Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Eka Himawan, CEO Xurya

Eka Himawan, CEO Xurya

EKA HIMAWAN, CO-FOUNDER/DIREKTUR UTAMA PT XURYA DAYA INDONESIA

Uang Bukan Segalanya dalam Bisnis

Totok Subagyo, Senin, 6 Januari 2020 | 13:05 WIB

Uang kerap dianggap sebagai kunci kesuksesan dalam berbisnis. Maju dan tidaknya sebuah perusahaan, seolah-olah, hanya ditentukan oleh besar kecilnya uang atau modal. Padahal, ada yang jauh lebih penting dari uang, yaitu perbuatan baik.

Perbuatan baik sejatinya adalah investasi jangka panjang yang tak tergantikan oleh uang. Perbuatan baik akan menghasilkan jejak rekam (track record) yang baik. Jejak rekam yang baik bakal mendatangkan hal paling bernilai dalam bisnis, yaitu kepercayaan.

“Uang bukan segalanya. Uang itu hanya salah satu tools untuk mencapai apa yang ingin kita lakukan. Yang penting adalah pilihannya, bagaimana mengelola uang itu, apakah dengan cara yang kurang baik, tidak baik, atau baik,” kata Eka Himawan kepada wartawan Investor Daily Totok Subagyo di Jakarta, baru-baru ini.

Direktur utama/co-founder PT Xurya Daya Indonesia itu percaya bahwa bisnis akan berkelanjutan jika dikelola dengan cara-cara yang baik dan dengan tujuan baik, apalagi jika menghasilkan kebaikan bagi banyak orang. Sebab, buah perbuatan baik akan kembali kepada perusahaan, dalam bentuk kepercayaan. “Ini benar-benar soal karma. Perbuatan baik pasti kembali, kok,” tutur dia.

Karena prinsip itu pula, Eka Himawan yakin perusahaan yang didirikan dan dinakhodainya bakal eksis. Soalnya, selain berupaya menerapkan tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance/GCG), perusahaan rintisan teknologi (start-up) penyedia platform bisnis tenaga surya itu punya visi-misi yang mulia, yakni mengurangi dampak buruk perubahan iklim.

“Saya benar-benar terpanggil karena Indonesia memiliki emisi karbondioksida paling kotor di dunia,” ujar entrepreneur berusia 33 tahun tersebut. Berikut petikan lengkapnya:

Apa yang mendorong Anda menekuni bisnis tenaga surya?

Pekerjaan ini memang sesuai pendidikan formal saya. Saya kuliah bidang electrical engineering di Universitas Purdue, Amerika Serikat (AS), lulus pada 2007. Tetapi saya mengawali karier profesional di bidang finance. Saya sempat menjadi fund manager di perusahaan pengelola investasi (hedge fund) global.

Waktu itu, harga minyak mentah naik, hampir mencapai US$ 150 per barel. Karena saya satu-satunya fund manager di perusahaan berlatar belakang electrical engineering, saya dikasih tantangan, yaitu membuat kajian tentang potensi pengembangan energi alternatif nonfosil bila harga minyak tembus US$ 150 per barel.

Saya pun melakukan kajian tentang tenaga surya (solar), tenaga angin (wind power), panas bumi (geothermal), dan lain-lain di Colorado, yang merupakan basis pengembangan energi alternatif. Pada tahun itulah saya mulai jatuh cinta pada pengembangan tenaga surya.

Pada 2010, saya pulang ke Indonesia, bergabung dengan Barclays Capital. Klien kami kebanyakan power company, seperti PLN, Pertamina, dan lain-lain.

Pada 2012, saya diajak teman untuk mendirikan company baru. Kami mendirikan Bilna, e-commerce di bidang produk perlengkapan bayi. Setelah berkembang, Bilna kami jual ke Grup Sinas Mas pada 2018. Lalu saya memutuskan untuk menekuni bisnis tenaga surya, dengan mendirikan PT Xurya Daya Indonesia.

Bidang tenaga surya memang sudah menjadi passion hidup saya, sudah saya pantau sejak 2007. Sejak itu, saya terus menghitung kapan bisnis sistem atap surya (solar rooftop) bisa ‘rasional’ di Indonesia. Bagi saya, 2018 adalah waktu yang tepat, sehingga pada tahun itulah kami mendirikan Xurya.

Tadinya kan belum ada political will dari pemerintah. Harga listrik pun masih sangat murah, karena subsidi energi masih gila-gilaan. Harga panel surya (solar panel) sangat mahal. Pemerintah saat itu juga belum memberikan subsidi untuk bisnis panel surya.

Bisa dijelaskan, apa itu Xurya Daya Indonesia?

Kami adalah start-up energi terbarukan di Indonesia yang memelopori metode down payment (DP) nol untuk beralih ke tenaga surya. Intinya, kami adalah platform yang memberikan nilai tambah bagi pemilik atap dan kontraktor EPC (engineering, procurement, & construction).

Untuk pemilik atap, kami adalah mitra lengkap dalam memenuhi kebutuhan tenaga surya, mulai studi kelayakan investasi, memberikan akses green-financing murah untuk beralih ke tenaga surya, sampai menyediakan sumber atau pemasok peralatan dan manajemen konstruksi atau perizinan.

Bagi kontraktor EPC, kami adalah mitra jangka panjang yang membantu menyediakan saluran proyek dan memperpendek siklus penjualan dengan menyediakan metode pembiayaan alternatif yang membutuhkan penghematan zero-down dan pembiayaan langsung bagi pelanggan.

Produk apa saja yang ditawarkan Xurya?

Secara teknis, ada dua tipe solar. Pertama yaitu pemanas air tenaga surya. Kedua adalah solar photovoltaic, yakni metode pembangkit tenaga listrik dengan mengubah radiasi matahari menjadi listrik. Ini relatif baru di Indonesia. Nah, bisnis Xurya lebih ke arah solar photovoltaic.

Sistem solar rooftop ada yang dirancang menggunakan baterai (rooftop off grid solar photovoltaic) dan tidak (on grid). Karena harga baterai masih mahal, kami berbisnis memakai sistem paralel dengan jaringan PT PLN (Persero). Menurut saya, ini sudah cukup kompetitif dengan harga di pasar.

Apa yang membuat Anda begitu yakin pada bisnis tenaga surya?

Saya pilih bisnis ini karena saya percaya bahwa masyarakat di masa depan akan mengarah ke penggunaan tenaga surya dan energi terbarukan lainnya.

Kalau diperhatikan, perkembangan panel surya bergerak begitu dinamis sejak 2007. Perkembangan pesat memang baru sekitar 10 tahun terakhir, walau historisnya panel surya sudah ada sejak 1970.

Pada 1970-2007 tidak terlalu banyak perkembangan dari segi teknologi panel surya. Pada 2007-2017 sebenarnya dari segi teknologi hampir mirip, tapi ada satu perbedaan mendasar.

Perbedaan itu adalah meningkatnya kekhawatiran masyarakat dunia terhadap perubahan iklim. Mereka berpikir bagaimana cara mengatasinya. Maka penggunaan energi terbarukan, seperti tenaga surya dan tenaga angin, mulai didorong. Tiongkok adalah salah satu negara yang berhasil menggenjot pasokan panel surya sejak 2007.

Tesla juga sedang habis-habisan menurunkan harga baterai. Indonesia pun mengarah ke sana, mulai membangun pabrik baterai litium di Morowali, Sulawesi Tengah.

Karena dunia sudah mengarah ke sana semua, harga baterai akan semakin murah. Xurya sekarang berbisnis solar rooftop tanpa baterai. Pada waktu yang tepat, kami juga akan memanfaatkan baterai yang harganya kian murah.

Teknologi panel surya mengalami perkembangan. Dulu, setiap panel hanya bisa memuat sekitar 100 Watt, sekarang bisa 300 Watt. Harganya pun turun 10 kali lipat. Harga panel surya yang dulu US$ 5 per Watt, sekarang sekitar US$ sen 30 per Watt.

Bagaimana perkembangan bisnis Xurya sekarang?

Target kami nilai kontrak sampai akhir 2019 sebesar 10 MW. Realisasinya di pengujung tahun lalu sudah hampir dekat dengan target.

Peta persaingan bisnis panel surya saat ini?

Untuk model bisnis yang sama, sebenarnya cukup banyak. Yang terbanyak adalah yang hanya jual putus barang dan konstruksinya, dan sebagian yang juga melayani pembiayaan sekaligus.

Xurya adalah tipe kedua, dengan melayani pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) kapasitas di bawah 10 Megawatt (MW) karena belum banyak yang nyemplung ke segmen itu.

Apa keunggulan Xurya?

Pertama adalah spirit untuk kerja. Kami adalah perusahaan yang masih muda, baik usia perusahaan maupun timnya. Spirit kami untuk mau mengerjakan proyek adalah salah satu kelebihan kami.

Kedua, kami pakai teknologi untuk mempersingkat proses dan mengurangi pekerjaan manual. Karena itu, kami bisa mengerjakan volume yang lebih banyak dibanding pihak lain yang tidak berbasis teknologi. Jadi, kami punya DNA seperti start-up. Bisnis panel surya sangat padat modal, dengan waktu balik modal (break even point/BEP) agak panjang, berkisar 8-10 tahun.

Keunggulan ketiga, selain fokus pada pengadaan, operasional, dan pemeliharaan instalasi sistem PLTS atap di Indonesia, Xurya menawarkan Xurya Lease untuk pelaku sektor industri dan komersial.

Xurya Lease adalah sebuah skema, di mana calon pengguna sistem PLTS atap mendapatkan opsi untuk dibebaskan dari kewajiban pembayaran upfront cost dan dapat membayar saat PLTS atap mulai memproduksi listrik.

Sudah separah apa perubahan iklim menurut Anda?

Teman saya berbisnis pupuk sejak 30 tahun lalu. Dulu, musim tanam bisa tiga kali setahun, tapi akhir-akhir ini hanya dua kali. Saya nggak mau 15 tahun dari sekarang sumber daya listrik habis, seperti zaman batu. Saya benar-benar terpanggil karena Indonesia memiliki emisi karbondioksida paling kotor di dunia.

Berarti Xurya ikut memikul tanggung jawab menyelamatkan bumi?

Visi kami adalah menjadi pemimpin dalam transisi Indonesia menuju zaman prosumer (producer/professional dan consumer) dengan memberi pelanggan kemudahan revolusioner untuk beralih ke solar. Misi kami yaitu memerangi perubahan iklim dengan mempercepat masa depan yang lebih hijau dan lebih beraliran listrik untuk Indonesia.

Kami percaya bahwa menyelamatkan bumi juga harus menghemat uang, bukan menambah biaya. Selain itu, setiap orang, terlepas dari kelas ekonomi mereka, harus dapat berkontribusi dalam revolusi energi ini.

Kami bercita-cita menjadi ujung tombak revolusi tenaga surya karena distribusi dan penyimpanan solar merupakan kunci bagi kemandirian energi Indonesia dan bagian penting dari teka-teki masalah perubahan iklim dunia.

Sebab, besarnya penghematan bisnis dan industri jika menggunakan tenaga surya bisa mencapai 30%. Saya percaya perbuatan baik itu semestinya juga menghasilkan uang bagi seseorang. Tindakan itu akan lebih baik dibanding perbuatan baik tetapi tidak menghasilkan uang bagi seseorang.

Nilai-nilai itu Anda tanamkan juga kepada para karyawan?

Salah satu satu persyaratan untuk bekerja di Xurya adalah kesepahaman mengenai kepedulian untuk menyelamatkan bumi. Jadi, mereka bukan cuma bekerja mencari uang, tetapi mengerjakan sesuatu yang berdampak positif terhadap lingkungan. Yang justru agak sulit adalah menyampaikannya secara luas kepada masyarakat dan perusahaan calon pelanggan Xurya.

Di mana tingkat kesulitannya?

Banyak yang kurang atau bahkan tidak peduli pada upaya penyelamatan bumi. Mungkin saat ini mereka lebih mementingkan uangnya. Padahal, gerakan ini akan menyelamatkan uang mereka.

Itu sebabnya, selain untuk menekan risiko, kami memilih pelanggan company yang sehat dan baik. Sebab, ada kecenderungan hanya perusahaan baik yang mau berbuat baik, dalam hal ini ikut berpartisipasi dalam penyelamatan bumi.

Semoga makin banyak perusahaan yang mau berbuat baik karena pada akhirnya buah dari perbuatan baik itu akan kembali kepada perusahaan-perusahaan tersebut. Apa yang mereka perbuat, pasti akan kembali.

Ini benar-benar soal karma. Perbuatan baik pasti kembali, kok. Contohnya kalau perusahaan berbuat baik, mereka akan muncul di media massa. Otomatis orang mau membeli produknya.

Prinsip-prinsip itu Anda peroleh dari mana?

Saya baca hampir semua kitab. Waktu kecil, saya suka baca komik-komik soal Budha, Sidharta Gautama, tetapi saya juga baca Alkitab, dan sedikit baca tentang Islam.

Saya ambil sisi positif ajarannya yang universal bahwa kita dituntut untuk berbuat baik. Berbuat baik jangan hanya karena ada Tuhan yang melihat kita. Soal imbal balik, itu otomatis, tak perlu diharapkan.

Saya punya pengalaman. Dulu berbuat baik hanya ‘iseng-iseng’ saja. Tiba-tiba imbal baliknya muncul 10 tahun kemudian. Salah satu investor di Xurya adalah bos saya dulu di Barclays Capital. Tak nyangka, mantan bos investasi di bisnis saya. Mungkin karena ketika saya keluar dari Barclays, saya keluarnya secara baik-baik dan terus menjalin komunikasi.

Filosofi hidup Anda?

Uang bukan segalanya. Uang itu hanya salah satu tools untuk mencapai apa yang ingin kita lakukan. Yang penting adalah pilihannya, bagaimana mengelola uang itu, apakah dengan cara yang kurang baik, tidak baik, atau baik. Tentu kami ingin mengelola uang dengan cara yang baik. Itu yang sedang saya wujudkan bersama Xurya.

Gaya kepemimpinan Anda?

Saya berupaya untuk leading by example, memimpin dengan memberi contoh. Kalau meminta orang bekerja keras, ya harus dimulai dari diri sendiri dulu. ***
 

 

BIODATA

Nama : Eka Himawan

Pendidikan :

Purdue University, AS (BsEE bidang electrical engineering).

Karier:

- Salah satu founder Bilna.

- Moxy (Orami).

- Barclays Capital.

- Independence Capital Asset Partners.

- Co-founder dan Direktur Utama PT Xurya Daya Indonesia.

 

Baca juga: Menjadi Relawan Pelestarian Lingkungan

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA