Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Budi Tampubolon. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

MELONJAK 20% SEMESTER I

Investasi AAJI di Saham dan Reksa Dana Tembus Rp 312 Triliun

Rabu, 15 September 2021 | 07:24 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatatkan investasi menembus Rp 312,4 triliun di instrumen saham dan reksa dana (RD) semester I tahun ini, melambung 20,4% dibanding Rp 259,5 triliun periode sama tahun lalu. Lonjakan tersebut mendorong penempatan dana di seluruh instrumen mencapai total Rp 510,5 triliun, meningkat 14,7%.

Dari total dana investasi Rp 510,5 triliun yang dikelola 59 perusahaan asuransi jiwa yang bergabung dalam AAJI, yang terbanyak 61,19% ditempatkan pada instrumen saham dan reksa dana. Rinciannya, investasi yang disalurkan melalui instrumen saham tumbuh sekitar 26% (year on year) menjadi Rp 144,79 triliun, sedangkan di reksa dana naik 15,9% (yoy) menjadi Rp 167,58 triliun. Porsi kontribusi dua jenis instrumen tersebut meningkat, masing-masing menjadi 28,4% dan 32,8% dari total investasi industri asuransi jiwa pada semester I tahun ini.

“Kenaikan kontribusi pada portofolio saham khususnya, disebabkan oleh kondisi pasar modal Indonesia yang semakin kondusif di semester I-2021. Kondisi tersebut ditandai oleh membaiknya indeks harga saham gabungan (IHSG) sebesar 22%, jika dibandingkan dengan periode sama di 2020,” kata Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon dalam konferensi pers Kinerja Industri Asuransi Jiwa Semester I-2021 secara online, Selasa (14/9).

Penempatan dana investasi asuransi jiwa terbanyak kedua di surat utang sebesar sekitar 26%, atau senilai Rp 133,5 triliun pada paruh pertama 2021. Investasi dalam bentuk Surat Berharga Negara (SBN), sukuk, dan obligasi yang lain ini tumbuh 12,9% dari semester I-2020 senilai Rp 118,2 triliun. Sementara itu, sisanya Rp 64,6 triliun ditempatkan di investasi yang lain seperti properti.

"Di tiga tahun terakhir, industri asuransi jiwa terus mendukung stabilitas pasar modal dan akselerasi pembangunan infrastruktur yang dicanangkan pemerintah, lewat penempatan investasi di SBN dan instrumen pasar modal yang lain. Kami berharap dukungan kami itu jadi sumbangsih industri dalam memperkuat momentum pemulihan ekonomi Indonesia saat ini,” ucapnya.

Dia menerangkan, asuransi jiwa memiliki karakteristik jangka panjang sehingga instrumen investasi yang dipilih juga disesuaikan. Dalam kacamata asuransi jiwa, sentimen pasar maupun kebijakan pemerintah yang sifatnya jangka pendek tidak serta-merta mengubah kebijakan investasi.

"Dalam banyak hal, kami tidak terlalu memandang sesuatu yang sifatnya jangka pendek, tapi jangka panjang. Bisa diperhatikan, ketika pasar modal turun dan terkoreksi dalam, kami tidak pull out, jumlah investasi yang ditempatkan tetap, secara nilai memang susut tapi tidak kami tarik," imbuh Budi.

Ia menegaskan, asuransi jiwa juga membutuhkan instrumen seperti SBN dan obligasi korporasi. Sedangkan instrumen deposito masih akan menjadi pilihan guna menjaga arus kas, termasuk dalam rangka memenuhi pembayaran klaim.

Sebetulnya, lanjut dia, industri asuransi relatif kekurangan pilihan untuk menempatkan investasi pada instrumen jangka panjang. Itulah sebabnya, industri asuransi juga terbuka jika nantinya ada kebijakan pemerintah untuk menawarkan opsi penyertaan langsung pada proyek-proyek strategis nasional.

"Rasanya sangat memungkinkan dan menjadi solusi terbaik yang akan dibangun, termasuk bagi asuransi jiwa. Jadi kalau jangka waktunya cocok, maka asuransi jiwa bisa menginvestasikan dengan dana yang relatif murah, daripada proyek jangka panjang tersebut dibiayai dengan pinjaman-pinjaman jangka pendek," beber Budi.

 



Kinerja industri asuransi jiwa sepanjang semester I tahun 2020 dan 2021.
Kinerja industri asuransi jiwa sepanjang semester I tahun 2020 dan 2021.

 

Hasil Investasi Naik 122,6%
Pada kesempatan yang sama, Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Wiroyo Karsono mengatakan, total penempatan dana investasi industri asuransi jiwa pada semester I-2021 mencapai Rp 510,5 triliun, tumbuh 14,7% dari semester I-2020 senilai Rp 445,2 triliun. Hal ini berjalan seiring dengan peningkatan kinerja industri asuransi yang membaik pada semester pertama tahun 2021.

Dengan total penempatan dana kelola investasi yang besar tersebut, Wiroyo menilai industri asuransi jiwa telah berperan nyata pada stabilitas ekonomi dan pembangunan Indonesia. Adapun investasi yang berperan langsung terhadap pembangunan negara terutama penempatan di Surat Berharga Negara.

“Investasi yang berperan langsung terhadap pembangunan negara tercatat sekitar 26%, yang berupa SBN, sukuk, dan obligasi lain. Sedangkan untuk investasi di instrumen saham dan reksa dana, investasi jenis ini merupakan kontribusi asuransi jiwa dalam mendukung dan menjaga stabilitas pasar modal," ujar Wiroyo.

AAJI mencatat, hasil investasi semester I-2021 melambung 122,6%, menjadi Rp 4,9 triliun. Sementara itu, pada periode sama tahun lalu, investasi perusahaan asuransi yang bergabung dalam AAJI tercatat rugi Rp 21,64 triliun.

Sektor yang Tumbuh
Ketua Bidang Operasional dan Perlindungan Konsumen AAJI Freddy Thamrin mengatakan, pertumbuhan penempatan dana terjadi baik di saham, reksa dana, Surat Berharga Negara, maupun deposito. Hal ini sesuai fokus perusahaan asuransi yang melihat prospek investasi yang baik di masa yang akan datang, guna memberikan hasil yang terbaik kepada pemegang polis khususnya dan masyarakat pada umumnya.

“Penempatan investasi semester pertama 2021 tumbuh positif, setelah pada periode yang sama tahun sebelumnya terkoreksi 12,6% menjadi Rp 445,2 triliun. Selama semester pertama lalu, AAJI menempatkan investasi di saham-saham pengelola rumah sakit, produk kesehatan, hingga perusahaan berbasis konsumer, karena masih mencatatkan pertumbuhan di saat pandemi Covid-19," katanya.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon juga menekankan, pada saat pasar saham terkoreksi cukup dalam tahun 2020, industri asuransi jiwa relatif tidak menarik investasinya di pasar saham, meskipun hal ini berimbas pada penurunan investasi AAJI sepanjang tahun lalu. Hal itu seiring koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia.

Sementara itu terkait investasi di SBN, lanjut dia, masih dibutuhkan oleh industri asuransi karena memberikan imbal hasil yang cukup stabil. "Industri asuransi jiwa bersama dengan dapen (lembaga dana pensiun) adalah salah satu industri jasa keuangan yang sudut pandangnya beda dari banyak industri keuangan lain, di mana dalam banyak hal, kami tidak terlalu memandang yang sifatnya short term," tandas Budi.

AAJI tidak berencana mengurangi portofolio investasi di instrumen SBN, kendati ada risiko pengurangan nilai pembelian aset atau tapering oleh bank sentral AS, The Federal Reserve, pada November mendatang. Tapering berpotensi berimbas pada US Treasury, yang menjadi acuan bagi surat berharga di seluruh dunia, termasuk SBN Indonesia.

Premi Melesat 17,5%
AAJI juga mengungkapkan, pada semester I-2021, pendapatan industri asuransi jiwa menembus Rp 119,74 triliun, naik 64% yoy. Ini didorong peningkatan premi bisnis baru dan perbaikan hasil investasi.

Pendapatan premi tercatat mencapai Rp 104,72 triliun, melambung 17,5% year on year. Dari pendapatan premi tersebut, kontributor terbesar adalah premi bisnis baru dengan nilai total Rp 68,02 triliun, meningkat 27,4% (yoy). Sedangkan premi lanjutan tumbuh sebesar 2,8% (yoy), menjadi sekitar Rp 36,7 triliun.

Adapun klaim reasuransi sebesar Rp 3,60 triliun atau naik 12,7% (yoy). Sedangkan pendapatan lainnya sebesar Rp 7,06 triliun atau meningkat 149,7% (yoy) di semester I-2021.

Pendapatan premi sampai akhir tahun ini diproyeksi positif, tumbuh double digit. Hal itu didorong momentum meningkatnya kesadaran masyarakat untuk berasuransi, serta situasi yang diharapkan membaik seiring percepatan vaksinasi Covid-19 dan tidak ada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) ke depan.

Unit Link Dongkrak Kelolaan
Ke depan, penjualan produk asuransi diproyeksikan positif, terutama didorong pertumbuhan Produk Asuransi yang Dikaitkan Dengan Investasi (PAYDI) atau unit link. Hal ini juga bakal turut mendongkrak dana kelolaan asuransi jiwa di pasar modal.

AAJI melalui laporannya mencatat, sampai dengan semester I-2021 premi unit link mampu tumbuh 17% (yoy) menjadi Rp 64,44 triliun. Sementara itu, premi produk tradisional naik sebesar 18% (yoy) menjadi sebesar Rp 40,27 triliun. Masing-masing produk tersebut memiliki kontribusi sebesar 62% dan 38% terhadap pendapatan premi.

Wiroyo menyampaikan, pertumbuhan premi unit link membuktikan bahwa produk tersebut masih banyak diminati masyarakat. Sedangkan pertumbuhan premi tradisional banyak dipengaruhi dari lini bisnis asuransi kesehatan yang sedang naik daun karena pandemi Covid-19.

"Kita lihat produk unit link tetap menunjukkan peningkatan di semester I-2021, artinya ketertarikan pada produk tetap ada. Ada beberapa kasus dari nasabah yang mengajukan komplain, tapi berhasil diselesaikan. Karena unit link ini memberikan investasi berikut dengan proteksi, itu dinilai masih menarik. AAJI berharap anggota lebih inovatif dan kreatif agar produk lain juga terus meningkat," ucap dia.

Seiring dengan tetap diminatinya produk unit link, lanjut dia, dana kelolaan tentu akan turut meningkat dan perusahaan asuransi jiwa perlu tetap menjaga tata kelolanya dan mempertajam mitigasi risiko. Menyangkut hal ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun tengah meramu regulasi terbaru tentang unit link guna memperkuat pengaturan, termasuk menyeimbangkan kepentingan antara nasabah dan perusahaan asuransi.

Wiroyo menegaskan, AAJI dilibatkan dan dimintai pandangan terkait penyempurnaan regulasi unit link. “Secara umum, produk unit link sebetulnya tidak bermasalah, hal yang disoroti OJK adalah nasabah mesti benar-benar mengerti isi produk, mulai dari risiko, biaya, sampai manfaat produk, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari. Kami juga berupaya memberikan hasil investasi yang baik agar nasabah diuntungkan. Tidak ada pemikiran sama sekali bahwa ingin merugikan nasabah," tandas dia.

Sedangkan Budi mengatakan, unit link kerap dikaitkan dengan produk saving plan yang sempat dituding bermasalah. Ia menjelaskan, ada 22-23 perusahaan asuransi yang memasarkan saving plan pada akhir 2019.

“Jika ada 1-2 perusahaan yang bermasalah terkait produk itu, maka permasalahan bukan pada produk, tapi pada pengelolaannya. Saving plan dan unit link masih banyak ditawarkan perusahaan asuransi di luar negeri, unit link banyak dijual di negara maju. Memang ada komplain, kami percaya anggota kami menyikapi sebaik-baiknya. Para nasabah yang senang akan unit link ini ada, bisa dilihat bahwa produk tersebut sekitar 62% dari premi asuransi jiwa," kata Budi.

Dalam aspek pemasaran, unit link ini masih banyak dikontribusikan dari kanal keagenan. Kanal ini masih akan menjadi andalan, meski ke depan para agen turut memanfaatkan kehadiran teknologi informasi.

“Konsep campuran (hybrid) adalah keniscayaan bagi para agen di masa mendatang. Kondisi pandemi ini sulit dilakukan dan menjadi tantangan untuk tumbuh. Kami 100% percaya bahwa rekan kami yang melakoni kanal distribusi keagenan ini memiliki daya juang dan kreativitas," tandas Budi.

Klaim 
AAJI berharap produk unit link tidak putus di tengah jalan, sehingga hasilnya lebih optimal. Meski demikian, sewaktu-waktu dana yang ditempatkan juga dapat diambil untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, lewat pengajuan klaim partial withdrawal dan nilai tebus (surrender).

Klaim nilai tebus tercatat tumbuh moderat 2,5% (yoy) menjadi Rp 43,35 triliun sampai semester I-2021. Sedangkan klaim partial withdrawal tumbuh 61,0% (yoy) menjadi Rp 9,77 triliun. "Klaim dan manfaat dari dua lini tersebut bisa digunakan masyarakat pada masa sulit saat ini, untuk meningkatkan ketahanan ekonomi dan menjaga kualitas hidup keluarga mereka," ungkap Freddy.

Adapun total klaim dan manfaat yang dibayarkan perusahaan asuransi mencapai Rp 74,66 triliun semester I-2021. Ini tumbuh 6,1% (yoy) dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 70,36 triliun.

Lebih lanjut dia menerangkan, klaim meninggal dunia selama semester I-2021 meningkat sebesar 42,6% (yoy), menjadi Rp 7,84 triliun. Sedangkan klaim kesehatan meningkat sebesar 3,5% menjadi Rp 5,4 triliun. Klaim meninggal dunia dan kesehatan itu menjadi bagian dari klaim terkait Covid-19.

Dirinci berdasarkan porsinya, klaim nilai tebus sekitar 58%, klaim partial withdrawal 13%, dan klaim meninggal dunia 11% terhadap total klaim dan manfaat. Berikutnya, klaim kesehatan sebesar 7%, klaim akhir kontrak 6%, serta klaim lain-lain sebesar 5%. Dalam tiga tahun terakhir, rata-rata klaim yang dibayarkan asuransi jiwa kepada masyarakat mencapai Rp 148,52 triliun per tahun.

Wiroyo menambahkan, salah satu rekomendasi dari AAJI selain membuat produk yang inovatif adalah mendorong perusahaan anggota bergerak ke teknologi digital. Ini termasuk dengan memanfaatkan kehadiran insurance technology (insurtech) yang bertindak sebagai broker maupun aggregator.

"Bagi asuransi, digitalisasi bisa dilakukan secara internal atau bekerja sama dengan insurtech. Hal ini perlu dilakukan untuk tetap belajar dan menyesuaikan kecepatan dari kebutuhan masyarakat. Melalui kanal digital ini akan menjangkau lebih banyak masyarakat," ujar dia.

Wiroyo menjelaskan, perusahaan asuransi menggarap digitalisasi secara bertahap. Proses digitalisasi tidak hanya untuk menjangkau nasabah lebih banyak sehingga penetrasi asuransi meningkat, tapi juga dalam rangka menyederhanakan proses layanan seperti penerbitan polis hingga klaim. Dengan begitu, digitalisasi juga mendorong akses asuransi mudah dan nyaman. (th/en)

Editor : Esther Nuky (esther@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN