Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Nasabah melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Nasabah melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

TEMBUS RP 78 TRILIUN HINGGA JULI

Laba Bersih Perbankan Tumbuh 9,68%

Selasa, 5 Oktober 2021 | 22:41 WIB
Nida Sahara ( nida.sahara@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Industri perbankan telah mengantongi laba bersih mencapai Rp 78,17 triliun hingga Juli 2021, tumbuh 9,68% dibandingkan periode sama 2020 yang senilai Rp 71,27 triliun. Peningkatan laba bersih tersebut ditopang oleh profitabilitas kelompok bank besar yang tumbuh tinggi.

Merujuk data statistik perbankan Indonesia hingga Juli 2021 yang dirilis Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan laba bersih perbankan disumbang dari pendapatan bunga bersih (net interest income/ NII) yang tumbuh 12,89% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 245,43 triliun.

Selain itu, pendapatan operasional selain bunga tumbuh 9,19% (yoy) menjadi Rp 277,82 triliun.

Untuk pendapatan non-operasional terkontraksi 28,08% (yoy) menjadi Rp 12,55 triliun. Sedangkan beban operasional selain bunga industri perbankan tercatat sekitar Rp 423,94 triliun, meningkat 11,33% (yoy).

Pertumbuhan laba bersih perbankan hingga Juli 2021 mengalami akselerasi dibandingkan pertumbuhan hingga Juni 2021 yang sebesar 7,92% (yoy). Hal tersebut sejalan dengan perbaikan penyaluran kredit industri perbankan yang semakin tinggi.

“Dilihat dari margin bunga bersih (net interest margin/ NIM) yang meningkat, menunjukkan bahwa bank melakukan pelebaran NIM untuk mendapatkan tambahan laba,” kata Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Piter Abdullah Redjalam kepada Investor Daily, Senin (4/10).

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Foto: IST
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Piter Abdullah. Foto: IST

Data OJK memaparkan, berdasarkan kelompok bank umum kegiatan usaha (BUKU), hanya kelompok BUKU IV atau bank-bank besar yang mengalami pertumbuhan laba bersih. Sedangkan kelompok BUKU II dan BUKU III tercatat terkontraksi.

Laba bersih BUKU IV sampai dengan Juli 2021 mencapai Rp 56,55 triliun, melonjak tinggi 23,61% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu senilai Rp 45,75 triliun.

Sementara itu, kelompok BUKU III mengalami kontraksi sebesar 16,61% hingga Juli 2021, dari Rp 19,08 triliun periode sama 2020 menjadi Rp 15,91 triliun.

Kontraksi terdalam terjadi pada laba bersih kelompok bank mini atau BUKU II, yakni minus 46,02%, menjadi Rp 2,51 triliun hingga Juli 2021. Sedangkan laba bersih periode sama 2020 senilai Rp 4,65 triliun. 

Turunkan Bunga

Laba bank mulai pulih
Laba bank mulai pulih

Piter mengatakan, bank melakukan pelebaran NIM untuk mendapatkan tambahan laba. Sejak tahun lalu, lanjut dia, bank sudah menurunkan suku bunga deposito cukup dalam mengikuti turunnya suku bunga acuan BI, tapi di sisi lain bank belum banyak menurunkan suku bunga kredit.

“Ada nasabah kredit tertentu tidak merasakan turunnya angsuran pokok dan bunga selama ini. Ini yang kemudian dijelaskan sebagai pelebaran NIM, yang artinya menambah keuntungan bank,” ujar Piter.

Jika dilihat dari NIM, kelompok bank besar masih mencatatkan NIM tertinggi mencapai 5,17% per Juli 2021, disusul oleh NIM BUKU II sebesar 4,62%, dan NIM BUKU III 3,51%.

Secara keseluruhan, NIM industri perbankan berada di level 4,64%, naik dari tahun lalu yang sebesar 4,44%.

“Di sisi lain, bank juga bisa menempatkan dananya di SBN (Surat Berharga Negara). SBN menawarkan imbal hasil yang cukup besar, di tengah turunnya suku bunga deposito,” imbuh Piter.

Piter juga menilai perbankan tahun lalu sudah cukup gencar mengalokasikan cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) yang besar. Apabila CKPN tidak direalisasikan akibat debitur yang direstrukturisasi menjadi lancar, alokasi cadangan tersebut bisa menjadi keuntungan.

“CKPN yang tidak direalisasikan tetap bisa menghasilkan return bagi bank. Tetapi, ini bukan sumber utama keuntungan bank,” papar dia.

Sampai akhir tahun 2021, tren profitabilitas perbankan bisa tumbuh lebih tinggi. Ini terutama bank-bank besar.

“Laba bersih bank akan berbeda- beda antarbank. Tetapi, secara ke seluruhan bank-bank BUKU IV yang akan mendapatkan keuntungan terbesar,” ujar Piter.

Himbara Tertinggi

Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi di pusat anjungan tunai mandiri (ATM) di sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Bila dilihat berdasarkan kepemilikannya, himpunan bank milik Negara (Himbara) mencatatkan pertumbuhan laba bersih tertinggi, yakni mencapai 27,31% (yoy) menjadi Rp 34,73 triliun hingga Juli 2021. Berikutnya bank pembangunan daerah (BPD) yang mengantongi laba bersih Rp 8,02 triliun, atau meningkat 8,38% (yoy).

Untuk bank umum swasta nasional (BUSN) membukukan laba bersih Rp 33,01 triliun, naik 8,34% (yoy) hingga Juli 2021. Sedangkan laba bersih dari kantor cabang bank asing (KCBA) senilai Rp 2,41 triliun, mengalami koreksi yang dalam, yakni minus 60,62% (yoy).

Corporate Secretary Bank Mandiri Rudi As Aturridha mengatakan, laba bersih (bank only) bank pelat merah ini sebesar Rp 13,35 triliun hingga Juli 2021, meningkat 25% (yoy). Pertumbuhan laba bersih tersebut salah satunya ditopang pertumbuhan kredit Bank Mandiri (bank only) per Juli 2021yang mencapai 6,2% (yoy) menjadi Rp 803,08 triliun.

“Melihat pencapaian tersebut, kami optimistis kinerja Bank Mandiri akan membaik hingga akhir tahun ini. Untuk pertumbuhan kredit kami diproyeksikan sesuai target di level 6-7% (yoy), dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. Dari sisi profitabilitas, kami memproyeksi pertumbuhan laba sesuai dengan target yang telah disampaikan dalam rencana bisnis bank (RBB) tahun ini,” ujar Rudi kepada Investor Daily.

Untuk PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI), hingga akhir Juli 2021, laba bersih yang dikantongi sebesar Rp 5,9 triliun. Ini melonjak 45,32% dibandingkan periode sama 2020 yang sebesar Rp 4,06 triliun.

Bank Swasta

Nasabah bank melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) BNI dan BCA di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah bank melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) BNI dan BCA di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Selain bank BUMN, bank swasta terbesar yakni PT Bank Central Asia Tbk (BCA) secara bank only mencatatkan pertumbuhan laba bersih dua digit 11,11% menjadi Rp 16,9 triliun hingga Juli 2021, dari Rp 15,21 triliun periode sama 2020. Bank swasta terbesar kedua, PT Bank CIMB Niaga Tbk, meraup laba bersih (bank only) Rp 2,42 triliun hingga Juli 2021, meningkat 38,28% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 1,75 triliun.

Dari kelompok BUKU II, laba bersih PT Bank Ina Perdana Tbk hingga Agustus 2021 tercatat sebesar Rp 27,84 miliar, tumbuh 204,93% (yoy). Sedangkan, hingga Juli 2021 mengalami pertumbuhan yang signifikan 285,26% (yoy) menjadi Rp 25,62 miliar.

“Laba Bank Ina melonjak tajam karena pendapatan bunga kredit cukup baik. Ini di samping pendapatan dari surat berharga yang meningkat tajam,” papar Direktur Utama Bank Ina Daniel Budirahaju.

Sampai dengan akhir tahun ini, perseroan memasang target laba bersih tumbuh dua digit. Dengan proyeksi penurunan NII, lanjut dia, maka NIM Bank Ina akhir tahun ini diprediksi turun dibandingkan tahun lalu._

“Itu karena kredit restrukturisasi, dampak Covid-19, di samping pertumbuhan DPK yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan kredit. Tetapi ini dibantu oleh laba dari surat berharga,” urai dia.

Kredit Membaik

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Foto: Investor Daily/David Gita Roza

OJK juga mencatat penyaluran kredit perbankan per Juli 2021 mencapai Rp 5.563,7 triliun, tumbuh 0,5% dibandingkan dengan tahun sebelumnya senilai Rp 5.536,17 triliun. Perbaikan terus terlihat pada data terbaru OJK, di mana pertumbuhan kredit per Agustus 2021 sebesar 1,16% yoy.

“Di sektor perbankan, kredit pada bulan Agustus 2021 tercatat tumbuh sebesar 1,16% yoy atau 1,91% ytd. Secara sektoral, kredit sektor rumah tangga mencatatkan kenaikan terbesar secara mtm sebesar Rp 4,8 triliun,” tutur Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik OJK Anto Prabowo.

Sementara itu, OJK mencatat dana pihak ketiga (DPK) perbankan tumbuh sebesar 8,81% yoy atau tumbuh 5,91% ytd per Agustus 2021. Perbankan tercatat akomodatif dalam penyaluran kredit untuk mendukung produk dan komoditas berorientasi ekspor yang tumbuh sebesar 4,92% ytd, sehingga turut mendorong surplus neraca perdagangan Indonesia.

Perbankan juga berkontribusi dalam pemulihan ekonomi nasional dengan terus menurunkan suku bunganya.

“Suku Bunga Dasar Kredit Agustus 2021 terus menurun, seiring penurunan komponen harga pokok dana dan biaya overhead masing-masing sebesar 16 bps dan 10 bps. Penurunan SBDK telah diteruskan pada penurunan suku bunga kredit ke level yang cukup kompetitif, antara lain suku bunga kredit modal kerja yang telah turun di bawah level 9,00% ke level 8,92%,” imbuh Anto.

Sementara itu, profil risiko lembaga jasa keuangan pada Agustus 2021 masih relatif terjaga dengan rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) gross tercatat sebesar 3,35% dan NPL net 1,08%. Rasio nilai tukar perbankan dapat dijaga pada level yang rendah, terkonfirmasi dari rasio Posisi Devisa Neto (PDN) Agustus 2021 sebesar 2,09%, jauh di bawah ambang batas ketentuan sebesar 20%.

Likuiditas juga berada pada level yang memadai, tercermin dari rasio alat likuid/non-core deposit (AL/NCD) dan alat likuid/DPK per Agustus 2021 yang masing-masing pada level 149,72% dan 32,67%, di atas threshold masing-masing sebesar 50% dan 10%.

Permodalan perbankan sampai saat ini terjaga pada level yang memadai, dengan capital adequacy ratio (CAR) sebesar 24,41%.

“OJK akan terus mendukung kebijakan pemerintah untuk mendorong sektor usaha, yang berdampak bagi pemulihan ekonomi nasional. OJK juga akan memperkuat koordinasi dengan para stakeholder dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan, khususnya dalam mengantisipasi risiko tapering di advanced economies,” ucap dia. (en)

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN