Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

BI TAHAN SUKU BUNGA ACUAN

2020, Profitabilitas Perbankan Membaik

Nida Sahara, Jumat, 20 Desember 2019 | 20:53 WIB

JAKARTA, investor.id – Profitabilitas industri perbankan diproyeksikan membaik pada 2020. Keuntungan bank tahun depan antara lain akan ditopang oleh pulihnya sektor riil sejalan dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi, serta masih terjaganya inflasi, suku bunga, dan nilai tukar rupiah.

Pemulihan sektor riil dan perbaikan kondisi makro tahun depan bakal membuat kredit perbankan tumbuh lebih pesat, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) turun, dan kredit bermasalah (non performing loan/NPL) melandai. Apalagi suku bunga acuan, BI 7-day Reverse Repo Rate (BI 7-DRRR), terus menunjukkan tendensi turun.

Hal itu dikemukakan kalangan ekonom, bankir, dan pengusaha yang dihubungi secara terpisah di Jakarta, Kamis (20/12) kemarin. Mereka juga merespons positif keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI 7-DRRR di level 5% dalam rapat dewan gubernur, kemarin. Pada 2018, laba perbankan mencapai Rp 150,01 triliun, tumbuh 14,37% dibanding tahun sebelumnya.

Adapun hingga September tahun ini, laba bank mencapai Rp 117,59 triliun.  

Gubernur BI Perry Warjiyo memimpin konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/12) usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Desember 2019 yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5%.
Gubernur BI Perry Warjiyo memimpin konferensi pers di Jakarta, Kamis (19/12) usai Rapat Dewan Gubernur (RDG) 18-19 Desember 2019 yang memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5%.

Sementara itu, Gubernur BI Perry Warjiyo optimistis pertumbuhan kredit pada 2020 mencapai 10-12%, lebih tinggi dari pencapaian 2019 yang diperkirakan sekitar 8%. “Pertumbuhan ekonomi akan lebih tinggi, karena kondisi global membaik dan ekspor meningkat. Konsumsi juga bagus dan investasi naik karena adanya transformasi ekonomi dan kebijakan akomodatif,” ujar dia.

Gubernur BI menambahkan, peningkatan kredit didukung penurunan suku bunga acuan sebanyak empat kali pada 2019, membaiknya likuiditas, serta kebijakan makroprudensial. “Faktor lainnya, bank siap menyalurkan kredit tahun depan,” tegas dia.

Tahun ini, menurut Perry Warjiyo, pertumbuhan kredit diperkirakan hanya berada pada kisaran 8% karena siklus keuangan yang melambat dan permintaan dunia usaha yang melemah.

“Permintaan kredit sekarang masih menunjukkan siklus keuangan masih di bawah optimal dengan permintaan dunia usaha yang belum kuat, meski ada dukungan dari sisi supply akibat turunnya suku bunga,” papar dia.

BI mencatat pertumbuhan kredit pada Oktober 2019 sebesar 6,53% atau melambat dari periode September sebesar 7,89%. Sedangkan NPL hingga Oktober 2019 mencapai 2,73% (gross) dan 1,25 persen (net).

“Pertumbuhan NPL gross meningkat sejalan dengan kegiatan ekonomi yang belum kuat. Tapi dengan net yang tetap rendah, dipastikan bank sudah membentuk cadangan yang cukup untuk risiko kredit bermasalah,” ucap dia.

Dorong Kredit

Andry Asmoro, Chief Economist Bank Mandiri. Sumber: BSTV
Andry Asmoro, Chief Economist Bank Mandiri. Sumber: BSTV

Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi yang tahun depan diperkirakan mencapai 5-5,1% akan berdampak pada peningkatan pertumbuhan kredit.

Selain itu, menurut Andry Asmoro, penurunan suku bunga BI 7-DRRR sebesar 100 bps sepanjang tahun ini dari 6% menjadi 5% akan memperbesar selisih suku bunga kredit dan dana pihak ketiga (DPK). Dalam kondisi itu, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tetap terjaga dalam level yang profitable meski trennya cenderung turun.

“Profitabilitas naiklah, kami optimistis akan membaik pada 2020. Kalau NIM memang tren secara umum ekspektasinya bisa turun lagi, tapi kami belum hitung dampaknya ke berapa besar penurunannya,” kata Andry Asmoro yang akrab disapa Asmo, di Jakarta, Kamis (19/12).

Asmo menjelaskan, NIM akan menurun karena tren suku bunga kredit perbankan semakin turun tahun depan. Hal tersebut akan membuat pertumbuhan kredit perbankan diprediksi sebesar 9-10% secara tahunan (year on year/yoy) tahun depan.

Dia mengungkapkan, bank-bank besar di dalam negeri pada September 2019 masih mencatatkan kinerja yang cukup baik dan sesuai ekspektasi pasar. Empat bank terbesar, yaitu Bank Mandiri, BRI, BCA, dan BNI) pada kuartal III-2019 mencatatkan rata-rata pertumbuhan laba bersih sebesar 9,0% (yoy), lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2019 yang sebesar 3,9% (yoy).

“Beberapa faktor yang dapat menopang kinerja adalah ekspansi bisnis yang masih cukup baik, kualitas aset yang masih terjaga, stabilnya pertumbuhan pendapatan operasional, serta perbaikan efisiensi kegiatan operasional perbankan, terutama efisiensi biaya tenaga kerja, biaya umum, dan administrasi,” papar dia.

Asmo menambahkan, kinerja laba bank-bank besar sepanjang tahun ini juga masih cukup baik di tengah besarnya tantangan yang harus dihadapi, yaitu ketidakpastian global dan harga komoditas yang stagnan.

Menurut dia, industri perbankan harus lebih jeli melihat potensi sumber- sumber baru pertumbuhan kredit yang memiliki prospek baik. Sektor- sektor dimaksud terutama sektor berorientasi domestik, seperti fast moving consumer goods (FMCG), layanan kesehatan, dan sektor-sektor yang berkaitan dengan pembangunan infrastruktur.

“Kalau sektor yang perlu hati-hati itu lebih ke commodity base, terutama mining base,” tutur Asmo.

Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn
Head of Industry and Regional Research Department Office of Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani. Foto: id.linkedIn

Head of Industry and Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani mengemukakan, perbankan masih perlu hati-hati pada sektor yang berkaitan dengan komoditas. Soalnya, harga komoditas masih fluktuatif dan sulit diprediksi.

“Prinsip kehati-hatian ini diimplementasikan dengan menyaring perusahaan- perusahaan yang bisa survive menghadapi siklus komoditas. Kami melihat skenario terburuk apakah kalau terjadi dia survive, karena kalau pemain baru akan susah,” tandas Dendi.

Di sisi lain, kata Dendi Ramdani, bank juga harus menerapkan fungsi manajemen risiko yang baik untuk menjaga kualitas aset, sehingga kredit bermasalah (non performing loan/ NPL) tetap terjaga rendah. Kecuali itu, bank harus terus meningkatkan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi global.

Perkembangan sektor perbankan secara umum, menurut Dendi, tercermin pada berbagai indikator perbankan yang cukup solid sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang masih terjaga. CAR perbankan masih 23,3%, lebih tinggi dibandingkan posisi akhir 2018 sebesar 23,0%.

Asmo menambahkan, BI 7-DRRR sampai November 2019 tercatat turun empat kali secara berturut-turut dari Juli-Oktober 2019, atau menurun sebesar 100 bps sepanjang tahun menjadi 5,00%. Pelonggaran kebijakan moneter tersebut diambil sebagai langkah BI mendorong momentum pertumbuhan domestik di tengah perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia.

“Kami melihat masih ada ruang bagi BI untuk melanjutkan kebijakan moneter yang akomodatif dengan memangkas BI 7-DRRR satu kali lagi sebesar 25 bps menjadi 4,75% pada 2020,” ujar Asmo.

Outlook 2020

Andry Asmoro, Chief Economist Bank Manriri. Sumber: BSTV
Andry Asmoro, Chief Economist Bank Manriri. Sumber: BSTV

Andry Asmoro memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2020 tumbuh 5,14%, ditopang pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang tetap terjaga dan pertumbuhan investasi (pembentukan modal tetap bruto/PMTB). Investasi, kata Asmo, akan membaik seiring berakhirnya tahun politik dan telah dirumuskannya paket peningkatan daya saing dan iklim investasi, seperti undang-undang omnibus law.

“Perang dagang antara AS dan Tiongkok, yang kemudian berdampak pada penurunan harga komoditas masih menjadi faktor risiko bagi ekonomi Indonesia tahun depan,” ucap dia.

Asmo juga memperkirakan laju inflasi mencapai 3,41% pada 2019, dan 3,54% pada 2020. Sedangkan nilai tukar rupiah akan berada di level Rp 14.248 per dolar AS pada akhir 2019 dan Rp 14.296 pada 2020. Defisit neraca transaksi berjalan (current account deficit/CAD) akan sedikit melebar akibat meningkatnya aktivitas kegiatan ekonomi pada sektor riil dan investasi.

“Nilai tukar rupiah diprediksi sedikit terdepresiasi. Necara transaksi berjalan mengalami defisit sebesar 2,60% pada 2019 dan 2,88 pada 2020,” tutur Asmo.

Sesuai Prediksi

Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube
Direktur Utama PT Bank Mayapada International Hariyono Tjahjarijadi. Foto: youtube

Secara terpisah, Direktur Utama PT Bank Mayapada Internasional Tbk Hariyono Tjahjarijadi mengatakan, langkah BI mempertahankan BI 7-DRRR di level 5% dalam rapat dewan gubernur (RDG), Kamis (19/12), sudah sesuai prediksi. Namun, transmisi penurunan suku bunga kredit akan tergantung perkembangan bunga di pasar.

“Masih perlu diperhatikan perkembangan suku bunga di pasar akhir tahun ini dan tahun depan pergerakannya seperti apa. Juga pertumbuhan sektor riilnya,” ujar dia.

Tahun depan, Hariyono menargetkan pertumbuhan kredit konservatif, yakni single digit. Alasannya, kondisi ekonomi, baik global maupun domestic tahun depan masih menantang.

Di sisi lain, Direktur Utama PT Bank Victoria International Tbk Ahmad Fajar mengungkapkan, Bank Victoria sudah menurunkan suku bunga kredit hampir sama dengan penurunan bunga acuan BI, yakni sebanyak 100 bps. Tahun depan masih ada ruang untuk menurunkan bunga kredit kembali.

Obligasi Bank Victoria
Customer service melayani nasabah di konter PT Bank Victoria International Tbk, Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

“Tahun ini kami sudah turunkan bunga kredit hampir sama dengan BI 7-DRRR 100 bps, yang turun itu di komersial. Kalau tidak turun, nanti nasabahnya pindah bank,” ucap Fajar.

Dia menambahkan, tahun depan masih ada potensi penurunan suku bunga kredit lagi. “Tapi kami masih harus melihat bunga di pasar lebih dulu,” tandas dia.

Bank Victoria memasang target pertumbuhan kredit tahun depan lebih tinggi dibandingkan tahun ini, yakni sebesar 10% (yoy), dibandingkan proyeksi sampai akhir Desember 2019 yang masih single digit, sekitar 6% (yoy).

“Tahun depan sekitar 10%. Tahun ini pertumbuhan kredit kami rem sedikit untuk jaga NPL. Target tahun depan lebih tinggi. Dengan kabinet baru, harapannya ekonomi akan membaik. BI juga optimistis 12%,” tegas dia.

Ahmad Fajar menjelaskan, sektor kredit yang masih potensial tahun depan di antaranya perdagangan. “Manufaktur masih perlu hati-hati penyalurannya. Sedangkan kredit properti cenderung melambat, sama dengan industri,” kata dia.

Dia mengungkapan, Bank Victoria memilih tidak menyasar sektor pertambangan dan tekstil. “Kami beralih ke sektor-sektor yang bakal positif. Kami kembangkan potensi ke depan, sekitar dua tahun lagi ke perkebunan,” papar dia.

Sudah Tepat

Shinta Kamdani. Foto: IST
Shinta Kamdani. Foto: IST

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Hubungan Internasional Shinta Kamdani mengemukakan, keputusan BI menahan BI 7-DRRR pada pengujung tahun di level 5% sudah tepat.

“Memang di satu sisi punya kebutuhan untuk menurunkan suku bunga agar sektor riil bergerak, namun di sisi lain juga harus mempertimbangkan iklim investasi yang belum banyak berubah,” ujar dia.

Shinta mengakui, dalam kondisi sektor riil yang masih tertekan perlambatan ekonomi, di mana perbankan juga masih berhati-hati menyalurkan kredit, penurunan bunga acuan tidak akan efektif.

Meski demikian, kata dia, BI ke depan perlu menurunkan suku bunga acuan sejalan dengan perbaikan iklim investasi, misalnya ketika undang-undang omnibus law disahkan.

“Dengan begitu, stimulasi kebijakan suku bunga terhadap peningkatan kegiatan ekonomi di sektor riil betul- betul maksimal. Itu akan efektif mendorong pertumbuhan ekonomi,” papar dia.

Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV
Chief Economist Bank BNI Ryan Kiryanto. Sumber: BSTV

Menurut Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto, keputusan BI menahan suku bunga acuan sudah tepat, terutama dengan mempertimbangkan faktor eksternal (global) dan internal (domestik).

Ryan memperkirakan BI ke depan masih terus mengeluarkan kebijakan moneter dan makroprudensial yang diperkuat bauran kebijakan untuk mendorong momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

Menurut Direktur Riset Core Indonesia Piter Abdullah, keputusan BI menahan suku bunga acuan sudah sesuai prediksi ekonom dan pelaku pasar.

Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube
Piter Abdullah Redjalam. Foto: youtube

“Langkah BI sudah tepat, sebab BI juga harus memberikan ruang dan waktu bagi perbankan untuk merespons atau mentrasnmisikan kebijakan terdahulu. Apalagi nilai tukar dan inflasi stabil,” papar dia.

Ke depan, kata Piter, masih ada ruang bagi BI untuk menurunkan BI 7-DRRR. “Namun, BI harus memeprtimbangkan dan memberikan waktu agar bank merespons kebijakan yang telah diambil BI,” tandas dia.

RDG BI

Dalam RDG, kemarin, BI memutuskan untuk mempertahankan BI 7-DRRR di level 5%. BI juga mempertahankan suku bunga Deposit Facility dan suku bunga Lending Facility masing- masing sebesar 4,25% dan 5,75%.

Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan, keputusan itu ditempuh BI setelah melihat kondisi perekonomian global dan domestik yang diperkirakan membaik dan akan mengalami pemulihan pada 2020.

“Kebijakan moneter tetap akomodatif dan konsisten dengan perkiraan inflasi yang terkendali dalam kisaran sasaran. Hal itu juga sejalan dengan stabilitas eksternal yang terjaga dan upaya menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah perekonomian global yang melambat,” ujar Perry.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo

Menurut Gubernur BI, strategi operasi moneter yang akan dilakukan bank sentral terus ditujukan untuk menjaga kecukupan likuiditas, khususnya di pergantian tahun, dan mendukung transmisi bauran kebijakan yang akomodatif.

Perr y menambahkan, BI akan mencermati perkembangan ekonomi global dan domestik dalam memanfaatkan ruang bauran kebijakan yang akomodatif. Itu dilakukan guna menjaga tetap terkendalinya inflasi dan stabilitas eksternal, serta turut mendukung momentum pertumbuhan ekonomi.

“Selain itu, koordinasi BI dengan pemerintah maupun otoritas terkait terus diperkuat guna mempertahankan stabilitas ekonomi dan mendorong permintaan domestik. Juga untuk meningkatkan ekspor, pariwisata, dan aliran masuk modal asing, termasuk penanaman modal asing,” tutur dia. (try/th)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA