Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Ilustrasi fintech: beritasatu.com/IST

Fintech Lending Tingkatkan Target Penyaluran Pembiayaan Jadi Rp 125 Triliun

Minggu, 26 September 2021 | 14:05 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Fintech p2p lending meningkatkan target penyaluran pembiayaan dari Rp 86-100 triliun menjadi Rp 100-125 triliun di 2021. Target dipatok lebih optimistis meski jumlah penyelenggara relatif berkurang.

Hal itu diketahui dari materi paparan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) tentang Pencairan Pinjaman 2017-2020 dan Outlook 2021 yang telah diperbarui. Setidaknya, AFPI diketahui sudah dua kali merubah proyeksi penyaluran pembiayaan di tahun ini.

Awalnya proyeksi pembiayaan 2021 dipatok sebesar Rp 86 triliun, kemudian diperlebar menjadi Rp 86-100 triliun, dan kembali dikoreksi lebih optimis menjadi Rp 100-125 triliun. Nilai itu setidaknya tercatat tumbuh 71,23% secara tahunan (year on year/yoy).

Sebelumnya, penyaluran pembiayaan fintech lending memang terus meningkat setiap tahun sejak 2017. Pada saat itu, pembiayaan tercatat sebesar Rp 3 triliun atau tumbuh 567% (yoy). Kemudian naik 175% (yoy) menjadi Rp 20 triliun di 2018. Pertumbuhan itu berlanjut di 2019, penyaluran pembiayaan meningkat 20% (yoy) menjadi Rp 58 triliun. Selanjutnya naik 25% (yoy) menjadi Rp 73 triliun di 2020.

Andi Taufan Garuda Putera, Ketua Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia, dalam Talkshow Financial Innovation bertema Kunci Sukses Membangun Bank Masa Depan, live di BeritasatuTV, Selasa (24/8/2021). Sumber: BSTV
Andi Taufan Garuda Putera, Ketua Humas Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia,  Sumber: BSTV

Ketua Bidang Humas AFPI Andi Taufan Garuda Putra mengakui bahwa asosiasi kembali meningkatkan proyeksi penyaluran pembiayaan tahun ini. Sebaliknya, hal itu dipercaya mampu direalisasikan meskipun jumlah penyelenggara fintech lending relatif berkurang.

"Hal itu terlihat dari bertambahnya jumlah pemberi pinjaman (lender) baik dari ritel maupun institusional. Namun diperlukan edukasi lebih masif kepada masyarakat. Melalui edukasi, mereka bisa mengetahui apa saja risiko dan keuntungan berinvestasi ke platform fintech," kata Taufan kepada Investor Daily, Minggu (26/9).

Data Otoritas Jasa Keuangan menerangkan, di akhir Desember 2020 mencatat jumlah penyelenggara fintech lending sempat mencapai 164 entitas. Jumlah itu susut menjadi 107 entitas per 8 September 2021. Sementara itu, akumulasi pembiayaan sejak 2016 hingga Agustus 2021 mencapai Rp 249 triliun. Pada saat sama, outstanding pembiayaan fintech lending mencapai Rp 26,1 triliun atau tumbuh 70,36% (yoy), berikut tingkat keberhasilan bayar 90 hari (TKB 90) di level 98,23%.

Fintech lending telah berhasil membantu 68,41 juta penerima pinjaman (borrower), dengan jumlah transaksi mencapai 479 juta. Terdapat total 749,17 ribu rekening lender, dengan 190,67 ribu diantaranya merupakan rekening aktif. Fintech lending membukukan aset mencapai Rp 4,36 triliun, dengan kontribusi penyelenggara konvensional adalah Rp 4,24 triliun dan penyelenggara syariah sebesar Rp 115,72 miliar.

Lebih lanjut, Taufan mengungkapkan, sejumlah sektor masih akan menjadi prioritas untuk dibidik para penyelenggara fintech lending.

"Sektor-sektor penyaluran pinjaman terbesar saat ini ada di sektor e-commerce, logistik, dan komunikasi. Selain itu fintech di Indonesia menyasar pada individu dan UMKM, dan sektor dagang elektronik menjadi sektor yang sangat besar karena data-datanya sudah digital, sehingga memudahkan dalam proses pengecekan dan validasi," jelas dia.

Ihwal perkembangan fintech lending, menurut dia, selama tiga tahun terakhir fintech di Indonesia mengalami perkembangan yang pesat dan menjadi salah satu pemain terbesar di ASEAN.

Hal itu setidaknya dapat dilihat dengan semakin banyaknya perusahaan fintech yang menggunakan teknologi terkini dan inovasi untuk mendukung keunggulan masing-masing pengadaan fintech. Termasuk dukungan akses internet di Indonesia meningkat 2,6 kali lipat selama lima tahun ini.

Namun demikian, kata Taufan, penyelenggara fintech lending mesti terdaftar dan berizin sesuai dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 77/POJK.01/2016 mengenai Layanan Pinjam Meminjam Uang Berbasis Teknologi Informasi (LPMUBTI) untuk menjalankan operasionalnya. Oleh karena itu, pihaknya pun mengimbau para pengguna hanya menggunakan layanan fintech lending legal yang terdaftar dan berizin dari OJK.

Taufan menambahkan, kekuatan utama fintech lending adalah menyangkut teknologi informasi (TI) karena keseluruhan proses lebih banyak bertumpu pada TI. Bisnis fintech lending membutuhkan komitmen untuk investasi pada TI. Dalam hal ini, fintech lending mesti terus mengembangkan infrastruktur TI guna menjangkau masyarakat yang lebih luas.

"Oleh karena itu, fintech akan terus berkembang jangkauannya untuk mencapai pelanggan di jarak jauh untuk melengkapi keuangan konvensional dan berkolaborasi dengan lebih banyak lagi dari institusi lembaga keuangan atau non lembaga keuangan, untuk memperluas distribusi," tandas Taufan.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN