Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno. Foto: dok. Majalah Investor

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno. Foto: dok. Majalah Investor

Kebijakan Relaksasi Topang NPF Multifinance di Level Aman

Sabtu, 9 Mei 2020 | 22:57 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id – Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) menilai rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/ NPF) perusahaan pembiayaan (multifinance) periode Maret atau April 2020 tidak terlalu terganggu di tengah pandemi Covid-19. Sebab, salah satu faktor penopang adalah kebijakan relaksasi dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Ketua Umum APPI Suwandi Wiratno mengatakan, multifinance merupakan industri yang sehat. Secara umum posisi NPF multifinance masih bisa dijaga pada kisaran 3%. Pada akhir tahun lalu, NPF berhasil ditekan di posisi 2,40%. Posisi tersebut memangterpantau sedikit meningkat pada awal tahun namun masih pada posisi yang wajar.

"NPF sekarang pada Maret-April itu tidak begitu terlihat ada gangguan, dan OJK memberikan relaksasi juga kepada perusahaan pembiayaan. Kalau debitur resmi di restrukturisasi sesuai aturan, debitur itu dikatakan lancar," kata Suwandi melalui diskusi virtual, Kamis (7/4).

Secara terpisah, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B OJK Bambang W Budiawan menyatakan, sejumlah rasio keuangan multifinance memang mengalami pelemahan. Tetapi secara nominal, pelemahan sampai Maret 2020 itu tidak tampak begitu besar.

"ROA (return of asset) 5%, ROE (return of equity) 15%, NPF gross 3%, dan NPF net sebesar 1%. Besaran-besaran lain declining tidak besar. Tetapi menjadi tantangan pada kuartal II, III, dan IV," kata dia kepada Investor Daily, beberapa waktu lalu.

Lebih lanjut, Suwandi menyampaikan, tingkat gagal bayar di multifinance memang menjadi tantangan sendiri dalam mengahdapi pandemi Covid-19. Namun, dia meyakini, dampak lebih dalam bisa dikendalikan dengan adanya kerja sama berbagai pihak.

Dia menerangkan, sebetulnya banyak dari para debitur multifinance yang melakukan inovasi dalam menghadapi pandemi Covid-19. Pendekatan inovasi tersebut perlu dilakukan untuk mencari sumber pendapatan lain, apalagi sumber pendapatan utama dipastikan terpangkas habis. Dengan pendekatan itu, debitur pun mendapat kepercayaan lebih untuk meraih persetujuan restrukrisasi pembiayaan.

Suwandi mengilustrasikan, salah satu debitur multifinance mengaku bahwa pendapatannya terpangkas habis akibat penyebaran Covid-19 dan sederet kebijakan pemerintah pada masa pandemi.

Kemudian, pengusaha bus wisata di Bali itu menjual separuh dari 80 busnya demi melancarkan arus kas. Pendapatan dari penjualan bus itu dilaihkan untuk usaha lain masih berpotensi mendatangkan penghasilan saat ini dan di masa depan.

Dia mengatakan, dengan komunikasi debitur dan kreditur yang berjalan dengan baik, maka pemberian relaksasi bisa bisa disetujui dan tepat sasaran. Selain debitur bisa terbantu dalam melancarkan arus kasnya, begi multifinace juga perlu selektif supaya bisa bertahan setelah pandemi Covid-19 ini berakhir.

Suwandi mengemukakan, saat ini bahkan banyak dari multifinance yang berhenti untuk menyalurkan pembiayaaan, akibat dari kebijakan sejumlah mitra dealer menutup sementara usahanya.

Hal itu diperparah bahwa sumber dana dari perbankan sulit diraih, karena pada saat yang sama perbankan pun turut menjaga likuiditasnya. Kondisi tersebut memaksa multifinance fokus memberikan restrukturiasi dan turut menjaga likuiditas.

Oleh sebab itu, sambung dia, masyarakat yang masih mampu membayarkan angsuran untuk tidak memanfaatakan situasi dan tetap membayarkan kewajiban. Selanjutnya, debitur yang membutuhkan relaksasi juga mesti memahami berbagai model restrukturisasi yang tersedia, baik itu berupa diskon bunga, perpanjangan tenor, atau penundaan angsuran.

Suwandi memaparkan, debitur diharapkan mengerti bahwa tidak semua multifinance mampu untuk memberikan relaksasi berupa penundaan angsuran.

"Setiap debitur kan kondisinya berbeda, maka penanganananya berbeda. Begitu juga perusahaan pembiayaan, ada yang mampu memberikan penundaan angsuran, juga ada yang tidak. Likuiditas mereka kan berbeda-beda," jelas dia.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN