Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ira Noviarti, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. (ist)

Ira Noviarti, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. (ist)

IRA NOVIARTI, PRESIDEN DIREKTUR PT UNILEVER INDONESIA TBK

Kekuatan Berasal dari 'Collective Mind'

Senin, 15 Maret 2021 | 08:00 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

Kemampuan mendengar, memahami, dan cepat menangani masalah adalah keunikan perempuan yang tak dimiliki pria. Itu sebabnya, dalam banyak hal, perempuan bisa memimpin lebih baik dibandingkan laki-laki.

Selama masa pandemi Covid-19, misalnya, negara yang dipimpin perempuan mampu keluar lebih cepat dari pandemi, dengan selamat. Kanselir Jerman, Angela Merkel dan Perdana Menteri (PM) Selandia Baru, Jacinda Ardern adalah dua nama dimaksud.

Keunikan ini seharusnya dimanfaatkan perempuan untuk tidak lagi rendah diri dan menumbuhkan karier setinggi-tingginya. "Saya advice ke tim saya yang perempuan untuk mengejar karier setinggi-tingginya," ujar Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk, Ira Noviarti kepada wartawati Investor Daily, Gita Rossiana di Jakarta, baru-baru ini.

Hal itu pula yang ditanamkan Ira dalam meniti karier dan kepemimpinannya selama bekerja di Unilever Indonesia. Dia percaya, perempuan dan laki-laki memiliki kemampuan dan kesempatan yang sama dalam memimpin. "Focus on your strength and make it super power,"  tutur Ira yang menjabat sebagai Presiden Direktur Unilever Indonesia sejak Desember 2020.

Eksekutif perempuan ini juga mengedepankan gaya kepemimpinan yang inklusif. Ira Noviarti tidak bersikap otoriter dalam mengambil keputusan. Sebaliknya, dia akan berupaya mendengar semua pendapat sebelum memutuskan sesuatu.

Apalagi dalam menghadapi masa pandemi Covid-19. Bagi Ira, penting sekali mendapatkan banyak sudut pandang dari berbagai pihak. "Single mind itu tidak cukup, sehingga perlu collective mind agar menciptakan power yang luar biasa," tegas Ira yang aktif dalam berbagai organisasi perempuan.

Ira Noviarti adalah tipe pekerja keras, loyal, dan berdedikasi. Dia menghabiskan hampir 25 tahun terakhirnya di Unilever Indonesia dengan mengemban banyak tugas kepemimpinan. Tidak hanya di Indonesia, namun juga di tingkat global. Berkat kerja kerasnya ini, dia berhasil membawa timnya menjadi tim terbaik selama tiga tahun berturut-turut di tingkat global.

Menjadi pemimpin baru di Unilever Indonesia, Ira ingin membawa Unilever menjadi power of house, sumber inspirasi dan orang-orang terbaik di tingkat dunia. Dia juga ingin membawa emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham UNVR itu keluar dengan selamat dari pandemi Covid-19, bahkan lebih berkembang dari sebelumnya. Berikut penuturan lengkapnya:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga memimpin Unilever Indonesia?

Sebetulnya saya adalah lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI), jurusan akuntansi. Tetapi saya diterimanya justru di bagian marketing dan bisnis, yang memastikan bisnis dan karyawan bergerak.

Di Unilever, saya memulai karier sejak 1995. Awalnya saya memegang bagian personal care, lalu pindah ke bagian food. Dari sepanjang karier saya di Unilever, yang paling berkesan adalah ketika saya pegang unit bisnis es krim, sekitar tahun 2011.

Waktu itu sedang berkembang es krim Magnum. Momen itulah yang membuat saya berubah. Saya harus berpikir out of the box untuk memastikan bisnis ini bisa berkembang dan menghasilkan profit.

Kemudian, saya pindah lagi ke bagian Unilever Food Solutions (UFS). Pada momen itu, saya menghadapi tiga perubahan sekaligus. Saya tidak hanya berhubungan dengan konsumen, namun langsung secara business to business, seperti Pizza Hut, Kentucky, dan lainnya.

Base-nya juga beda, ada di Singapura. Timnya pun berbeda, lebih banyak dan ada di berbagai negara. Dengan memegang tim yang banyak, ini yang menurut saya sangat impactful bahwa orang Indonesia seharusnya juga bisa pegang divisi.

Prestasi paling monumental yang pernah Anda raih?

Pada 2015-2017, saya memimpin bagian UFS untuk kawasan Asia Tenggara. Saya berhasil menjadikan UFS Asia Tenggara terbaik di tingkat global selama tiga tahun berturut-turut. Keberhasilan ini meningkatkan level kepemimpinan saya tidak hanya di Indonesia, namun juga di tingkat global. Pencapaian ini yang menjadi dasar kesuksesan saya berikutnya.

Apa yang membuat Anda bertahan lama di Unilever?

Satu hal fundamental yang membuat saya memutuskan untuk stay atau tidak adalah apakah perusahaan bisa memberikan kesempatan bagi saya untuk grow sebagai individu atau sebagai profesional. Jadi, saya berpikir, kalau saya bisa grow the company, company juga harus grow me as a leader. Once you stop growing, barulah di sana memutuskan untuk berkarier di tempat yang lebih baik.

Unilever constantly enough to give me challenge, sehingga saya bisa berkembang sebagai individu. Jadi, sebelum bosan, saya sudah dipindahkan ke tempat lain agar berkembang lagi. Unilever memenuhi ekspektasi saya. Apa yang saya berikan dan terima, bisa berjalan berkesinambungan.

Perusahaan memiliki tujuan yang kuat, maka saya mendukung perusahaan untuk memenuhi tujuan itu. Alhamdulillah tujuan mulia Unilever ini yang menjadi key, saya dan Unilever bisa klop. That's why I really love.

Bagaimana Anda melihat prospek bisnis 2021?

Banyak refleksi yang saya lakukan secara personal, baik sebagai leader maupun board of director di Unilever. Tahun 2020 menjadi tahun yang penuh tantangan bagi saya sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Saya perlu melihat lagi, bagaimana kami melakukan bisnis dan prioritas apa yang mesti diambil setelah menghadapi pandemi. Tahun lalu juga memperkaya saya sebagai seorang individu dan leader supaya lebih punya resilience dan tangguh.

Memasuki 2021, saya memiliki harapan dan optimisme untuk membuat pasar bergerak. Sejauh ini, pemerintah sudah memberikan yang terbaik kepada masyarakat, tertama melalui program vaksinasi. Memasuki 2021, walaupun beda hari dan beda tahun, kondisinya tidak jauh berbeda.

Yang berbeda, begitu masuk 2021, kami sudah mengetahui keadaan. Sebagai leader dan colleague, pendekatannya seperti apa. Begitu pula dalam menghadapi komunitas dan konsumen. Ini yang memaksa kami berpikir out of the box karena 2020 mengajarkan kami seperti itu.

Benarkah pemimpin perempuan memiliki keunggulan dalam menghadapi krisis dibandingkan pria?

Perempuan dan laki-laki memiliki kapasitas dan kemampuan yang sama kuat. Mungkin memiliki keunikan, namun kekuatan dan potensi antargender ini tidak berbeda. Perempuan memiliki kesempatan yang sama dengan pria.

Dalam memimpin perusahaan, perempuan dipengaruhi beberapa hal, bukan hanya karena gender, namun bagaimana memahami situasi. Bagaimana perempuan mendengarkan dan memberikan insight. Jadi, menurut saya, seorang pemimpin tidak hanya peduli pada fakta, namun juga kemampuan mendengarkan, navigating krisis, dan menghadapi tantangan.

Di Unilever, organisasinya cukup diverse, antara perempuan dan laki-laki cukup balance. Ini menunjukkan pentingnya include different point of view dari berbagai gender, sehingga output-nya lebih kaya. Dalam menghadapi Covid-19, kami beruntung di-support pemimpin perempuan yang very capable.

Dalam banyak kasus, motivasi perempuan dalam mengejar karier akan menurun setelah berkeluarga dan memiliki anak. Menurut Anda?

Potensi perempuan sama besar dengan laki-laki. Saya advice ke tim saya yang perempuan untuk tetap mengejar karier. Namun sebelumnya, kita harus tahu strength kita apa dan biasanya perempuan agak fokus ke weakness. Perempuan memang lebih sensitif terhadap hal ini. Jadi, penting untuk focus on strength and make it super power. Setelah bisa perform well in job, kita harus bisa mengomunikasikan kepada lingkungan mengenai performa itu.

Selanjutnya, find mentor dan sponsor supaya perjalanan kita lebih baik di perusahaan. Ada stage di mana perempuan lebih berat ke keluarga. Saat anak masih kecil memang berada di critical period, sehingga penting untuk mengomunikasikan apa yang membuat kesulitan untuk bisa progresif.

Stage-nya perempuan itu tidak sama. Saat memiliki anak, justru karier harus bergerak cepat. Kita harus bisa mengidentifikasi support system yang bisa membantu role perempuan. Mungkin di stage itu, kita bisa mundur dulu, setelah itu baru bisa cepat. Di Unilever, kami seperti itu. Kami memiliki day care di kantor pusat dan juga fleksibilitas dalam jam kerja.

Komitmen Unilever terhadap citra diri perempuan?

Sebagai player yang memiliki banyak brand, kami memiliki tanggung jawab untuk create impact secara sosial. Manifestasi kecantikan saat ini identik dengan badan tinggi dan panjang. Namun, menurut saya, ke depan arahnya lebih melihat cantik sebagai sesuatu yang beragam.

Indonesia memiliki background yang cukup berbeda, cantiknya Ambon berbeda dengan Jawa Barat. Definisi cantik itu tidak hanya satu dimensi, tapi multidimensi. Ke depan, arahnya lebih ke accepting who you are. You are beautiful as you are.

Sebagai pemimpin baru di Unilever, apa fokus Anda?

Saya diangkat menjadi Presiden Direktur pada Desember 2020, saat kita masih dalam kondisi pandemi. Namun, saya sudah 25 tahun di Unilever sehingga saya tahu persis apa yang penting untuk perusahaan. Ini yang membuat saya berpikir, apa yang matter dan push everybody aware. Tujuan perusahaan ini yang harus dikomunikasikan kepada karyawan Unilever.

Pertama, saya ingin memastikan safeness dan healthiness dari Unilever people jadi prioritas utama. Sebab kalau dilihat, distribusi vaksin memerlukan waktu agak panjang sehingga ada banyak kemungkinan yang akan terjadi. Ini bukan hanya dialami di Indonesia, namun juga global.

Prioritas kedua kami adalah secara konsisten memenuhi kebutuhan konsumen dengan suplai yang baik. Kami juga harus bisa menggerakkan pasar sehingga konsumsi perlu distimulasi. Bagaimana caranya kami membuat konsumen yang sulit, bisa membeli, ada solusinya, misalnya dengan advertising ataupun packaging yang lebih murah.

Kami pun melakukan digital transformation dengan melakukan digitalisasi untuk semuanya. Terakhir, suksesnya Indonesia adalah suksesnya Unilever. Begitu pula sebaliknya, sehingga pemerintah tidak bisa bergerak sendiri. Kami juga harus play our role, salah satunya dengan ikut mendistribusikan vaksin.

Mimpi Anda sebagai individu dan pemimpin perusahaan?

Saat ini, saya baru memulai perjalanan untuk menjalankan perusahaan. Tujuan saya sebagai leader adalah unleash potential dari people dan drive it into successful. Kebetulan saya dari keluarga dengan delapan bersaudara. Sebagai kakak, saya perlu unleash potensi dari adik-adik saya.

Kemudian sebagai pemimpin perusahaan, saya ingin membawa Unilever sebagai power of house dalam lima tahun ke depan. Tidak hanya di Asia Tenggara, tapi di tingkat global. Power of house ini sebagai sumber inspirasi dan best practice.

Saya ingin membuat Indonesia sebagai power of house karena sebenarnya kita punya banyak sekali good talent yang bisa berkembang di tingkat global. Representasi Indonesia di tingkat global juga belum besar sehingga perlu lebih banyak orang kita berpengaruh di tingkat global.

Dalam hal ini, kami memiliki tanggung jawab besar terhadap Indonesia. Kami tahu bahwa kesuksesan itu bukan sekadar growth, tapi juga define seberapa besar positive impact kepada sosial ekonomi serta lingkungan.

Filosofi dan nilai-nilai hidup yang Anda pegang?

Pendekatan saya ada tiga. Saya ingin memastikan gaya kepemimpinan saya bukan orang yang I know it all. Saya menerapkan gaya kepemimpinan yang inklusif, yang memastikan saya mendengar semua pendapat. Kolaborasi sangat penting, apalagi sekarang single mind itu tidak cukup, sehingga perlu collective mind (pemikiran dan upaya kolektif) agar menciptakan power yang luar biasa. Kemudian trust juga perlu diraih dan dibangun. Kita perlu mempercayai orang-orang kita. ***

Ira Noviarti, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. (ist)
Ira Noviarti, Presiden Direktur PT Unilever Indonesia Tbk. (ist)

 

 

Ingin Berkontribusi kepada Masyarakat

 

Menjadi pemimpin sekaligus ibu dari dua anak laki-laki tidak membuat Ira Noviarti lupa terhadap hakikatnya sebagai perempuan. Orang nomor satu di PT Unilever Indonesia Tbk ini sebisa mungkin menghabiskan waktu bersama anak-anaknya.

Ira beruntung bekerja di Unilever Indonesia sehingga ia tidak melewatkan momen merawat anaknya dari kecil. "Di Unilever, kami memiliki day care di kantor pusat dan juga fleksibilitas dalam jam kerja," kata dia.

Saat ini, anak-anak Ira mulai beranjak dewasa. Dia pun berupaya sedapat mungkin untuk tetap memberikan kasih sayang kepada anak-anaknya. Berwisata bersama ke luar negeri adalah salah satu cara Ira mempererat kebersamaan dengan anak-anaknya.

Sudah banyak negara yang dikunjungi Ira bersama suami dan anak-anaknya. Dia pun tidak segan mengabadikan dan mendokumentasikannya sehingga bisa dilihat kembali saat anak-anaknya besar kelak.

Tidak hanya ingin berkontribusi kepada keluarganya, Ira juga ingin berkontribusi kepada masyarakat. Sebagai salah satu alumni Universitas Indonesia (UI), Ira merasa berkewajiban untuk memberikan pengalaman kepada almamaternya.

"Saya senang membaca, dan dari bacaan yang saya ditambah pengalaman, saya bagikan kepada orang-orang," tutur dia.

Terakhir yang juga disenangi Ira adalah berbelanja. Bekerja di perusahaan yang sangat peduli terhadap kecantikan perempuan, Ira Noviarti akhirnya juga senang berbelanja produk perawatan diri. Produk ini tidak hanya digunakan untuk diri sendiri, namun juga sebagai referensi dalam pekerjaannya. (git)

 

Biodata

Nama: Ira Noviarti.

Pendidikan: Akuntansi, Universitas Indonesia (UI).

Karier:

* Desember 2020 - sekarang: President Director PT Unilever Indonesia Tbk.

* 2017 - 2020: Vice President Beauty & Personal Care and Board Member of Unilever Indonesia.

* 2015 - 2017: Vice President South East Asia (GM role) Unilever Food Solution.

* 2010-2014: Vice President Ice Cream, Media & Consumer Market Insight Board member of Unilever Indonesia.

* 2006-2010: Marketing Director of Skin Care Unilever Indonesia.

* 2005-2006: Marketing Director of Foods Spread & Cooking Unilever Indonesia.

* 2002-2005: Marketing Director Ice Cream Unilever Indonesia.

* 2000-2002: Senior Brand Manager of Oral Care.

* 1998-2000: Regional Senior Brand Manager of Pond’s for South East Asia and North East Asia Region.

* 1995: Management Trainee Unilever Indonesia.


Kursus & Organisasi:

- Senior Executive Leadership Program at HARVARD Business School - Boston, Februari 2019.

- Women Leading Global Change Program at INSEAD – Prancis, Juni 2019.

- International Women Forum - Leadership Foundation - Miami, Oktober 2018.

- Unilever Leadership Development Program (ULDP) 2010.

- Board member of Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE).


 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN