Menu
Sign in
@ Contact
Search
Presiden Direktur FINMAS Peter Lydian (kanan) berbincang dengan Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah.   (Foto: Investor Daily/David Gita Roza)

Presiden Direktur FINMAS Peter Lydian (kanan) berbincang dengan Ketua Harian Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) Kuseryansyah. (Foto: Investor Daily/David Gita Roza)

Fintech Lending Akselerasi Pembiayaan Produktif

Senin, 22 Maret 2021 | 17:53 WIB
Prisma Adrianto (redaksi@investor.id)

JAKARTA, investor.id - Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) optimistis pembiayaan produktif fintech p2p lending bisa diakselerasi melalui beragam produknya. Persoalan akses modal UMKM dan tingkat inklusi keuangan yang relatif rendah menjadi potensi yang bisa digarap fintech lending untuk menggenjot lini pembiayaan produktif.

Tahun lalu, pembiayaan produktif tersebut tumbuh 53% secara tahunan (year on year/yoy), dari Rp 18,36 triliun di 2019 menjadi Rp 28,24 triliun di 2020. Namun demikian, pembiayaan produktif hanya mencakup 37,96% dari total pembiayaan baru fintech lending yang sekitar Rp 76 triliun di 2020.

Direktur Eksekutif AFPI Kuseryansyah menyampaikan, asosiasi terus mendorong fintech lending menjadi solusi pendanaan bagi sektor produktif masyarakat. "Dengan menyasar segmen underservedunderbanked, dan pelaku UMKM, industri fintech lending membuktikan pandemi Covid-19 menjadi momentum untuk terus tumbuh dan berkembang, dalam memberikan layanan keuangan di masyarakat," katanya dalam siaran pers, Senin (22/3).

Dia menilai, fintech lending memiliki pangsa pasar yang luas karena masyarakat underbanked dan underserved serta pelaku UMKM yang menjadi sasaran utama masih sangat besar potensinya. Selain itu, lebih dari 50% penyaluran pendanaan tersebut bisa digunakan terkait untuk kegiatan usaha.

"Kami percaya ke depannya akan semakin banyak produk fintech pendanaan yang fokus untuk mendukung UMKM, seiring dengan pertumbuhan ekosistem dan teknologi yang kian baik. Kami hadir dengan komitmen yang tinggi untuk menunjukkan bahwa akses pendanaan di Indonesia sudah jauh lebih baik, sehingga pelaku UMKM dan masyarakat tinggal pilih saja mana yang paling sesuai dengan kebutuhannya,” kata Kuseryansyah. 

AFPI juga mendorong seluruh penyaluran pembiayaan dapat dilakukan secara prudent dan presisi sesuai dengan ketentuan. Fintech lending, lanjut dia, secara intensif memperkuat hadirnya penyedia layanan pendukung seperti tanda tangan digital, credit scoring, dan layanan penagihan tersertifikasi. Dengan begitu, penyelenggara semakin punya pilihan layanan berkualitas, dan memberikan kenyamanan dan perlindungan sekaligus kepuasan kepada pengguna.

Dominasi UKMK
Dari riset yang dilakukan AFPI, pelaku UMKM online dan offline mendominasi sebagai peminjam fintech lending. Tercatat 70% UMKM online di pembiayaan syariah, klaster produktif sebesar 42% UMKM offline, dan klaster konsumtif sebesar 64,1% UMKM offline.

Riset tersebut juga mencatat produk-produk yang menjadi andalan fintech lending. Di antaranya adalah invoice financingmerchant online/offline financing terkait dengan e-commerceinventory financingagriculture financinglivestock financingfishery financingeducationgroup borrower, dan property financing.

"Sepanjang pandemi, AFPI juga telah mendorong keterlibatan fintech pendanaan dalam beberapa upaya membantu masyarakat dan pelaku usaha untuk tetap bertahan. Ini seperti restrukturisasi pinjaman, penguatan kolaborasi ekosistem dengan lembaga keuangan lainnya, serta melakukan sosialisasi dalam rangka edukasi fintech secara berkelanjutan," tandas Kuseryansyah.

Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank (IKNB) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Riswinandi mengemukakan, permodalan dan likuiditas merupakan masalah klasik bagi pelaku UMKM. Persoalan akses modal UMKM ini juga terkait struktural ekonomi Indonesia lainnya yang masih menjadi kendala, antara lain tingkat inklusi keuangan yang relatif rendah, khususnya di luar Jawa.

“Dari krisis sekarang, fintech lending masih memiliki potensi besar dalam kontribusi untuk perekonomian nasional. Statistik menunjukkan kredit produktif juga mengalami kenaikan dengan pencairan baru pinjaman produktif sekitar Rp 28,24 triliun tahun lalu, sementara tahun 2019 sebesar Rp 18,36 triliun," ujar Riswinandi.

Sementara itu, Kepala Departemen Pengawasan IKNB 2B OJK Bambang W Budiawan mengungkapkan potensi fintech lending dari wilayah luar Jawa. Pihaknya mengharapkan ada peningkatan kualitas pendanaan, tata kelola modal ekuitas, dan sistem penilaian yang andal.

"Hal tersebut merupakan faktor kepercayaan yang penting bagi pemberi pinjaman untuk menjaga kelangsungan fintech lending. Sementara itu, kebutuhan pendanaan di Indonesia sangat besar dan belum sepenuhnya dieksplorasi, terutama pasar di luar Jawa. Selama masa pandemi, Industri fintech mengalami pemulihan yang lebih cepat. Ke depannya penting untuk mendidik masyarakat menggunakan dana secara berkelanjutan, sesuai dengan penggunaan dan persyaratannya," kata dia.

Adapun sampai pengujung 2020, akumulasi pembiayaan fintech lending mencapai sekitar Rp 155,90 triliun. Dari nilai itu, pembiayaan terkait program pemulihan ekonomi nasional (PEN) mencapai Rp 262,6 miliar kepada 48.629 rekening pinjaman. Sedangkan total fintech lending telah merambah sekitar 44 juta rekening penerima pinjaman (borrower) dan sekitar 700 ribu pemberi pinjaman (lenders).

OJK Dukung
Pada kesempatan sama, Deputi Direktur Regulasi, Penelitian, dan Pengembangan Fintech OJK Munawar Kasan menyampaikan, ekosistem digital memainkan peran penting selama pandemi, salah satunya untuk mendukung pengembangan fintech lending. OJK, lanjut dia, mendukung penuh industri fintech lending untuk menjalin kerja sama dengan industri lain, karena kekuatan industri itu terletak pada kolaborasi dan inovasinya.

“OJK memastikan penuh fintech lending mematuhi regulasi dan melindungi nasabah. Perhatian utama kami adalah perlindungan kualitas dari industri ini sendiri,” ucap Munawar.

Sedangkan Juru Bicara AFPI Andi Taufan menambahkan, asosiasi terus berkomitmen meningkatkan penetrasi fintech lending yang merata di Indonesia. Upaya tersebut dengan membangun bisnis yang sustainable, makin profit dan berdampak lebih untuk ekonomi di Indonesia.

"AFPI bersama para penyelenggara fintech pendanaan menjaga komitmennya untuk bersama meningkatkan kualitas industri ke depan, khususnya di masa pandemi. Ini dengan memanfaatkan potensi yang ada dan terus mempertahankan kepercayaan kepada pemberi dana dan peminjam dana, sebagai kunci utama terjadinya penyaluran pembiayaan," tambah Taufan. 

Editor : Ester Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com