Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
News Director Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu memberi sambutan pembuka penganugerahan Best Syariah Awards 2021 live di Beritasatu News Channel, live via zoom dan live streaming di Beritasatu.com pada Kamis (21/10/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

News Director Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu memberi sambutan pembuka penganugerahan Best Syariah Awards 2021 live di Beritasatu News Channel, live via zoom dan live streaming di Beritasatu.com pada Kamis (21/10/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Jadi Pusat Keuangan Syariah Dunia, Indonesia Perlu Tingkatkan Indeks dan Kinerja Industri

Kamis, 21 Oktober 2021 | 19:24 WIB
Gita Rossiana (gita.rossiana@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id - Indonesia diharapkan bisa menjadi pusat keuangan syariah di dunia. Guna mewujudkan hal itu, Indonesia perlu meningkatkan indeks syariah dan juga kinerja industri keuangan syariah nasional.

Direktur Pemberitaan Berita Satu Media Holdings Primus Dorimulu menjelaskan, berdasarkan survei Bank Indonesia, indeks literasi syariah Indonesia baru mencapai 16,3%. Artinya dari 100 penduduk Indonesia yang beragama Islam, baru 16,3 orang yang memahami ekonomi syariah dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

News Director Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu bersama para Dewan Juri Best Syariah Awards 2021 Adiwarman Karim, Tokoh Ulama Prof Dr Ir M Nuh, Tokoh Praktisi Perbankan / Direktur Utama BSI Hery Gunardi, Tokoh Akademisi Prof Dr Euis Amalia MAg dan penerima penghargaan di antaranya Head of Sharia Consumer PT Bank CIMB Niaga Tbk Bung Aldilla, Compliance Director PT Asuransi Allianz Utama Indonesia Januar Saptawidjaja Jahja, EVP Syariah PT BRI Asuransi Indonesia Eka Indria, Head of Syariah PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk Yusron, Sales & Product Director PT Mandiri Manajemen Investasi Kun Listyaningsih, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Direktur PT Sinarmas Asset Management Jamial Salim, Direktur Investment PT Mega Asset Management Suryani Salim, Direktur PT Insight Investment Management Ria Meristika Warganda, PT. Shinhan Asset Management Indonesia Ryan Aditya Putra, Direktur PT Indo Premier Investment Management Suwito Haryatno, Chief Marketing & Communication Officer PT Prudential Life Assurance Luskita Hambali, Kepala Divisi Unit Usaha Syariah PT Asuransi Sinar Mas Daniel B Armagatlie, Direktur Utama PT Reasuransi Syariah A Syaroni, Direktur Legal, Kepatuhan & SDM BRI Life Dany Cahya Rukmana, PT Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana, Head of Investment Specialist, Pimpinan Unit Usaha Syariah BRI Life Basuki Ahmad saat penganugerahan Best Syariah Awards 2021 live di Beritasatu News Channel, live via zoom dan live streaming di Beritasatu.com pada Kamis (21/10/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR
News Director Beritasatu Media Holdings Primus Dorimulu bersama para Dewan Juri Best Syariah Awards 2021 Adiwarman Karim, Tokoh Ulama Prof Dr Ir M Nuh, Tokoh Praktisi Perbankan / Direktur Utama BSI Hery Gunardi, Tokoh Akademisi Prof Dr Euis Amalia MAg dan penerima penghargaan di antaranya Head of Sharia Consumer PT Bank CIMB Niaga Tbk Bung Aldilla, Compliance Director PT Asuransi Allianz Utama Indonesia Januar Saptawidjaja Jahja, EVP Syariah PT BRI Asuransi Indonesia Eka Indria, Head of Syariah PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk Yusron, Sales & Product Director PT Mandiri Manajemen Investasi Kun Listyaningsih, Direktur PT Panin Asset Management Rudiyanto, Direktur PT Sinarmas Asset Management Jamial Salim, Direktur Investment PT Mega Asset Management Suryani Salim, Direktur PT Insight Investment Management Ria Meristika Warganda, PT. Shinhan Asset Management Indonesia Ryan Aditya Putra, Direktur PT Indo Premier Investment Management Suwito Haryatno, Chief Marketing & Communication Officer PT Prudential Life Assurance Luskita Hambali, Kepala Divisi Unit Usaha Syariah PT Asuransi Sinar Mas Daniel B Armagatlie, Direktur Utama PT Reasuransi Syariah A Syaroni, Direktur Legal, Kepatuhan & SDM BRI Life Dany Cahya Rukmana, PT Sucorinvest Asset Management, Lolita Liliana, Head of Investment Specialist, Pimpinan Unit Usaha Syariah BRI Life Basuki Ahmad saat penganugerahan Best Syariah Awards 2021 live di Beritasatu News Channel, live via zoom dan live streaming di Beritasatu.com pada Kamis (21/10/2021). Foto: Beritasatu Photo/Uthan AR

Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), menurut Primus sudah menaruh perhatian cukup besar terhadap perkembangan ekonomi syariah. Hal ini bisa terlihat dari adanya payung hukum untuk surat berharga syariah negara, reksadana syariah, sukuk syariah, serta adanya master plan industri syariah.

Pemerintah juga mendirikan Komite Nasional Ekonomi dan Keuangan Syariah (KNEKS) pada 2020.

"Lembaga ini dibentuk untuk meningkatkan pembangunan ekosistem ekonomi dan keuangan syariah serta menjadikan Indonesia sebagai pusat halal dunia," kata dia.

Kinerja Keuangan Syariah

Jumlah institusi dan instrumen industri syariah Indonesia
Jumlah institusi dan instrumen industri syariah Indonesia

Selain dari sisi indeks syariah, Indonesia juga perlu meningkatkan kinerja industri keuangan syariah nasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, aset keuangan syariah mencapai Rp 1.907,07 triliun pada Juli 2021. Aset ini memiliki pangsa pasar 11,46% dari total aset keuangan nasional.

Adapun aset keuangan syariah itu terdiri dari bank syariah yang mencatatkan aset sebesar Rp 616,08 triliun pada Juli 2021. Ini berasal dari 11 bank umum syariah, 20 unit usaha syariah (UUS), dan 165 Bank Perkreditan Syariah (BPRS).

Perkembangan aset keuangan syariah
Perkembangan aset keuangan syariah

Perkembangan aset bank syariah ini seiring dengan rasio kredit bermasalah (non performing financing/NPF) yang terus menurun. Pada Juli 2021, NPF unit usaha syariah (UUS) menurun menjadi 1,41% dari 1,93% pada 2020. Begitu juga dengan NPF bank umum syariah yang menurun menjadi 1,34% dari 1,57% pada 2020.

Pembiayaan bank syariah juga meningkat menjadi Rp 394,9 triliun pada Juli 2021 dari Rp 385 triliun pada 2020. Pembiayaan yang meningkat ini ditopang oleh rasio permodalan yang kuat, yakni mencapai 24,31% dan biaya operasional yang efisien, yakni BOPO mencapai 83,48%.

Perkembangan industri keuangan syariah
Perkembangan industri keuangan syariah

Kemudian, Industri Keuangan Non Bank (IKNB) syariah mencatat aset sebesar Rp 116,5 triliun pada Agustus 2021. Aset ini berasal dari 60 asuransi, 39 lembaga pembiayaan, 8 dana pensiun, 13 lembaga jasa khusus keuangan syariah, 600 lembaga keuangan mikro syariah dan 125 finansial teknologi syariah.

Selanjutnya, reksa dana syariah mencatatkan aset sebesar Rp 39,71 triliun pada Agustus 2021 yang berasal dari 291 reksa dana syariah. Aset sukuk syariah mencapai Rp 1.187,59 triliun pada Agustus 2021 yang berasal dari 72 sukuk negara outstanding dan 191 sukuk korporasi outstanding. Lalu, aset saham syariah mencapai Rp 3.440,21 triliun pada Agustus 2021 yang berasal dari 453 saham syariah.

Perkembangan NPF net perbankan syariah dan pembiayaan yang disalurkan
Perkembangan NPF net perbankan syariah dan pembiayaan yang disalurkan

Primus mengungkapkan, aset keuangan syariah ini akan terus bertumbuh. Pasalnya, Islamic Finance Development Report memproyeksi aset keuangan syariah global bisa mencapai US$ 3,69 triliun pada 2024 atau bertumbuh dari 2019 yang mencapai US$ 2,87 triliun.

Namun demikian, Indonesia masih tertinggal dengan negara lain dalam pengembangan keuangan syariah. Dari sisi aset, Indonesia berada dalam urutan ketujuh dibandingkan negara lain dengan total aset keuangan syariah sebesar US$ 99 miliar. Berada di posisi pertama adalah Iran dengan nilai aset sebesar US$ 698 miliar.

Isu Aktual

Pertumbuhan aset pembiayaan syariah dan DPK
Pertumbuhan aset pembiayaan syariah dan DPK

Menurut Primus, pengembangan keuangan syariah tersebut tidak terlepas dari isu aktual yang ada di industri keuangan syariah. Seperti misalnya di industri asuransi syariah mengenai penetapan batas waktu rencana pemisahan (spin off) UUS asuransi yang awalnya ditetapkan maksimal pada 15 Oktober 2020 kemudian direvisi menjadi 15 Oktober 2021. Ada sekitar 15 UUS asuransi jiwa dan 15 UUS asuransi umum yang akan melakukan spin off.

Kemudian terkait penerapan Asean Framework Agreement on Services (AFAS) atau pasar bebas Asean pada 2025. Hal ini disinyalir bisa menjadi tantangan bagi asuransi domestik untuk bersaing dengan pelaku industri dari negara lain.

Rasio keuangan perbankan syariah Indonesia posisi Juli 2021
Rasio keuangan perbankan syariah Indonesia posisi Juli 2021

Asuransi syariah juga berharap bisa mencapai pertumbuhan pangsa pasar hingga 20% pada 2030 sehingga untuk mencapai pertumbuhan itu, asuransi syariah harus bertumbuh 25-30% setiap tahunnya.

Kemudian, asuransi syariah mendapatkan kesempatan bergabung dalam konsorsium Asuransi Barang Milik Negara (ABMN) sehingga disinyalir bisa menambah cakupan bisnis reasuransi syariah.

Top 10 negara dengan aset syariah terbesar
Top 10 negara dengan aset syariah terbesar

Sementara di industri pasar modal syariah, isu aktualnya adalah masih perlunya pengembangan produk efek beragun aset (EBA) syariah, dana investasi real estate (DIRE) syariah, sukuk crowdfunding, sukuk berbasis wakaf dan sukuk daerah.

Kemudian, pemanfaatan teknologi digital dan kolaborasi dengan organisasi yang memiliki basis massa besar.

Isu aktual industri asuransi syariah
Isu aktual industri asuransi syariah

"Pelaku industri syariah juga diharapkan bisa memegang teguh nilai syariah supaya tidak menjadikan produk syariah sebagai kendaraan untuk melakukan transaksi yang dilarang," ucap dia.

Sedangkan di industri perbankan syariah, Primus melihat isu yang sedang hangat dibicarakan adalah tren akuisisi bank kecil dan BPRS dan peningkatan cadangan sebagai antisipasi kredit bermasalah akibat pandemi Covid-19.

Isu aktual pasar modal syriah
Isu aktual pasar modal syriah

Kemudian, menjamurnya shadow banking yang bisa dimanfaatkan nasabah yang terganjal SLIK dalam mendapatkan kredit perbankan serta berhentinya relaksasi dari regulator yang bisa meningkatkan NPL perbankan syariah dan konvensional.

Isu aktual perbankan syariah
Isu aktual perbankan syariah

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN