Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Asisten Gubernur, Kepala Dept Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam diskusi Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV

Asisten Gubernur, Kepala Dept Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta dalam diskusi Zooming with Primus Live di Beritasatu TV bertema Booming Transaksi Digital, Kamis (23/7/2020). Sumber: BSTV

BI Fast Proyeksi Proses 16,9 Miliar Transaksi

Rabu, 3 November 2021 | 19:37 WIB
Prisma Ardianto (prisma.ardianto@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memproyeksi infrastruktur BI Fast bisa memproses sebanyak 16,9 miliar transaksi selama lima tahun mendatang. Sistem yang bisa mematok biaya maksimal transaksi nasabah sebesar Rp 2.500 itu pada tahap awal disiapkan untuk mampu melayani 30 juta transaksi per hari.

Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran, Bank Indonesia Filianingsih Hendarta menyampaikan, ada sekitar 56 negara sudah mengimplementasikan dan 4 negara lain sedang dalam proses mengembangkan fast payment system seperti BI Fast. Dalam penyelenggaraan BI-Fast, BI berperan sebagai regulator dan operator, sejalan dengan arah reposisi peran bank sentral di era digital.

Kehadiran BI Fast menjadi bagian menyiapkan infrastruktur dan mendukung perkembangan sistem pembayaran nasional yang cepat, mudah, murah, aman, dan handal. Sehingga turut mendorong adanya kompetisi dan inovasi bagi penyelenggara memperluas akseptasi dan akses.

"BI Fast ini di back-end, jadi kalau front-end-nya mau dipercantik itu kami tidak mengatur, terserah bank. Tapi nanti kita harapkan dengan BI Fast ini transaksi ritel bisa berkembang, kira-kira kita proyeksikan sampai dengan 5 tahun ke depan itu dia bisa sekitar 16,9 miliar transaksi yang bisa dilakukan," kata Fili pada acara Taklimat Media yang digelar secara virtual, Rabu (3/11).

Untuk tahap awal, pihaknya telah mengantisipasi untuk bisa memproses sebanyak 30 juta transaksi per hari, dengan kemampuan untuk memproses 2.000 transaksi per detik. Kapasitas itu yang kini disiapkan dan masih akan terus diulas dengan melihat perkembangan BI Fast, sehingga selalu memungkinkan untuk BI menambah kapasitas sistem di masa mendatang.

Fili menerangkan, BI telah memberlakukan harga BI Fast kepada peserta senilai Rp 19 per transaksi, baik itu bagi bank maupun non bank. Sementara batas maksimal harga yang dikenakan peserta kepada nasabah dengan memanfaatkan BI Fast yakni sebesar Rp 2.500 per transaksi.

"Sekarang SKNBI itu kan maksimal Rp 2.900, tapi kan ada yang menggratiskan (transaksi) nasabah. Sama dengan ini, tapi kita batasi tidak boleh lebih dari Rp 2.500. Tapi kalau nanti ada bank mau menurunkan ini (biaya transaksi), terserah karena namanya juga kompetisi dan inovasi. Tapi kalau (minta) gratis, mudah-mudahan menuju kesana, tetapi kembali lagi kita juga memperhatikan keberlangsungan bank," kata dia.

Menurut Fili, batas atas pengenaan biaya transaksi itu memang menjadi ruang bagi peserta BI Fast menentukan kebijakan biaya kepada nasabahnya. Apalagi melihat jumlah transaksi yang terjadi pada setiap bank begitu variatif. Ada bank yang hanya mencatat 1 transaksi per hari, tapi di sisi lain ada juga bank yang mampu menorehkan 1 juta transaksi per hari.

"Jadi kita harus memperhatikan itu, kita akan melakukan evaluasi dan akan kita turunkan secara bertahap. Nah ini kembali lagi menjadi alasan untuk Bank Indonesia sebagai operator, sehingga ada kebijakan yang bisa kita absorb (serap). Bank memang harus ada investasi, ibaratnya BI menyiapkan jalan tol tapi bank juga harus siapkan kendaraannya," jelas dia.

Sebagai ilustrasi, FIli memaparkan, skalabilitas bank terhadap biaya unit per transaksi bervariasi. Bank misalnya, bisa saja mematok biaya Rp 5.000 tapi cuma mampu melayani sebanyak 10 transaksi, sehingga hanya menghasilkan Rp 50 ribu. Kalau bank dalam kebijakannya memberlakukan biaya sebesar Rp 1.000 tapi mampu mencakup 100 transaksi tentu pendapatan yang diraup sebesar Rp 100 ribu.

"Jadi tidak masalah harganya murah tapi kuantitasnya banyak daripada harga mahal tapi terjualnya sedikit. Kalau transaksi semakin tinggi maka biaya transaksinya akan lebih murah. Maka kita mendorong adanya digitalisasi ini. Demikian juga jika transaksi ini bisa lebih cepat dan bisa dilakukan di mana saja selama 24/7, ini semua bergerak terus. Kalau tadinya bank tidak ada kebutuhan dari nasabah maka transaksi bisa mulai meningkat," beber Fili.

BI Fast memungkinkanuntuk melakukan transkasi dnegan instrumen nota debit atau kredit, uang elektronik dan alat pembayaran menggunakan kartu (APMK). Transaksi baru ini juga bisa dilakukan melalui teller bank, ATM, EDC, serta para agen perbankan.

Dalam implementasinya, BI menetapkan sebanyak 22 calon peserta batch pada Desember 2021, yang seluruhnya adalah bank. Hal itu ditetapkan berdasarkan penilaian terhadap kinerja kepesertaan, komitmen, dan kesiapan calon peserta, termasuk pemenuhan aspek people, process, dan technology. Adapun pada untuk batch II, juga telah ditetapkan sebanyak 22 peserta yang akan onboarding pada Januari 2022.

Sistem ini telah dikonsepkan dan disiapkan sejak tahun 2019 dan kini pada 2020-2021 telah memasuki tahapan pengembangan dan implementasi. Pada tahun 2022-2021, BI Fast diproyeksi akan memasuki tahapan pengembangan lanjutan, implementasi direct debit, bulk credit, dan RFP. Sedangkan pada tahun 2023-seterusnya dijadwalkan sebagai tahap perluasan layanan, termasuk cross border.

BI Fast tidak wajib atau non mandatory untuk diikuti oleh bank. Namun demikian, Fili menilai, bank akan sangat merugi jika tidak bergabung pada sistem baru ini. Sebab, layanan transaksi nantinya bisa lebih cepat, sehingga salah satu perkembangan dari kebutuhan nasabah bisa ikut dijawab oleh bank dengan terlibat dalam BI Fast.

Editor : Hari Gunarto (hari_gunarto@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN