Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019).  Foto: B1-Ruth Semiono

Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno memberikan sambutan pada acara Pertemuan Anggota dan Apresiasi APPI 2019 di Jakarta, Rabu (6/11/2019). Foto: B1-Ruth Semiono

2020, Multifinance Berhasil Tekan NPF di Posisi 4,01%

Selasa, 2 Februari 2021 | 04:29 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri perusahaan pembiayaan (multifinance) berhasil menekan rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF) di posisi 4,01% di akhir 2020. Posisi tersebut akan terus membaik seiring dengan penilaian debitur yang lebih terukur dan bertumbuhnya piutang pembiayaan.

Mengacu pada statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK), NPF multifinance memang bergerak naik sejak Januari 2020 menjadi 2,56%. Posisi itu terus merambat naik hingga klimaksnya pada Juli 2020 sebesar 5,60%. Pandemi Covid-19 yang memukul ekonomi debitur multifinance menjadi faktor utamanya.

Memasuki Agustus 2020, kebijakan otoritas dan pemerintah melonggarkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB), serta berbagai pendekatan multifinance berhasil meredupkan lonjakan NPF. Mulai sejak itu NPF tercatat menurun secara konsisten hingga Desember 2020 menjadi sebesar 4,01%.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyampaikan, menguatnya NPF multifinance menjadi hal menarik saat realisasi piutang pembiayaan terkontraksi dalam. Padahal bisa saja rasio NPF terkerek karena portofolio pembiayaan bermasalah meningkat sedangkan total pembiayaan kian tergerus.

"Kenapa? Karena juga ada satu hal yang bisa kita korelasikan, sejak April 2019 kan anggota perusahaan pembiayaan wajib menjadi anggota SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan). Nah jadi sejak April 2019, menurut saya, kualitas-kualitas booking-an sudah lebih baik dibandingkan periode sebelumnya," kata Suwandi saat dihubungi Investor Daily, Senin (1/2).

Dia menerangkan, pembiayaan yang dimulai pada 3-4 tahun lalu atau yang kini menjelang akhir masa kontrak seharusnya memiliki performa yang baik, karena portofolio yang buruk sudah tersisih di masa lalu. Sedangkan kontrak pembiayaan pada 1-2 tahun lalu pasti memiliki performa jauh lebih baik lantaran telah terdeteksi di awal pengajuan melalui SLIK.

"Sekarang dan 1-2 tahun ke depan seharusnya NPF lebih baik. Konsep pembiayaan besar untuk menekan NPF kini sudah tidak berlaku lagi. Karena nyatanya, NPF terhitung terjaga baik meskipun ada pandemi Covid-19. Setidaknya secara konsisten perbaikan terlihat," ungkap dia.

Adapun kebijakan restrukturisasi pembiayaan dari regulator tentu memiliki peran tersendiri. Sebab, pembiayaan sebesar Rp 189,96 triliun atas sekitar 5 juta kontrak. Nilai itu mencakup 51,37% dari total piutang pembiayaan di akhir 2020 sebesar Rp 369,75 triliun, turun 18,23% (yoy).

Dalam ketentuannya, pembiayaan yang direstrukturisasi tidak dicaatatkan sebagai NPF.

Terlepas dari relaksasi yang diberikan regulator, kehadiran SLIK dan upaya mitigasi dari multifinance menunjukkan dampak tersendiri. Pada catatan rekening piutang pembiayaan hapus buku misalnya, lini tersebut turun tipis 0,54% (yoy) dari Rp 22,08 triliun di 2019 menjadi 21,96 triliun.

"Data hapus buku juga lebih baik, banyak yang tidak perlu dihapus karena portofolionya bagus," ujar Suwandi.

Dia pun mengemukakan, sektor penyumbang NPF terbanyak tentu dari portofolio terbesar industri yaitu pembiayaan motor dan mobil. Namun demikian, masing-masing perusahaan punya segmen pembiayaan yang berbeda sehingga kontribusi pembiayaan motor dan mobil terhadap NPF tidak bisa menggambarkan kondisi industri.

Lebih lanjut, Suwandi mengungkapkan, pihaknya berharap NPF bisa membaik setidaknya pada kisaran 3%. Walaupun harus kembali pada posisi 2%, maka piutang pembiayaan mesti didukung kinerja pertumbuhan piutang pembiayaan. Tapi tampaknya NPF industri multifinance masih akan sulit diraih pada kisaran 2% karena pembiayaan belum bisa melaju kencang di tahun ini.

"Tahun ini pembiayaan proyeksinya naik 5% dibandingkan tahun lalu. Karena kita juga mesti tahu bahwa pendemi Covid-19 belum benar-benar pulih. Pergerakan atau aktivitas orang belum sepenuhnya berjalan. Mudah-mudahan membaik walaupun secara perlahan," terang dia.

Upaya Perbaikan

PT Mandiri Tunas Finance (MTF). Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim
PT Mandiri Tunas Finance (MTF). Foto: Beritasatu Photo / Uthan A Rachim


Di sisi lain, Harjanto Tjitohardjojo Direktur PT Mandiri Tunas Finance (MTF) mengatakan, pembiayaan perseroan ditutup sebesar Rp 16,7 triliun di 2020 dengan NPF yang terus memabaik di level 0,81%. Di 2021, perseroan membidik penyaluran pembiayaan mencapai Rp 20 triliun dengan NPF dijaga pada posisi 0,8%.

Perseroan terus mengupayakan NPF bisa dijaga baik seiring dengan menggenjot bisnis lebih baik di tahun ini.

Harjanto menuturkan, salah satu upaya yang telah dilakukan adalah menjaga kualitas pembiayaan melalui verifikasi segmen debitur yang tidak terlalu terdampak pandemi Covid-19. Hal itu berhasil diterapkan dengan rasio NPF yang terjaga baik. Hal serupa terjadi pada portofolio pembiayaan yang direstrukturisasi.

"Restrukturisasi atas Covid-19 di 2020, sebesar 90% telah membayar kembali angsurannya, 10% ada yang diakuisisi kendaraan. Ada juga yang diberikan restrukturisasi khusus dengan persyaratan yang harus dipenuhi. Seperti prospect bisnis, koordinatif konsumennya, dan melampirkan laporan keuangan," kata Harjanto.

Selanjutnya, sambung dia, kualitas pembiayaan juga coba dijaga dengan menawarkan pelunasan khusus bagi debitur yang kontraknya segera berakhir. Kemudian, memonitor debitur dengan ketat melalui saluran-saluran yang telah disiapkan. Serta turut melakukan sosialisasi mengenai kemudahan pembayaran angsuran melalui sejumlah kanal.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN