Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Cahyo Satrio Prakoso (Investor Daily/ist)

Cahyo Satrio Prakoso (Investor Daily/ist)

Cahyo Satrio Prakoso, Presiden Direktur PT Jasamarga Related Business (JMRB)

Jujur, Loyal, dan Silaturahmi

Rabu, 21 Juli 2021 | 07:00 WIB
Muawwan Daelami (muawwan@beritasatumedia.com)

Berupaya untuk selalu jujur, loyal, dan membina silaturahmi (networking) adalah modal utama Cahyo Satrio Prakoso dalam berkarier. Ketiga hal itu pula yang telah menuntun presiden direktur PT Jasamarga Related Business (JMRB) ini ke gerbang kesuksesan. Tapi jauh di atas itu, dia juga selalu meniatkan semua langkahnya sebagai pengabdian kepada Yang Maha Kuasa.

Cahyo memang sosok yang dikenal religius. Ia menjadikan bekerja, berusaha, dan berdoa sebagai mata rantai yang tak terpisahkan dalam kesehariannya. Tak mengherankan bila pria yang menyukai reparasi elektronik ini menempatkan kejujuran pada urutan pertama, disusul loyalitas, dan silaturahmi yang membantunya memiliki jejaring (networking) yang luas.

Bagi Cahyo, menjalankan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG) merupakan bagian dari perintah-Nya. “Berbisnis atau bekerja sesuai aturan perusahaan juga sebenarnya turunan dari perintah Tuhan," tutur Cahyo kepada wartawan Investor Daily, Muawwan Daelami di Jakarta, baru-baru ini.

Cahyo Satrio Prakoso juga percaya bahwa membina silaturahmi (tali persahabatan) akan membuka pintu rezeki. Dalam konteks manajemen dan perusahaan, menjalin silaturahmi adalah membangun jejaring. “Jadi, kalau banyak berinteraksi dengan orang maka di sanalah ada rezeki,” ujar dia.

Lalu, seperti apa perjalanan karier Cahyo? Target apa saja yang ingin dicapainya selama menukangi PT JMRB? Bagaimana ia mengatasi setiap tantangan? Berikut petikan lengkapnya:

Bagaimana Anda mengawali karier?

Saya memulai karier di PT Jaya Real Property Tbk, anak perusahaan PT Pembangunan Jaya, perusahaan real estat nomor satu di Real Estat Indonesia (REI), yang waktu itu direktur utamanya Pak Ciputra. Sukses itu kan tidak lepas dari kapan kita ada di situ, pada saat yang tepat, dan momen yang tepat. Semuanya tidak akan berulang.

Maksudnya, semua itu merupakan sesuatu yang sudah digariskan Yang Maha Kuasa. Saya jalani saja, tiba-tiba bisa jualan dan sebagainya. Waktu di Jaya Property, saya sempat menjabat sebagai manajer proyek, manajer keuangan, manajer marketing, manajer perizinan sertifikat. Dari sinilah saya akhirnya mengenal dunia real estat dan properti.

Background studi saya sebenarnya teknik sipil Universitas Gadjah Mada (UGM). Setelah lulus, saya ambil master finance and banking di UGM. Saya merasa kemampuan teknik berkaitan dengan kemampuan keuangan, makanya saya ambil finance and banking. Tapi saya justru nggak pernah bekerja di bank, lebih banyak di developer atau real estat.

Kapan Anda berinteraksi pertama kali dengan Jasa Marga?

Setelah itu, saya masuk PT Gading Development Tbk yang menaungi banyak anak usaha, mulai dari posisi direktur sampai chief executive officer (CEO). Dari situ, barulah saya diminta menjadi advisor di Jasa Marga Holding untuk real estat pada awal 2019 selama satu setengah tahun.

Mulai Juni 2020, saya ditunjuk sebagai presiden direktur di PT Jasamarga Related Business (JMRB). Kalau advisor kan cuma ngomong, nggak mengimplementasikan. Sedangkan sekarang, saya punya tanggung jawab untuk mengimpelementasikan ide-ide.

Tahun ini, sudah ada beberapa target yang harus berjalan. Insya Allah, Toll Corridor Development (TCD) di Taman Mini yang dikunjungi Presiden Joko Widodo baru-baru ini bisa berjalan, karena kami akan bikin kawasan transit oriented development (TOD) pertama. Jalan tol, moda Trans Jakarta, dan  lintas rel terpadu (LRT) akan menjadi satu. Harapannya, ini jadi milestone bagi TOD-TOD lain.

Potensi real estat JMRB ke depan seperti apa?

Saya melihat potensi real estat Jasa Marga ini menarik karena dia punya infrastruktur jalan. Coba bandingkan dengan real estat lain yang masalahnya lebih banyak menyangkut tanah, bagaimana menjual tanah, dan meningkatkan nilai tanah. Jalan dan tanah itu hubungannya erat. Kalau tanah, nggak ada jalan, nggak akan laku walaupun tanahnya bagus. Tapi begitu disediakan jalan, harga tanah pun naik, apalagi jalan tol.

Jasa Marga mengelola lebih dari 1.500 km jalan tol milik pemerintah. Ketika saya masih di developer, saya melihat tanah di sekitar tol Jasa Marga ini banyak dimanfaatkan swasta, salah satunya Alam Sutera. Ketika jalan tol yang langsung menuju Alam Sutera dibuka, dampaknya terasa. Nilai tanah dari semula Rp 1,5 juta per m2, sekarang Rp 5 juta, bahkan sampai Rp 30 juta per m2. Kenaikannya berkali-kali lipat, tapi yang menikmati justru developer. Makanya, harapan saya PT JMRB bisa menjadi semacam master developer , sehingga nanti Jasa Marga yang menguasai tanah dan membaginya kepada developer-developer kecil supaya bukan hanya developer besar yang menikmati, tetapi pemerintah juga mendapatkan keuntungan atas kenaikan harga tanah.

Target Anda untuk JMRB?

Saya ingin JMRB tumbuh jauh lebih besar. Potensinya ada, bahkan bisnisnya bisa beragam, melebihi PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai induknya. Mungkin, dalam waktu lima sampai 10 tahun ke depan, bisa jauh lebih besar. Apalagi jika di-support stakeholder.

Dengan begitu, JMRB akan menjadi tempat bergantungnya para karyawan dan bisa menyerap karyawan-karyawan Jasa Marga untuk belajar sekaligus mencoba meniti karier baru yang selama ini mungkin lebih banyak beroperasi di sektor jalan tol.

Bagaimana dengan target pribadi dan keluarga?

Kalau target peribadi di perusahaan, saya ingin mengantarkan para karyawan JMRB bisa meneruskan perusahaan ini. Syukur-syukur bisa lebih bagus, apalagi sekarang kan banyak milenial. Itu sebenarnya target pribadi saya untuk JMRB.

Kalau target di keluarga, karena saya sudah kepala lima, tidak banyak target yang saya inginkan. Target dalam urusan materi nggak akan ada habisnya. Begitu juga dengan target jabatan, nggak akan ada habisnya, kecuali target itu ingin mendekatkan diri kepada Allah. Apalagi nanti memasuki usia 60. Fokus saya ke arah sana. Tidak muluk-muluk. Saya jalani saja. Apa yang ada, saya jalani. Apa yang diberikan Allah, tidak ada yang kebetulan, dan pasti paling baik.

Mengapa Anda tertarik pada profesi ini?

Karena hampir seluruh perjalanan karier saya semuanya di real estat. Ada beberapa di minyak dan gas, tapi real estat menurut saya cukup kompleks, mulai dari pembiayaannya dan pembebasan tanahnya. Banyak sekali ilmunya. Bahkan sampai sekarang pun saya belum khatam karena setiap daerah berbeda-beda.

Saya loyal terhadap satu bidang yang saya tahu. Kalau bidang yang nggak saya ketahui, saya masih terus belajar. Sebenarnya ada beberapa bidang lain yang menarik, tapi karena saya belum mampu, saya belum berani melakukannya. Itu berurusan dengan risiko. Untuk bidang real estat, network saya sudah terbentuk. Pengetahuan saya juga sudah ada meskipun sedikit. Tapi paling tidak, itu yang membuat saya lebih confident terhadap bidang yang saya tahu.

Kiat kepemimpinan Anda?

Saya orang Jawa. Dalam kepemimpinan pun, saya berusaha menerapkan teladan Jawa. Saya juga ambil dari Alquran. Di Jawa ada ing ngarso sung tulodo yang berarti saya di depan memberi contoh. Kalau saya katakan nggak boleh mencuri, saya harus jujur memberi contoh. Kalau nggak boleh telat, saya juga nggak boleh telat.

Kemudian ing madyo mangun karso. Kalau saya di tengah, saya berusaha menyatu dan membangkitkan semangat. Perusahaan, jika karyawannya diberi api semangat yang membara, pasti dia ingin mencapai cita-cita yang sama, dan pasti sukses. Berbeda jika moral karyawannya sudah jatuh, misalnya memikirkan PHK dan perusahaan mau tutup, pasti nggak akan sukses.

Terakhir, tut wuri handayani. Kalau saya di belakang, itu seperti orang yang menggiring bebek. Saat di belakang, saya pasti melihat, ini bentuknya harus seperti ini dan didorong. Sebab, karyawan itu berbeda-beda. Ada yang cepat, ada juga sebaliknya. Kalau bertikai terus, diberikan penyuluhan, konsultasi, dan sebagainya.

Definisi sukses menurut Anda?

Menurut saya, sukses itu bisa lebih dekat dengan Allah. Artinya, saya bisa salat dan kerja, bisa menyeimbangkan keduanya, itu kesuksesan bagi saya. Makin lama, salat saya bisa makin fokus, saya semakin sukses. Bukan ukuran materi, tapi ukuran sukses menurut saya adalah kedekatan dengan Sang Pencipta.

Bagaimana Anda menyeimbangkan urusan pribadi dan pekerjaan?

Kalau pekerjaan itu dituruti, 24 jam pun masih kurang. Maka memang harus seimbang antara urusan pribadi atau keluarga dengan pekerjaan. Saya biasanya masuk kerja sesuai aturan perusahaan. Tapi kalau pulang, kadang-kadang sampai malam karena ada pertemuan, entah dengan asosiasi atau dengan direksi.

Kalau hari-hari biasa, insya Allah jam 20.00 sampai 21.00 sudah sampai rumah, berkumpul bersama keluarga. Paginya, saya kadang-kadang masih sempat berolahraga.

Kalau weekend, Sabtu beberapa bisnis pribadi, Minggu lebih banyak urusan keluarga, seperti merawat mertua. Cuma ada satu hal yang nggak boleh saya tinggalkan adalah bagaimana menenangkan diri. Karena terkadang, mengejar target itu yang bikin kita nggak tenang.

Karena itu, insya Allah salat lima waktu berjamaah di masjid itu nggak saya tinggalkan, terutama waktu Subuh. Saya alhamdulillah salat di masjid dan saya selalu bangun rata-rata jam 03.00 atau 03.30. Salat Tahajud, setelahnya semua masalah bisa selesai.

Peran keluarga bagi Anda?

Keluarga menjadi tempat diskusi bagi saya. Dulu sebelum menikah, istri saya bekerja di kantor pajak. Setelah menikah, dia nggak bekerja. Kalau istri saya kerja, saya juga kerja, sampai di rumah, semua capek. Akhirnya di rumah nggak bisa diskusi.

Padahal, saya kan di rumah ingin tenang dan bisa beribadah. Sejak itulah istri saya berhenti kerja. Walaupun dengan hitung-hitungan, gaji saya 10 dan gaji istri 10 harusnya kan 20. Kalau istri saya nggak bekerja, jadinya berkurang untuk membiayai hal yang sama. Tapi, matematika Allah nggak begitu. Gaji istri hilang 10, gaji saya naik 30, dan itu betul-betul kejadian.

Hobi favorit Anda?

Saya suka olahraga. Dulu sempat golf, sekarang nggak karena banyak menyita waktu. Tenis juga saya suka. Tapi sekarang hanya sepeda dan jogging. Selain itu, saya hobi baca. Ketika ingin sesuatu yang baru, saya coba baca, termasuk untuk hobi mengenai hal-hal yang berbau elektronik. Dari kecil, saya suka reparasi karena sifatnya yang logis. Sampai-sampai, saya punya tempat khusus di rumah seperti laboratorium.

Buku apa yang biasa Anda baca?

Saya suka baca buku tentang topik yang saya tahu. Misalnya ekonomi, komputer, real estat,  kecuali fiksi saya nggak terlalu suka. Jadi, saya baca buku yang dapat mendukung pekerjaan sehingga nanti bisa disampaikan, misalnya untuk meeting. Membaca itu bagian dari menambah ilmu.

Pesan Anda untuk generasi milenial?

Untuk teman-teman milenial, saya pesan untuk selalu mencoba sesuatu yang baru, karena hal itu akan menambah ide, inovasi, dan pengetahuan. Meskipun sudah tua, saya selalu mencoba hal baru. Pesan kedua adalah networking. Perbanyak sosialisasi karena hal itu dapat menjadi pertolongan kita. Bahkan di Islam, silaturahmi itu akan menjadi pertolongan kita saat kita membutuhkan. Kita nggak tahu kapan, tapi pasti kita nggak bisa hidup sendiri. Kita hidup bersama teman-teman dan keluarga.

Aktivitas Anda di luar pekerjaan?

Saya sempat mengajar technopreneur di Universitas Surya, Tangerang. Saya mengajar bukan karena saya mencari gaji, tapi dengan mengajar saya sekalian mengasah ilmu. Kalau mengajar, otomatis saya harus baca, lalu mengajar.

Hal itu memberikan saya remind atas apa yang sudah pernah saya praktikkan. Saya tuangkan pengalaman itu di pengajaran dan ketika ada mahasiswa kritis, kami berdiskusi. Itulah yang mengasah argumen dan ilmu kita supaya bisa menjadi lebih baik.***

 

Cahyo Satrio Prakoso (Investor Daily/ist)
Cahyo Satrio Prakoso (Investor Daily/ist)

Ingin Hafal Alquran

Jauh di dalam lubuk hatinya, Cahyo Satrio Prakoso ternyata menyimpan obsesi untuk bisa hafal Alquran.  "Saya sedang mengundang guru untuk mengajari saya supaya bisa menghafal Alquran. Saya sedang berusaha untuk hafal Alquran," tutur orang nomor satu di PT Jasamarga Related Business (JMRB) tersebut.

Cahyo mengakui, ia masih harus banyak belajar karena saat ini baru hafal surat-surat pendek. “Masih jauh sih, tapi paling nggak saya sekarang sedang berusaha untuk mengarah ke sana,” ujar Cahyo yang dikenal sebagai pribadi yang kalem tidak neko-neko, dan selalu tampil apa adanya. (mwd)

 

Biodata

Nama: Cahyo Satrio Prakoso.

Jabatan: Presiden Direktur PT Jasamarga Related Business.

Pendidikan Formal

1992-1993: Master Finance and Banking, Universitas Gadjah Mada (UGM).

1996-1992: Teknik Sipil, UGM.

Pengalaman Profesional

Juni 2020 - sekarang : Presiden Direktur PT Jasamarga Related Business.

Februari - Desember : 2019 Advisor PT Jasa Marga (Persero) Tbk.

Juli 2015 - Juni 2020 : Group CEO & Senior Advisor PT Gading Development Tbk.

September 2019 - Juni 2020 : Direktur PT Republik Capital Indonesia.

September 2014 - Juni 2020 : Komisaris PT Kodes Sukses Sejahtera.

Juli 2015 - November 2016 : Direktur PT Geo Putra Perkasa.

Juli 2014 - Juli 2015 : Presiden Direktur dan CEO PT Gading Development Tbk.

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN