Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

142 Fintech Lending Lapor ke Fintech Data Center

Selasa, 4 Agustus 2020 | 22:40 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Hampir 90% atau sebanyak 142 dari total 158 anggota Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) telah melapor ke Fintech Data Center (FDC). Dengan begitu, mitigasi risiko di industri fintech p2p lending diharapkan meningkat.

Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi mengemukakan, semakin banyak anggota AFPI yang melapor ke FDC akan meningkatkan mitigasi risiko di industri fintech p2p lending. Para anggota dapat mengecek rekam jejak dan profil calon peminjam sehingga mencegah peminjam yang melakukan peminjaman di banyak penyelenggara secara bersamaan.

"Keberadaan FDC semakin penting di masa pandemi Covid-19 ini untuk menurunkan risiko pinjaman bermasalah, dimana para penyelenggara fintech p2p lending semakin selektif memberikan pinjaman. Kedepannya seluruh anggota AFPI akan terkoneksi dan melapor ke pusat data fintech p2p lending ini," kata Adrian melalui keterangan tertulis, Selasa (4/8).

Dia menuturkan, dengan semakin banyaknya penyelenggara menyampaikan datanya ke FDC, maka kuantitas data yang dikelola oleh FDC menjadi semakin lengkap untuk menggambarkan transaksi di industri fintech p2p lending. FDC sendiri merupakan wujud implementasi AFPI dalam menjalankan fungsinya sebagai market supervisory. Utamanya guna berkolaborasi dengan institusi keuangan lainnya dalam memperkuat akses keuangan di masyarakat, khususnya unbanked dan underserved.

“Dengan menggunakan FDC, para penyelenggara fintech p2p lending dapat melakukan tindakan preventif, yakni untuk mengetahui sejarah perkreditan calon peminjam dan sudah berapa banyak pinjaman yang masih mereka miliki di berbagai penyelenggara. Kedua dampak utama tersebut akan sangat membantu menekan kredit macet sehingga dapat menjaga industri fintech p2p lending tetap sehat,” tandas Adrian.

Di sisi lain, Ketua Bidang Humas dan Kelembagaan AFPI Tumbur Pardede menegaskan, para penyelenggara hanya dapat mengakses data calon peminjam berupa CEMILAN, yakni camera, microphone, dan location. Para penyelenggara pun mesti tunduk terhadap aturan tersebut, seperti code of conduct yang telah ditetapkan AFPI serta regulasi yang dibuat Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

"Jadi pastikan bagi masyarakat yang hendak menggunakan jasa fintech p2p lending, data yang diakses fintech p2p lending legal atau terdaftar di OJK, hanya CAMILAN," ujar dia.

Dia menambahkan, masih terkait akses data calon nasabah, bahwa baru-baru ini beredar informasi tentang Kreditplus. "Perlu kami luruskan, Kreditplus bukan perusahaan fintech p2p lending, dan bukan anggota AFPI. Sehingga apapun kondisi yang diberitakan tentang Kreditplus, tidak ada kaitannya dengan industri fintech p2p lending," pungkas Tumbur.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN