Menu
Sign in
@ Contact
Search
Bank Harda. Foto: bankbhi.co.id

Bank Harda. Foto: bankbhi.co.id

Jadi Bank Digital, Bank Harda Rights Issue Rp 749,85 Miliar

Minggu, 16 Mei 2021 | 11:01 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - PT Bank Harda Internasional Tbk makin serius menjadi bank digital. Setelah melakukan perubahan nama hingga pergantian direksi dan komisaris, kini perseroan melakukan rights issue sebesar Rp 749,85 miliar guna memperkuat permodalannya.

Perseroan melakukan Penawaran Umum Terbatas II (PUT II) kepada pemegang saham dalam rangka penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) sebanyak-banyaknya 7.498.501.696 saham atau sebesar 179,20% dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan dengan harga pelaksanaan Rp 100 per saham. Sehingga,  jumlah dana segar yang akan diterima dari aksi korporasi tersebut sebesar Rp 749,85 miliar.

PT Mega Corpora selaku pemegang saham dengan kepemilikan 73,71% akan mengambil bagian seluruh HMETD yang menjadi haknya. Chairul Tanjung (CT) melalui kendaraannya Mega Corpora berencana menguasai 90,50% kepemilikan saham pada Bank Harda yang sekarang menjadi PT Allo Bank Indonesia Tbk.

Dana yang diperoleh perseroan dari hasil PMHMETD setelah dikurangi biaya yang terkait rights issue akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perseroan dalam rangka memenuhi modal minimum bank sebagaimana yang diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.11/POJK.03/2016 tentang penyediaan Modal Minimum Bank Umum dan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan No.12/POJK.03/2020 tentang Konsolidasi Bank Umum.

"Dan untuk mengembangkan kegiatan perseroan sebagai bank digital yang menyediakan produk dan layanan
perbankan digital inovatif terintegrasi dengan ekosistem yang memberikan solusi dan seamless customer experience bagi nasabah serta memberikan nilai tambah yang tinggi kepada seluruh pemangku kepentingan," tulis Manajemen Bank Harda dalam prospektus yang dikutip Minggu (16/5).

Chairul Tanjung melalui Mega Corpora sebagai pembeli siaga (standby buyer) menyatakan menjamin dengan kesanggupan penuh dan bersedia untuk membeli sisa saham baru yang tidak diambil bagian oleh pemegang HMETD pada tanggal penjatahan yaitu 26 Juli 2021 maksimum dengan sebesar Rp 100 per saham.

Dengan ketentuan bahwa apabila jumlah saham tidak seluruhnya diambil bagian oleh pemegang HMETD, baik berdasarkan HMETD yang dimiliki atau berdasarkan pemesanan tambahan, maka Pembeli Siaga wajib untuk membeli seluruh saham yang tidak diambil bagian oleh pemegang HMETD tersebut.

Pada Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) Bank Harda 7 Mei 2021 lalu, disetujui pergantian nama menjadi PT Allo Bank Indonesia Tbk dan perubahan logo.

RUPSLB menyetujui pengangkatan Ali Gunawan sebagai komisaris independen, dan Ronald Waas sebagai Komisaris Utama Independen. Adapun, jajaran Dewan Komisaris dan Direksi saat ini yakni, Komisaris Utama: Ronald Waas; Komisaris Independen: Robertus Sudaryatmo Yosowidagdo; Komisaris Independen: Ali Gunawan. Sementara itu, Dewan Direksi dijabat oleh Harry Abbas sebagai Direktur; Direktur: Arief Tendeas; dan Direktur: Ari Yanuanto Asah.

Sampai dengan akhir 2020, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp 37,01 miliar, meningkat signifikan dibandingkan dengan tahun 2019 yang mengalami rugi Rp 36,55 miliar. Per 31 Desember 2020, kredit yang diberikan Perseroan mengalami penurunan 19,80% menjadi sebesar Rp 1,25 triliun bila dibandingkan dengan posisi per 31 Desember 2019 sebesar Rp 1,55 triliun. Penurunan tersebut terutama disebabkan adanya pelunasan kredit back to back dan penyelesaian kredit bermasalah sepanjang tahun 2020 serta rendahnya pencairan kredit baru oleh dampak pandemi Covid-19.

Sementara itu, rasio keuangan perseroan juga tercatat cukup baik,tercermin dari rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) pada posisi 31 Desember 2020 sebesar 19,61%, naik dari 16,20% pada tahun sebelumnya.

Rasio kredit macet (non performing loan/NPL) gross perseroan di level 2,76% jauh lebih baik dibandingkan tahun 2019 yang tembus 10,16%. Kemudian, margin bunga bersih (net interest margin/NIM) 2,44%, turun dari tahun sebelumnya 4,21%. Return on asset (ROA) 2,04%, lebih tinggi dari -1,87% di tahun 2019. Return on equity (ROE) juga membaik ke level 13,71% dibandingkan tahun sebelumnya -12,83%.

Biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) Bank Harda juga mengalami perbaikan dari 116,84% pada tahun 2019 menjadi 82,23% tahun 2020. Likuiditas perseroan juga masih memadai dengan loan to deposit ratio (LDR) 86,89% pada akhir 2020.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

Baca berita lainnya di GOOGLE NEWS

BAGIKAN
×
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com