Menu
Sign in
@ Contact
Search

×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. Foto: IST

Ekonom dan Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira. Foto: IST

Bank Digital Bisa Mengurangi Cost of Fund

Senin, 22 November 2021 | 17:41 WIB
Leonard AL Cahyoputra (leonard.cahyoputra@beritasatumedia.com)

JAKARTA, investor.id -Direktur Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengatakan, kemunculan bank digital seharusnya bisa mengurangi cost of fund. Dia mencontohkan bank digital asal Korea Selatan (Korsel) Kakao Bank yang dalam waktu 5 hari bisa mengumpulkan sampai 5 juta user baru. Artinya cost of fund bisa ditekan.

“Nah di Indonesia mungkin yang harus jadi koreksi adalah kemunculan bank digital tapi beberapa bank digital justru menawarkan simpanan dengan bunga yang tinggi sekali,” ucap Bhima dalam Berita Satu Economic Outlook 2022, Senin (22/11/2021).

Dia mengatakan hal itu menjadi kontradiksi dengan upaya efisiensi perbankan. Hal ini perlu menjadi perhatian OJK dan BI untuk mengingatkan bahwa kehadiran digitalisasi itu untuk efisiensi.

“Jadi jangan menambah perang suku bunga hanya untuk menggaet simpanan yang lebih besar dan tiada bedanya dengan bank-bank yang dulu dikritik tidak efisien,” ucap Bhima.

Dia menerangkan, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) perbankan secara umum ini trend-nya terus mengalami kenaikan. Sempat menurun sedikit pada Agustus 2021 tetapi jika dibandingkan dengan pra pandemi, BOPO ada di 79% kemudian sekarang konsisten berada di atas 80%-85%.

“Artinya kalau bank ingin tetap kompetitif, ingin tetap mendapatkan margin yang cukup besar maka mau tidak mau laba itu dipertahankan dengan cara biaya operasional memang harus ditekan,” ucap Bhima.

Dia mengapresiasi beberapa bank yang melakukan langkah konkret, misal mengurangi dengan signifikan selama pandemi untuk kantor-kantor cabang yang diubah menjadi digital. Kemudian juga bank melakukan berbagai inovasi sehingga layanan menjadi lebih efisien, sehingga tidak terlalu butuh tatap muka ataupun pengeluaran-pengeluaran yang berlebihan.

“Jadi kalau biaya operasional terhadap pendapatan operasional bisa dijaga bahkan menurun tentunya bank yang bisa bertahan ini adalah bank yang relatif bisa efisien, bisa kompetitif,” pungkas Bhima.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN