Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Jiwa Syariah AASI Ronny Ahmad Iskandar saat paparan kinerja asuransi syariah semester I-2021, Selasa (21/9). (Investor Daily/Prisma Ardianto)

Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Jiwa Syariah AASI Ronny Ahmad Iskandar saat paparan kinerja asuransi syariah semester I-2021, Selasa (21/9). (Investor Daily/Prisma Ardianto)

Aset Asuransi Syariah Rp 42,81 Triliun, Kontribusi Bruto Melonjak 51,89%

Selasa, 21 September 2021 | 21:16 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, Investor.id - Industri asuransi syariah mencatatkan total aset Rp 42,81 triliun, tumbuh 4,83% secara tahunan (year on year/yoy) hingga semester I-2021. Pada saat sama, kontribusi bruto melonjak 51,89% (yoy) menjadi Rp 11,55 triliun.

Angka-angka tersebut mencakup kinerja perusahaan asuransi jiwa syariah, asuransi umum syariah, dan reasuransi syariah seperti yang dilaporkan Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI) secara virtual, Selasa (21/9).

Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Jiwa Syariah AASI, Ronny Ahmad Iskandar mengungkapkan, penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia yang mulai terkontrol membuat ekonomi kembali bergulir. Hal itu akan mengembalikan pendapatan dan kesejahteraan penduduk secara perlahan.

Ronny optimistis realisasi kinerja aset dan kontribusi bruto asuransi syariah bisa dipertahankan sampai akhir 2021. "Melihat trennya, pertumbuhan asuransi jiwa syariah maupun asuransi umum syariah masih bisa dipertahankan sampai akhir tahun, insya Allah kinerja kuartal II-2021 akan bertahan sampai akhir tahun," ujar dia.

Ronny menjelaskan, sampai semester I-2021 porsi aset didominasi asuransi jiwa syariah yang mencapai Rp 34,44 triliun atau mencakup 80,45% dari total aset industri asuransi syariah sebesar Rp 42,81 triliun. Sisanya Rp 6,28 triliun atau berkontribusi 14,68% adalah porsi dari asuransi umum syariah, serta Rp 2,08 triliun atau mencakup 4,87% dari reasuransi syariah.

Keseluruhan sektor, menurut Ronny, mengalami pertumbuhan aset positif pada semester I-2021, kecuali reasuransi syariah. Aset asuransi jiwa syariah naik 5,39% (yoy), aset asuransi umum syariah tumbuh 5,11% (yoy), namun aset reasuransi syariah susut 4,37% (yoy).

Dia menambahkan, dari sisi kontribusi bruto, mayoritas juga disokong asuransi jiwa syariah yang menyumbang 87,26% atau Rp 10,07 triliun. Sisanya Rp 1,00 triliun (8,67%) dari asuransi umum syariah dan Rp 470 miliar (4,07%) dari reasuransi syariah.

“Keseluruhan lini kontribusi bruto mencatatkan peningkatan secara tahunan, masing-masing sebesar 57,36%, 26,34%, dan 15,56%,” tutur dia.

Investasi Rp 35,05 Triliun

Ronny Ahmad Iskandar mengemukakan, total investasi asuransi syariah mencapai Rp 35,05 triliun, tumbuh 2,34% (yoy). Itu sejalan dengan mayoritas investasi asuransi jiwa syariah yang tumbuh 2,61% (yoy) menjadi Rp 29,28 triliun. Sisanya investasi asuransi umum syariah tumbuh 1,78% (yoy) menjadi Rp 4,22 triliun, dan investasi reasuransi syariah Rp 1,55 triliun, turun 1,17% (yoy) pada semester I-2021.

“Hasil investasi pun mengikuti, asuransi syariah mencatat pertumbuhan sebesar 85,45% (yoy) tapi masih tetap negatif Rp 342 miliar sampai paruh pertama tahun ini,” ucap dia.

Kondisi itu, kata dia, dipengaruhi perbaikan hasil investasi yang dicatatkan asuransi jiwa syariah dengan peningkatan 81,27% (yoy), namun masih negatif Rp 471 miliar. Adapun hasil investasi asuransi umum syariah anjlok 26,70% (yoy) menjadi Rp 85 miliar. Begitu juga reasuransi syariah yang mencatatkan penurunan 4,90% (yoy) menjadi Rp 43 miliar.

Dari sisi klaim, menurut Ronny, industri asuransi syariah membuktikan komitmennya dengan membayarkan klaim bruto senilai Rp 9,75 miliar, melonjak 72,77% (yoy). Sebagian besar klaim oleh asuransi jiwa syariah mencapai Rp 9,01 triliun, tumbuh 82,22%.

“Sebaliknya, klaim bruto asuransi umum syariah relatif menurun 14,02% (yoy) menjadi Rp 287 miliar. Sedangkan klaim bruto reasuransi syariah sebesar Rp 446 miliar atau naik 23,49% (yoy) pada semester I-2021,” papar dia.

Ronny Ahmad Iskandar mengatakan, AASI mencatat rasio klaim dana tabarru' mencapai 97,51% per Juni 2021, tumbuh 82,39% dibandingkan Juni 2020. Peningkatan klaim yang mengerek rasio klaim itu terjadi secara temporer, termasuk melihat fenomena naiknya klaim meninggal dunia akibat Covid-19 dan karena sebab lain belakangan ini.

"Kenaikan klaim ini kita melihatnya positif. Asuransi jiwa syariah dengan konsep tolong-menolong, selain yang sedang terkena bencana bisa mendapat santunan, yang lainnya mendapat pahala. Yang disampaikan atau didonasikan melalui dana tabarru' itu bisa disalurkan kepada yang sedang terkena musibah," papar dia.

Ronny meyakini, peningkatan klaim belum tentu kembali terjadi pada periode selanjutnya. Jika rasio klaim terus berlangsung seperti itu, tidak hanya berdampak pada asuransi syariah, tetapi juga bagi industri perasuransian. Selain itu, rasio klaim tidak berdampak bagi asuransi syariah untuk tetap mencatatkan kinerja positif di masa mendatang.

Pada kesempatan itu, Ketua Bidang Riset dan Inovasi Asuransi Umum Syariah AASI, Pristiawan Bani menyampaikan, kehadiran Zurich General Takaful Indonesia (Zurich Syariah) pada medio Juli 2021 akan ikut mendongkrak aset asuransi umum syariah tahun ini. Namun demikian, karena baru beroperasi, sumbangan pertumbuhan aset dan kontribusi bruto tidak akan terjadi signifikan bagi industri.

"Secara industri, tentu akan ada pertumbuhan aset, tapi tidak akan terlalu signifikan. Kontribusi juga tidak terlalu diharapkan tumbuh signifikan, namun bakal tetap tumbuh. Kita berharap pertumbuhan 6-15% daripada asuransi umum syariah," tutur dia.

Perkembangan Spin Off

Ronny Ahmad Iskandar juga memaparkan perkembangan pemisahan unit usaha (spin off) asuransi syariah. Meski tidak memiliki data perusahaan yang bersedia spin off atau lebih memilih mengembalikan izin, AASI dapat memastikan bahwa beberapa perusahaan sudah bersiap spin off.

"Sebagian besar sudah melakukan persiapan. Karena secara legal timeline, OJK sudah memiliki tahapan-tahapan bagi perusahaan asuransi yang memiliki unit syariah dan berkeinginan spin off, baik dari sisi ketersediaan produk, SDM, IT, komitmen pemegang saham, maupun liabilitas dan aset," ujar apar dia.

Ronny mengatakan, belum ada regulasi terbaru mengenai pemisahan unit asuransi syariah. Pelaku usaha masih mengacu pada peraturan yang ada saat ini. “AASI juga mendorong perusahaan yang memiliki unit syariah dan memutuskan untuk spin off untuk segera bersiap menjelang batas waktu Oktober 2024,” tutur dia.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN