Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Utama PT Delameta Bilano, Tri Bayu Wicaksono.

Direktur Utama PT Delameta Bilano, Tri Bayu Wicaksono.

Kunci Bisnis: Sabar dan Fokus

Rabu, 2 Desember 2020 | 08:00 WIB
Rio F Winto dan Harso Kurniawan

Sabar dan fokus merupakan kunci utama dalam menjalankan bisnis. Segala macam kendala, dari urusan teknis hingga nonteknis, bisa diselesaikan dengan baik, asalkan tetap sabar dan fokus.

 

Direktur Utama PT Delameta Bilano, Tri Bayu Wicaksono mengaku selalu berusaha sabar dan fokus dalam menghadapi setiap masalah.

Prinsip itu selalu dipegang teguh Bayu sejak ia mendirikan Delameta Bilano, 30 tahun silam, tepatnya pada 8 Mei 1990. Sejak itu, Delameta, perusahaan teknologi sistem transportasi berbasis riset dalam negeri, sudah memiliki visi menjadi perusahaan teknik industri nasional berkelas yang sehat secara operasional dan finansial untuk memberikan kontribusi optimal kepada para pemangku kepentingan (stakeholders).

Atas dasar itu, Delameta berkomitmen terus melakukan riset dan pengembangan (research and development/R&D) untuk produk-produk lainnya. Sebagai perusahaan teknologi sistem transportasi berbasis riset dalam negeri, Delameta ingin menjadi tulang punggung Republik ini di bidang teknologi tersebut.

"Saya ingin ada perusahaan teknologi sistem transportasi berbasis riset dalam negeri yang bisa dibanggakan Indonesia,” tegas Bayu kepada Investor Daily di Jakarta, Kamis (19/11).

Menurut Tri Bayu Wicaksono, teknologi yang ada saat ini sebagian besar masih diimpor. Meski teknologi impor tergolong mudah dan murah, posisi Indonesia akan menjadi lemah apabila tidak bisa mandiri selalu bergantung kepada produk buatan negara lain.

Perlahan-lahan Delameta sudah mampu membuat perangkat-perangkat yang awalnya diimpor. Mayoritas perangkat tersebut diproduksi Delameta di pabrik Pulogadung, Jakarta. Kapasitas produksi pabrik itu mencapai 400 unit full set system per tahun.

“Kami serius mempelajari teknologi informasi, mechanical, electronic, hardware. Keunggulan Delameta adalah membangun sistem dengan perangkat sendiri. Sedangkan kompetitor mengimpor dari luar negeri, kemudian merangkai perangkat-perangkat itu menjadi sebuah sistem,” tutur dia.

Mampu Bertahan

Dengan memegang teguh visi perusahaan, selalu bersikap sabar, dan fokus, Delameta pun terbukti mampu bertahan, bahkan di tengah kondisi pandemi Covid-19 sekalipun.

Malang melintang selama tiga dekade, Delameta sudah makan asam garam di sektor industri tersebut, mulai persoalan teknis hingga nonteknis. Bahkan, saat perekonomian menurun di tengah pandemi Covid-19, Delameta tetap bertahan.

“Selama pandemi, kami sedikit terganggu oleh adanya tagihan yang tersendat dari klien. Melalui langkah-langkah penanganan Covid oleh pemerintah, kami berharap pandemi Covid-19 segera berlalu, kegiatan ekonomi kembali berjalan, dan pembangunan jalan tol kembali berjalan lancar,” jelas Bayu.

Karena manajemen Delameta selalu sabar dan fokus, semua kendala tersebut bisa dilalui dengan baik. Buah dari kesabaran itu, Delameta mampu membuktikan bahwa bisnis teknologi sistem transportasi tergolong menjanjikan seiring masifnya pembangunan jalan tol di Tanah Air. Setiap tahun, bisnis ini rata-rata tumbuh 20%.

Delameta Bilano menawarkan sistem pembayaran jalan tol yang lengkap, mulai automatic vehicle classification (AVC), loop vehicle sensor, collecting terminal machine, infra merah, palang atau lane barrier system, electronic toll collection (ETC), CCTV, variable message sign (VMS), hingga plate recognition. Sistem pembayaran Delameta sudah dipasang di 21 ruas tol, seperti Jagorawi, Jakarta-Tangerang, dan Balikpapan- Samarinda.

Bisnis sistem pembayaran transportasi kian menggeliat sejak mandatori penggunaan uang elektronik untuk pembayaran tol. Hal ini mendorong operator mencari sistem pembayaran andal yang dapat mendukung operasional. Pada titik ini, perusahaan sistem pembayaran membantu operator menjalankan bisnis secara efisien, mencegah terjadinya fraud, dan memperlancar arus keluar masuk kendaraan.

Dalam dua tahun ke depan, nilai pengadaan sistem pembayaran transportasi jalan tol diprediksi mencapai Rp 4 triliun. Di luar itu, ada potensi bisnis dari penggantian (replacement) perangkat senilai Rp 2 triliun.

"Potensi bisnis sistem pembayaran transportasi sangat besar. Apalagi ada bisnis replacement. Sebab, perangkat harus diganti setelah masa pakai lima tahun," kata Bayu.

Sistem pembayaran transportasi akan naik lebih kencang apabila sistem fee base income diterapkan. Sebab, dalam skema ini, operator tidak perlu berinvestasi lagi pada sistem pembayaran, melainkan dipasok oleh perusahaan seperti Delameta. "Operator tinggal membagi hasil operasional tol dengan perusahaan sistem pembayaran," ucap dia.

Per akhir 2019, panjang jalan tol di Indonesia mencapai 2.093 km, naik tajam dari 2014 sepanjang 795 km. Dalam jangka panjang, pemerintah menargetkan panjang jalan tol mencapai 18 ribu km. "Selama 2020-2024 akan dibangun tol baru sepanjang 2.500 km," kata Bayu.

Tri Bayu Wicaksono menuturkan, pembangunan jalan tol terus bergulir di tengah pandemi Covid-19. Sebab, total panjang tol Indonesia masih kalah dari negara-negara Asia lainnya. Contohnya panjang tol di Tiongkok sudah mencapai 15 ribu km.

Berdasarkan hitungan Delameta, jalan tol yang sudah masuk tahap persiapan dan sudah digambar mencapai 5.000 km, sedangkan yang sudah dibangun 2.000 km. Sisanya masih dalam tahap perencanaan.

Bisnis sistem pembayaran transportasi juga telah merambah pelabuhan. Delameta kini menyediakan sistem pembayaran akses (gate pass) di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Sistem ini terdiri atas reader, AVC sensor, automatic lane barrier (ALB), customer display panel (CDB) yang menampilkan tarif, golongan, dan sisa saldo, lalu CCTV lajur.

Dengan sistem Delameta, pendapatan gate pass naik 3-4 kali lipat, karena pembayaran menggunakan sistem nontunai seperti di jalan tol. "Setiap hari, rata-rata kendaraan yang masuk Priok 13 ribu unit," ujar dia.

Delameta telah menandatangani kontrak pengadaan sistem pembayaran di tiga pelabuhan lainnya, yakni Panjang, Banten, dan Sunda Kelapa. Jumlah ini akan terus bertambah seiring rencana PT Pelindo II (Persero) menerapkan sistem pembayaran terpusat di 12 pelabuhan yang dikelolanya. Delameta akan menjadi integrator sistem pembayaran di 12 pelabuhan itu.

Delameta juga membidik pasar ekspor potensial ke kawasan regional, seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, dan Timor Leste. "Produk yang bakal diekspor antara lain palang otomatis dengan merek dagang Palmat," kata dia.

Misi Delameta

Bayu pun berharap Delameta juga dapat menjalankan sejumlah misinya dengan baik dan lancar. Pertama, melaksanakan dan mendukung kebijakan pemerintah di bidang program pembangunan ekonomi secara umum, khususnya di bidang infrastruktur.

Kedua, berpartisipasi dalam penghematan devisa negara dengan membangun dan memproduksi peralatan yang relatif berteknologi maju. Tujuannya untuk mengurangi impor peralatan dan memajukan peralatan elektronik di masa depan.

Ketiga, menjadi perusahaan yang kuat dan mampu memberikan kontribusi yang optimal kepada stakeholders, terutama pemerintah, masyarakat, karyawan, dan pemegang saham. Keempat, membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

"Misi kami kelima yaitu mendukung program otonomi daerah untuk meningkatkan pendapatan daerah dan berusaha mendapatkan margin keuntungan yang optimal," tutur dia.***

 

Jalan Tol yang Sudah

Menggunakan Teknologi Delameta

 

1. Jakarta – Bogor – Ciawi

2. Jakarta – Tangerang

3. Bogor outer Ring Road

4. Cinere – Jagorawi

5. Bali Mandara Tol

6. Palimanan – Kanci

7. Semarang – Salatiga

8. Semarang ABC

9. Gempol – Pandaan

10. Gempol – Pasuruan

11. Surabaya – Mojokerto

12. Surabaya - Gempol

13. Solo – Ngawi

14. Palembang – Indralaya

15. Medan – Kualanamu –

Tebing Tinggi

16. Pandaan – Malang

17. Salatiga – Solo

18. Balikpapan – Samarinda

19. Pekanbaru – Dumai

20. Depok – Antasari

21. Serang - Panimbang


Lihat juga: Golf, Sop Kaki Kambing, dan Tanaman

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN