Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Karyawan berkativitas di Call Center Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di Jakarta

Kredit BPD Tumbuh 5,62% di 2020

Jumat, 19 Februari 2021 | 04:30 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Bank Pembangunan Daerah (BPD) membukukan pertumbuhan penyaluran kredit sebesar 5,62% secara year on year (yoy) menjadi Rp 484,91 triliun di tahun 2020. Kendati ikut diterpa pandemi, sebagian besar kinerja keuangan BPD relatif tumbuh baik.

Senior Executive Analyst OJK Roberto Akyuwen menyampaikan, kredit perbankan nasional melambat 2,41% (yoy) menjadi Rp 5.482 triliun di akhir 2020. Perlambatan kinerja itu berbanding terbalik dengan pencapaian BPD.

"Di antara ratusan bank umum yang mengalami penurunan kinerja, ternyata 26 BPD, sebaliknya kecuali NPL yang meningkat tipis. Semua indikator keuangan mengalami peningkatan yang cukup tinggi. Kalau bank umum kinerja minus sekitar 2%, BPD ini kreditnya tumbuh 5,62%," kata Roberto pada webinar, Kamis (18/2).

Statistik OJK tahun 2020 pun memaparkan, kredit BPD didominasi penyaluran kepada non UMKM sebesar Rp 411,8 triliun atau mencakup 84,93% dari total kredit. Penyaluran pada sektor tersebut didominasi kredit konsumsi yang tumbuh 6,24% (yoy). Kredit konsumtif BPD berdasarkan sektor ekonomi didominasi oleh bukan lapangan usaha seperti rumah tangga (50,92%) dan bukan lapangan usaha lainnya (26.81%).

Sedangkan kredit kepada UMKM sebesar Rp 73,1 triliun atau mencakup Rp 15,07 triliun. Kredit produktif itu didominasi sektor ekonomi perdagangan besar dan eceran mencakup 9,61%, konstruksi sebesar 8,38%, dan industri pengolahan sebesar 4,28%.

Rapor merah BPD hanya dicatatkan dari pos kredit bermasalah (non performing loan/NPL) yang meningkat 13 basis poin (bps) menjadi 2,73%. Turut dicatatkan bahwa nominal NPL turun 1,43% menjadi Rp 13,23 triliun.

Di samping itu, total aset BPD di tahun 2020 dibukukan meningkat 6,84% (yoy) menjadi Rp 757,79 triliun. Total dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 11,65% (yoy) menjadi Rp 588,02 triliun. BPD juga berhasil meraup laba bersih mencapai Rp 13,15 triliun atau naik 7,90% (yoy).

Dari rasio keuangan di akhir 2020, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) BPD di level 21,88%. Loan to deposit ratio (LDR) turun di level 82,46%. Sedangkan tingkat pengembalian atas aset (return on asset/ROA) cenderung terkoreksi menjadi 2,01%.

Data juga menerangkan realisasi restrukturisasi BPD per Januari 2021. Tercatat total outstanding restrukturisasi sebesar Rp 28,76 triliun terhadap 83,92 ribu debitur. Dengan rincian, terdapat 60,29 ribu debitur UMKM dengan outstanding pinjaman sebesar Rp 12,34 triliun. Kemudian ada 23,63 ribu debitur non UMKM dengan outstanding pinjaman sebesar Rp 16,42 triliun.

Terdapat 21 BPD yang ikut berkontribusi dalam rangka mendukung program pemulihan ekonomi nasional (PEN). Hingga 25 Januari 2021, dari alokasi dana PEN sebesar Rp 16,25 triliun, BPD berhasil merealisasikan lebih dari dua kali lipat atau mencapai Rp 41,20 triliun.

Digitalisasi
Roberto menerangkan, kini perbankan, termasuk BPD sudah menyadari bahwa digitalisasi merupakan pendekatan wajib untuk memastikan keberlangsungan bisnis. Setidaknya ada tiga kunci cerdas bagi bank menjalankan strategi digitalisasi.

Pertama, kata dia, adaptasi atau penyesuaian. Kedua, harus berani atau mau melakukan inisiatif, karena kalau hanya menunggu akan tertinggal dengan dinamika yang terjadi sekarang. Apalagi menunggu karena merasa terbebani dengan situasi setelah pandemi meluas, harus mampu segera melakukan inisiatif-inisiatif. Ketiga, dengan cerdas berkolaborasi.

"Bank besar sekalipun, itu tidak bisa melakukan semuanya sendiri. Tentu banyak dilakukan dan dikembangkan sendiri tapi banyak hal lain yang dilakukan terutama terkait mencari pendapatan non bunga yang bisa dilakukan dengan kolaborasi. Nah dengan adaptasi, inisiatif, dan kolaborasi yang cerdas ini pengembangan produk dan layanan bisa maksimal dalam menyongsong ke normal baru," papar Roberto.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN