Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia Ryan Charland menyampaikan sambutan. (Investor Daily/Thomas E Harefa)

Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia Ryan Charland menyampaikan sambutan. (Investor Daily/Thomas E Harefa)

Pandemi Covid-19 Jadi Momen untuk Bijak Mengelola Keuangan

Jumat, 17 September 2021 | 16:33 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Pandemi Covid-19 menyadarkan masyarakat akan pentingnya pengelolaan kesehatan. Momen ini juga sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk bijak mengelola keuangannya.

Berdasarkan Survei Manulife Asia Care yang dilakukan terhadap 3.946 responden di delapan negara, termasuk Indonesia, sebanyak 95% responden mencemaskan dampak Covid-19 terhadap kesehatan mereka. Terlebih lagi di Indonesia, sebanyak 98% responden berinisiatif meningkatkan kondisi kesehatannya sebagai bentuk respons Covid-19. 

Adapun bentuk menjaga kesehatan diwujudkan dengan berolahraga secara teratur oleh 74% responden, memperbaiki pola makan oleh 70% responden, dan menggunakan alat untuk memantau kesehatan oleh 28% responden. Sebanyak 43% responden juga mulai mencari informasi produk dan layanan asuransi. 

Selain mulai melirik asuransi sebagai proteksi kesehatan, masyarakat Indonesia juga menunjukkan minat yang tinggi terhadap perencanaan masa pensiun. Dari hasil survei, sebanyak 88% responden Indonesia menyatakan perencanaan masa pensiun menjadi semakin penting di masa pandemi. Angka ini sangat tinggi dan berada jauh di atas rata-rata Asia yang berada pada tingkat 73%. 

Presiden Direktur dan CEO Manulife Indonesia Ryan Charland mengungkapkan, hasil survei tersebut menunjukkan minat masyarakat Indonesia yang tinggi pada perlindungan kesehatan dan perencanaan di masa pandemi.

"Kami memahami di tengah situasi yang menantang ini, masyarakat ingin dapat lebih mengendalikan kondisi kesehatan serta kemapanan finansialnya," jelas Ryan dalam keterangan tertulis dikutip Kamis, (16/9/2021).

Meningkatnya proteksi kesehatan melalui asuransi dan perencanaan masa pensiun menunjukkan mulai munculnya pemahaman masyarakat akan pentingnya pengelolaan finansial. Masyarakat sudah melihat bukti nyata dari tidak terkelolanya keuangan selama pandemi ini. 

Orang yang terpaksa dirawat di rumah sakit harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar karena tidak memiliki proteksi asuransi maupun dana darurat. Akibatnya, jangankan untuk memiliki bekal di akhir tua, untuk bertahan hidup di tengah pandemi ini saja mereka susah karena hartanya sudah habis untuk berobat.

Fauzi (25) merupakan salah satu generasi milenial yang mulai merencanakan keuangannya. Semenjak bekerja di sebuah perusahaan swasta dan memperoleh penghasilan sendiri, Fauzi baru menyadari arti penting dari pengelolaan keuangan.

"Aku mulai mencatat pengeluaran dan penghasilan supaya bisa tahu tracking-nya, jadi uangnya tidak habis begitu saja," kata dia.

Pandemi yang melanda Indonesia hampir dua tahun ini juga membuat Fauzi makin bijak mengelola finansialnya. Pasalnya, pengelolaan itu membuat dia lebih bisa menahan diri dari nafsu belanja online memuncak saat pandemi ini.

"Kalau tidak dikelola pasti bisa kalap (belanja online) dan konsumtif banget, karena kalau pengeluaran tidak dicatat, kita tidak tahu bagaimana kondisi keuangannya," jelas Fauzi yang biasa disapa Oji ini.

Dengan mengelola keuangan seperti ini, Fauzi bisa mengetahui kondisi keuangannya saat ini, seperti pengeluaran dan pemasukan yang diterima. Dia juga bisa menahan dirinya agar pengeluaran tidak melebihi pemasukan. Apabila ternyata pengeluaran sudah melebihi pemasukan, maka sudah saatnya dia mencari penghasilan tambahan atau mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih tinggi.

Dari perencanaan keuangan ini pula, Fauzi bisa merencanakan tujuan finansialnya ke depan. Fauzi bercerita, dalam jangka pendek, dia berencana untuk menikah sehingga dia mulai mengalokasikan penghasilannya untuk mempersiapkan biaya pernikahan. Sementara dalam jangka panjang, Fauzi ingin mempersiapkan dana pensiun.

Berbeda dengan Fauzi yang secara rinci mencatat pengeluaran dan pemasukan, Ami (24) cenderung mengalokasikan penghasilannya sesuai porsinya. Dari 100% penghasilan, Ami menempatkan 50% untuk biaya operasional, 30% untuk simpanan dan 20% untuk hiburan.

Simpanan yang dimiliki Ami berupa tabungan ataupun investasi di reksadana. Dana dari tabungan dan investasi itu ingin dipergunakannya untuk keperluan dana darurat seperti biaya pengobatan dan untuk tujuan finansial lainnya seperti menikah atau melanjutkan pendidikan.

Tips Mengelola Keuangan

Dari pembahasan di atas, setidaknya ada tiga hal yang menjadi alasan seseorang mengelola keuangan. Pertama adalah agar bisa mengetahui alur dari pengeluaran dan pendapatan. Dengan mengetahui alur ini tentunya akan lebih mudah merencanakan tujuan finansial ke depan.

Kedua adalah agar bisa menahan diri dari perilaku konsumtif. Sikap ini yang sebenarnya membuat orang sulit menjadi kaya. Sebab mereka selalu berlindung di balik alibi self reward untuk melegitimasi kebiasaan mereka yang foya-foya.

Alasan ketiga adalah agar bisa mengalokasikan lebih banyak dana untuk memenuhi tujuan finansial. Dari pengelolaan keuangan, orang bisa tahu pos pengeluaran mana yang ternyata bisa ditekan atau bisa dihilangkan. Seperti pada saat pandemi ini, biaya transportasi seharusnya bisa ditekan dan dialihkan ke tabungan atau investasi.

Konsultan Keuangan dari Tatadana Consulting Tejasari Asad mengungkapkan, bijak dalam mengelola keuangan adalah salah satu langkah pertama dalam mencapai tujuan finansial. 

"Seorang pekerja setidaknya harus mengalokasikan minimal 20% dari penghasilannya untuk ditabung atau diinvestasikan," jelas dia kepada Investor Daily belum lama ini.

Langkah kedua untuk mencapai tujuan finansial adalah menetapkan tujuannya terlebih dahulu dan jangka waktu untuk pemenuhan tujuan itu. Apabila tujuan tidak ditetapkan di awal, maka akan mudah sekali tergoda untuk mengeluarkan uang yang sebenarnya tidak perlu. Penetapan tujuan ini juga berguna agar lebih bersemangat dalam menabung atau berinvestasi.

Lalu, setelah menetapkan tujuan seperti  ingin menikah atau memiliki dana pensiun, seseorang seharusnya sudah memiliki dana darurat terlebih dahulu. Alokasi dana darurat ini penting untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan seperti kehilangan pekerjaan, biaya perbaikan rumah yang mendesak, dan hal lainnya.

Selain harus memiliki dana darurat, seorang pekerja juga harus memiliki asuransi. Beberapa perusahaan memang sudah meng-cover karyawannya dengan BPJS Kesehatan, namun memiliki asuransi komersial juga tidak ada salahnya. Sebab, banyak biaya yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan ketika dirawat di rumah sakit seperti biaya transportasi ke rumah sakit, akomodasi pihak yang menemani di rumah sakit dan lainnya.

Kelima, dalam mencapai tujuan finansial, seorang pekerja bisa menggunakan berbagai instrumen. Dalam hal ini sebaiknya mulai untuk berinvestasi dan bukan sekedar menabung. Instrumen investasi ini bisa disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial masing-masing. 

Namun apabila tidak ingin kerepotan memilih banyak instrumen untuk asuransi dan investasi, ada baiknya memilih asuransi unit link yang bisa memberikan proteksi sekaligus hasil investasi. Salah satu produk yang bisa dipilih adalah Manulife Prime Assurance dari PT Asuransi Jiwa Manulife. Produk ini memberikan proteksi hingga tertanggung berusia 99 tahun dengan uang pertanggungan minimum Rp 3 miliar. Di saat yang sama, premi juga dialokasikan untuk investasi ke reksadana berbasis mata uang rupiah atau US Dollar dari PT Manulife Aset Manajemen Indonesia.

Adapun tips keenam dalam mencapai tujuan finansial adalah konsisten dalam mengalokasikan dana untuk investasi. Fasilitas auto debet dari perbankan bisa digunakan untuk bisa memudahkan investasi. Bentuk lainnya bisa dengan mengalokasikan dana untuk investasi terlebih dahulu, baru kemudian menggunakan dana untuk keperluan lainnya.

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN