Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Allianz Life Indonesia Karin Zulkarnaen (kanan bawah), Peneliti Senior dan Ekonom di Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero (kiri bawah), dan  Pemimpin Redaksi Detik.com Alfito Deannova Gintings (kanan atas), dalam acara Virtual Media Discussion How Insurance & Media Face Covid-19 Challenges, Senin (14/12/2020). Pada acara ini Allianz Indonesia juga mengumumkan pemenang Allianz Journalist Writing Competitions 2020. (ist)

Direktur Allianz Life Indonesia Karin Zulkarnaen (kanan bawah), Peneliti Senior dan Ekonom di Bursa Efek Indonesia Poltak Hotradero (kiri bawah), dan Pemimpin Redaksi Detik.com Alfito Deannova Gintings (kanan atas), dalam acara Virtual Media Discussion How Insurance & Media Face Covid-19 Challenges, Senin (14/12/2020). Pada acara ini Allianz Indonesia juga mengumumkan pemenang Allianz Journalist Writing Competitions 2020. (ist)

Digitalisasi Dukung Pertumbuhan Bisnis Asuransi 2021

Senin, 14 Desember 2020 | 21:58 WIB
Thomas E Harefa (thomas@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kinerja industri asuransi di Tanah Air diproyeksikan pulih pada 2021 seiring dengan membaiknya pertumbuhan ekonomi. Berkaitan itu, ada empat hal yang mendukung pertumbuhan bisnis asuransi tahun depan, salah satunya penerapan digitalisasi.

Hal itu dikemukakan peneliti senior sekaligus ekonom PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Poltak Hotradero pada virtual media discussion dengan tema How Insurance and Media Face Covid-19 Challenges yang diselenggarakan Allianz Life Indonesia secara daring, Senin (14/12/2020). Menurut dia, empat hal pendukung pertumbuhan industri asuransi tersebut berdasarkan laporan perusahaan konsultan manajemen Amerika Oliver Wyman, yakni perubahan demograsi, perubahan pola konsumsi masyarakat yang menginginkan lebih dari yang mereka bayarkan dalam berasuransi, adopsi digital, dan pengembangan teknologi.

“Kesehatan menjadi hal yang mahal. Ini pembelajaran yang diperoleh pada masa pandemi Covid-19. Asuransi pun dianggap sebagai jaring pengaman, dan pandemi membuktikan bahwa perlindungan asuransi diperlukan, karena biaya kesehatan itu sangat tinggi,” kata dia.

Menurut Poltak, penggunaan teknologi digital bagi perusahaan asuransi akan melahirkan kemampuan mengolah data-data yang dibutuhkan, sehingga perusahaan asuransi yang semakin mengerti kebutuhan konsumen akan menjadi pilihan utama. Paradigma asuransi akan lebih spesifik kepada kebutuhan pengguna.

Contoh adopsi digital di bidang asuransi, saat ini 79% konsumen terbuka menggunakan internet untuk menjangkau asuransi, 69% pembelian akan dilakukan melalui kanal-kanal digital, 35% kosumen terbuka membayar melalui platform seperti Amazon atau Lazada, dan 34% melalui super apps seperi Grab atau WeChat. Dengan demikian, mau tidak mau, asuransi yang memanfaatkan digital akan menjadi terdepan di industri asuransi.

“Pada 2021 akan ada banyak perbaikan, aktivitas ekonomi mulai dengan kenormalan baru, dan kekhawatiran kita akan semakin berkurang karena adanya vaksin. Berdasarkan data WHO ada 120 institusi di dunia yang sudah membiayai pembuatan vaksin,” kata dia.

Pada kesempatan itu, Direktur Allianz Life Indonesia Karin Zulkarnaen mengatakan, Allianz Life Indonesia mencatatkan premi bruto sebesar Rp 11,7 triliun pada kuartal III-2020 atau tumbuh 27% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Selama 9 bulan terakhir ini, kata dia, pandemi Covid-19 di Indonesia menjadi tantangan. Di sisi lain, awareness masyarakat terhadap proteksi asuransi juga semakin meningkat, dan produk-produk Allianz Indonesia sudah mengkover risiko akibat pandemi termasuk Covid-19. Sampai dengan awal Desember ini, Allianz Life telah membayarkan klaim Covid-19 sebesar Rp 115 miliar.

“Sampai kuartal III-2020 tren industri rata-rata preminya menurun, namun pendapatan premi bruto Allianz Life masih bisa tumbuh 27%,” kata dia.

Karin menjelaskan, pertumbuhan premi tersebut antara lain ditopang oleh gencarnya Allianz Life melakukan sesi-sesi edukasi kepada nasabah dan calon nasabah, karena fokus saat ini adalah soal kesehatan dan kesehatan finansial.

Berdasarkan riset, sekitar 25% dari responden khawatir soal kondisi kesehatan pada masa pandemi karena biaya-biaya kesehatan meningkat. Lalu, 35% responden ingin menambah asuransi kesehatannya, dan 88,6% mencari tahu apakah polis asuransinya.

Pihaknya juga mendukung kegiatan agen dengan mengoptimalkan kanal-kanal digital karena regulator juga memberikan dukungan regulasi. “Timing-nya sangat pas, kami menjadi salah satu perusahaan asuransi pertama yang mengasuransikan calon-calon nasabah dengan fasilitas digital. Itu juga membantu agen dalam mengembangkan bisnisnya,” kata dia.

Tahun depan, tambah Karin, Allianz Life menyiapkan beberapa strategi dengan tetap melanjutkan beberapa model bisnis yang sudah pernah diterapkan pada 2020, seperti menambah experience untuk nasabah, distributor, hingga seluruh karyawan Allianz.

Editor : Thomas Harefa (thomas@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN