Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Yoga Mahesa Prima Kurniarto (foto Investor Daily/Emral)

Yoga Mahesa Prima Kurniarto (foto Investor Daily/Emral)

Yoga Mahesa Prima Kurniarto, CEO PT Lumbung Dana Indonesia

Mencoba Hal Baru adalah Keharusan

Selasa, 13 Juli 2021 | 11:30 WIB
Happy Amanda Amalia (happy_amanda@investor.co.id)

Diangkat menjadi chief executive officer (CEO) PT Lumbung Dana Indonesia (LDI) pada akhir 2019 di usianya yang masih muda, 27 tahun, membuat Yoga Mahesa Prima Kurniarto khawatir dan bertanya-tanya. Apa yang membuat dirinya dipercaya menduduki di posisi tersebut?

Yoga juga sempat galau, apakah dirinya mampu menjalankan mandat yang diberikan founder LDI, Rico Rustambi dan co-founder-nya, Deddy Happy Hardi. Apalagi ia sempat diledek karena dianggap masih 'kecil' dan minim pengalaman dibandingkan para founder LDI yang sudah lama malang melintang di dunia bisnis.

Tetapi karena masih muda dan menyenangi hal baru, Yoga menjadikan ledekan itu sebagai cambuk untuk melakoni tantangan sebagai pemimpin perusahaan di bidang fintech peer-to-peer (P2P) lending.

“Dari situ saya merasa tertantang, bisa nggak nih? Perusahaannya nggak besar, tapi tanggung jawabnya lumayan, ditambah lagi regulator kita, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang cukup keras,” ujar eksekutif kelahiran Jakarta, 13 Mei 1992, itu.

Pria satu anak ini tidak langsung diangkat menjadi CEO ketika LDI berdiri pada 2017, melainkan ikut serta dalam proses pengurusannya, mulai dari status perusahaan masih terdaftar pada 2018, hingga meraih status P2P lending berizin pada akhir 2019.

Lantas, apa strategi Yoga mewujudkan visi LDI dalam memajukan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)? Bagaimana prospek industri fintech lending di Tanah Air? Berikut penuturan lengkapnya kepada wartawati Investor Daily, Happy Amanda Amalia di Jakarta, baru-baru ini.

Bisa diceritakan awal mula LDI berdiri?

Lumbung Dana Indonesia (LDI) bermula dari gagasan Pak Rico Rustombi (wakil ketua umum Kadin Indonesia Bidang Logistik dan Rantai Pasok), yang ingin masuk ke industri data. Tetapi saat itu dia masih bingung industri apa yang akan dimasuki.

Dia kemudian pergi ke Amerika untuk bertemu investor, salah satunya manajemen Facebook yang akan launching Libra. Jadi, pada 2016, kami sudah mulai ngomongin Libra yang ternyata merupakan cryptocurrency. Dia diberitahu bahwa top ten-nya di bursa Amerika adalah perusahaan data, teknologi.

Pulang ke Indonesia, Pak Rico ngobrol dengan teman-temannya di Singapura dan lokal, sampai akhirnya ketemu temannya yang bekerja di divisi teknologi informasi (TI) PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI). Dia akhirnya bilang mau bikin perusahaan fintech, tapi belum tahu bentuknya seperti apa.

Saya sendiri baru ketemu Pak Rico pada 2017-an. Kami bertiga kemudian membahas soal fintech ini, arahnya akan ke mana. Akhirnya Pak Rico bilang, “Ya udah lending aja deh.”

Kenapa pilih P2P lending?

Dulu kami punya rencana bikin payment gateway atau e-transfer, tapi regulasinya berat, karena urusannya dengan Bank Indonesia (BI) dan permodalannya lumayan.

Akhirnya kami ambil P2P lending. Tapi masuk sini pun kami belum tahu arahnya ke mana, mau ke konsumtif atau produktif. Tapi semangat Pak Rico, semangat Pak Deddy, dan saya ada kesamaan. Kami sama-sama mau memajukan UMKM di Indonesia.

Kami mau grab UMKM-UMKM ini, karena sebenarnya di Indonesia barang apa pun bisa dibuat, cuma permasalahannya di modal. Akhirnya kami putuskan untuk membantu UMKM, dengan cara main di sektor produktif.

Turunan produknya apa saja?

Setelah memilih di sisi produktif, kami baru bahas bikin turunan produknya seperti apa. Kami putuskan untuk mengikuti apa yang dipakai bank, tetapi dengan ukuran lebih kecil.

Yang pertama dan paling sering adalah invoice financing (pinjaman invoice), kemudian produk yang kedua supply chain financing karena background Pak Rico di Kadin kan supply chain.

Jadi, tahun depan kami sudah mulai menjajaki bagaimana cara mengikat rantai pasok di Indonesia, khususnya mengawali di fast moving consumer good (FMCG), seperti bahan kebutuhan pokok (sembako), lalu selanjutnya mengarah ke segmen-segmen yang lain.

Produk ketiga adalah working capital lending, atau kami menyebutnya pinjaman UMKM. Pinjaman ini biasanya untuk modal kerja. Terakhir, produk ini sebenarnya tidak kami harapkan, tetapi kebutuhannya lumayan, yakni pinjaman karyawan.

Pinjaman karyawan seperti apa yang dimaksud?

Jadi, LDI hanya memberikan pinjaman kepada perusahaan-perusahaan atau komunitas-komunitas yang sudah bekerja sama dengan kami. Misalnya di logistik angkutan kapal laut, kami ambil komunitasnya, seperti batu bara.

Kami putuskan untuk ambil di seluruh ekosistemnya, mulai dari memenuhi kebutuhan kapal angkutnya (BBM solar, oli, dan kru), kru kapal (makanan, sabun, sampo, dan lainnya), sampai toko dan warung yang menyediakan keperluan kru kapal.

Belum lama ini kami kerja sama dengan Cashlezz untuk meningkatkan pelayanan di bidang keuangan guna membantu menggerakkan ekonomi UMKM di Indonesia, sekaligus membantu pemerintah mempercepat pemulihan ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Sebelumnya kami juga join dengan ekosistem gas di Jawa Barat, untuk pembiayaan pembangunan jaringan gas pelanggan UMKM dan ritel di wilayah Jawa Barat.

Tantangan yang dihadapi LDI?

Tantangan terbesarnya ada di masalah sosialisasi masyarakat. Masalah sosialisasi ada dua, yaitu pinjol (pinjaman online) ilegal dan tentang pemikiran masyarakat bahwa semua fintech sama.

Hal kedua adalah soal pinjaman ilegal. Saya sebagai wakil ketua bidang edukasi, literasi, dan riset di Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) bersama teman-teman dari divisi humas rutin menyosialisasikan masalah ini.

Sekarang kami mulai melibatkan para influencer. Kami sedang mendekati influencer, seperti Raffi Ahmad dan Atta Halilintar untuk menyampaikan informasi tentang bahaya pinjaman ilegal. Kami nggak bisa menyebutnya sebagai pinjaman online karena itu sebenarnya sudah tindak penipuan.

Sejak P2P lahir 2015 sampai sekarang, masalahnya tidak selesai. Bukan karena OJK dan Kemenkominfo nggak tegas. Setiap hari mereka sudah menutup 100-150 website. Karena berupa alamat website, tinggal ganti huruf saja sudah bisa jadi alamat baru. Itu susahnya.

Visi misi LDI?

Visi kami nggak pernah berubah dari awal, yaitu mau memajukan UMKM. Kami mau mengubah pemikiran orang dan nasib orang. Misi kami, pertama, harus punya tata kelola yang baik, andal. Kedua, kami harus memberikan pelayanan terbaik. Ketiga, setelah membantu UMKM, target kami nantinya mereka harus dapat dilayani perbankan berdasarkan track record yang kami miliki. Selain kasih pinjaman, LDI memberikan edukasi setiap memperoleh return.

Kami telah melakukan riset mendalam mengenai pasar keuangan di Indonesia bahwa masih ada kendala bagi sektor UMKM untuk mengakses permodalan. Itu menghambat mereka untuk berkembang. Saat ini ada sekitar 57 juta UMKM di Indonesia. Pengalaman membuktikan UMKM adalah sektor yang memiliki ketahanan tinggi terhadap krisis.

Dukungan pemerintah terhadap industri fintech?

So far amat sangat membaik. Dulu di awal mungkin masih struggling, pemerintah masih cari bentuk. LDI juga cari bentuk mau ke arah mana. Sekarang sudah lumayan bagus, kami bisa sharing ide, pengalaman. Mereka belajar dari kami untuk menghadapi tantangan. Kami juga butuh masukan dari mereka supaya jangan sampai bikin regulasi yang mematikan ekosistemnya. Dari sisi pemerintahnya sendiri, baik OJK, Kemenkominfo, Kementerian Keuangan (Kemenkeu), kolaborasinya sudah cukup bagus sampai sekarang.

Yang harus diperhatikan adalah masalah data. Sekarang kan banyak berita muncul soal kebocoran data dari pemerintah maupun swasta. Sistem keamanan dari setiap penyelenggara harus diperketat, dan kembali lagi soal edukasi ke masyarakatnya.

Bagaimana rasanya jadi CEO di usia muda?

Awalnya saya worry. Pak Rico memandang saya dari sisi apa. Dia sebelumnya juga nggak ngomong mau menjadikan saya direktur TI, dia cuma minta saya bantu-bantu. Setelah ngobrol-ngobrol pada 2016 dan saya kembali bawa ide soal lending pada 2017, pada akhir 2017 saya resign dari BNI. Tugas saya waktu itu memegang database untuk seluruh BNI.

Waktu jadi direktur TI, Pak Rico kan lihat KTP saya. Dia kaget lihat tahun lahir saya 1992, dan diledekin, Ih anak kecil, umurnya setengah dari gue”. Tapi akhirnya malah bikin saya punya bonding dengan Pak Rico.

Dari diledekin itu, saya merasa tertantang, bisa nggak nih? Perusahaannya juga nggak besar, tapi tanggung jawabnya lumayan, ditambah regulator kita, OJK yang cukup keras.

Background kuliah memang di TI, tapi saya mengambil sistem informasi, jadi gabung dengan bisnis. Saya sendiri senang dengan bisnis-bisnis baru. Pertama, gabung dengan LDI, saya sebagai direktur TI, baru 2019 akhir diangkat jadi CEO.

Saya sempat berpikir, ini terpaksa atau nggak ya? Tapi Pak Rico bilang happy, yang lain juga happy, dan jadinya saya sekarang di posisi ini. Saya bilang, alhamdulillah dikasih kepercayaan Pak Rico.

Hubungan Anda dengan karyawan?

Di LDI, kami sudah seperti keluarga. Suka nongkrong bareng, ngopi bareng, makan semeja, malah main game, seperti Mobile Legend, PUBG, atau main bowling, futsal, jalan-jalan. Jadi, ya sudah seperti teman saja. Tapi ketika ada proyek, kita kerjain bareng dan ada target yang harus dicapai, karena saya juga nggak bisa kerja sendiri dan pasti harus kolaborasi.

Saya sebenarnya tipe yang jarang melihat orang dari pengalaman atau jabatannya saat ini. Saya masih tetap Indonesia banget, masih melihat dari jarak umur. Di tim saya ada yang usianya jauh di atas saya, seperti usia ayah saya atau Pak Rico, saya tetap menghormati dengan memanggilnya bapak. Kalau menegur pun tetap ada attitude-nya. Beda dengan tim yang seumuran saya, kadang main 'jewer' saja.

Saya selalu bilang, di LDI ini kita berdiri bersama dan berjuang bareng-bareng. Kami adalah teman, sahabat, juga keluarga, jadi kalau ada apa-apa bisa sharing, saling bantu.

Biasanya anak-anak kalau udah sore masuk ke ruangan saya untuk ngobrol-ngobrol. Mereka nggak segan, bisa cerita apa saja, sampai main game bareng segala. Sampai pernah ikutan lomba Mobile Legend piala gubernur juga, ha, ha, ha..

Sebelum ada Covid, sejak 2018, kami malah sudah menerapkan WFH (work from home). Yang penting pekerjaannya selesai, target tercapai, mau kerja dari rumah atau di mana saja.

Sosok yang menginspirasi?

Saya ini family guy, tapi kalau sedang bekerja agak workaholic juga. Pastinya yang saya lihat pertama kali adalah sosok ayah saya dan Pak Rico.

Sosok ayah saya, namanya orang tua kan selalu bilang harus belajar, nggak boleh main. Keluar rumah sedikit diomelin. Waktu SMA, saya berniat menyaingi apa yang sudah ayah saya dapat di umur yang sama dengan saya. Misalnya, saya mau mengalahkan nilai ayah waktu masih SMA.

Sampai ke hal-hal simple lain, misalnya pertama kali beli motor kapan? Ayah saya bilang umur 30 tahun, ternyata saya bisa beli motor sendiri di usia 20 tahun. Dia juga sosok yang agamis, jadi saya ikut sisi itu juga.

Kalau dari sisi perjuangan, saya baru ketemu sosok ayah kedua, yaitu Pak Rico. Bagi saya, jalan cerita dia dari kecil, muda, sampai di posisi sekarang itu roller coaster banget.

Dari zamannya kuliah, gelantungan naik bus, minjem duit ke teman untuk nonton di bioskop dengan pacar yang sekarang jadi istrinya. Menikah hanya di masjid. Di usia yang sama dengan saya sekarang, Pak Rico sudah berjualan proyek yang nilainya triliunan rupiah ke luar negeri.

Anda pernah berada di titik terendah?

Dulu saya dirawat kakek-nenek, makanya saya berani 'menantang' ayah saya. Ayah dan ibu saya dulu termasuk orang yang sibuk di kantor. Tetapi karena sekarang sudah pensiun, kami lebih meningkatkan bonding.

Titik terburuk adalah ketika kakek-nenek saya meninggal dalam waktu yang tidak berjauhan. Sebelum meninggal, mereka pernah minta saya bekerja di BNI karena kakek saya pernah kerja di BNI. Jadi, ya biasalah, at least generasinya dia, cucunya yang dirawat sama dia bisa kerja di BNI juga. Tapi dia belum sempat liat saya kerja di BNI karena keburu passed away.

Drop banget waktu di BNI, karena tiap hari diomelin. Tapi saya tahu marahnya bos saya juga ada baiknya. Sampai sekarang, kalau diomelin Pak Rico, ya biasa saja, nggak dimasukin ke hati. Waktu itu, rasanya hancur banget. Saya punya bengkel terpaksa ditinggal untuk fokus ke BNI.

Cara bangkit dari kegagalan?

Biasanya, pertama setiap malam saya selalu merenung, apa saja yang sudah saya lakukan di hari itu. Bukan kesuksesan yang saya renungkan, tetapi apa missing point-nya yang salah saya lakukan atau kurang.

Kedua, ketika sedang gagal atau drop banget, saya selalu lihat orang terdekat di lingkungan yang saya rasa sudah sampai di taraf yang akan menjadi target saya, kok dia bisa, saya nggak?

Ketiga, ya balik lagi ke yang Di Atas. Begitu gagal, saya salat, saya tanya petunjuknya yang bagus apa, insya Allah ada jalan. Terakhir, ya sudah pasrah saja, jalani aja, selama kita easy going, nggak terlalu dimasukin hati, insya Allah ada jalan.

Apa filosofi hidup Anda?

Pertama, mencoba hal baru itu is a must, sebuah keharusan. Kedua, kalau kita bisa jalani sekarang, ngapain harus lari besok? Saya bukan tipe H-1 atau SKS (sistem kebut semalam). Target saya bulan depan, kalau bisa kelar besok kenapa nggak. Ketiga, target-target yang saya terapkan harus rasional.***

Yoga Mahesa Prima Kurniarto (foto Investor Daily/Emral)
Yoga Mahesa Prima Kurniarto (foto Investor Daily/Emral)

Kolektor Ular Ball Python

Pandemi Covid-19 yang sedang melanda global ternyata ikut mengubah hobi pria berzodiak Taurus ini. Dari hobi utama diving, otomotif, dan touring dengan sepeda motor, Yoga Mahesa Prima Kurniarto kini beralih memelihara ular jenis ball python.

Tidak sekadar kolektor, dia juga menjadi peternak (breeder) dengan jumlah ular mencapai 60 ekor. Menjadi breeder pun dilakukannya secara otodidak sampai akhirnya mengenal jenis dan membedakan jenis kelamin ular. Putranya yang masih berusia dua tahun, juga kerap ikut bermain-main dengan ular yang berukuran kecil.

Bagi Yoga, selain menghilangkan penat karena pandemi, memelihara ular ball python mendatangkan untung (cuan). “Ajaibnya, itu satu-satunya binatang di dunia yang kalau kita beli sepasang pasti balik modal. Ular kan kalau bertelur banyak. Cuma, makanannya aja yang ribet, harus pelihara tikus. Senang aja sih, nggak ada beban dan mengurangi stres,” papar dia.

Sebelum pandemi Covid-19, Yoga rutin menyelam. Touring motor pun hampir dijalani seminggu sekali, misalnya rute Jakarta-Bali (PP) atau Jakarta-Yogya (PP).

“Sebelum Covid, saya gila banget menyelam dan otomotif, sampai keling. Diving yang berkesan ketika saya ke daerah Yunani dan melihat ikan paus beluga berenang di kanan-kiri saya. Pernah juga menyelam di Eropa, di Faroe Island, ketemu ubur-ubur yang besar sekali,” tutur dia. (pya)


Biodata

Nama lengkap : Yoga Mahesa Prima Kurniarto.

Tempat/tanggal lahir : Jakarta, 13 Mei 1992.

Status : Menikah, satu anak.

Pendidikan:

2011 – 2015 : S1 Sistem Informasi (Smart Class Program), Universitas Bina Nusantara (Binus), Jakarta.

Karier:

2019 – sekarang : CEO PT Lumbung Dana Indonesia.

2018 – 2019 : CTOO PT Lumbung Dana Indonesia.

2015 – 2018 : Oracle Senior Database Administrator, Officer Development Program Batch 133, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk.

2014 – 2015 : System Analyst, PT Adi Pertiwi.

Organisasi:

2020 – sekarang : Deputy of Education, Literation and Research AFPI.

 


 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN