Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Teller menghitung rupiah di sebuah bank pemerintah di Jakarta, baru-baru ini.   Foto: Investor Daily/DAVID

Teller menghitung rupiah di sebuah bank pemerintah di Jakarta, baru-baru ini. Foto: Investor Daily/DAVID

NIM Perbankan Ikuti Penurunan Bunga Kredit

Selasa, 27 Agustus 2019 | 07:23 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Industri perbankan menilai margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada akhir tahun ini akan tergerus. Hal ini seiring dengan penurunan suku bunga kredit bank untuk merespons kebijakan Bank Indonesia (BI) yang telah menurunkan bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (7DRRR) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 5,5%.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja mengungkapkan, pihaknya tidak keberatan menawarkan suku bunga kredit murah kepada debitur, apabila debitur tersebut memiliki rekam jejak yang bagus dan selalu membayar angsuran tepat waktu.

Jahja mengaku, penawaran suku bunga kredit akan dipengaruhi dari risiko kredit calon debitur. "Sudah sejak bulan lalu (turunkan bunga kredit) secara selektif untuk nasabah yang credit rating bagus," ucap Jahja ketika dihubungi Investor Daily, Senin (26/8).

Jahja menyebutkan, sampai akhir tahun ini NIM perseroan akan tergerus karena terdapat potensi penurunan suku bunga kredit BCA. Sampai dengan akhir Juni 2019 NIM perseroan tercatat di posisi 6,2% atau meningkat 20 bps dibandingkan dengan Juni 2018.

Akhir tahun ini menurut Jahja, akan ada penurunan NIM lagi karena tren suku bunga yang menurun. "Tahun ini NIM kami sekitar 6%," kata dia.

Berdasarkan data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pada akhir Juni 2019 NIM industri perbankan sudah menurun menjadi 4,90% dari posisi semester pertama 2018 yang berada di level 5,11%. Jika dirinci, bank umum kegiatan usaha (BUKU) IV mencatatkan NIM yang paling tinggi dibandingkan dengan kelompok BUKU lainnya, yakni di level 5,49% di Juni 2019. Untuk BUKU III mencatat NIM di posisi 3,96% per semester I-2019. Kemudian, kelompok BUKU II mencatat NIM di level 4,78%. Untuk NIM kelompok BUKU I juga cenderung tinggi di level 5,33% pada semester pertama tahun ini.

Sementara itu, Kamar Dagang dan Industri (Kadian) Indonesia meminta Bank Indonesia (BI) mendorong perbankan untuk segera menurunkan NIM perbankan. Untuk saat NIM ini dinilai masih sangat tinggi, hal ini memiliki pengaruh terhadap dunia usaha yang masih mengandalkan bank sebagai sumber pendanaan.

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, tingkat NIM perbankan Indonesia merupakan salah satu yang tertinggi di dunia, sehingga pengusaha meyakini tingkat NIM masih bisa lebih kecil di angka 3,5% dari posisi saat ini 4,9%.

“Bukannya ingin mengatur NIM, tapi kenyataan di negara tetangga tidak ada satu pun NIM di atas 3%, karena perbankan adalah 'urat nadi', jika dapat turun maka dampaknya ke dunia usaha juga akan luar biasa” jelas dia dalam diskusi Kadin Talks, di Jakarta, Senin (26/8).

baca selengkapnya di https://subscribe.investor.id

Editor : Aris Cahyadi (aris_cahyadi@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN