Menu
Sign in
@ Contact
Search
Nasabah melakukan transaksi di Anjungan Tunai Mandiri (ATM),  di Jakarta. Foto ilustraasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi di Anjungan Tunai Mandiri (ATM), di Jakarta. Foto ilustraasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Tiga Risiko Perbankan Akibat Pandemi Covid

Sabtu, 26 Sep 2020 | 12:08 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id -  Wakil Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Pahala Nugraha Mansury menjelaskan, dampak pandemi Covid-19 terhadap industri perbankan mengakibatkan tiga risiko, yakni risiko kredit, risiko pasar, dan risiko likuiditas. Risiko kredit terjadi karena ketidakmampuan debitur melunasi kewajibannya, baik bunga maupun pokok kepada bank.

“Yang dikhawatirkan adalah ketika periode restrukturisasi berakhir. Bagaimana kemampuan debitur dalam memenuhi kewajiban pokok dan bunga terhadap risiko kredit setelah restrukturisasi berakhir,” tutur dia dalam webinar Perbanas Institute di Jakarta, Jumat (25/9).

Pahala mengemukakan, penurunan permintaan pinjaman di bank turut meningkatkan risiko kredit perbankan. Soalnya, pertumbuhan kredit mengalami perlambatan sehingga secara persentase akan meningkat.

Pahala Mansyuri. Foto: IST
Pahala Mansyuri. Foto: IST

“Pada awal Januari-Februari- Maret, kredit masih tumbuh 6-7%, lalu pada Juli 1% karena demand lambat. Kebutuhan modal kerja menurun, apalagi kebutuhan investasi juga berkurang,” kata dia.

Advertisement

Mengenai risiko likuiditas, Pahala Mansury mengatakan, saat ini dana pihak ketiga (DPK) perbankan melimpah, sehingga belum terasa dampaknya terhadap likuiditas, apalagi permintaan kredit menurun. Hal itu membuat likuiditas bank sangat longgar. Namun dikhawatirkan terjadi segmentasi dana masyarakat yang hanya berada di bank-bank besar.

“Yang terjadi adalah segmentasi pasar. Bank yang berisiko kecil akan lebih banyak memperoleh likuiditas. Sebaliknya, bank berisiko besar akan kesulitan mendapatkan likuiditas. Tapi lewat kebijakan moneter, khususnya pelonggaran suku bunga, likuiditas saat ini cukup memadai,” papar dia.

Lebih Baik dari 1998

Pahala yang juga Direktur Utama PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN), mengungkapkan, industri perbankan saat ini jauh lebih kuat dibandingkan krisis 1998. Itu tercermin pada rasio keuangan perbankan yang lebih bagus meskipun ekonomi melambat.

“Beberapa rasio terjaga baik, CAR terus berada di 19-22%. Rasio likuiditas juga bagus. Pada 1998 kan bank belum disiplin sebaik sekarang. Meskipun makro luar biasa tertekan, karena starting point baik, NPL masih di bawah 4%. Kami harap kalau krisis terjadi sampai 2021, insya Allah bank aman,” tegas Pahala.

Meski demikian, menurut Pahala Mansury, hal itu juga perlu didukung kepastian pengadaan vaksin. Jika pada akhir 2020 vaksi anti-Covid bisa segera didapatkan, kemudian vaksin itu diproduksi dan didistribusikan secara massal, ekonomi diharap kan kembali pulih.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com