?

Saya ingin Ultra Voucher masuk ke Asia Pasifik. Kami sebenarnya ada beberapa corporate action. Customer kami kan ada perusahaan yang punya loyalty, beberapa di antaranya dari Perancis, Dubai, dan AS. Ini sudah berjalan dua tahun.

Positioning Ultra Voucher di pasar saat ini?

Dari sisi data memang belum ada lembaga independen yang bisa memberikan angka. Tetapi dari waktu ke waktu, jumlah pemakaian voucher kami terus meningkat. Kami sangat percaya diri, ketika sudah banyak corporate action yang kami lakukan, akan semakin banyak orang tahu dan happy berbelanja menggunakan Ultra Voucher.

Bagaimana Anda menyeimbangkan pekerjaan dengan kehidupan rumah tangga?

Memang bukan hal yang mudah, terutama berbagi waktu dengan anak. Tetapi ada bagian-bagian yang selalu saya jaga agar bisa bersama keluarga. Contohnya pagi-pagi, saya selalu memandikan anak saya yang masih berusia enam tahun dan setahun tiga bulan. Kalau bisa pulang cepat atau weekend, saya upayakan untuk tidak bekerja.

Anda ingin anak-anak kelak menjadi apa?

Maunya sih ke arah TI juga karena kan punya hobi seperti orang tuanya. Tapi zaman sekarang udah susah. Tidak bisa dipaksakan.

Nilai yang Anda tanamkan kepada anak-anak?

Kalau saya sih nilai yang saya pegang saat ini, yaitu kejujuran, mau belajar, dan selalu mau berbagi.

Obsesi Anda yang belum tercapai?

Kalau obsesi pasti ada beberapa yang belum tercapai. Yang jelas, saya secara pribadi, semakin bertambah usia menjadi semakin lebih banyak belajar. Yang terpenting adalah bisa lebih memberikan manfaat bagi banyak orang, bagi karyawan, termasuk masyarakat luas.

Menurut Anda, pemerintah sudah maksimal mendorong digitalisasi?

Kita bersyukur pemerintah sangat aware terhadap teknologi dan digital. Bapak presiden sering menekankan mengenai hal ini. DPR dan seluruh instansi terkait juga mendukung. Indonesia juga sudah punya roadmap pengembangan teknologi dan digitalisasi, termasuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Regulasi juga semakin bertambah matang, jadi masyarakat merasa aman dan confident untuk meningkatkan diri dari sisi teknologi, baik dari transaksi, aktivitas data, maupun operasional. ***

 

Riky Boy Permata.
Riky Boy Permata.

Mengajar Anak-anak Jalanan

Keresahan Riky Boy Permata melihat nasib anak-anak jalanan telah mengetuk hatinya untuk bergabung bersama rekan-rekannya dalam satu komunitas, hingga akhirnya ia menjadi ketua komunitas yang mengajar anak-anak jalanan. Itu dilakoninya mulai 2007 hingga 2013.

“Dari awal masuk, saya mengajar kelas 3 SMP sampai 3 SMA. Mengenai tempat belajar, kami janjian. Misalnya ketemu di Blok M, maka belajarnya di Taman Melawai,” tutur dia.

Banyak hal menarik yang dirasakan Riky selama menjadi kakak pengajar anak jalanan, mulai dari penolakan dari orang tua anak-anak, hingga harus berurusan dengan preman. “Kami juga mencari funding, sampai akhirnya sekolah itu digratiskan sembilan tahun oleh pemerintah,” ujar dia.

Riky merasakan kenikmatan tersendiri saat mengajar, khususnya mengajar anak-anak jalanan. Terlebih jika anak didiknya melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi, hingga akhirnya mendapat pekerjaan.

“Jadi, berbagi itu nggak harus materi, contohnya memberi ilmu dan memotivasi orang. Melihat anak-anak yang tadinya ngamen mau belajar, itu membahagiakan,” kata dia.

Pada waktu senggang, Riky kerap menghabiskan waktu untuk traveling yang memang menjadi hobinya, baik solo traveler maupun group traveler. Berbagai ojek wisata di sejumlah daerah sudah dikunjunginya, dari mulai Makassar, Pontianak, Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Pekanbaru, Medan, hingga Bali.

“Saya juga suka main ke pantai, saya suka menyelam. Spot yang sudah saya jelajahi lumayan banyak. Di Aceh, saya menyelam di sekitar Pulau Weh dan Sabang. Kalau di timur sekitar Bali,” papar dia.

Tapi hobi itu dijalani Riky sebelum pandemi. Kini, di masa pandemi, waktu luangnya banyak diisi dengan menonton film di rumah atau bermain bersama dua buah hatinya yang baru berusia enam tahun dan satu tahun.(es)

 

Biodata

Nama Lengkap: Riky Boy H Permata.

Tanggal lahir: 16 November 1984.

Pendidikan:

- S1 Computer Science, Universitas Trisakti (2009).

- S2 Business Management, Binus Business School (2011).

 

Karier:

* Eli Lilly & Company: IT Manager Business Engagement, Southheast Asia (SEA), EChannel IT Leader, Lean Six Sigma Green Belt (Agustus 2009 – Oktober 2013).

* Jatis Solution: Head of Maintenance Support & MIS (November 2013 – November 2014).

* Fujitsu Indonesia: Health Project Manager / Consultan Manager (November 2014 – Juni 2015).

* Metrodata Electronics/Mitra Integrasi Informatika, CRM Salesforce.com: Consulting Manager (Jun 2015 – Mei 2018).

* PT Trimegah Karya Pratama (Ultra Voucher): Co-Founder & Chief Technology Officer (Januari 2017 – Januari 2020).

* PT Trimegah Karya Pratama (Ultra Voucher): Chief Operating Officer (Januari 2020 – Februari 2021).

* PT Trimegah Karya Pratama Tbk: Direktur/COO (Februari 2021 - sekarang).

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN