Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI)

Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI)

2020, AASI Proyeksikan Kontribusi Premi Asuransi Syariah Tumbuh 10%

Minggu, 5 Januari 2020 | 12:06 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) memproyeksikan kontribusi premi industri asuransi syariah (Takaful) tahun 2020 tumbuh 10% secara tahunan (year on year/ yoy). AASI optimistis premi tumbuh lebih baik dibandingkan tahun 2019 seiring dengan situasi dan kondisi ekosistem yang kian mendukung.

"Proyeksi pertumbuhan (premi) tahun 2020 di kisaran 10%," ujar Ketua Umum AASI Ahmad Sya'roni saat dihubungi Investor Daily di Jakarta, akhir pekan lalu.

Dia memaparkan, terdapat tiga pengaruh utama premi bisa tumbuh pada 2020. Pertama adalah pertumbuhan ekonomi pasca tahun politik yang kondusif. Hal itu memberi dampak pada industri untuk makin bertumbuh. Kedua, dukungan pemerintah dalam menggerakkan ekonomi syariah. Ketiga, kesadaran masyarakat dan pelaku usaha terkait kebutuhan serta ketersediaan produk asuransi syariah.

"Industri asuransi syariah ke depan Insya Allah akan tumbuh lebih baik karena kesadaran masyarakat yang makin baik dan kebutuhan produk asuransi syariah bisa dipenuhi oleh asuransi syariah," jelas dia.

Karyawan beraktivitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Foto ilustrasi:  Investor Daily/DAVID
Karyawan beraktivitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai November 2019, kontribusi premi asuransi jiwa syariah tumbuh 4,5% (yoy) sebesar Rp 11,98 triliun. Adapun klaim bruto naik 44,6% (yoy) atau sebesar Rp 8,18 triliun. Dengan klaim penebusan dana belum jatuh tempo mencapai Rp 5,18 triliun atau naik 100,7% (yoy).

Pada periode yang sama, kontribusi premi asuransi umum syariah hanya mampu tumbuh 2,02% (yoy) menjadi sebesar Rp 1,62 triliun. Namun, klaim bruto turun 7,32% (yoy) atau menjadi sebesar Rp 671 miliar.

"Kinerja asuransi syariah per November 2019, Alhamdulillah kontribusi premi masih tumbuh positif ditengah perlambatan ekonomi global. Sebab, segmentasi pasar syariah masih ditopang oleh produk ritel seiring ghiroh (semangat) masyarakat kita akan produk asuransi syariah," ungkap Sya'roni

Di sisi lain, sampai November 2019, laba bersih asuransi jiwa syariah tumbuh 14,53% (yoy) sebesar Rp 2,8 triliun. Nilai itu disokong dari hasil investasi yang meningkat 629% (yoy) menjadi Rp 2,2 triliun atau naik dari minus Rp 415 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.

Untuk asuransi umum syariah, laba bersih sampai November 2019 meningkat 28,7% (yoy) menjadi sebesar Rp 426 miliar. Juga ditopang dari hasil investasi yang tumbuh sebesar 35,1% (yoy) menjadi Rp 231 miliar atau naik dari Rp 171 miliar pada November 2018.

Sya'roni menjelaskan, laba industri asuransi jiwa syariah bisa tumbuh luar biasa karena disokong oleh rebound investasi yang pernah terpuruk tahun 2018. "Investasi untuk asuransi jiwa pada umumnya jangka panjang dan instrumen yang banyak adalah saham. Seiring dengan menguatnya saham, maka hasil nilai investasi juga terdongkrak naik. Hal ini berbeda dengan asuransi umum yang umumnya bisnisnya sort term," terang dia.

Kurang Inovasi

Dihubungi terpisah, Direktur Pengembangan Ekonomi dan Industri Halal Komite Nasional Keuangan Syariah (KNKS) Afdhal Aliasar menilai, peranan asuransi syariah atau takaful dalam pembangunan ekosistem syariah sangatlah penting. Namun, industri tersebut masih tertinggal dalam hal inovasi, khususnya pada varian produk.

"Imbauan yang pernah kami sampaikan pada saat bertemu dengan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) adalah perkuat inovasi, lahirkan produk baru, garap potensi pasar yang selama ini terabaikan dan jangan terjebak hanya jualan produk-produk asuransi syariah atau takaful yang ituitu aja (unit-link), perluas jangkauan dengan digitalisasi," papar dia.

Sebab, kata Afdhal, banyak kolaborasi yang bisa dihasilkan asuransi syariah dengan industri halal. Apalagi saat ini marak marketplace dengan berbagai produk digital. Diharapkan industri syariah mampu masuk dan bermain disegmen itu.

"Misalnya belanja online, pengiriman barangnya kemudian ditanya, apakah mau ditambahkan asuransi untuk pengiriman? Tidak ada pilihan yang syariahnya? Misal lagi, kita belanja barang yang cukup mahal, elektronik misalnya, pihak toko menanyakan apakah masa warranty ingin diperpanjang? Tidak ada juga asuransi syariah yang bermain di sini? dan banyak lagi," terang Afdhal.

Dia mengemukakan, pelayanan proteksi bagi jemaah haji dan umrah juga memiliki banyak potensi untuk digarap. Ini ai antaranya proteksi kecelakaan selama perjalanan, proteksi perawatan jika sakit, proteksi transportasi penerbangan, dan pengiriman barang. Lalu kejadian-kejadian yang tidak diinginkan seperti kehilangan atau kerusakan barang, ketinggalan rombongan, hingga jamaah yang tersesat pun bisa digarap.

Selain lini pelayanan haji dan umrah, transaksi ekonomi bisnis terkini juga bisa dirambah industri asuransi syariah. Sebut saja proteksi bagi pengemudi online hingga pengiriman barang e-commerce. Belum lagi terkait pelayanan pendidikan, ekosistem perdagangan lintas pulau dan lintas benua.

"Saat ini produk takaful atau asuransi syariah masih tidak jauh dari unit link syariah. Perlu kami dorong agar industri lebih kreatif dan berinovasi dalam menggarap pasar yang masih sangat besar ini," kata Afdhal.

Afdhal menerangkan, terdapat beberapa pelaku usaha asuransi syariah yang kemudian ingin bekontribusi lebih pada proteksi industri halal, setelah adanya imbauan dari KNKS. Sejumlah pelaku usaha itu pun mulai melakukan komunikasi dengan KNKS guna meminta pendapat mengenai berbagai hal terkait kebutuhan ekosistem syariah. Akhirnya, beberapa produk asuransi syariah dari sejumlah pelaku usaha diklaim tengah diasiapkan.

Di samping itu, dengan adanya beberapa pertemuan dengan pihak pelaku usaha, KNKS pun menyimpukan permasalaan utama asuransi syariah adalah belum bisa beriovasi dengan baik.

Beberapa asumsi pun turut lahir seperti sumber daya manusia (SDM) yang kurang mumpuni, dukungan perusahaan induk yang belum kuat, sekaligus literasi yang masih rendah masyarakat.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN