Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur Adira Finance Hafid Hadeli saat pemaparan kinerja perusahaan tahun buku 2020, Senin (22/2). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Presiden Direktur Adira Finance Hafid Hadeli saat pemaparan kinerja perusahaan tahun buku 2020, Senin (22/2). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

2020, Adira Finance Raup Laba Bersih Rp 1,02 Triliun

Senin, 22 Februari 2021 | 15:54 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) meraup laba bersih sebesar Rp 1,02 triliun atau turun sebesar 51,4% secara tahunan (year on year/yoy) di tahun 2020. Penurunan piutang pembiayaan dan restrukturisasi pembiayaan menjadi faktor pendorong laba bersih terkoreksi.

Presiden Direktur Adira Finance Hafid Hadeli menyampaikan, pembiayaan baru di tahun 2020 sebesar Rp 18,6 triliun atau turun 51% (yoy) dari pencapaian tahun sebelumnya. Pembiayaan baru pada segmen mobil dan sepeda motor masing-masing menurun sebesar 46% (yoy) dan 52% (yoy). Sehingga pangsa pasar perseroan pada segmen mobil dan sepeda motor juga ikut turun masing masing menjadi 4,1% dan 9,5% di tahun 2020.

"Kami juga lebih berhati-hati dalam melakukan akuisisi pembiayaan baru pada tahun lalu untuk menghadapi peningkatan risiko kredit. Dengan demikian total piutang yang dikelola perusahaan sebesar Rp 44,0 triliun, turun 20% (yoy) di 2020," kata Hafid saat pemaparan kinerja secara virtual, Senin (22/2).

Lebih lanjut, perseroan turut berpartisipasi dalam program restrukturisasi kredit pemerintah bagi konsumen yang terkena dampak langsung pandemi Covid-19. Hingga akhir Desember 2020, jumlah nasabah yang pinjamannya telah direstrukturisasi ada sebanyak 827 ribu kontrak atau sekitar Rp 18,9 triliun mewakili sekitar 35% dari piutang yang dikelola per Februari 2020. Seiring waktu, sekitar 80% dari pinjaman nasabah yang telah direstrukturisasi telah mulai membayar kewajiban cicilannya. 

Dari sisi keuangan, perusahaan membukukan pendapatan bunga Rp 10,3 triliun atau turun 14,0% (yoy) di 2020. Hafit mengatakan, hal itu terutama dikarenakan penurunan piutang pembiayaan yang didorong oleh penurunan pembiayaan baru yang sejalan dengan penurunan signifikan pada pasar penjualan otomotif, serta adanya restrukturisasi pinjaman kepada konsumen di sepanjang tahun 2020.

Sementara itu, beban bunga tercatat sebesar Rp 4,3 triliun, atau turun sebesar 9,2% (yoy). Sehingga pendapatan bunga bersih Adira Finance tercatat sebesar Rp 6,0 triliun, turun 17,1% yoy. Akibatnya margin bunga bersih Adira Finance juga menurun menjadi sebesar 12,0% di 2020.

Selanjutnya, beban operasional Adira Finance turun sebesar 4,7% menjadi Rp 3,5 triliun. Hafid menjelaskan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah secara efektif untuk mengelola biaya operasional selama pandemi. Cost of credit meningkat sebesar 13,4% menjadi Rp 2,0 triliun.

"Dengan demikian, laba bersih Perusahaan setelah pajak dibukukan sebesar Rp 1.026 miliar atau mengalami penurunan sebesar 51,4% (yoy). Return on asset (ROA) dan Return on equity (ROE) Perusahaan masing-masing tercatat menjadi sebesar 3,1% dan 13,3% di 2020," jelas Hafid.

Pendanaan
Di samping itu,  Direktur Keuangan Adira Finance I Dewa Made Susila mengungkapkan, biaya kredit perusahaan termasuk piutang pembiayaan bersama naik menjadi 6,4% atas total piutang yang dikelola pada tahun 2020 seiring dengan kondisi lingkungan bisnis yang terus memburuk di sepanjang tahun 2020. Sementara itu, non performing financing (NPF) tercatat sebesar 1,9% dari piutang yang dikelola, lebih rendah dibandingkan dengan industri pembiayaan sekitar 4,0%.

"Merupakan prioritas perusahaan untuk memperoleh likuiditas yang cukup guna memenuhi semua kewajiban keuangan dan pendanaan untuk kebutuhan bisnis. Dalam memperoleh kebutuhan pendanaannya, Perusahaan berhasil menerbitkan obligasi pada bulan Juni 2020 sebesar 1,5 triliun (Rp 1,3 triliun konvensional dan Rp 200 miliar Sukuk)," kata Made.

Dia menerangkan, Adira Finance juga telah menggunakan fasilitas pinjaman sindikasi (syndicated loan) luar negeri sebesar US$ 300 juta. Pinjaman itu telah sepenuhnya dilakukan lindung nilai (fully hedged) baik dari pokok maupun suku bunganya. Perusahaan juga mendapatkan dukungan standby facility setara dengan US$ 280 juta.

Dengan adanya kecukupan likuiditas, sambung Made, perusahaan telah membayar seluruh kewajiban keuangannya termasuk membagikan dividen kepada para pemegang saham sebesar Rp 1,06 triliun pada bulan April 2020. Serta mendanai kebutuhan bisnisnya dengan menggunakan fasilitas pendanaan yang tersedia dan pembayaran angsuran dari nasabah.

Perusahaan terus melakukan diversifikasi sumber pendanaannya melalui dukungan dari pembiayaan bersama dengan Perusahaan induknya, Bank Danamon dan memperoleh pinjaman eksternal (pinjaman bank dan obligasi). Pembiayaan bersama mewakili 45% dari piutang yang dikelola.

Made memaparkan, total pinjaman eksternal Perusahaan per 31 Desember 2020 adalah sebesar Rp 16,8 triliun. Terdiri dari pinjaman bank (luar negeri dan dalam negeri) dan obligasi, masing-masing memberikan kontribusi 54% dan 46%. Gearing ratio turun menjadi 2,1x pada tahun 2020 dibandingkan dengan 2,8 kali tahun lalu.

"Pada Januari 2021, Pefindo, lembaga pemeringkat domestik, telah menetapkan kembali pemeringkatan Adira Finance yaitu idAAA (stabil) di tengah kondisi ekonomi yang kurang mendukung. Peringkat ini memperkuat kemampuan Perusahaan untuk mengakses sumber pendanaan yang lebih kompetitif," demikian kata Made.

Hafid pun menambahkan, pihaknya telah menyiapkan sejumlah strategi dan inisiatif dalam rangka pengembangan bisnis.

"Antara lain memperkuat dan meningkatkan pangsa pasar di bisnis otomotif dengan memberikan berbagai program penjualan yang menarik bagi nasabah, memperluas usaha pada bisnis non-otomotif (produk multiguna, dan fee based income dan lain-lainnya), mempercepat investasi dalam digitalisasi dan inisiatif yang berpusat pada customer centric, dan terus menyederhanakan proses kami menjadi lebih sederhana, cepat dan efisien," tandas Hafid.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN