Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kantor OJK/David Gita Rosa

Kantor OJK/David Gita Rosa

Lima Securities Crowd Funding Galang Dana Rp 266 Miliar

Kamis, 29 Juli 2021 | 20:39 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Lima penyelenggara securities crowd funding (SCF) terdaftar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sampai saat ini telah berhasil menggalang dana sebesar Rp 266 miliar. Nilai itu diserap lebih dari 31 ribu investor untuk 149 penerbit saham (issuer).

Direktur Grup Kebijakan Sektor Jasa Keuangan OJK Titi Wigati menyampaikan, pihaknya memperluas cakupan produk dalam rangka mendukung usaha pemula atau pengusaha muda lewat penerbitan ketentuan mengenai SCF. Inovasi keuangan digital itu dibuat dengan tujuan agar usaha rintisan maupun usaha kecil dapat melakukan rising fund dengan skema penawaran efek bersifat utang maupun efek bersifat ekuitas melalui platform yang telah diatur oleh OJK.

"Sampai saat ini ada lima platform provider SCF dengan total 149 issuer dan pencapaian rising fund lebih dari Rp 266 miliar. SCF juga telah menyerap lebih dari 31 ribu investor," kata pada webinar bertajuk Financial Services Industry Menuju Era Society 5.0: Dukungan Lembaga Keuangan Untuk Pengusaha Muda, Kamis (29/7).

Selain itu, produk jasa keuangan lain yang bisa dimanfaatkan oleh pengusaha muda selain di perbankan adalah fintech p2p lending. Fintech lending sendiri dapat dimanfaatkan oleh pengusaha muda dengan skala usaha yang cukup kecil. Saat ini jumlah fintech lending sudah mencapai 124 platform dengan jumlah borrower mencapai 60 juta akun, nilai outstanding pembiayaan mencapai lebih dari Rp 21 triliun (Mei).

"Bila dianalisa lebih dalam, jumlah rekening penerima pinjaman didominasi oleh borrower dengan usia 19-34 tahun, sebanyak 14,4 juta atau lebih dari 65%. Dari segi outstanding pinjaman fintech p2p lending juga didominasi oleh rentang usia yang sama dengan porsi mencapai Rp 11,6 triliun atau 63 dibandingkan dengan rentang usia borrower lainnya," ujar Titi.

Dia menerangkan, dalam akselerasi transformasi digital, OJK senantiasa mendorong produk-produk berbasis digital guna membantu dunia usaha rintisan dan pengusaha muda. Tidak hanya produk-produk pendanaan yang berasal dari perbankan, tapi juga membuka peluang di sektor pasar modal dan IKNB.

Titi pun mengungkapkan, data menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jumlah pengguna smartphone dan penetrasi internet yang sangat tinggi. Pada akhir 2020 saja, pengguna smartphone mencapai lebih dari 190 juta pengguna dan diprediksi mencapai 250 juta pengguna di tahun 2025. Di sisi lain tingkat penetrasi internet sudah mencapai 72% di tahun 2020 dan diprediksi lebih dari 89% pada tahun 2025.

Jumlah pengguna smartphone dan didukung penetrasi internet yang tinggi itu merupakan peluang yang luar biasa untuk bisa dimanfaatkan oleh para pengusaha muda. Dengan didukung oleh support system yang baik, dunia digital akan membuat peluang usaha semakin variatif, cakupan pasar yang semakin luas, dan besaran biaya yang bisa ditekan.

Sementara itu, CEO Restock.id Tiar Nabilla Karbala mengatakan, potensi ekonomi digital Indonesia sangatlah besar. Menilik industri e-commerce saja misalnya, berhasil mencatatkan revenue mencapai US$ 30 miliar dan diproyeksi bisa tumbuh 13,2% per tahun, atau menjadi US$ 56 miliar pada tahun 2025. Selain itu, pada tahun 2020 sudah ada sekitar 26,2 juta unit UMKM terhubung dengan ekosistem e-commerce.

"Namun demikian, kita lihat UMKM di Indonesia itu sangat luas. Di sisi lain ada gap pembiayaan sebesar US$ 70 miliar bagi UMKM. Hal itu juga yang membuat pemain fintech p2p lending itu tumbuh karena kebutuhannya sangat besar. Banyak dari pemain UMKM itu tidak unbankable dan tidak memiliki aset untuk dijadikan jaminan ke bank. Kondisi tersebut yang dimanfaatkan oleh fintech lending,"

Dalam hal ini, OJK memahami bahwa kemajuan dunia digital perlu disikapi dengan baik melalui kebijakan yang fokus dan serius. Pada awal tahun 2021 yang lali, OJK telah meluncurkan Master Plan Sektor Jasa Keuangan Indonesia 2021-2025 (MPSJKI) sebagai pedoman arah kebijakan sektor jasa keuangan lima tahun kedepan. Secara khusus, akselerasi transformasi digital di SJK menjadi salah satu pilar utama dalam MPSJKI.

Sejalan dengan hal itu, Titi menuturkan, OJK senantiasa mendorong adanya inovasi keuangan digital. Saat ini telah memiliki satu departemen khusus yang bertugas dalam pengembangan keuangan digital. Pada tahun 2018 lalu juga OJK telah mengeluarkan aturan yang fokus pada pengembangan inovasi keuangan digital.

"Regulasi tersebut mencakup pengaturan atas pembentukan regulatory sandbox untuk menganalisa model bisnis dan inovasi di sektor jasa keuangan. Saat ini regulatory sandbox telah melahirkan 16 klaster keuangan digital, ada 83 perusahaan terdaftar, dan saat ini masih menganalisis 43 entitas," beber dia.

Titi menambahkan, OJK optimistis berbagai inisiatif yang direalisasikan bisa membantu ekosistem digital di Indonesia. "Kami juga berharap berbagai inisiatif tersebut dapat dimanfaatkan oleh pengusaha muda dalam melakukan ekspansi bisnis maupun menciptakan inovasi baru," tutup dia.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN