Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

2020, Pertumbuhan Kredit Diproyeksi Capai 30%

Aris Cahyadi, Minggu, 15 Desember 2019 | 21:03 WIB

JAKARTA, investor.id  – Kondisi perekonomian Indonesia diperkirakan tidak akan terlalu terpengaruh oleh tekanan global akibat perang dagang antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS). Industri perbankan pun menyikapinya dengan menargetkan penyaluran kredit yang lebih tinggi dari tahun ini atau di kisaran 11-13%.

Chief Economist PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) Ryan Kiryanto mengatakan, suasana kebatinan industri perbankan Indonesia tahun depan lebih optimistis. Pasalnya, komposit dari pada pertumbuhan kredit tahun depan itu di atas realisasi tahun ini.

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV

"Jika tahun ini realisasi penyaluran kredit paling bagus di level 9%, tahun depan batas bawah pertumbuhan kredit di posisi 11%, sedangkan untuk batas atas di kisaran 13%. Itu suasana kebatinanya," kata Ryan dalam sebuah acara diskusi di Jakarta, Kamis (12/12).

Khusus untuk BNI, ungkap Ryan, perseroan berani memproyeksikan pertumbuhan kredit di kisaran 13% hingga 15%. Angka tersebut diakuinya memang lebih rendah dari target sebelumnya, karena memang saat ini trade war antara Tiongkok dan Amerika Serikat masih terjadi dan cenderung memanas.

"Sektor indutri yang menyumbang pertumbuhan relatif tidak berubah, yang menyumbang NPL juga masih sama di sektor manufaktur, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan. Tetapi intinya dibalik optimisme bankbank itu, drajat kehati-hatian bank justru meningkat, " kata Ryan.

Dia juga mengatakan, optimism pertumbuhan kredit tersebut sejalan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih bisa tembus 5%. Pasalnya, meski terjadi perang dagang antara Tiongkok dan AS, perekonomian Indonesia diperkirakan tidak akan terlalu terpengaruh karena Indonesia bukan pemain ekspor global.

"Perekonomian dunia memang masih mengalami tekanan, meski demikian, pengaruhnya tidak sampai memangkas pertumbuhan ekonomi nasional besar-besaran. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap mampu mencapai sekitar 5,0% karena ditopang konsumsi rumah tangga," kata Ryan.

Menurut dia, dengan hanya menjaga tingkat konsumsi rumah tangga domestik, pertumbuhan ekonomi tahun depan paling tidak akan berada di kisaran tersebut. Namun bila ingin pertumbuhan lebih besar lagi maka perlu dilakukan cara-cara yang tidak biasa.

"Pengeluaran pemerintah harus digenjot, investasi dipompa, dan ekspor ditingkatkan. Pengeluaran pemerintah yang besar bisa memberikan sinyal positif bagi kalangan pengusaha untuk ikut bersiap mengeluarkan belanjanya. Pengeluaran pemerintah juga diperlukan untuk menjaga masyarakat tetap mendapatkan pekerjaan. Bahkan, pengeluaran pemerintah melalui bantuan sosial (bansos) juga dibutuhkan terlepas dari apapun bentuknya," papar dia.

Pada kesempatan itu, Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) UI Mohamad D Revindo juga optimistis melihat kondisi perekonomian nasional tahun depan. Namun melihat data-data perdagangan, investasi, dan indikator ekonomi lainnya sepanjang tahun ini dia memberikan sejumlah catatan. Revindo menyoroti neraca jasa yang defisit US$ 7 miliar dan neraca pembayaran primer yang juga defisit hingga US$ 30 miliar.

"Pengusaha asing yang memperoleh keuntungan dari usahanya di Indonesia ternyata tidak mau menginvestasikan kembali atau reinvestasi keuntungannya itu di dalam negeri," kata Revindo.

Dia juga menyoroti soal mismatch antara lokasi produksi ekspor dengan pelabuhan. Revindo menyontohkan Jawa Barat sebagai penyumbang 17% ekspor nasional tidak mempunyai pelabuhan ekspor sendiri. Ekspor Jawa Barat harus dilakukan melalui pelabuhan Tanjung Priok.

"Padahal pengiriman logistik dari kawasan industri di Jawa Barat ke Pelabuhan Tanjung Priok terbilang cukup mahal. Di sini pentingnya nanti keberadaan Pelabuhan Patimban yang sedang dibangun," kata dia.

Selain itu ada juga persoalan sumber daya manusia dan pengupahan. Menurut dia, upah pekerja di sejumlah daerah dinilai sudah tidak sesuai dengan perhitungan pengusaha. "Akibatnya terjadi migrasi industri ke daerah yang dinilai masih memiliki upah minimum rendah seperti ke Jawa Tengah," ungkap dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN