Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Rizal Edy Halim, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). (ist)

Rizal Edy Halim, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). (ist)

Lepas Stigma Asal Atasan Senang

Selasa, 6 April 2021 | 07:30 WIB
Nasori

‘Asal atasan senang’ atau ‘asal bapak senang’, sering disingkat ABS, adalah ungkapan yang sudah jamak muncul di lingkungan kerja, baik swasta maupun pemerintah.

Ungkapan dengan tone negatif ini mengacu pada sikap anak buah yang suka menyampaikan laporan semata untuk menyenangkan atau tidak membuat marah atasan, padahal laporan itu berbanding terbalik dengan kondisi sesungguhnya.

Demi keperluan itu, hanya fakta-fakta positif yang disodorkan, yang negatif disembunyikan dalam laci. Bahkan, kadang kala laporan bohong disampaikan. Sekali lagi, semua itu semata agar bos senang. Padahal, laporan itulah yang akan dijadikan landasan oleh sang atasan untuk mengambil keputusan. Alhasil, sulit berharap keputusan yang baik lahir dari laporan model demikian.

Berangkat dari bahaya mental ABS ini, melepaskan lembaga yang dipimpin dari stigma ‘asal atasan senang’ adalah bagian dari strategi yang diterapkan oleh Rizal Edy Halim, ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), dalam menakhodai badan yang dibentuk atas amanat Undang-Undang (UU) Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen itu.

“Lembaga pemerintahan, termasuk BPKN RI, harus bisa melepaskan stigma rutinisasi, asal atasan senang, dan berbagai aktivitas keseharian yang tidak memiliki dampak terhadap perbaikan kualitas masyarakat,” ujar Rizal dalam wawancara dengan wartawan Investor Daily, Nasori di Jakarta, baru-baru ini.

Untuk melepaskan BPKN dari stigma-stigma tersebut, Rizal berupaya melakukan pendekatan pencapaian bagi setiap individu dalam lingkungan BPKN dengan tetap menjaga kedisiplinan, perilaku baik, dan tertib administrasi.

“Jika ada persoalan yang terjadi di kantor, tentunya yang paling penting adalah membuka ruang-ruang komunikasi secara internal,” ucap dia.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang strategi kepemimpinannya serta perjalanan karier pria kelahiran Parepare 46 tahun silam yang pernah tercatat sebagai anggota BPKN termuda itu, berikut petikan lengkapnya:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga menempati posisi saat ini?

Saya memulai kegiatan yang berinteraksi dengan publik di kampus Universitas Indonesia (UI). Sejak menyelesaikan S2 pada 2002, saya banyak berkecimpung di dunia penelitian ilmiah ketika diajak salah satu dosen di Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI untuk masuk tim penelitian. Sejak itu saya mulai berinteraksi dengan banyak pemangku kepentingan, khususnya pada tahap pengumpulan data lapangan.

Pada 2004, saya kemudian di-assign mengajar dan memulai karier sebagai dosen (muda/asisten) di Departemen Manajemen FEB-UI. Tahun 2006, saya melanjutkan pendidikan S3 di UI dengan bantuan beasiswa dari FEB-UI dan selesai pada 2009. Pada 2006-2009, saya banyak menulis di jurnal-jurnal ilmiah sebagai outlet luaran dari berbagai kegiatan akademik di kampus.

Saya juga aktif mengisi kolom-kolom opini di beberapa surat kabar nasional, majalah, dan tabloid. Pada 2007, saya mendapatkan penghargaan sebagai peneliti muda berbakat dari FEB-UI yang saat itu dipimpin Dekan Prof Bambang PS Brodjonegoro PhD.

Selanjutnya?

Pada 2008 saya bersama Asnan Furinto menerbitkan buku semi ilmiah dengan judul Marketing Reloaded yang merupakan bunga rampai tulisan-tulisan populer kami di berbagai media nasional dan diterbitkan Salemba Empat. Pada Mei 2009, akhirnya saya bisa menyelesaikan studi S3 di mana sidang promosi doktoral saya dipimpin dekan FEB-UI yang baru terpilih, almarhum Prof Firmanzah PhD.

Setelah merampungkan kuliah S3, pada akhir 2009 saya ditugaskan oleh almarhum Prof Firmanzah sebagai manajer riset dan pengabdian masyarakat (RPM) FEB-UI melalui proses seleksi terbuka. Sepanjang menjadi manajer RPM 2009-2012, kegiatan saya semakin banyak di bidang penelitian lintas disiplin karena berinteraksi dengan banyak peneliti, baik di bidang ekonomi, akuntansi, manajemen, mapun di luar FEB di lingkungan UI.

Pada 2010 saya mendapat penghargaan dari UI sebagai peneliti muda terbaik peringkat dua di bidang sosial humaniora. Pada 2011, saya mendapatkan penghargaan dari UI sebagai peneliti terbaik peringkat empat di bidang sosial humaniora. Sepanjang tahun 2011-2012, saya diminta almarhum Prof Firmanzah untuk membantu pembentukan program studi ekonomi pertahanan di Universitas Pertahanan yang pada saat itu baru terbentuk.

Kapan Anda mulai masuk ke pemerintahan?

Pada 2012, yaitu saat saya diminta almarhum Prof Firmanzah membantu beliau yang diberi tugas oleh Presiden RI sebagai staf khusus presiden bidang ekonomi 2012-2014. Pada 2014-2015, saya bergabung dengan tim Pokja Pasar (kelompok lintas pemangku kepentingan untuk harmonisasi pasar tradisional – modern) di Kementerian Perdagangan. Pada periode yang sama, saya bergabung dalam Pokja Ekonomi Kelautan di Dewan Kelautan Indonesia.

Pada 2016, saya mengikuti program pendidikan reguler Lemhanas RI angkatan LV. Pada tahun yang sama, saya menerbitkan buku setelah empat tahun digarap, dengan judul Marketing & Public Policy yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama.

Awal mula Anda bergabung di BPKN?

Ini dimulai pada awal 2016, saat saya mengikuti seleksi terbuka anggota BPKN RI periode 2017-2020 dan akhirnya terpilih sebagai salah satu anggota pada periode tersebut dan menjadi anggota termuda saat itu. Setelah masa keanggotaan BPKN RI 2017-2020 berakhir, terbuka kesempatan untuk mengikuti seleksi anggota BPKN RI periode 2020-2023.

Keanggotaan BPKN RI kan maksimal dua periode. Saya mendaftarkan diri dan mengikuti seleksi ini dan akhirnya terpilih sebagai salah satu anggota BPKN RI periode 2020-2023. Pada tahun yang sama (2020), saya mendapatkan Penganugerahaan Tanda Kehormatan Makara Dharma Bakti dari UI.

Apa yang mendorong Anda terjun ke bidang marketing, kebijakan publik, dan perlindungan konsumen?

Saya mulai tertarik dengan isu kebijakan publik ketika menempuh pendidikan S3 bidang ilmu pemasaran. Pada proses pendidikan, saya melihat bahwa disiplin ilmu pemasaran tidak hanya ditempatkan sebagai ilmu teknis dan sekadar bagaimana proses penjualan, iklan, promosi, dan lain-lain.

Tetapi, itu juga merupakan disiplin ilmu yang bisa menjelaskan dan memperbaiki peradaban manusia. Atau dengan kata lain disiplin ilmu pemasaran perlu perluasan makna menjadi disiplin ilmu yang setara dengan disiplin ilmu science, biologi, kimia, dan lain sebagainya.

Selama proses kuliah S3, saya banyak mendapatkan hal-hal menarik dari para dosen yang luar biasa dengan spektrum yang sangat luas. Hal ini membuat sepanjang proses pendidikan seolah-olah saya berada di hutan yang sangat luas, yakni hutan ‘disiplin pemasaran’.

Dari sini, saya mulai melakukan penelusuran karya-karya besar dari para pemikir disiplin ilmu pemasaran di dunia. Hasilnya, secara fundamental dan dari perspektif filosofis-sosiologis, disiplin ilmu pemasaran ternyata merupakan disiplin yang menjadi penggerak peradaban manusia hingga saat ini, termasuk dalam menggeluti kebijakan publik. Dalam disiplin ilmu pemasaran, hal itu disebut sebagai marketing system.

Ini menjadi momentum saya untuk kemudian banyak memfokuskan disiplin pemasaran kepada isu-isu publik. Dalam disiplin pemasaran biasa dikenal dengan macro-marketing, social marketing, marketing system, termasuk di dalamnya adalah topik perlindungan konsumen.

Kondisi perlindungan konsumen di Tanah Air saat ini menurut Anda?

Perkembangan perlindungan konsumen saat ini tentunya relatif lebih baik dibandingkan satu dekade sebelumnya. Namun demikian, perlindungan konsumen belum disikapi dengan proses penegakan hukum yang memadai sehingga keadilan yang terdistribusi (distributive justice) relatif jauh dari cita-cita perlindungan konsumen.

Faktor yang menjadi masalah utama dalam upaya perlindungan konsumen adalah karut-marut regulasi perlindungan konsumen yang tersebar di berbagai sektor. Ini yang saya sebut sebagai silo-regulation.

Kedua, inkonsistensi dalam proses penegakan hukum atau ada banyak persoalan perlindungan konsumen yang penegakan hukumnya tidak memberikan rasa keadilan sesuai yang diamanatkan UU Perlindungan Konsumen.

Ketiga, butuh terobosan (breakthrough) untuk mengintegrasikan seluruh upaya perlindungan konsumen, dari sisi hulu (regulasi dan sistem) hingga sisi hilir (perilaku industri, pengawasan, dan penegakan hukum). Yang terakhir adalah diperlukan edukasi dan sosialisasi secara masif kepada masyarakat terkait hak-hak konsumen yang dilindungi undang-undang.

Definisi kesuksesan menurut Anda?

Sukses menurut saya merupakan kata klise yang fragmatis. Saya lebih cenderung menggunakan terminologi achievement atau capaian atau prestasi. Ukuran capaian masing-masing individu tentunya berbeda-beda, tergantung bagaimana mereka memandang dirinya (self-theory) dan hubungannya dengan lingkungan terkecil hingga yang lebih luas.

Bagi saya, capaian adalah sasaran antara yang disusun untuk mencapai satu ultimate goal. Jadi, capaian-capaian atau prestasi-prestasi merupakan anak tangga menuju satu tujuan akhir. Tujuan akhir ini biasa dikaitkan dengan filosofi hidup masing-masing individu.

Bagi saya, tujuan akhir dari serangkaian puzzle kehidupan daya adalah bagaimana keberadaan kita bisa dirasakan atau berkontribusi positif bagi lingkungan terkecil kita di mana pun berada. Jadi, kita bisa disebut berprestasi bila berkontribusi positif bagi lingkungan, meski dalam lingkup yang kecil.

Kiat Anda mencapai kesuksesan?

Tidak ada yang lebih penting bagi saya kecuali tiga hal mendasar, yaitu kepercayaan, komitmen, dan konsisten. Ini selalu menjadi strategic alert control bagi saya dalam melakukan aktivitas keseharian saya, termasuk di BPKN RI.

Kenapa Anda memilih profesi dosen dan di pemerintahan?

Tidak ada alasan spesifik. Ini semata-mata hanya karena panggilan tugas. Apalagi kami didoktrin dengan Tri Dharma Perguruan Tinggi, yaitu pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, serta pengabdian kepada masyarakat. Beraktivitas di lembaga pemerintahan, termasuk di BPKN RI, merupakan salah satu upaya menjalankan doktrin Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian kepada masyarakat.

Strategi kepemimpinan Anda di BPKN?

Bagi saya, lembaga pemerintahan, termasuk BPKN RI, harus bisa melepaskan stigma rutinisasi, asal atasan senang, dan berbagai aktivitas keseharian yang tidak memiliki dampak terhadap perbaikan kualitas masyarakat.

Lembaga pemerintah dibentuk untuk menjembatani, mempermudah, dan sebagai agen katalisator guna mengharmoniskan hubungan antarentitas yang ada dalam suatu society dengan tujuan akhir adalah kesejahteraan masyarakat.

Mengingat berbagai entitas di masyarakat memiliki tujuan yang berbeda-beda, maka dibutuhkan suatu pemerintahan untuk mengatur dan mengelola berbagai kepentingan entitas dalam suatu lingkungan masyarakat.

Untuk melepaskan stigma tersebut, saya berupaya melakukan pendekatan pencapaian bagi setiap individu dalam lingkungan BPKN dengan tetap menjaga kedisiplinan, perilaku baik, dan tertib administrasi.

Jika ada persoalan yang terjadi di kantor, tentunya yang paling penting adalah membuka ruang-ruang komunikasi secara internal. Syaratnya adalah bagaimana melepaskan kepentingan individu dan mendudukkan persoalan sebagai kepentingan bersama.

Interaksi di BPKN dibuat dengan gaya lugas, santai namun bertanggung jawab, dengan penekanan peningkatan produktivitas, baik individu maupun unit masing-masing. Ini diperlukan untuk mencapai target BPKN, baik dari perspektif kelembagaan maupun dampaknya bagi masyarakat.

Strategi Anda untuk mencapai target-target BPKN?

Target kelembagaan BPKN dari aspek internal adalah penguatan lembaga termasuk status personel di BPKN, penataan tata kelola dan organisasi, menetapkan target-target yang terukur, serta menciptakan spirit profesional dan modern.

Dari sisi eksternal, target BPKN adalah bagaimana menciptakan atmosfer usaha dan investasi yang kondusif, bertanggung jawab dan harmonis dengan upaya perlindungan konsumen sesuai amanat Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999.

Apa nilai-nilai atau filosofi hidup yang menjadi pegangan Anda?

Filosofi hidup saya sederhana, yaitu berbuatlah secara maksimal sehingga lingkungan kita, terkecil hingga lebih luas, bisa merasakan dampak positif keberadaaan kita. Satu kata kuncinya adalah menjaga kepercayaan (trust).

Obsesi Anda yang sudah dan belum tercapai?

Obsesi saya adalah bagaimana BPKN RI menjadi lembaga yang kredibel (credible), dipercaya (trusted), dan menjadi lembaga kebanggaan masyarakat (organization of endearment).***

 

Rizal Edy Halim, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). (ist)
Rizal Edy Halim, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN). (ist)

Keluarga Menjadi ‘Vitamin’ Natural

Keseimbangan hidup adalah kondisi ketika seseorang mampu membagi waktu dan tenaga untuk kehidupan pribadi dan pekerjaan. Para ahli menyebutkan, kemampuan seseorang dalam mencapai keseimbangan inilah yang akan menentukan seberapa baik kualitas kehidupan yang akan dimiliki.

Bagi banyak orang, kehidupan pribadi dan kepentingan karier menjadi dua hal yang sering bertabrakan dan tidak mudah untuk dikompromikan atau diseimbangkan.

Namun, Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN), Rizal E Halim mampu menempatkan hal itu sebagai dua sisi yang saling mendukung.

Pria yang beberapa kali menyabet penghargaan sebagai peneliti terbaik itu mengungkapkan, dari lingkungan kecil keluarga itu justru ia memulai hal-hal besar dalam karier.

“Lingkungan terkecil yakni keluarga menjadi ‘vitamin’ natural dan laten bagi setiap individu dalam menjalan kehidupan sehari-hari. Keluarga menjadi lingkungan terkecil kita untuk memulai hal-hal besar,” kata dia.

Untuk terus memelihara kebersamaan keluarga, Rizal banyak menggunakan waktu senggang dengan ngobrol santai bersama semua anggota keluarga. “Kadang juga kami sertai dengan traveling ke suatu tempat dalam durasi yang tidak terlalu lama, misalnya 2-3 hari,” ucap dia.

Upaya lain yang terus ia lakukan dalam menyeimbangkan pekerjaan, keluarga, dan masyarakat adalah tetap berpikir positif dan optimistis, diikuti rasa syukur dan ikhlas. Tak ketinggalan, semua itu ia sempurnakan dengan tetap menjalani sejumlah hobi. “Saya hobi musik dan berolahraga,” tutur dia. (ns)

 

Biodata

Nama : Rizal Edy Halim.
Tempat/tanggal lahir: Parepare, 24 September 1975.

* Pendidikan :
- S-1 Universitas Hasanuddin.
- S-2 dan S-3 Universitas Indonesia (UI).
- Program Pendidikan Reguler Lemhanas RI angkatan LV (2016).

* Profesi : Dosen bidang pemasaran dan kebijakan publik di Departemen Manajemen FEB-UI (sejak 2004) dan penulis yang produktif.

* Karier :
- Asisten Staf Khusus Presiden RI untuk Urusan Ekonomi dan Pembangunan (2012-2014).
- Anggota BPKN RI (2017-2020).
- Ketua BPKN RI (2020-2023).

* Penghargaan :
- Penghargaan peneliti muda terbaik ke-2 (2010) dan penghargaan peneliti terbaik ke-4 (2011) dalam ilmu sosial dari UI.
- Tanda Kehormatan Makara Dharma Bhakti dari UI (2020).

* Buku : Marketing & Public Policy, penerbit PT Gramedia, 2016.



 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN