Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono.

Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono.

Komunikasi yang Baik Memudahkan Segala Hal

Rabu, 25 November 2020 | 11:00 WIB
Parluhutan Situmorang

Komunikasi interpersonal yang baik ternyata bisa menjadikan segalanya serba mudah. Termasuk membawa perusahaan keluar dari krisis?

 

PT Waskita Karya (Persero) Tbk merupakan BUMN karya dengan aset terbesar saat ini. Namun sayang, emiten yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan sandi saham WSKT itu masih terbebani utang yang besar. Akibat beban bunga itu, kinerja keuangan perseroan hingga kuartal III-2020 turun drastis, bahkan arus kasnya negatif.

Persoalan itulah yang sedang diurai dan diselesaikan Direktur Utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono. Bagi Destiawan, persoalan yang mengimpit Waskita merupakan tantangan baru. Ia bertekad menuntaskannya guna menjadikan Waskita Karya sebagai BUMN karya dengan aset terbesar yang paling menguntungkan.

Sejumlah strategi pun disiapkan. Setidaknya ada empat strategi yang tengah dijalankan Destiawan Soerwardjono untuk mengeluarkan perusahaan pelat merah itu dari jerat utang yang sangat besar.

Pertama, menyelesaikan permasalahan arus kas (cash flow) negatif atau dikembalikan menjadi positif. Kedua, menjalankan restrukturisasi utang-utang bertenor rendah menjadi tenor panjang. Demi memperpanjang tenor utang itu, perseroan sedang bernegosiasi dengan sejumlah bank.

Yang menjadi masalah, sebagian besar pendanaan Waskita bersifat jangka pendek. Padahal, investasi proyek, khususnya jalan tol, merupakan investasi jangka panjang, sehingga pembiayaannya pun seharusnya bersifat jangka panjang.

"Investasi tol itu kan tidak langsung untung, masih harus menunggu setidaknya 10 tahun sebelum menghasilkan,” ujar Destiawan Soerwardjono dalam wawancara khusus dengan Investor Daily di Yogyakarta, belum lama ini.

Destiawan akan berupaya merestrukturisasi 35% dari total utang Waskita senilai Rp 80 triliun. Berarti setidaknya Rp 25 triliun utang perseroan harus direstrukturisasi melalui perpanjangan tenor dari semula di bawah lima tahun menjadi 10-15 tahun.

Untuk itu, manajemen Waskita tengah bernegosiasi dengan bank-bank anggota Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) agar renegosiasi utang bisa terwujud tahun ini.  "Kami mengharapkan dukungan pemerintah untuk mempermudah negosiasi utang tersebut," tutur dia.

Waskita menargetkan restrukturisasi utang mampu memangkas beban bunga setidaknya 50% dari total beban bunga yang harus dikeluarkan perseroan tahun ini. Penurunan beban bunga diharapkan membawa perseroan kembali membukukan untung tahun depan.

“Kalau restrukturisasi utang dengan memperpanjang tenor terlaksana, saya yakin perseroan tidak akan terbebani lagi oleh kewajiban yang sangat besar, sehingga cash flow menjadi positif. Sekarang kami menghadapi kebutuhan dana yang sangat besar untuk membayar bunga dan pokok utang,” papar Destiawan.

Untuk memperkuat arus kas, Waskita gencar membidik proyek-proyek Kementerian PUPR dan BUMN, dengan target bisa menyumbang 50% terhadap total kontrak baru setiap tahun. Sisanya ditargetkan berasal dari proyek investasi.

“Proyek investasi bukan dihentikan, karena memang itu dibutuhkan untuk recurring income di kemudian hari. Hanya saja, proyek yang sifatnya langsung dari PU dan BUMN sangat dibutuhkan untuk mendanai fixed cost perseroan setiap tahun,” kata dia.

Selain restrukturisasi utang, Waskita Karya akan mendivestasi beberapa ruas tolnya. Divestasi bisa dalam bentuk penjualan seluruh kepemilikan sahamnya di sebuah konsesi ruas tol, atau melepasnya melalui reksa dana penyertaan terbatas (RDPT).

“Kami tetap melanjutkan rencana divestasi setidaknya empat ruas tol dalam waktu dekat. Hanya saja, pelaksanaannya mundur dari target semula akibat pandemi Covid-19,” tutur dia.

Strategi keempat yang dijalankan Waskita adalah meningkatkan sinergi sumber daya manusia (SDM) dan memangkas jalur-jalur birokrasi. "Jalur birokrasi yang terlalu panjang harus dipangkas, karena hal itu menyebabkan perseroan bergerak lambat dan sulit bertindak," tegas dia.

Strategi itu juga bertujuan meningkatkan inovasi dan kreasi seluruh tim di Waskita Karya. Itu sebabnya, Destiawan membuka saluran untuk menampung berbagai masalah di lapangan agar bisa diselesaikan secepat mungkin sehingga tidak menimbulkan kerugian di kemudian hari dan menimbulkan permasalah lebih besar dalam setiap pengerjaan proyek.

“Kalau itu bisa dilaksanakan, kami yakin Waskita akan menjadi perusahaan luar biasa dan terbesar di antara BUMN-BUMN karya lainnya ke depan,” tandas dia.

Belajar dari Lapangan

Sebelum diangkat menjadi direktur utama Waskita Karya, Destiawan Soerwardjono telah malang melintang di PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA), mulai dari posisi level paling bawah sebagai karyawan kontrak, hingga menjadi direktur operasi pengembangan luar negeri.

Selama berkarier di Wika, Destiawan mengenyam banyak pengalaman yang membentuk dirinya mampu membawa sebuah proyek konstruksi menjadi proyek yang menguntungkan.

Destiawan memastikan bahwa kendala utama pengerjaan proyek adalah nonteknis. Bisa dikatakan, hampir 70% masalah nonteknis mendominasi sebuah proyek. Karena itu, setiap kali ditempatkan sebagai pimpinan proyek, ia langsung mencari akar masalah nonteknis terlebih dahulu.

"Saya akan mencari apa penyebab nonteknis yang membuat proyek tersebut sulit terlaksana karena secara teknis bisanya sudah tersusun dengan baik, seperti ada konsultan proyek, gambar juga sudah ada, bentuk bangunan seperti apa, semuanya sudah jelas,” ujar dia.

Nah, untuk menyelesaikan permasalahan nonteknis itu, kuncinya ternyata ada pada komunikasi. Destiawan selalu mengedepankan komunikasi yang baik dengan pemilik proyek, konsultan, pekerja, dan masyarakat sekitar.

Dia akan mencoba menerapkan komunikasi interpersonal dalam membawa perusahaan. "Komunikasi yang baik dengan seluruh tim akan membuat segalanya menjadi mudah. Pengerjaan proyek pun jadi lebih mudah," jelas dia.

Destiawan bercerita bagaimana komunikasi interpersonal tersebut bisa menjadikan sebuah proyek yang awalnya diprediksi rugi, menjadi untung. Pengalaman itu terjadi ketika ia ditunjuk menjadi manajer proyek Wika untuk pengerjaan proyek bendungan Plara di Sumbawa, beberapa tahun lalu.

Saat itu, Destiawan Soerwardjono ditunjuk direksi Wika menjadi manajer proyek pengganti proyek bendungan Plara di Sumbawa, setelah manajer proyek sebelumnya gagal memberikan proposal bahwa proyek tersebut bisa dikerjakan secara menguntungkan.

Pengerjaan proyek bendungan itu memang agak unik, karena harus dikerjakan dalam rentang dua kali musim kering (kemarau) dan satu kali musim penghujan. Faktur cuaca sangat menentukan karena proyeknya membelah sungai. Ketika musim hujan, proyek harus dihentikan karena debit air meningkat dan membesar. Lalu proyek dilanjutkan setelah memasuki musim kemarau.

Yang dilakukan Destiawan saat itu adalah mempelajari curah hujan di daerah tersebut selama lima tahun terakhir, 10 tahun terakhir, dan 25 tahun terakhir. Dari situ, ia bisa mengambil kesimpulan bahwa musim kering saat pengerjaan proyek kemungkinan lebih panjang. "Hal ini sebelumnya tidak diketahui oleh konsultan proyek dan tim lapangan lainnya," terang dia.

Dari data tersebut, Destiawan mencoba berkomunikasi dan berdiskusi secara intens dengan tim di lapangan agar pengerjaan proyek bisa dilanjutkan hingga Januari. Berdasarkan perkiraan sebelumnya, proyek harus dihentikan pada akhir November akibat curah hujan yang tinggi.

Lewat komunikasi dan hubungan yang baik seluruh tim di lapangan, Destiawan Soerwardjono mendapatkan izin untuk tetap melanjutkan proyek hingga akhir Januari. Faktanya, hujan baru datang pada Februari. Alhasil, Destiawan bisa menuntaskan proyek lebih cepat dari target.

"Jadi, proyek tersebut bisa dikerjakan lebih cepat enam bulan dari target dan memberikan keuntungan tiga kali lebih besar dari estimasi semula. Hal ini bisa diraih karena didukung komunikasi dan hubungan baik seluruh tim di lapangan,” tandas dia.****

Baca juga: Perusahaan Nomor Satu, Keluarga Paling Utama

 

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN