Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
CEO Qasir, Michael Johan Williem bersama keluarga. (ist)

CEO Qasir, Michael Johan Williem bersama keluarga. (ist)

Michael Johan Williem, Chief Executive Officer (CEO) Qasir

Kegagalan adalah Keberhasilan yang Tertunda

Selasa, 20 April 2021 | 07:00 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Menyaksikan toko kelontong milik keluarga yang bangkrut karena kalah bersaing dengan jaringan pasar ritel modern adalah pengalaman pahit tak terlupakan bagi Michael Johan Williem, chief executive officer (CEO) PT Solusi Teknologi Niaga (Qasir).

Pengalaman yang amat membekas itu tak hanya menempa mental Michael Johan Williem, tapi juga memengaruhi strategi bisnis Qasir yang ia jalankan bersama teman-temannya.

Qasir adalah sebuah ekosistem dagang yang dibangun untuk membantu para pedagang, terutama yang berskala mikro dan kecil, agar naik kelas. Qasir didirikan pada 2015 oleh Novan Adrian dan Rachmat Anggara, sedangkan Michael kala itu berperan sebagai penasihat.

Berkaca dari pengalaman bisnis keluarganya, Michael memiliki prinsip bahwa sejatinya tidak ada kegagalan. Yang ada hanyalah keberhasilan yang tertunda. “Kalau gagal, hadapi dengan ikhlas, lalu mencoba lagi. Tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya keberhasilan yang tertunda,” kata dia.

Di sisi lain, Michael tak mau pengalaman getir keluarganya dialami oleh para pelaku usaha kecil yang lain. “Secara pribadi, saya merasa perjalanan hidup membawa saya ke titik ini. Dari pengalaman yang telah saya lalui, dari tumbuh besar di toko kelontong, sampai bekerja di perusahaan teknologi terbesar di Indonesia, saya ingin setiap usaha kecil tidak melalui apa yang dialami keluarga saya,” papar dia.

Pengalaman getir itu benar-benar terpatri kuat di benak Michael. Setiap kali mengunjungi para pedagang yang berada dalam ekosistem Qasir, ayah dua anak itu merasa seperti dibawa kembali ke masa lalu ketika ia membantu kedua orang tuanya mengelola toko kelontong.

“Saya yakin bisnis yang saya ambil ini sudah berada di jalan yang tepat ketika salah satu pedagang menyampaikan bahwa Qasir telah mengubah hidupnya,” ujar dia.

Berikut penuturan lengkap wawancara Michael Johan Williem kepada wartawati Investor Daily, Happy Amanda Amalia di Jakarta, belum lama ini:

Mengapa Anda tertarik bergabung dengan Qasir?

Saya lahir dan tumbuh besar di keluarga pedagang yang menjalankan sebuah toko kelontong. Kami melalui masa-masa sulit pada awal tahun 2000-an karena tidak mampu bersaing dengan hipermarket dan jaringan usaha ritel modern yang mulai menjamur waktu itu hingga akhirnya keluarga saya jatuh bangkrut.

Saat itu saya masih duduk di bangku kuliah, sekitar tahun 2002. Jadi, pengalaman itu ngefek banget. Itu sebabnya, fokus utama bisnis Qasir adalah ingin mengubah pedagang menjadi pengusaha.

Saat itu, mindset ayah saya mungkin sama dengan kebanyakan pedagang lain yang hanya membeli dan menjual barang dengan margin, tapi tidak berpikir tentang toko berjejaring. Kalau punya toko beberapa cabang, otomatis stok barang lebih banyak dan harganya lebih murah karena volumenya lebih besar.

Sebelum bergabung dengan Qasir?

Awalnya saya menemukan passion di teknologi dan mulai mengembangkan karier di perusahaan teknologi sejak 2005 hingga akhirnya bergabung dengan perusahaan e-commerce, seperti Orami/Bilna dan Tokopedia, untuk memimpin proses desain produk. Saat kuliah, saya juga mengambil double major, yakni jurusan bisnis administrasi dan informasi teknologi.

Nah, Qasir didirikan pada 2015 oleh Novan Adrian dan Rachmat Anggara, sementara saya sendiri berperan sebagai penasihat. Qasir dimulai dengan segala keterbatasan yang ada, namun kami dikaruniai tim yang sangat kuat dari awal.

Sampai akhirnya pada 2018 Qasir tumbuh hingga melayani puluhan ribu pedagang. Saya dipercayai untuk memimpin Qasir ke tahap yang lebih lanjut, belajar dari pengalaman saya bekerja di perusahaan teknologi raksasa, seperti Orami dan Tokopedia.

Kini kami sudah melayani ratusan ribu pedagang di seluruh Indonesia. Puluhan ribu pedagang baru terus bergabung di ekosistem Qasir setiap bulannya.

Model bisnis Qasir konkretnya seperti apa?

Qasir bermula dari kepercayaan kami bahwa pencatatan transaksi adalah awal dari inklusi finansial. Diambil dari kata "kasir" yang secara harfiah artinya seseorang ada di area, di mana proses pencatatan transaksi dilakukan.

Setelah hadir selama hampir lima tahun, kami melalui rangkaian pengembangan untuk dukungan ekosistem yang lebih baik, sehingga kini Qasir tidak hanya hadir sebagai alat pencatatan transaksi, melainkan juga sebagai platform edukasi, penerimaan pembayaran cashless, belanja barang grosir, serta pembiayaan produktif.

Qasir juga merupakan sebuah ekosistem dagang yang dibangun secara spesifik untuk membantu pedagang agar naik kelas menjadi pengusaha. Kami hadir untuk menyelesaikan rintangan-rintangan utama pedagang menjadi pengusaha, dari keterbatasan pengetahuan dan kemampuan berbisnis, akses terhadap teknologi dan sistem yang terjangkau, akses terhadap pembiayaan yang layak dan terjangkau, serta kesenjangan pendapatan.

Visi dan misi Qasir?

Misi kami adalah pemberdayaan teknologi untuk menciptakan kesempatan ekonomi yang sama bagi usahawan mikro dan kecil. Sedangkan visi kami yaitu menciptakan ekosistem di mana usahawan dapat membangun, mengelola, dan mengembangkan usahanya.

Seluruh pendiri Qasir memiliki latar belakang yang berbeda namun punya visi yang sama, yaitu memberdayakan teknologi untuk menciptakan kesempataan ekonomi yang sama bagi usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Kenapa fokus ke UMKM?

Aplikasi utama Qasir disajikan secara gratis tanpa batasan berapa pun transaksi, cabang, atau pelanggan yang dimiliki oleh sebuah usaha. Qasir tumbuh dengan latar belakang pengembangan produk yang baik.

Kami percaya bahwa kami harus menyediakan produk yang paling mudah digunakan oleh pengguna kami untuk menjadi sebuah ekosistem yang berhasil mengubah cara UMKM menjalankan usahanya.

Apabila Qasir digunakan dengan baik oleh pedagang pada ekosistem kami, kami yakin mereka akan menjadi usahawan yang lebih baik. Itu sudah dibuktikan oleh sebagian pengguna awal Qasir, di mana kami melihat angka perkembangan rata-rata pedagang di Qasir yang luar biasa pesat.

Dibandingkan negara-negara berkembang lain, proporsi usaha mikro dan kecil di Indonesia memiliki perbedaan yang amat menonjol. Ekonomi Indonesia didukung 98,7% usaha mikro dan 1,2% usaha kecil. Sedangkan di negara berkembang lain kontribusinya 92% usaha mikro dan 6% usaha kecil.

Berdasarkan data ini, kami percaya apabila kami fokus membantu pedagang menjadi pengusaha, akan lebih banyak usaha mikro yang naik kelas menjadi usaha kecil, sehingga ekonomi di Indonesia akan semakin matang.

Prospeknya dalam jangka panjang?

Pada akhirnya, di negara mana pun di seluruh dunia, lebih dari 98% ekonomi akan selalu disumbangkan oleh UMKM. Kami percaya dengan membantu usahawan mikro untuk naik kelas, kami akan terus memberikan kontribusi terbaik untuk negara dan masyarakat.

Saat banyak orang fokus kepada usaha kecil dan menengah karena mereka adalah komunitas yang sudah terdidik untuk menggunakan sebuah sistem, kami memilih untuk tetap ada di segmen yang harus diedukasi. Sebab, kami yakin dengan inilah kami bisa mengubah untuk menjadikannya lebih baik.

Dukungan pemerintah kepada UMKM, menurut Anda?

Dukungan sudah luar biasa baik. Tantangan terbesar bagi semua kontributor, baik pemerintah maupun swasta, adalah distribusi. Ada pepatah William Gibson, “The future is already here, it's just not very evenly distributed.”

Tantangan terbesar bersama adalah bagaimana melakukan pemerataan terhadap berbagai solusi, baik yang dilakukan pemerintah maupun swasta.

Bagaimana posisi Qasir di mata pelanggan?

Hingga kini Qasir masih satu-satunya solusi gratis yang bisa digunakan siapa pun. Ini membuat Qasir dilihat sebagai teman, bukan sekadar aplikasi. Kalau dilihat di review aplikasi kami, sebagian besar datang untuk memberikan kontribusi, bukan sekadar ulasan.

Kami berusaha membangun komunikasi yang sangat dekat dengan pedagang di ekosistem Qasir dengan segala keterbatasan yang ada hingga kini. Kami harap bisa terus melakukannya dengan lebih baik lagi.

Tantangan yang dihadapi Qasir?

Awalnya Qasir melalui masa-masa sulit untuk adopsi pengguna. Namun setelah mendapat lebih dari 10 ribu pengguna, pertumbuhan Qasir melesat di luar perkiraan kami.

Tantangan terbesar kami secara teknologi adalah untuk menjadi solusi cloud yang penggunanya selalu aktif selama usahanya berjalan. Ini jadi tantangan utama karena untuk membangun sistem stabil yang digunakan oleh jutaan bisnis selama 8-12 jam rata-rata setiap harinya dibutuhkan sumber daya dan teknologi yang sangat efisien.

Soal persaingan dengan aplikasi sejenis, kami sangat positif bahwa persaingan akan membuahkan inovasi dan banyak hal baik bagi pengguna. Persaingan membuat kami menjadi lebih baik. Kami memfokuskan diri untuk satu hal, yakni menyediakan pengalaman terbaik bagi pengguna kami.

Gaya kepemimpinan Anda di Qasir?

Saya percaya terhadap tiga hal dalam membangun tim, yaitu bisa diandalkan, bertanggung jawab, dan produktif. Saya juga percaya pada meritokrasi, di mana semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk memimpin dan mengambil keputusan berdasarkan kemampuan dan prestasi. Bukan berdasarkan senioritas, pengalaman, atau jabatan tertentu.

Sebenarnya saya merasa terlalu sering mendapatkan pengakuan atas apa yang mereka lakukan. Padahal Qasir bisa seperti sekarang karena kontribusi semua orang yang selama ini bekerja dan bermitra dengan Qasir.

Tim kami cenderung kecil dan tidak sempurna, namun mereka bisa diandalkan dalam situasi apa pun. Itu membuat saya yakin bahwa kami akan terus berkembang menjadi lebih baik.

Siapa tokoh yang menginspirasi perjalanan hidup Anda?

Ayah saya. Dia selalu menjadi inspirasi hingga saat ini. Seiring perjalanan karier, saya bertemu dengan dua pemimpin yang mengubah cara saya memandang segala sesuatu, salah satunya William Tanuwijaya, CEO Tokopedia.

Cara Anda memandang hidup ini?

Saya selalu mencoba mensyukuri hidup ini, baik maupun buruk. Tidak ada yang terjadi tanpa alasan. Tanpa itu, kita tidak akan bisa memanfaatkan kesempatan yang kita dapatkan. Selanjutnya adalah bertanggung jawab atas semua hal yang telah diberikan.

Filosofi hidup Anda?

Dari tanggung jawab yang besar, lahir kekuatan atau kemampuan yang sama besarnya untuk melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Cara Anda bangkit dari kegagalan?

Ikhlas, lalu mencoba lagi. Tidak ada yang namanya kegagalan, yang ada hanya keberhasilan yang tertunda. Jadi, kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda. ***

 

Chief Executive Officer (CEO) Qasir, Michael Johan Williem. (ist)
Chief Executive Officer (CEO) Qasir, Michael Johan Williem. (ist)

Mencoba Resep Baru di Akhir Pekan

Michael Johan Williem harus menjalin hubungan jarak jauh dengan keluarga yang tinggal di Denpasar, Bali. Jakarta adalah tempat dirinya membangun bisnis Qasir. “Sangat sulit memang hidup berjauhan dengan keluarga,” kata dia.

Namun, ada sejumlah hikmah yang bisa diambil Michael. Salah satunya, ia lebih menghargai waktu ketika sedang bekerja dan menghabiskan waktu bersama keluarga.

“Saya belajar untuk fokus 100% terhadap apa yang ada di depan saya. Ketika saya bekerja, saya 100% bekerja. Ketika sedang menghabiskan waktu bersama keluarga, saya juga 100% melakukan hal tersebut,” ujar dia.

Pada akhir pekan, saat berkumpul dengan keluarga, Michael kerap memasak untuk mereka dan mencoba resep-resep baru. Hobi itu ternyata mampu meredakan rasa penat setelah bekerja.

“Kalau masak kan harus fokus dan otomatis nggak mikir hal lain. Jadi, sebenarnya ini lebih kepada satu cara untuk pindah mode dari kerja ke hal lain,” tutur dia. (pya)

 

Biodata

Nama lengkap: Michael Johan Williem.

Status: menikah, 2 anak.

Pendidikan:

2005 – 2007: Informatics College, Advance Diploma Business IT.

2004 – 2005: Thames Business College, Diploma Business Administration.

2000 – 2004: St. Francis Methodist School, N Level Physics.

Karier:

November 2018 – sekarang : Chief Executive Officer (CEO) PT Solusi Teknologi Niaga (Qasir).

Agustus 2015 – Desember 2018 : Board of Advisors Saka Digital.

Desember 2017 – November 2018 : Head of Product Design Tokopedia.

Februari 2016 – November 2018 : Advisor Innovecto.

Juli 2014 – November 2018 : Business Advisor, UX/CX Consultant, Executive Digital Producer FlipBox Studio.

Desember 2016 – Desember 2017 : Co-Founder Pazpo.

Agustus 2015 – Desember 2017 : Head of User Experience & Product Design PT Bilna.


 


 


 


 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN