Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
 Hendra Setiawan, Direktur Utama PT Softex Indonesia

Hendra Setiawan, Direktur Utama PT Softex Indonesia

HENDRA SETIAWAN, PRESIDEN DIREKTUR PT SOFTEX INDONESIA

Pemenang Selalu Mencoba dengan Kemampuan Terbaik

Gita Rossiana, Senin, 13 Januari 2020 | 12:05 WIB

Kesuksesan ternyata banyak ditentukan oleh keinginan mencoba tantangan baru. Semakin besar minat seseorang untuk mencoba tantangan dengan segenap kemampuannya, semakin besar pula peluangnya untuk meraih keberhasilan.

Seseorang yang memiliki keinginan besar untuk mencoba tantangan baru dengan kemampuan terbaiknya akan memiliki optimisme dan daya juang lebih tinggi, sehingga punya kesempatan lebih besar untuk berhasil.

“Saya percaya pada konsep try your best. Intinya, coba sebisa mungkin dulu, kalau dicoba tidak bisa, ya sudah,” kata Hendra Setiawan kepada wartawati Investor Daily Gita Rossiana di Jakarta, baru-baru ini.

Bagi Presiden Direktur PT Softex Indonesia ini, mental sukses atau mental pemenang seseorang kelihatan dari caranya merespons tantangan. “Kalau dari awal sudah ngomong tidak bisa, nanti kelihatan perbedaannya dengan yang ngomong bisa,” ujar dia.

Nilai-nilai itulah yang diterapkan Hendra Setiawan di Softex Indonesia, perusahaan lokal pertama dan terbesar yang memproduksi pembalut wanita di Indonesia, dengan merek (brand) yang sangat kuat di pasar.

Eksekutif kelahiran Jakarta, 27 Oktober 1973, itu punya gaya kepemimpinan (leadership) yang tak biasa. Ia menganggap semua karyawan di perusahaan yang didirikan pada 1976 dengan nama awal PT Mozambique itu memiliki level yang setara dengan dirinya.

“Saya anggap mereka lebih pintar dari saya di bidang marketing atau bidang keahlian mereka masing-masing. Saya semacam fasilitator, membuat environment yang kondusif supaya bisa bekerja bersama-sama untuk mencapai target perusahaan,” tutur dia.

Pria yang memulai karier di bidang konsultan dan finansial ini adalah tipe pekerja keras dan loyal kepada perusahaan. Berkat kerja keras dan loyalitasnya pula, Softex Indonesia kokoh sebagai penguasa pangsa pasar pembalut wanita dan popok bayi di Tanah Air. Bahkan, Softex sukses mengekspor produknya ke mancanegara.

Softex juga sukses bertransformasi menjadi produsen perawatan bayi, perawatan kewanitaan, perawatan ibu hamil, perawatan kebersihan, dan perawatan lanjut usia. Berikut petikan lengkapnya:

Bagaimana perjalanan karier Anda hingga memimpin Softex Indonesia?

Saya bekerja pertama kali di perusahaan konsultan, Prasetio Utomo. Kemudian, saya sekolah lagi, mengambil MBA bidang finance and strategic management, di Claremont Graduate University, Amerika Serikat (AS).

Setelah itu, saya bekerja di GTF International Asset Management, perusahaan bidang keuangan yang antara lain mengelola reksa dana. Dari sana, saya baru saya pindah ke Softex Indonesia.

Apa yang mendorong Anda pindah ke Softex?

Waktu saya bekerja di GTF, pekerjaan di bidang investment banking atau asset management memang sedang populer. Saya di GTF hampir dua tahun, namun saya merasa tidak cocok karena merasa bukan passion saya.

Kebetulan, ada opening di Softex, kemudian saya bergabung. Posisi awal saya di bidang production planning, itu tahun 2001. Selanjutnya saya pindah ke purchasing, lalu saya membantu ekspor.

Pada 2004, saya menjadi general manager. Posisi general manager hampir sama seperti direktur utama karena me-manage semuanya. Saya baru menjabat sebagai direktur utama pada 2010.

Yang Anda lakukan saat pertama kali bergabung dengan Softex Indonesia?

Saat pertama kali saya masuk, perusahaan ini masih kecil, karyawannya hanya 500 orang. Kami bekerja seperti keluarga, tanpa merasa ada atasan atau bawahan. Dengan gaya bekerja seperti itu, kami terus bertumbuh, berevolusi, dan akhirnya bisa seperti sekarang ini.

Saya mengadopsi best practice dari perusahaan multinasional dan menggabungkannya dengan best practice perusahaan kecil. Jadi, seperti perpaduan gaya Barat dan Timur, antara East dan West. Untuk Indonesia, konsep itu yang paling cocok.

Prestasi yang sudah Anda raih bersama Softex?

Sejak 2004, penjualan kami naik terus, merek kami juga sangat terkenal di pasar. Untuk pembalut wanita, kami memulainya sejak 1976. Kemudian kami ekspansi ke popok bayi. Pada 1998-1999, kami memperkenalkan produk popok bayi dengan merek Soft Love, untuk segmen premium. Selanjutnya, pada 2003 kami meluncurkan popok bayi dengan merek Sweety untuk segmen ekonomis. Ternyata, Sweety berkembang lebih pesat dari Soft Love, sehingga penjualan Soft Love kami setop.

Penjualan untuk segmen ekonomi lebih laku karena kami adalah perusahaan pertama yang memperkenalkan produk dengan harga Rp 1.000.

Sejak itu, penjualan baby diaper di perusahaan kami melesat hingga 80%. Pertumbuhannya dalam 15 tahun terakhir lebih kencang dari produk pembalut wanita.

Dari sisi brand awareness, produk Sweety juga tinggi sekali. Kami merupakan pemegang market share terbesar kedua. Brand awareness untuk Softex juga tinggi, karena itu semacam generic name pembalut wanita.

Bagaimana dengan pengembangan produk baru?

Kami memiliki pabrik untuk converting disposable paper hygiene. Pada 2010, kami juga memasarkan popok orang tua dengan merek Confidence. Penjualannya cukup bagus karena populasi masyarakat kita banyak yang manula. Apalagi sejak ada BPJS Kesehatan, itu sangat membantu kesehatan dan harapan hidup masyarakat Indonesia.

Produsen popok orang tua ada lima merek, yang dominan adalah kami dan tetangga kami. Top 3 player itu menguasai pangsa pasar hampir 80%. Jadi, memang terkonsentrasi dominan di top 3 ini. Dari ketiga merek ini, Softex satu-satunya perusahaan Indonesia. Kami pun mengekspor produk kami ke mancanegara.

Softex juga mengadopsi nilai-nilai lokal untuk produknya?

Softex memang perusahaan lokal dengan manajemen lokal. Ini membuat kami memiliki keunikan tersendiri. Di Indonesia, misalnya, pembalut wanita tidak langsung dibuang, tapi dicuci dulu sebelum dibuang.

Karena kebiasaan itu, pembalut wanita di Indonesia tidak menggunakan super absorbent polymer (SAP). Perempuan di Indonesia sukanya yang tebal dan tidak menggunakan SAP, itu yang kami terapkan. Local insight lainnya adalah penggunaan daun sirih yang memang terkenal untuk antiseptik, antibakteri.

Kami adalah perusahaan pertama yang menggunakan daun sirih pada pembalut wanita, semacam bahan untuk mengurangi bakteri supaya si pemakai lebih nyaman dan jangan sampai ada ruam.

Sudah ada perusahaan luar negeri yang meniru, tapi yang dominan tetap Softex. Kami juga menjual popok bayi eceran. Di Indonesia, pangsa pasar untuk single used besar sekali dibandingkan di luar negeri. Untuk margin relatif, namun pangsa pasarnya besar.

Kemudian, di Indonesia ada dua tipe popok bayi, yaitu tipe perekat dan tipe celana. Tapi, di Indonesia, popok celana lebih populer karena lebih ringkas dan convenient. Pangsa pasar untuk popok celana di atas 80%, di AS dan negara maju lainnya, pangsa pasar popok celana hanya 20%.

Kami sebenarnya ikut membentuk mindset itu, awalnya jualan popok celana dalam bentuk rencengan, lama-lama masyarakat terbiasa membeli popok celana.

Bagaimana dengan pengembangan produk daur ulang?

Kami fokus dalam pengembangan lingkungan dan sosial. Kami cukup prihatin dengan limbah diaper sehingga kami melakukan recycling dengan mengumpulkan 100 kg popok bekas per hari.

Center kami menerima popok orang tua dengan merek apa pun. Kami sedang membangun pusat recycling di Karawang dan Bandung. Tahun depan akan membangun yang lebih besar lagi.

Softex juga masih ekspansi pabrik?

Kami sedang membangun pabrik di Karawang yang akan menjadi salah satu yang terbesar di Asia. Pabrik ini menggunakan ASRS (automated storage and retrieval system).

Jadi, gudangnya otomatis, dari memasukkan barang dan palet, hingga mengambil barang sudah otomatis, tidak menggunakan orang lagi. Gudang otomatis ini merupakan yang terbesar di Asia Tenggara, kapasitasnya sekitar 40 mesin. Sudah 1,5 tahun dibangun dan kami harapkan pembangunan segera selesai.

Setelah pembangunan bulan depan selesai, mesin yang dari Tangerang kami pindahkan, sehingga pada kuartal III-2020 bisa beroperasi.

Selain di Karawang, kami punya pabrik di Sidoarjo untuk menyuplai barang ke Jawa Timur dan wilayah Indonesia timur. Pabrik kami sudah bisa memproduksi sekitar 4 miliar pieces produk dan penjualannya kurang lebih sama. Untuk keperluan ke depan, pabriknya akan disesuaikan lagi.

Ada rencana IPO saham?

Untuk rencana penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) saham, sejauh ini belum ada keputusan. Pihak manajemen dan pemegang saham (shareholder) masih menimbang-nimbang setiap opsi yang ada. Jadi, belum ada keputusan yang konkret untuk IPO.

Kalau ditanya bagaimana untuk IPO tahun ini atau tahun depan, saya rasa setiap tahun kesempatan selalu ada. Plus dan minusnya ada.

Secara garis besar, saya rasa Indonesia adalah surga karena kesempatan di Indonesia masih banyak sekali. Ada orang yang mengatakan Indonesia sedang sepi, tapi kan bukan berarti berhenti, stop spending. Perusahaan kami mengikuti tren yang ada di Indonesia saja.

Menurut saya, IPO itu kan sebagai alternatif financing, sehingga pertimbangannya bukan hanya dari IPO saja, bisa juga dari pinjaman bank atau menerbitkan obligasi. Sejauh ini kami masih mengandalkan financing dari bank-bank pendukung dengan mencari yang lebih murah dari mitra-mitra bank yang ada.

Gaya kepemimpinan Anda?

Tipe manajemen saya simpel, semua setara dengan saya. Saya anggap mereka lebih pintar dari saya di bidang marketing atau bidang keahlian mereka lainnya. Saya pemimpin di sini semacam fasilitator, saya membuat environment yang kondusif supaya bisa bekerja bersama-sama untuk mencapai target perusahaan setiap tahunnya.

Reward dan punishment pasti ada. Yang berprestasi pasti diberi reward. Yang sudah bekerja lama, kami kasih reward juga.

Untuk punishment, standar saja. Dalam bekerja, pasti ada karyawan yang mengeluh. Sama seperti dengan anak saya. Saya tidak bisa puaskan semua, pasti ada yang puas dan tidak. Namun, secara garis besar, harusnya cukup puas. Sebab ketika bekerja di sini, mereka berkembang.

Intinya, asalkan perusahaan berkembang, karyawan bisa ikut termotivasi. Kalau perusahaan berkembang, ada peningkatan finansial, ada reward juga. Mereka pun bisa pindah divisi atau naik pangkat.

Untuk urusan kehadiran karyawan secara fisik di sejumlah divisi, saya juga fleksibel. Kami sudah coba menerapkan coworking space di marketing dan sales, karena pekerjaan mereka mobile. Konsep coworking space masih cocok untuk bagian sales dan marketing. Tapi untuk supporting, seperti finance, masuk kantornya seperti biasa.

Filosofi hidup Anda?

Filosofi saya adalah lakukan semua dengan baik. Saya percaya pada konsep try your best. Intinya, coba sebisa mungkin dulu. Kalau dicoba tidak bisa, ya sudah.

Karyawan itu kalau ditanya apakah bisa, jawabnya bisa dulu. Kalau perlu bantuan, harus ngomong. Kalau dari awal sudah ngomong tidak bisa, nanti kelihatan perbedaannya dengan yang ngomong bisa.

Separah-parahnya karyawan, tidak mungkin mengambil keputusan sampai fatal sekali, karena di sini kan sudah berpengalaman semua. Kalaupun ada kesalahan, hanya perlu adjustment saja.

Kesalahan fatal hampir tidak pernah. Apalagi proses produksi sudah matang semua, mulai dari bagian R&D, hingga testing produk. Jadi, tidak mungkin salah banget.

Dukungan keluarga terhadap karier Anda?

Keluarga saya sangat mendukung, sehingga saya bisa bekerja dengan tenang. Saya punya dua anak, masih SMP dan SMA. ****

 

Biodata

Nama lengkap: Hendra Setiawan.

Tempat/tanggal lahir: Jakarta, 27 Oktober 1973.

Pendidikan:

1993-1994: Bachelor Degree (S1) Bidang Ekonomi - University of California, Irvine (AS).

1997-1998: MBA Degree, Finance and Strategic Management - Claremont Graduate University (Peter F Drucker School of Management), AS.

Karier:

1995-1995: Junior Researcher, PT Samuel Financindo Advisory, Indonesia.

1995-1996: Senior Business Consultant, Arthur Andersen & Co, Indonesia.

1999-2001: Sales/Marketing Manager of Mutual Funds, GTF International Asset Management.

2001-2004: Manager in various departments, PT Softex Indonesia.

2004-sekarang: Presiden Direktur PT Softex Indonesia.

 

Baca juga: Keseimbangan Hidup adalah Hal Terpenting

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN