Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Multifinance Indikasikan Rebound

Jumat, 11 Juni 2021 | 22:44 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -- Industri perusahaan pembiayaan (multifinance) sedang melaju dalam koridor perbaikan dan mengindikasikan adanya titik balik (rebound). Hal tersebut tercermin dari pertumbuhan bulanan dari piutang pembiayaan, relatif terjaganya rasio pembiayaan bermasalah (non performing financing/NPF), hingga perolehan laba yang lebih baik.

Seiring dengan pencapaian tersebut, multifinance juga didorong untuk melakukan berbagai perbaikan guna menangkap peluang di masa mendatang.

Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menerangkan, piutang pembiayaan secara bulanan sudah menunjukkan tren perbaikan. Tapi perlu diakui realisasi secara tahunan (year on year/yoy) dari piutang pembiayaan masih negatif di kisaran 18-19%.

“Ini suatu indikator positif. Laba industri secara yoy juga di angka minus 22% pada Maret 2021, sebelumnya kita pernah menutup laba di angka minus 60-68% (yoy) di akhir tahun 2020. Jadi angka-angkanya sudah banyak yang positif, tapi pengejaran angka booking tidak bisa cepat,” ujar Suwandi pada acara Zooming with Primus dengan tema ‘Bisnis Multifinance Rebound’ yang ditayangkan langsung Beritasatu TV, Kamis (10/6).

Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Dia menerangkan, kinerja piutang pembiayaan secara tahunan masih sulit untuk tumbuh karena penurunan yang begitu dalam pada tahun 2020. Apalagi banyak dari akun-akun debitur yang lunas pada tahun ini, sedangkan pembiayaan baru belum mampu melesat karena sejumlah faktor seperti daya beli dan stok barang yang belum siap.

Tapi di sisi lain, kata Suwandi, kebijakan pemerintah dengan menggelontorkan insentif Pajak Penjualan Atas Barang Mewah (PPnBM) beberapa waktu belakangan menjadi gairah tersendiri bagi multifinance. Apalagi 60-70% portofolio pembiayaan multifinance bergantung pada realisasi penjualan kendaraan bermotor.

Kebijakan itu dinilai mampu menciptakan permintaan (demand) di masyarakat. Kehadiran insentif itu menjadi kesempatan bagi masyarakat memiliki kendaraan baru. Sebab, menurut dia, masyarakat Indonesia umumnya memiliki tren berganti kendaraan setiap tiga sampai lima tahun, ketika garansi perbaikan kendaraan juga telah berakhir.

Oleh karena itu, pihaknya meyakini sebagian dari dua juta debitur yang membeli kendaraan pada tahun 2016-2017 bakal membeli kendaraan lagi di tahun ini, baikdengan menjual kendaraan lamanya atau menambah kendaraan baru.

“Kalau saja ada setidaknya 30% dari masyarakat yang telah membeli kendaraan pada 2016-2017 itu berpikir untuk mengganti kendaraannya pada 2021, maka akan menjadi kesempatan baik. Dari jumlah itu, setidaknya ada sekitar 600 ribu kendaraan akan sangat mudah terjual. Jadi Gaikindo (Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia) memperkirakan penjualan kendaraan sebanyak 750 ribu itu adalah angka yang realistis,” ucap Suwandi.

Dia mengungkapkan, upaya mengungkit permintaan tidak hanya datang dari pemerintah. Para produsen kendaraan roda empat seperti Daihatsu, Toyota, Suzuki, hingga Mitsubishi juga mencoba menggaet perhatian masyarakat melalui penawaran produk terbaru. AAPI berharap segala kebijakan pemerintah bisa benar-benar menggerakkan sektor riil.

“Jadi kalau untuk mendorong geliat itu sudah terlihat, yang disayangkan itu stok unit yang kurang. Misalnya di pabrik itu ada protokol kesehatan yang membuat produksi tidak maksimal. Belum lagi ada kendala sparepart seperti microchip, itu permasalahan yang tidak hanya di Indonesia tapi juga dunia, khusus untuk kendaraan tertentu. Langkanya microchip ini karena vendor di Jepang mengalami kebakaran, sehingga produksi microchip mengalami gangguan. Jadi ketika ada insentif PPnBM, stok sendiri mengalami keterbatasan,” papar dia.

Fenomena lainnya, sambung Suwandi, ditemukan indikasi bahwa moncernya penjualan kendaraan bermotor roda empat beberapa waktu belakangan lebih banyak dikontribusikan oleh segmen konsumen menengah atas. Pembelian kendaraan juga banyak dilakukan secara tunai atau tidak melalui pembiayaan multifinance.

Sementara itu, masih perlu waktu bagi kelompok masyarakat menengah kebawah memulihkan pendapatannya dan memberikan kontribusi terhadap penjualan kendaraan bermotor.

Indikasi Rebound

Hafid Hadeli, President Director PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Hafid Hadeli, President Director PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Pada kesempatan sama, Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance) Hafid Hadeli mengakui kinerja perseroan dan sejumlah multifinance lain dalam tren yang mengindikasikan pemulihan. Faktor utamanya adalah penjualan kendaraan roda dua dan empat yang juga meningkat setiap bulan, sehingga pembiayaan perseroan pun ikut terkerek naik.

“Kalau melihat pada Januari 2021, dibandingkan pra Covid-19 (di level 50-55%). Kemudian meningkat pada bulan-bulan selanjutnya. Bahkan pada April 2021 sudah hampir mencapai 80%. Dari situ sudah ada peningkatan penjualan,” ujar Hafid.

Dia menerangkan, April 2021 menjadi bulan yang istimewa karena menjadi saat bagi masyarakat menyambut lebaran. Seperti tahun-tahun sebelumnya, produksi pembiayaan multifinance ketika menyambut lebaran memang tercatat baik.Setelah itu pada Mei 2021, rasio pemulihan turun menjadi 70%.

Hafid mengatakan, kinerja pembiayaan Adira Finance seiring dengan realisasi penjualan kendaraan dari data Gaikindo. Apalagi mengingat 80% portofolio pembiayaan perusahaan adalah dari lini bisnis otomotif.

Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance) Hafid Hadeli pada acara Zooming with Primus dengan tema Bisnis Multifinance Rebound di Beritasatu TV, Kamis (10/6). (Prisma Ardianto/Investor Daily)
Direktur Utama PT Adira Dinamika Multi Finance (Adira Finance) Hafid Hadeli pada acara Zooming with Primus dengan tema Bisnis Multifinance Rebound di Beritasatu TV, Kamis (10/6). (Prisma Ardianto/Investor Daily)

Penjualan kendaraan roda empat baru hanya tercatat sekitar 50 ribu unit pada Januari 2021. Sedangkan periode April dan Mei 2021, masing-masing mencatatkan penjualan kendaraan roda empat sebanyak 80 ribu unit. Kendati demikian, sambung dia, geliat berbaikan juga terjadi pada pembiayaan kendaraan roda dua. Tapi pemulihannya lebih lambat karena pendapatan segmen menengah ke bawah yang banyak memanfaatkan kendaraannya sebagai barang usaha belum sepenuhnya pulih.

“Selain pembiayaan mobil, pembiayaan motor di Adira Finance saat ini sudah mulai meningkat,” imbuh dia.

Di sisi lain, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank (IKNB) 2B Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bambang W Budiawan memaparkan, sampai kuartal I-2021 terjadi penurunan piutang pembiayaan mencapai Rp 89 triliun atau sekitar 20% (yoy).

Selain itu, sumber pembiayaan atau pendanaan turun sekitar Rp 100 triliun atau 27% (yoy).

“Namun demikian, berita baiknya kualitas pembiayaan justru tetap dalam kondisi yang manageable, NPF di angka 3,7%. Karena kita melakukan program restrukturisasi selama setahun ini, kemudian laju piutang menurun, otomatis, teman-teman mengalami penurunan dalam hal profitabilitas, laba anjlok, ROA dan ROE menurun. Mungkin beberapa perusahaan tercatat minus, beberapa multifinance lainnya positif. Secara industri, keseluruhan positif,” jelas dia.

Bambang W Budiawan,  Kepala Departemen  Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2B Otoritas Jasa Keuangan dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Bambang W Budiawan, Kepala Departemen Pengawasan Industri Keuangan Non Bank 2B Otoritas Jasa Keuangan dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Dari 173 multifinance, sebanyak 100 perusahaan atau mencakup sekitar 60% di antaranya fokus menyalurkan pembiayaan pada sektor otomotif. Total piutang pembiayaan pada sektor tersebut mencapai Rp 257 triliun. Sebesar Rp 109 triliun atau mencakup 41% adalah roda empat sebagai barang konsumtif.

Untuk barang produktif, tercatat sekitar Rp 105 triliun, sebesar 38% di antaranya atau Rp 40 triliun melakukan pembiayaan pada mobil angkutan.

“Jadi dari Rp 89 triliun penurunan piutang pembiayaan, sepertiganya dikontribusikan oleh lima pemain besar yang sebagian besar memang menaruh fokus pada pembiayaan kendaraan bermotor,” imbuh dia.

Ke depan, lanjut dia, pada kuartal II, III, dan VI-2021 sangat menantang, antara lain juga tergantung daya akselerasi pemulihan ekonomi, terutama sektor riil.

“Menurut kami juga penting adalah bagaimana vaksinasi diakselerasi lebih cepat untuk memberi kepercayaan diri bagi masyarakat untuk ber gerak. Tidak kalah penting dalam konteks multifinance adalah peningkatan atau merangsang daya beli dari konsumen,” kata dia.

Perbaikan Internal

Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Bambang juga mengimbau, momentum per tumbuhan secara bulanan sebenarnya seharusnya disikapi dengan beberapa perbaikan internal. Ketika situasi benar-benar stabil di masa mendatang, maka perusahaan bisa menangkap peluang yang ada. Artinya, pemulihan bisnis secara perlahan dilakukan tapi proses bisnis, profiling customer, peningkatan kapasitas IT sekaligus dijalankan.

“Sebenarnya perkiraan (penjualan roda empat) di angka 750 ribu sampai akhir tahun 2021 sudah cukup memadai, baik dari sisi tantangan maupun peluang yang ada. Angka 750 ribu itu sudah menjadi prestasi yang baik. Ke depannya secara bertahap kita akan melihat pertumbuhan yang positif dan konsisten. Poinnya, perusahaan pembiayaan tidak loss (kehilangan) momen, jika pertumbuhan ekonomi sudah terlihat di tahun depan,” ungkap dia.

Selain itu, stimulus restrukturisasi dan kemudahan mencari pendanaan untuk industri multifinance itu masih berlaku sampai 2022. Dalam jangka waktu tersebut diharapkan multifinance benar-benar memanfaatkan adanya relaksasi maupun stimulus yang ada.

Suwandi pun menambahkan, perbaikan internal perusahaan pembiayaan di antaranya menyangkut reputasi. Dalam hal ini, erat kaitannya dengan cara atau pendekatan yang dilakukan para jasa penagih (debt collector).

Para karyawan multifinance tersebut kerap dianggap menyalahi aturan. Tapi masyarakat juga perlu diedukasi dan mengerti bahwa eksekusi unit adalah jalan terakhir. Nyatanya, hanya sekitar 2-3% dari jumlah debitur mencapai 20 juta yang berurusan langsung dengan para jasa penagih.

“Katakanlah ada 3%, artinya ada sekitar 600 ribu debitur yang bermasalah setahun, atau sekitar 50 ribu per bulan. Jadi banyak proses eksekusi di Indonesia. Manakala ada satu atau dua kasus yang mencuat ke media karena debt collector ini melakukan tindakan yang tidak terpuji atau dengan prosedur salah, kami dari asosiasi pun tidak setuju dan sepakat pelaku ditindak hukum,” tegas dia.

Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Suwandi Wiratno, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Lebih lanjut, kata Suwandi, adanya tindakan yang tidak pantas dari jasa penagih lebih pada faktor emosional. Sejumlah kasus juga ditemui bahwa jasa penagih tidak mengerti aturan yang berlaku, bahkan tidak memiliki sertifikat seperti yang seharusnya diatur OJK.

“Memang tugas dari perusahaan pembiayaan, penguatan internal harus dilakukan. Sistem IT sudah tidak ada tawar menawar, pelatihan terus dilakukan, sertifikasi sudah menjadi aturan termasuk untuk collector. Ini menjadi penguatan secara SDM, juga agar tidak membuat gaduh di masyarakat,” kata dia.

Dia menuturkan, efisiensi persetujuan kredit melalui digitalisasi juga harus dilakukan. Multifinance juga sudah difasilitasi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) sejak April 2019 oleh OJK. Artinya, setiap debitur yang bermasalah terkait performa pembayaran angsuran, sudah bisa terdeteksi.

Dengan begitu, potensi debitur bermasalah untuk menggunakan layanan multifinance pun bisa ditekan.

“Tapi kami juga perlu mengimbau masyarakat agar tetap memba yar utang, jangan sampai ter lambat. Karena kalau sekali terlambat, itu akan tercatat dan indikasi akan kesulitan men dapatkan pembiayaan lagi. Ha rapan kami melalui SLIK, di harapkan eksekusi juga akan berkurang. Itu juga yang merefleksikan NPF bisa baik,” tandas dia.

Hafid Hadeli, President Director PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV
Hafid Hadeli, President Director PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk dalam diskusi Zooming with Primus - Bisnis Multifinance Rebound, Live di Beritasatu TV, Kamis (10/6/2021). Sumber: BSTV

Senada, Hafid mengatakan, seiring dengan upaya menjaga konsistensi perbaikan pada pembiayaan, Adira Finance turut melakukan sejumlah perbaikan dan efisiensi bisnis melalui kehadiran teknologi. Misalnya saja pada persetujuan pembiayaan dan hubungan antara perusahaan dengan mitra dealer yang kini melalui kanal digital.

“Beberapa hal itu sendiri sudah banyak efisiensi yang sudah kita dapatkan. Sekarang ini kita sedang membuat efektivitas antara Adira Finance dengan konsumen. Hal itu direalisasikan dengan membuat aplikasi bernama AdiraKu dengan berbagai fungsi membantu pelanggan dimanapun dan kapanpun,” terang Hafid.

Terlepas sisi pembiayaan, dia menambahkan, pihaknya terus berupaya meminta jasa penagih yang bertugas atas nama perusahaan untuk mengedepankan pendekatan persuasive ketika melakukan penagihan.

Pihaknya berusaha dan setuju setiap penagihan unit mesti sesuai hukum yang berlaku dan tidak mengganggu ketenangan masyarakat.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN