Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Dalimunthe paparan kinerja kuartal I-2021 industri asuransi umum secara virtual, Senin (31/5).  Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Dalimunthe paparan kinerja kuartal I-2021 industri asuransi umum secara virtual, Senin (31/5). Foto: Investor Daily/Prisma Ardianto

Premi Asuransi Umum Tumbuh 2,1%, Klaim Susut 23,1% di Semester I

Kamis, 26 Agustus 2021 | 04:29 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Industri asuransi umum membukukan pertumbuhan premi sebesar 2,1% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 38,37 triliun di semester I-2021. Sementara klaim dibayarkan menyusut 23,1% (yoy) menjadi Rp 13,10 triliun.

Data dari 72 perusahaan asuransi umum yang dikumpulkan oleh Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) itu mencatat rasio klaim pada semester I-2021 sebesar 34,2% atau lebih rendah dari periode sebelumnya di tahun lalu sebesar 45,3%. Adapun data premi dan klaim dari AAUI sedikit berbeda dengan yang dicatatkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni premi tumbuh 6,40% dan klaim 23,33%.

Dalam hal ini, pertumbuhan premi masih disokong empat lini terbesar asuransi umum yakni asuransi properti, asuransi kendaraan bermotor, asuransi kredit, serta asuransi kesehatan dan kecelakaan diri. Sebaliknya, sejumlah lini bisnis itu juga menjadi kontributor terbesar pada pembayaran klaim.

Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dody Achmad Sudiyar Dalimunthe menyampaikan, pertumbuhan premi asuransi umum sejalan dengan perkembangan di sektor riil yang diantaranya terlihat pada pertumbuhan ekonomi nasional. Namun demikian, asuransi umum masih bergantung pada pasokan premi yang dibayarkan oleh segmen korporasi, sehingga kinerja korporasi sebagai nasabah asuransi umum sangat berpengaruh.

"Jika ada pertumbuhan ekonomi maka ada potensi bagi peningkatan premi asuransi umum. Kondisi di setiap korporasi juga berbeda, sehingga akan mempengaruhi tingkat kemampuan membayar premi, ada yang masih mampu membayar secara tahunan, ada yang minta untuk dilakukan penundaan, ada juga yang memutus polis sehingga asuransi tidak berlanjut," jelas dia pada konferensi pers daring, Rabu (25/8).

Dody mengungkapkan, semua informasi dan parameter yang ada saat ini masih volatile sehingga pihaknya belum bisa menyampaikan proyeksi pertumbuhan premi sampai dengan akhir tahun. Kini pihaknya lebih berhati-hati, berkaca pada proyeksi tahun lalu yang meleset jauh dari perkiraan negatif 30%, tapi hasilnya hanya negatif 3,6%.

"AAUI melihat bahwa masih banyak hal yang belum bisa diperkirakan sehingga kami belum bisa menjawab secara kuantitatif. Tapi kami optimis bahwa akhir 2021 industri asuransi umum tetap bisa tumbuh, harapan kami adalah akan sama dengan kondisi atau posisi di sebelum pandemi Covid-19. Dari mana? backbone-nya adalah dari tiga bisnis utama yakni asuransi properti, asuransi kendaraan bermotor, dan asuransi kredit," ucap dia.

Selain itu, sejumlah lini asuransi lain diperkirakan masih mampu untuk tumbuh positif seperti asuransi kesehatan, asuransi aneka, dan asuransi kecelakaan diri.

"Itu yang diharapkan bisa menopang pertumbuhan premi di tahun 2021. Untuk tahun 2022 akan lebih advance lagi, mungkin proses bisnis bisa berubah karena ada implementasi dari teknologi," tandas Dody.

Sampai dengan semester I-2021, premi asuransi properti masih mampu mencatatkan pertumbuhan sebesar 16,1% (yoy) menjadi Rp 10,96 triliun sampai dengan semester I-2021. Di samping itu, klaim turun 23,1% (yoy) menjadi Rp 2,8 triliun. Dengan rasio klaim sebesar 25,6% atau turun dari periode sama tahun sebelumnya 38,7%.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI)

Wakil Ketua Bidang Statistik, Riset & Analisa AAUI Trinita Situmeang mengungkapkan, kinerja dari asuransi properti itu sudah banyak dikontribusikan oleh asuransi mikro. "Kalau nanti itu menyebar dan lebih banyak, tentunya ini menjadi sesuatu hal yang positif, termasuk untuk meningkatkan literasi," ujar dia.

Untuk asuransi kendaraan, premi yang dibukukan masih terkontraksi sebesar 5,2% (yoy) menjadi Rp 7,40 triliun di semester I-2021. Sedangkan klaim dicatatkan sebesar Rp 2,8 triliun atau menurun 27,5% (yoy), dengan rasio klaim sebesar 38,9% atau lebih rendah dari periode sebelumnya sebesar 50,8%.

Trinita mengatakan, peningkatan penjualan kendaran bermotor yang naik sampai dengan 30% tidak langsung memberi dampak pada realisasi premi bagi asuransi umum. Selain itu, banyak dari perusahaan asuransi mulai menerapkan IFRS 17, sehingga premi terpecah sesuai dengan jangka waktu pertanggungan dan premi tidak dibukukan penuh. AAUI berharap dampak dari penjualan kendaraan bermotor bisa terlihat pada periode mendatang.

Selanjutnya asuransi kredit, sempat melambat di awal tahun, tapi lini tersebut berhasil mencatatkan pertumbuhan premi sebesar 1,5% (yoy) menjadi Rp 5,87 triliun. Sejalan dengan pertumbuhan kredit perbankan 0,59% dan perbaikan pada pembiayaan multifinance sampai Juni 2021. Premi lini itu dibukukan penuh untuk kredit atau pembiayaan dengan jangka waktu 5, 10, 15, dan 20 tahun.

Sedangkan terjaganya NPL bank sebesar 3,24% dan membaiknya NPF multifinance ikut mempengaruhi klaim asuransi kredit susut 39,5% (yoy) menjadi Rp 2,47 triliun. Dengan begitu, rasio klaim turut serta turun dari 70,8% pada semester I-2020 menjadi 42,2% semester I-2021.

"Asuransi kredit rasanya sudah terlihat ada perbaikan dan ada pembicaraan antara asuransi, reasuransi, dan beberapa pihak terkait. Diharapkan hasilnya positif dan dalam jangka panjang membuat risiko semakin seimbang antara premi dan eksposurnya. Klaim yang terjadi masih akan gradual, maka pencadangan harus dilakukan dengan benar," beber Trinita.

Adapun asuransi kesehatan dan kecelakaan diri, asuransi umum membukukan premi sebesar Rp 4,21 triliun atau tumbuh 1,5% (yoy). Klaim sebesar Rp 2,09 triliun atau turun 8,9%. Sehingga rasio klaim lini tersebut relatif menurun dari 55,5% menjadi 49,8%.

"Untuk premi asuransi kesehatan dan kecelakaan diri akan mengikuti sering masyarakat mulai sadar bahwa Covid-19, baik pembelian dari kanal konvensional atau kanal alternatif lain," jelas Trinita.

Sementara itu, premi asuransi pengangkutan (marine cargo) dicatatkan sebesar Rp 1,81 triliun atau turun tipis 0,7%. Klaim naik 4,2% (yoy) menjadi Rp 489 miliar, sehingga rasio klaim naik menjadi 26,9% di semester I-2021.

Ketua Departemen Riset & Analisa AAUI Anita Faktasia menyampaikan, bahwa kondisi ekspor impor yang bergerak positif di paruh pertama tahun ini belum memberi dampak langsung bagi terhadap premi asuransi pengangkutan.

"Asuransi marine cargo tidak bisa dibilang turun, tapi relatif stagnan. Tapi memang ketika perjalanan barang dengan memakai layanan darat, laut, udara (ekspor-impor) tumbuh, yang harusnya langsung memberi dampak pada asuransi marine cargo, tapi sepertinya tidak terjadi," ucap Anita.

Berikutnya di semester I-2021, premi asuransi rangka kapal (marine hull) tumbuh 7,1% (yoy) menjadi Rp 1,14 triliun. Tapi klaim susut 43,3% (yoy) menjadi Rp 404 miliar, sehingga rasio klaim turun signifikan menjadi sebesar 35,4%.

Kemudian asuransi penerbangan (aviation) mencatatkan rasio klaim sebesar 99,8%, naik dari sebelumnya 19,0%. Adapun premi turun 59,9% (yoy) menjadi Rp 367 miliar. Sedangkan klaim melonjak 110% (yoy) menjadi Rp 366 miliar.

Pada saat yang sama, asuransi satelit membukukan premi Rp 22 miliar, turun 20,4% (yoy), dengan tanpa mencatatkan klaim. Sementara premi asuransi engineering tumbuh 9,8% (yoy) menjadi Rp 1,46 triliun. Klaim sebesar Rp 621 miliar atau turun 14,6% (yoy), dengan rasio klaim sebesar 42,3%.

Premi asuransi energy offshore naik 45% (yoy) menjadi Rp 93 miliar, dengan klaim Rp 96 miliar atau naik 257% (yoy). Pada semester I-2021, lini tersebut mencatatkan rasio klaim sebesar 103,2%. Sedangkan asuransi energy onshore, masing-masing mencatatkan kontraksi premi 33,8% (yoy) menjadi Rp 889 miliar. Klaim sebesar Rp 315 miliar atau tumbuh 3,1% (yoy), rasio klaim sebesar 35,4%.

Asuransi tanggung gugat (liability) dan asuransi penjaminan (suretyship) masing-masing membukukan premi sebesar Rp 1,60 triliun tumbuh 3,3% dan sebesar Rp 856 miliar atau tumbuh 26,1%. Dari sisi klaim asuransi liability susut 44% menjadi Rp 84 miliar, sedangkan klaim asuransi suretyship tumbuh 89,8% menjadi Rp 221 miliar. Adapun asuransi premi aneka sebesar Rp 1,65 triliun atau tumbuh 4,0%, dengan klaim sebesar Rp 245 miliar atau turun 27.8% (yoy).  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN