Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
AJB Bumiputera. Foto: ilustrasi: metrotvnews.com

AJB Bumiputera. Foto: ilustrasi: metrotvnews.com

2019, Bumiputera Rugi Bersih Rp 48,98 Miliar

Rabu, 2 September 2020 | 06:37 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Asuransi Jiwa Bersama (AJB) Bumiputera 1912 mencatatkan rugi bersih tahun 2019 sebesar Rp 48,98 miliar, lebih rendah dibanding periode sebelumnya rugi bersih sebesar Rp 1,99 triliun. Hal tersebut di antaranya dipengaruhi total manfaat klaim dan manfaat dibayar yang cenderung menurun.

Merujuk dari laporan keuangan Bumiputera tanggal 26 Agustus 2020, kinerja pendapatan premi pada 2019 tercatat sebesar Rp 2,99 triliun, atau turun 10,65% secara tahunan (year on year/yoy) dari periode sebelumnya sebesar Rp 3,35 triliun.

Pendapatan imbalan DPLK atau jasa manajemen lain tercatat turun sebesar 10,83% menjadi sebesar Rp 2,22 miliar. Kinerja negatif juga dicatatkan dari pos pendapatan lain. Namun demikian, hasil investasi perusahaan mampu naik 4,66% (yoy) menjadi Rp 80,50 miliar.

Tapi hal tersebut tidak mampu untuk mendongkrak kinerja total pendapatan dari Bumiputera. Sampai akhir 2019, total pendapatan terpangkas 9,85% (yoy) menjadi Rp 3,15 triliun.

Sedangkan dari sisi beban, jumlah beban klaim dan manfaat tahun 2019 sebesar Rp 2,38 triliun, turun 48,07% (yoy) dari periode sebelumnya Rp 4,58 triliun. Pos manfaat dan klaim dibayarkan sebesar Rp 4,59 triliun atau menurun sebesar 32,15% (yoy).

Dalam hal ini, perusahaan juga mencatat penurunan cadangan premi Rp 2,21 triliun yang turut berkontribusimemangkas total beban klaim dan manfaat dibayar.

Untuk biaya akuisisi pada 2019 menurun 33,18% (yoy) menjadi Rp 110,16 miliar. Sedangkan beban pemasaran naik sebesar 212,28% (yoy) menjadi Rp 117,86 miliar. Untuk beban administrasi sebesar Rp 556,10 miliar atau turun 16,71% (yoy) menjadi Rp 556,10 miliar.

Dengan demikian, Bumiputera membukukan rugi bersih Rp 48,98 miliar, rugi bersih lebih rendah 97,54% (yoy) dibandingkan sebelumnya sebesar Rp 1,99 triliun.

Hal tersebut juga mendorong rugi komprehensif lebih rendah menjadi Rp 6,47 miliar, dibandingkan periode sebelumnya Rp 1,85 triliun.

Sementara itu, total aset perusahaan pada 2019 tergerus 4,59% (yoy) menjadi Rp 9,97 triliun. Di samping itu, total liabilitas Bumiputera turun tipis 1,58% (yoy) menjadi Rp 30,42 triliun. Dengan kondisi tersebut perusahaan negatif ekuitas sebesar Rp 20,44 triliun, sedikit lebih rendah dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 20,45 triliun.

Meski keuangan Bumiputera sekilas nampak membaik, kesehatan keuangan perseroan masih memprihatinkan. Per 2019, utang klaim perseroan mencapai Rp5,18 triliun atau naik 47,01% dibandingkan periode 2018 sebesar Rp 3,52 triliun.

Peningkatan itu belum termasuk kewajiban biaya lain seperti utang reasuransi, utang komisi, utang pajak, dan utang-utang lain.

Selain itu, kewajiban manfaat polis masa depan yang menurun 8,54% terbilang masih besar. Pada 2019, kewajiban manfaat polis masa depan sebesar Rp 24,63 triliun, turun dibandingkan periode sebelumnya Rp 26,93 triliun.

Kondisi itu semakin parah karena rasio kesehatan keuangan atau tingkat solvabilitas meningkat menjadi negatif Rp 25,91 triliun, nilai tersebut terkoreksi makin dalam dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp 21,25 triliun.

Hal itu dipengaruhi timpangnya aset yang diperkenankan dengan liabilitas perseroan. Dengan posisi tersebut tingkat solvabilitas atau risk based capital (RBC) Bumiputera tahun 2019 anjlok menjadi negatif 1.182,39%, atau terperosok lebih dalam jika dibandingkan tahun 2018 sebesar negatif 640,14%.

Rasio lain, diantaranya rasio likuiditas tercatat turun dari 51,60% di 2018 menjadi 25,69% di 2019. Rasio kecukupan investasi pun turun dari 22,94% di 2018 menjadi 13,58% di 2019.

Adapun dalam catatanya, angka atau nilai yang disajikan pada laporan posisi keuangan (neraca) dan laporan laba rugi berdasarkan SAK (audit report) yang telah diaudit oleh Kantor Akuntan Publik Kanaka Puradiredja Suhartono itu menyandang opini tidak wajar.

Di sisi lain, Kepala Departemen Pengawasan IKNB II A Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Ahmad Nasrullah menyatakan, penyelesaian persoalan Bumiputera mesti dirancang dan dijalankan dengan komprehensif. Artinya tidak hanya memperhatikan nasabah dengan polis yang sudah jatuh tempo, tapi juga 2,5 juta nasabah lainnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN